
Ku hela nafas panjang setelah memutus panggilan telepon dari kak Ando.
Hari ini kak Ando mengajakku bertemu di salah satu coffee shop untuk pertama kalinya setelah tujuh bulan kami saling mengenal Lewat telepon.
Tekat ku sudah bulat, gak akan lagi menunda-nunda pertemuan kami. Sudah cukup aku menggantung kak Ando dengan berbagai macam alasan selama tujuh bulan lamanya.
kami berkenalan dan saling akrab hanya melalui telepon. Itupun hanya panggilan suara bukan panggilan video.
Selama tujuh bulan lamanya aku menilai bagaimana kak Ando menghadapi ku yang terkadang masih labil.
Belum sekalipun aku mendapati kak Ando marah atau ngambek jika panggilan teleponnya yang terkadang tiga sampai empat kali tak terjawab.
Bahkan jika aku baru menerima panggilannya setelah yang ke empat kalinya, ia malah akan bernyanyi setelah panggilannya terhubung yang membuat ku langsung merasa lega dan tertawa mendengarnya bernyanyi. Jujur saja aku makin terpesona olehnya karena dia memiliki suara yang bagus.
Aku menceritakan tentang rencana pertemuan kami kepada dua sahabat ku Rufi dan Lita. Mereka sangat mendukung kami untuk segera bertemu bertatap muka saling mengenal rupa masing-masing.
Setelah pulang dari kampus, aku segera bersiap untuk pergi ke tempat yang telah di tentukan oleh kak Ando. Lita dan Rufi membantu ku bersiap dengan memilihkan pakaian yang cocok hari ini.
Lita dan Rufi menyiapkan segala sesuatunya dengan baik agar aku terlihat paripurna saat pertama kali bertemu dengan kak Ando. Sementara aku segera membersihkan diri di kamar mandi.
Setelah siap, aku pamit kepada Lita dan Rufi.
"Aku pergi ya. Doain aku." Kataku kepada Rufi dan Lita yang di balas dengan senyuman menggoda dari mereka sambil mengacungkan ke dua jempol tangan mereka. Sungguh mereka adalah sahabat ku yang paling ku cintai.
Aku menaiki taksi online yang di pesan oleh Rufi tadi, langsung menuju ke coffee shop yang tak begitu jauh dari kosan, hanya sekitar 15 menit aku sudah berada di depan coffee shop, menatap ke dalam mencari nomor meja yang sudah di kirim melalui pesan singkat oleh kak Ando.
Ku rasakan jantung ku berdebar tak karuan. Ada apa dengan jantungku Tuhan seperti mau keluar dari peradabannya. Tidak biasanya aku seperti ini. Ku pegang dada ku menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan melalui mulut, untuk mengurangi sedikit rasa gugup yang menggerogoti tubuh ku.
Aku mengedarkan pandangan dan ku lihat nomor meja sesuai yang ada dalam pesan singkat kak Ando. Aku semakin merasa deg-degan, ku lihat disana tak ada seorangpun.
Berjalan perlahan menuju meja reservasi kak Ando. mengedarkan pandanganku ke sekeliling melihat pengunjung yang lain. Setelah aku berdiri di dekat meja tersebut, tak lama kemudian seorang pelayan datang mempersilahkan aku duduk dan memberikan daftar menu dari coffee shop itu.
Aku mengatakan bahwa sedang menunggu seseorang dan akan memesan menu setelah yang aku tunggu datang. Si pelayan pun mengangguk dan pergi meninggalkan aku yang duduk sambil melihat-lihat menu yang ada.
Tak lama kemudian aku mendengar suara berat yang sangat familiar menyapaku.
"Hai. Maaf terlambat, tadi ada yang harus ku urus dulu sebelum kesini." Ucap seseorang yang membuatku langsung mendongak melihatnya yang berdiri menjulang di hadapan ku.
Aku terdiam, seperti bingung harus berkata apa. Ternyata kak Ando sangat tinggi dan terlihat sangat dewasa. Kharismatik. Batinku.
