
Segera berbalik dan kembali duduk di kursi. Diam sejenak kemudian meraih air putih yang ada di atas meja lalu meneguknya sampai tandas, berharap mood nya kembali baik karena masih ada peserta lain yang harus di interview hari ini. Berusaha bekerja dengan profesional tanpa melibatkan hati yang sedang tidak baik-baik saja.
Sementara itu, Felisha melangkah lebih cepat meninggalkan ruangan yang menyesakkan dada itu tanpa pamit kepada Shinta. Rasa percaya diri dan semangatnya menguap entah kemana. Hatinya benar-benar sedang tak baik saat ini. Mungkin dia akan bertemu Shinta di lain waktu.
Dengan cepat Lisha memasuki lift yang akan mengantarkannya ke bawah. Ia ingin segera bertemu dengan kamarnya dimana ia sering menumpahkan segala rasa, baik rasa sedih maupun bahagia.
"Kamu kuat Lisha kamu harus kuat..jangan cengeng hanya karena bertemu dengannya". Mensugesti diri sendiri agar tak terbawa oleh suasana hati yang berkecamuk, Lisha terus meracau sambil berjalan menuju halte tempat menunggu angkutan umum.
Tapi dalam perjalanannya menuju halte, tanpa bisa di tahan air mata tak di inginkan itu pun tetes demi tetes turun membasahi pipinya. Dengan cepat di hapus nya sedikit kasar.
" Enggak boleh nangis Lisha..ngapain menangisi dia yang sudah meninggalkan mu tanpa kabar tanpa pesan tanpa alasan yang jelas". Lagi-lagi Felisha berbicara pada dirinya sendiri. "Lagian kamu udah punya Ando yang jauh lebih baik dari dia". Tanpa terasa ia tiba di halte, tak lama kemudian angkot pun datang. Segera naik dan langsung menuju kost-an tanpa ada niat singgah di suatu tempat. Ia ingin segera bertemu dengan kamar nya dan mengguyur kepalanya dengan air dingin agar otak nya tak melulu memikirkan pertemuannya dengan Mato.
Setibanya di kost, Lisha tak melihat keberadaan Rufi. Di liriknya jam yang melingkar di pergelangan tangan nya, jam menunjukkan pukul 10.30 siang. Mungkin Rufi sedang istirahat di kamarnya. Lita juga mungkin belum pulang.
Segera merogok kunci kamar nya yang tadi di simpan nya di dalam tas. Membuka pintu kamar dan masuk. melepas sepatu wedges setinggi 5cm nya itu dan melempar tas selempang nya ke atas kasur dengan sembarangan lalu ikut merebahkan diri di samping tas nya. Merasakan sejenak nyaman nya kasur kesayangan nya lalu kemudian bangkit dan duduk.
Merasa ada yang kurang sejak tadi, Lisha terkejut teringat sedari tadi ia tak pernah memeriksa handphone yang ia ubah menjadi mode diam. Ya, tadi dia sengaja memasang mode diam karena hendak masuk ke ruang interview.
Dengan cepat ia meraih tas nya mengambil handphone dan memeriksa nya. Benar saja, disana sudah ada 7 panggilan tak terjawab lalu ada 43 pesan yang belum di baca. Banyak sekali.
"Ya Allah aku sampai lupa mengabari kak Ando seharian ini".
Segera melihat ada 5 panggilan dari Ando, 1 panggilan dari Rufi dan 1 panggilan dari Lita. Kemudian memeriksa pesan di WhatsApp. Ada beberapa pesan dari Ando.
"Assalamu'alaikum... sayang kamu udah di kantor Rayapharmindo belum? Semangat ya kamu, semoga di lancarkan interview nya, Love you..."
"Sayang aku berangkat keluar kota ya..mungkin pulangnya agak larut jadi belum bisa mampir kesitu".
" Aku udah nyampe nih..Alhamdulillah cepet karena gak kena macet di jalan.
"Sayang kamu masih sibuk banget ya. Kalau udah gak sibuk kabarin ya.."
Sederet pesan dari Ando membuat Felisha terharu. Bagaimana tidak, dia yang sejak tadi terlalu fokus dengan interview itu sampai lupa mengabari kekasihnya, tapi kekasihnya itu tak pernah mempermasalahkan jika dirinya tak segera membalas pesan nya ataupun menjawab panggilannya. Ando sangat pengertian kepadanya.
Memilih memeriksa pesan yang lain sebelum menghubungi sang kekasih. Ada pesan dari Rufi dan Lita yang menanyakan jika sudah masuk ke ruang interview. Selebihnya pesan-pesan yang ada di grup chat, isinya hanya membahas yang tidak jelas dan tidak penting. Lisha memilih mengabaikan.
Lisha mencoba mengirimkan pesan kepada Ando, sebenarnya ingin melakukan panggilan namun urung di lakukan nya karena takut mengganggu sang kekasih yang sedang bekerja.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam...maaf baru sempat di balas pesannya kak. Tadi gak sempat buat pegang handphone, gak denger juga ada panggilan masuk karena memasang mode diam".
" Sekarang aku udah di kost-an...kamu masih sibuk banget ya..jangan sampe telat makan siangnya. Awas..."
"Makasih yaa".
