Suami Sabarku

Suami Sabarku
Bab 29. Labil


__ADS_3

Setelah kak Ando dan Adi pergi ke masjid, Rufi dan Lita kompak menoleh ke arahku, segera aku berlari masuk ke dalam kamar dan mereka mengejar ku sambil tertawa.


"Jangan kabur kamu. Cepat sini jelasin. Ceritain semuanya jangan sampai ada yang terlewat. Awas." Teriak Rufi dan Lita sambil menyusul ku masuk ke kamar.


Aku hanya tertawa melihat mereka yang sangat penasaran dengan proses pertemuan ku dengan kak Ando tadi.


Kami tertawa terbahak-bahak entah sedang menertawakan apa.


Tak lama terdengar Adzan magrib berkumandang membuat kami menghentikan tawa dan bergegas melaksanakan shalat. Rufi dan Lita kembali ke kamar mereka masing-masing. Sedangkan aku bergegas membersihkan diri dan berwudhu lalu Melaksanakan shalat maghrib.


Setelah itu, aku bergegas membuka pintu karena saat sedang shalat tadi aku mendengar langkah kaki seseorang seperti menuju ke kamar namun terhenti di teras.


Ku buka pintu kamar ternyata disana sudah ada kak Ando yang duduk sambil menyesap rokok di tangannya sambil tersenyum lembut ke arahku yang ku balas dengan senyuman pula.


Ternyata kak Ando seorang perokok tapi selama di cafe tadi aku tak pernah melihatnya memegang rokok, atau mungkin karena bukan ruang terbuka ya. Tau ah. Aku membatin.


Aku keluar dengan masih memakai mukenah, ku lihat kak Ando segera mematikan api rokoknya lalu membuang sisa rokoknya ke tong sampah setelah aku duduk di hadapannya. Kak Ando kembali duduk di tempatnya semula dengan tak pernah melepas tatapannya kepadaku.


Jujur saja aku masih canggung berhadapan dengannya. Dia terlihat sangat dewasa, ditambah lagi dengan postur tubuhnya yang tinggi sehingga aku semakin terlihat seperti bocah SMP.


"Udah lama datangnya kak?" Tanya ku agak canggung.


"Barusan."


"Rufi sama Lita kemana?" Lanjutnya


"Ada di kamar mereka."


"Kamu ganti bajunya sana, kita makan di luar sekarang." Ucap kak Ando seperti tak ingin di bantah.


"Keluar lagi kak?" Tanyaku bingung, baru aja pulang sekarang malah mau pergi lagi.


"Iya. Kenapa? Kamu gak mau makan malam?"


"Mmm.. Sebenarnya aku masih kenyang kak. Tadi kan aku makan cake waktu di coffee shop." Jawabku ragu-ragu.


"Ya udah, temenin aku makan kalau gitu. Aku belum makan apapun sejak tadi siang."


Aku mengangguk dan masuk ke kamar untuk mengganti pakaian.


Ku lepas mukenah yang ku pakai dengan pikiran yang entah kemana. Aku tiba-tiba merasa kak Ando tidak cocok dengan ku, dia terlalu dewasa untuk ku. Itu yang ada di pikiran ku saat ini.


Sepertinya harus ku ceritakan dan meminta pendapat dua sahabat ku nanti setelah kak Ando pulang.


Gegas aku bersiap dengan hanya memakai pakaian santai namun tetap terlihat sopan.


Aku keluar menemui kak Ando, lagi-lagi kak Ando menatap ku lekat. Kalau dia seperti ini terus lama-lama aku mati langkah karena salah tingkah.


"Aku sudah siap. Aku pamit sama Rufi dan Lita dulu ya." Ucapku kepada kak Ando dan hanya di anggukinya.


Aku hendak mengetuk pintu Rufi yang kebetulan akan keluar, Rufi membuka pintu kamarnya lalu menoleh ke arah kak Ando yang duduk sambil mengutak-atik ponselnya.

__ADS_1


"Fi, aku keluar dulu. Mau temenin kak Ando makan." Bisikku kepada Rufi.


Rufi tersenyum jahil. "Jangan lupa Martabak telor." Rufi balik berbisik ke telinga ku sambil cekikikan.