"Hai... Dengan Felisha kan?" Kak Ando melambaikan tangannya di depan wajahku yang membuat ku tersadar dari keterkejutan.
"i iya aku Felisha. Dengan kak Ando ya?" Tanyaku gugup dan segera berdiri menyalaminya.
"Ayo duduk lagi." Kak Ando mempersilahkan aku duduk dengan senyuman manis yang terpampang di wajahnya. Kemudian ia ikut duduk di hadapan ku.
Akupun segera duduk dengan senyuman kaku. Aahh jantung ku tenanglah sedikit. Aku takut kak Ando mendengar detakan jantungku yang tiba-tiba berdetak lebih kencang saat ini. Mau di taruh dimana mukaku kalau sampai kak Ando mendengarnya.
Kak Ando duduk dan menoleh ke belakang mengangkat tangannya untuk memanggil pelayan. Tak lama kemudian pelayan datang untuk mencatat menu pesanan kami.
Setelah pelayan pergi, kami sama-sama terdiam dengan kak Ando yang menatapku lekat membuat ku menunduk memainkan jemariku. Bingung harus memulai obrolan apa.
Ku dengar kak Ando terkekeh melihatku yang tak mau mengangkat wajah ku selama ia menatapku. Aku mendongak menatap kak Ando secepat kilat lalu beralih melihat ke sembarang arah. Tak berani menatapnya lama bisa-bisa jantungku copot dari tempatnya.
"Kenapa kak Ando tertawa. Apa aku terlihat lucu gitu?" Tanyaku mendelik.
Kak Ando tersenyum lebar memperlihatkan deretan gigi nya yang rapih. Semakin membuatku terpesona.
"Ck..di tanya malah senyum-senyum gitu." Aku mendelik menatap kak Ando lalu menoleh kembali ke sembarang arah secepat kilat.
__ADS_1
Kak Ando tak menjawab saat pelayan datang mengantarkan pesanan kami.
"Enggak ada yang lucu kok." Jawab kak Ando sambil melipat tangan di dada setelah pelayan pergi.
"Kamu cantik." Lanjutnya
Seketika aku menoleh menatap kak Ando dengan mata melotot membuat tawa kak Ando pecah.
Aku mencebikan bibir, kesal dengan Jawaban kak Ando. Bisa-bisanya dia semakin membuatku salah tingkah saja.
"Udah ketawanya?" Tanyaku kesal.
"Kamu kenapa sih selama ini gak pernah mau ketemu sama aku ha?
Tanpa menjawab pertanyaan ku, kak Ando malah bertanya balik setelah berhasil menghentikan tawanya dengan susah payah.
"Takut aku jelek?" Lanjutnya sambil terkekeh dan menggeleng pelan menatap ku.
"Bukan karena itu. Enggak tau juga karena apa, aku memang seperti itu orangnya. Enggak PD an." Kataku pelan sambil menunduk.
"Mulai sekarang kamu harus percaya diri. Enggak boleh insecure dalam hal apapun itu." Kata kak Ando lembut.
Aku hanya terdiam tak menjawab.
"Hei...Kok bengong aja. Di kasih tau enggak boleh gak PD an juga. Buang jauh-jauh tuh rasa gak percaya diri kamu.
"Asal gak berlebihan, oke oke aja kok." Lanjutnya.
"Iya iya Inshaa Allah..." Jawabku cepat.
"Jangan iya iya aja."
Jadi maunya aku harus jawab apa? Batinku. Dan akhirnya hanya ku jawab dengan anggukan pelan, kak Ando pun tak bersuara lagi
Orang sebanyak ini tak ada satupun yang ku kenal. Batinku.
Aku merasa kak Ando menatap ku lekat.
"Kak Ando kenapa sih. ngeliat aku kayak yang gak mau lepas gitu. Udah dong."
"Jadi aku harusnya liatin siapa dong?"
"Liat tuh kesana, banyak cewek-cewek cantik tuh disana."