" Kamu juga harus semangat kerjanya biar cepet gede tuh tabungannya. hehe.."
Setelah membalas pesan sang kekasih, Lisha beranjak masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Mengguyur kepala dengan air dingin sepertinya jadi pilihan yang bagus.
Kurang lebih 20 menit berada di dalam kamar mandi Lisha keluar dengan tubuh yang segar. Setelah itu, baru ia mulai memakai serangkaian skincare favoritnya.
Memilih memakai pakaian rumahan lalu meraih handphone miliknya memeriksa jika ada balasan pesan dari sang kekasih namun nihil. Pesan masih centang abu-abu tanda bahwa sudah terkirim tetapi belum terbaca.
Mencari nomor handphone Rufi lalu melakukan panggilan.
"Dimana?". Langsung pada intinya, Lisha bertanya tanpa basa basi. Begitulah tiga serangkai itu jika panggilannya terhubung.
" Di kost-an lah...mau dimana lagi. Udah beres interview nya?".
" Udah dari tadi...Fii aku lapar..." rengek Lisha pada Rufi.
" Kamu masak apa tadi?"
"Aku masak cumi asam manis sama capcay. Buruan pulang kalau udah beres. Aku juga belum makan nungguin kalian pulang dulu".
" Oke. Otw.." Ucap Lisha yang langsung memutuskan panggilan sepihak.
"Bener-bener anak ini. Main matiin aja dia. Gak bisa sopan dikit apa". omel Rufi.
Tak lama kemudian ketukan di pintu di iringi dengan ucapan salam terdengar. Rufi segera membuka pintu.
" Lho kamu kok..." Rufi terkejut melihat penampilan Lisha yang sudah memakai pakaian rumahan.
"Hehe..iya tadi nelpon kamu akunya di kamar. Udah pulang dari tadi. Udah mandi malah.
"Hmm..hmmm..hmmm..." Rufi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Lita udah pulang juga belum sih?" Tanya Rufi.
"Telpon aja. Tadi aku pulang sendirian. Kan kitanya gak sekantor interviewnya."
Rufi mencari nomor handphone Lita lalu melakukan panggilan.
"Halo.." Ucap Lita di seberang sana setelah panggilan terhubung.
"Kamu udah beres interview belum?" Tanya Rufi
"Udah...Aku baru aja tiba."
"Ya udah langsung ke sini aja kita makan siang bareng. Aku udah masak tadi. Buruan gak usah pakai acara mandi segala aku udah laper banget ini".
" Iya iyaa..bentar...aku ganti baju dulu."
"Oke. Gak nyampe 5 menit ya". Rufi mematikan sambungan telepon sepihak sama seperti Lisha tadi waktu menelepon nya.
Benar saja tak sampai 5 menit Lita sudah berada di depan pintu kamar Rufi yang tidak tertutup.
" Ayo makan. Aku udah laper banget ini." Ucap Lisha sambil memegangi perutnya. Dramatis sekali.
Mereka segera makan siang bersama. Rufi dan Lita memperhatikan Felisha yang makan seperti orang kesurupan. Tidak seperti biasanya sekalipun sangat lapar. Rufi dan Lita saling melirik merasa heran dengan kelakuan sahabat mereka itu.
"Kamu kenapa Sha?" Tanya Lita.
"Pelan-pelan aja makannya bisakan?" Ucap Rufi.
Tak ada jawaban dari Lisha. Terus menunduk fokus dengan makanannya tanpa ada niat untuk menjawab ucapan dari dua sahabatnya. Terus mengunyah sambil meneguk air putih seperti orang kehausan.
"Shaa..kamu kenapa? Makannya pelan-pelan aja nanti keselek lho". Ucap Rufi sambil mengelus punggung Felisha dengan tangan kirinya yang bersih. Merasa ada yang aneh dengan sahabat mereka itu. Lisha tak menjawab sepatah katapun. Tak lama kemudian air mata tumpah ruah bersama dengan isakan nya yang terdengar menyayat hati. Dengan susah payah Lisha menahan air matanya tak keluar tapi tak bisa. Dan akhirnya pecah juga tangisnya.
" Ya Allah kamu kenapa Sha?" Lita segera mengambil makanan yang ada di hadapan Felisha dan menjauhkannya. Buru-buru mencuci tangan dan mulutnya lalu dengan sigap memeluk sahabatnya itu untuk menenangkannya.
"Aku salah apa sampai dia tega ninggalin aku. heeuuuuheeuuuuheuu..." Ucap Lisha di antara tangisnya.
Rufi dan Lita saling pandang. Tak ada lain penyebabnya adalah Mato. Siapa lagi kalau bukan dia. Tak ada yang bersuara. Mereka membiarkan Lisha menumpahkan segala yang ada di hatinya lewat tangisnya.
__ADS_1
"Aku mau tau alasan dia ninggalin aku. Aku seperti perempuan yang tak pantas di cintai karena seenaknya aja dia menghilang, lalu sekarang muncul di hadapanku seolah merasa bersalah. hiks hiks hiks". Felisha masih sesegukan sambil mengeluarkan uneg-unegnya. Tanpa menyadari ada sepasang telinga yang mendengar tangis dan semua perkataannya.
...****************...