Aku melirik kak Ando yang terlihat serius dengan handphonenya.


Ku cubit pelan perut Rufi dan di respon dengan berlebihan. Rufi mengaduh kesakitan membuat kak Ando menoleh melihat kami tapi tak lama kemudian ia kembali melihat ponselnya.


"Ih biasa aja dong." Kembali ku cubit perut Rufi dengan gemas membuatnya tertawa.


"Udah ah. aku pergi dulu."


"Lita mana Sha?"


"Ada di kamarnya. Beri tahu Lita aku pergi sebentar."


"Oh ya udah. Oke."


"Oke. Baayy..." Aku melambaikan tangan kepada Rufi dan mengajak kak Ando pergi.


Kak Ando pamit kepada Rufi.


"Fi. Jalan dulu ya."


"Oke kak. Hati-hati di jalan." Ucap Rufi dengan mengacungkan jempolnya. Kak Ando hanya mengangguk.


***


Kak Ando melajukan motor sport miliknya pelan memecah jalan kota yang di penuhi dengan lampu-lampu jalan.


Jujur saja aku sedikit kesulitan untuk naik ataupun turun dari motor kak Ando. Tapi kak Ando selalu memberikan bahunya untuk menjadi pegangan.


Aku turun dan merapikan hijab ku yang sedikit berantakan setelah memakai helm.


Kak Ando meraih tangan ku menggenggamnya lalu mengajakku masuk ke dalam rumah makan Padang itu.


Memesan menu favoritnya lalu menyuruh ku untuk ikut memesan yang aku mau namun aku menggeleng tak mau memesan apapun.


"Pesan buat Rufi sama Lita aja kalau kamu gak mau makan." katanya sambil mengeluarkan handphone miliknya dari dalam saku jaketnya.


"Enggak usah. Nanti setelah ini kita mampir ke penjual martabak telor buat beliin mereka."


Kak Ando manggut-manggut saja. Tak lama kemudian pelayan datang membawa pesanan kak Ando. Ia pun segera menyantap makanannya dengan lahap.


"Kak Ando suka makanan Padang ya?" Tanyaku sambil menatap kak Ando yang lahap."


Kak Ando mengangguk dan menyelesaikan kunyahannya lalu menjawab.


"Ini salah satu makanan favorit aku sayang."


Aku terpaku mendengarnya memanggil ku dengan kata sayang. Ada desiran aneh di hatiku, teringat saat kak Mato memanggil ku dengan kata sayang untuk pertama kali.

__ADS_1


Seketika aku merasakan hawa panas di wajahku.


"Muka kamu kenapa merah gitu. Kamu demam?" Kak Ando hendak menempelkan punggung tangannya ke kening ku namun segera ku tepis pelan.


"Enggak kok. Aku gak demam." Ku tangkup pipiku dengan kedua tangan ku yang ku yakini sekarang pasti merah. Terasa hangat.


Kak Ando melanjutkan makannya hingga makanan di piringnya tandas.


"Kamu beneran gak mau pesan makanan?" Tanya kak Ando setelah meneguk air putih nya sampai tandas.


"Iya gak usah. Aku masih kenyang." Sebenarnya aku malu harus di bayarin terus oleh kak Ando.


"Oke. Aku bayar dulu setelah itu kita pulang, nanti mampir ke penjual martabak telor." Kata kak Ando dan aku mengangguk patuh.


"Ayo." Ajak kak Ando setelah membayar tagihan makanannya ke kasir, kemudian meraih tangan ku untuk ia genggam menuju tempat parkir.


***


Sekarang kami sudah berada di teras depan kamar ku dimana kami bertiga, aku, Rufi dan Lita sedang menikmati martabak telor yang ku belikan tadi ketika hendak pulang.


Kami duduk bertiga karena kak Ando hanya mengantarkan ku sampai di depan gerbang kos lalu pamit pulang. Kami duduk sambil bercerita, di mulai tentang proses pertemuan ku dengan kak Ando untuk pertama kalinya tadi sore sampai dengan ketika aku di ajak untuk makan malam di luar. Semua mereka tuntut untuk ku ceritakan kepada dua sahabat ku itu.