Kataku menunjuk ke arah samping yang tak begitu jauh dari tempat kami duduk dengan mengangkat dagu, sengaja mengalihkan pandangannya namun tetap saja kak Ando tak mau mengalihkan pandangannya dari ku.
"Ngapain lihat kesana kalau cewek di depan ku lebih cantik." Godanya.
"GOMBAL."
"Aku gak pinter gombal Sha. Ini kenyataan yang aku lihat."
"Aku pulang nih kalau kak Ando menggodaku mulu."
"Emang kenyataannya kayak gitu Sha. Suer."
Kak Ando mengacungkan dua jarinya ke udara membentuk huruf V.
"Ya udah aku mau pulang." Aku hendak berdiri meninggalkan kak Ando tapi dengan sigap ia menahan tanganku dan menyuruh ku untuk duduk kembali.
__ADS_1
"Eeeeiittss jangan pulang dulu dong. Tujuh bulan lho aku nunggu momen ini masa baru ketemu beberapa menit udah mau kabur lagi."
"Makanya gak usah gombal-gambil mulu." Sungut ku dengan bibir mengerucut.
"Iya iya maaf. Biasa aja dong bibirnya." Ucap kak Ando terkekeh.
Aku langsung menutup bibirku dengan telapak tangan membuat kak Ando semakin terkekeh.
Kami sama-sama terdiam dengan pikiran masing-masing. Sambil menyesap minuman ku Kak Ando bertanya padaku.
"Gimana perasaan kamu setelah melihatku?" Tanya kak Ando.
"Gimana apanya?
"Setelah ini jangan gak mau lagi aku ketemu kamu ya."
"Hmm.."
"Kok gitu jawabnya. kayak gak ikhlas banget."
"Iyaahhh.."
Kak Ando kembali tersenyum menatap ku.
"Tau gak Sha, hari ini aku bahagia banget pas kamu iya in permintaan aku buat ketemu sama kamu. Akhirnya aku bisa ketemu sama kamu kayak gini."
Kak Ando tersenyum bahagia. Dan aku hanya diam menunggu apa yang akan ia katakan selanjutnya.
"Tau gak Sha, aku itu udah lama banget gak pernah merasakan yang namanya deket-deket sama cewek."
"Kok bisa kak?
"Nanti ada saatnya kamu tau."
Aku hanya mengangguk anggukan kepala tanda mengerti bahwa kak Ando belum bisa menceritakan semuanya pada ku.
"Sha. aku boleh nanya sesuatu?"
"Boleh. Silahkan saja. Kalau aku bisa jawab akan aku jawab."
"Sebelum kamu di kenalin ke aku, kamu punya pacar?" Tanya kak Ando menatap dan memainkan cangkir kopinya.
"Punya."
Seketika kak Ando langsung menoleh ke arah ku terkejut.
"Tapi dia nya udah setahun lebih gak ada kabar sama sekali. Tiba-tiba ngilang gitu aja. Jadi aku anggap udah gak ada hubungan apa-apa lagi." Lanjut ku.
Ku lihat kak Ando menutup matanya sejenak. lalu membukanya kembali dan menatap manik mataku mencari kebohongan disana namun sepertinya dia tidak menemukan itu.
Ya. Karena selama ini aku selalu berusaha berkata jujur padanya.
"Kita udah tujuh bulan lebih hampir delapan bulan saling mengenal satu sama lain. Aku nyaman dengan kamu. Sekarang aku tanya, kamu nyaman dengan ku Sha?" Tanyanya lagi.
Hening, aku terdiam cukup lama lalu mengangguk pelan.
Ku lihat dia seperti merasa lega. terlihat dari wajah nya yang seketika berseri semringah.
Ia tersenyum manis padaku yang ku balas dengan senyuman manis pula. Kami sama2 tersenyum saling menatap.
__ADS_1
Kak Ando terlihat berdiri dan berpindah duduk di samping ku. Meraih tangan ku dan berkata. "Sekarang Sha, apa kamu mau menjalani hubungan yang serius dengan ku?"
...****************...