Aku pun menceritakan semuanya tanpa ada yang terlewatkan. Sampai aku pun meminta pendapat mereka tentang apa yang mengganggu pikiran ku sejak tadi.


"Fi, Lita, bagaimana menurut kalian tentang kak Ando? Apa dia gak terlalu dewasa untuk ku? dia bahkan terlihat lebih dewasa dari kak Mato." Tanyaku kepada dua sahabat ku itu.


Lita hendak menjawab namun terlebih dahulu mengunyah makanan yang ada di dalam mulutnya sampai habis lalu berkata. "Jujur nih ya, tapi kamu gak boleh berkecil hati karena aku akan bicara jujur sesuai dengan penglihatan ku. Tapi jika kamu cinta kepada kak Ando gak usah dengerin pendapat aku, dengarkan saja kata hatimu. Mungkin beda dengan pendapat Rufi. Aku liatnya emang gitu, kak Ando terlihat dewasa banget untuk kamu, ataukah mungkin karena kamu emang mukanya baby face ya. Usia mu sekarang 19 tahun menuju 20 tahun kan? Kalau kak Ando sekarang berapa usianya?" Ucap Lita panjang lebar.


"Kalau gak salah sekarang usianya 25 tahun menuju 26 tahun." Jawabku.


"Lumayan sih jaraknya. Gak jauh-jauh amat. Kurang lebih enam tahun ya jarak usia kalian. Berarti emang kamunya aja yang keliatan kanak-kanak karena selain baby face badan kamu juga mungil. Hahaha..." Lita mengatakan itu sambil tertawa, aku dan Rufi pun ikut tertawa melihatnya.


"Kayak yang besar aja dianya. kita cuman beda dikit doang ya jangan ke geeran kamu kalau tinggi dikit dari aku." Sungutku kepada Lita.


Kami bertiga kembali tertawa.


"Tapi aku lihatnya kalian wajahnya mirip. Jangan-jangan kak Ando jodohmu Sha." Ucap Rufi.


"Yup, Rufi bener. Pertama kali liat kalian jalan berdua tadi aku langsung bilang gini dalam hati, kok wajah mereka mirip ya. Hanya saja kamunya tembem sedangkan kak Ando enggak, dianya biasa aja. Kak Ando wajahnya emang laki banget dan terlihat dewasa. Apa sih istilah kuyen nya?


Tanya Lita sambil terlihat berpikir.


"Karismatik." Jawab Rufi.


"Nnaaahhhh itu dia." Lita seketika berteriak sambil mengacungkan jari telunjuk ke udara dengan mata membelalak, membuat kami terkejut.


"Ih kamu ngagetin aja." Aku dan Lita refleks memukul lengan Lita sedikit keras membuatnya mengaduh.


"Aww..sakit tau.." Sungutnya sambil mengusap lengan yang ku pukul tadi bersama Rufi.


"Kalau menurut aku nih ya. Kamu tuh beruntung banget kenal dengan kak Ando Sha. Karena yang aku lihat, kak Ando tuh baik banget orangnya. Sabar juga. Bisa ngimbangin kamu yang masih labil. Kayaknya orangnya gak gampang kepancing emosi deh. Tenang banget pembawaannya. Logika aja, mana ada laki-laki jaman sekarang yang rela nunggu sampai berbulan-bulan untuk bisa bertemu langsung dengan cewek yang gak jelas gimana rupanya. Yang bahkan untuk video call an aja gak pernah mau. Kalau aku jadi kak Ando nih ya, udah aku buang jauh-jauh tuh cewek, ngapain nunggu yang gak jelas, kayak gak ada cewek lain aja. Tapi kak Ando gak gitu kan orangnya, dia tetep sabar ngadapin ke labilanmu itu. Tetep sabar menunggu sampai kamunya mau di temuin. Buat aku sih itu luar biasa." Ucap Rufi panjang kali lebar sambil mengacungkan jempol tangannya dengan kepala mengangguk-angguk dengan ekspresi wajah serius.

__ADS_1


Aku termenung sejenak setelah mendengar apa yang di katakan oleh Rufi karena semua benar adanya.


...****************...


__ADS_2