
Mato tak melepaskan tatapannya sedikit pun kepada wanita yang sudah di sakitinya itu. Hatinya semakin sakit melihat Lisha yang berusaha tegar walau sebenarnya sangat rapuh. Ingin sekali ia memeluknya erat melepaskan kerinduannya selama ini namun itu urung ia lakukan karena Lisha tidak akan mengizinkannya.
"Sudah". Lisha melepaskan tangan Mato yang telah di perban.
" terimakasih.." Ucap Mato tak melepaskan tatapannya kepada Lisha. Tak ada jawaban.
Lisha diam, lalu beranjak duduk kembali di kursi. Rufi kembali meletakkan kotak obat ke dalam kamar lalu keluar membawa air putih dan di berikan kepada Mato. Sedangkan Lita hanya diam melihat situasi yang kurang bersahabat itu. Rufi dan Lita pamit kembali ke kamar Lisha agar Mato dan Lisha leluasa berbicara berdua.
Setelah kedua sahabatnya tak terlihat. Lisha membuang pandangan ke sembarang arah.
"Aku sudah mendengar semua alasan kamu meninggalkan ku, jadi sebaiknya sekarang kamu pulang. Semoga aku gak di kira perebut suami orang". Lisha tersenyum sinis setelah mengatakannya, merasa geli dengan kata perebut suami orang.
" Tidak. Aku gak mau pulang kalau kamu masih belum mau menatapku". Dari tadi Lisha memang berusaha mengalihkan pandangannya. Tak pernah mau bertemu tatap dengan Mato.
"Untuk apa menatapmu. Kamu sendiri tak pernah mau menemuiku selama ini".
Mato tak bisa lagi berkata-kata, hanya bisa menatap Lisha dengan sendu.
" Maaf". hanya itu yang di ucapakan nya.
"Sudahlah kak...hari ini otakku terlalu penuh jadi kamu pulang sekarang aku ingin istirahat". Lisha hendak kembali ke kamarnya namun Mato menahannya.
" Aku akan pulang tapi aku datang lagi nanti".
"Terserah kamu saja. Aku capek".
" Ya udah..aku pulang ya. Kamu istirahat jangan banyak pikiran". Ucap Mato sebelum pulang yang membuat Felisha lagi-lagi mengeluarkan senyum sinisnya mendengar ucapan Mato sambil bersidekap tangan di dada.
Melihat senyum sinis Felisha, Mato menarik nafas dihembuskan nya dengan kasar. Merasa masih jauh dari kata di maafkan. Tetapi dia tidak akan menyerah, bertekad akan meluluhkan kembali hati wanita yang dicintainya dan tak akan melepaskannya lagi tanpa tahu kalau Felisha sudah punya Ando.
Setelah Mato pulang, Lisha terpaku di depan kamar Rufi merasa seperti mimpi dengan kejadian barusan.
Sangat terlihat kalau Lisha begitu terpukul dengan kenyataan yang di dapatnya. Setelah melihat kepergian Mato, Rufi dan Lita keluar menemui sahabatnya yang hanya diam melamun di depan kamarnya. Mereka berdua langsung membawa Felisha menuntunnya masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
Mendudukkan Lisha ke atas kasur lalu memberinya air putih untuk di minumnya. Lisha meraih gelas berisi air putih itu lalu meminumnya sampai habis tak tersisa.
Tenggorokan nya terasa sangat kering mengingat kejadian barusan. Lisha tak pernah menyangka akan mendapati kenyataan seperti ini, karena selama bersama dengan Mato, tak sekalipun ia mendapati sikap Mato yang aneh. Tak pernah melihat Mato mabuk-mabukan, tak pernah melihat Mato dekat dengan wanita lain selain dirinya. Sulit di percaya tapi itulah kenyataannya.
Dengan pelan Lisha merebahkan kepalanya di atas paha sahabatnya Rufi. Seketika dua sahabat Lisha itu saling pandang. Lita melihat Felisha yang begitu rapuh.
Tak ada lagi air mata yang keluar, hanya raut wajah dan batinnya yang begitu terlihat sangat terpukul. Mungkin logika Lisha masih pada tempatnya sehingga tak ada lagi air mata. Ia berpikir untuk apa menangisi lelaki yang sudah mengkhianati nya hanya karena alasan menolak untuk menikah secepatnya. Bukankah itu berarti dia memaksa menikah secepatnya karena nafsu? Ia tak lagi bisa membendung nafsunya sehingga mencari pelampiasan kepada wanita lain? Mungkin pertanyaaan seperti inilah yang ada di pikiran Lisha saat ini.
Terlalu keras berpikir, Lisha jatuh tertidur di pangkuan Rufi yang dengan lembut mengelus-elus kepala sahabatnya itu yang masih tertutup hijab instan hingga terlelap di pangkuannya.
"Tidur". Lita memberitahu Rufi tanpa suara. Rufi langsung menunduk melihat yang di katakan Lita ternyata benar, pantas saja nafasnya mulai teratur ternyata tidur toh. Rufi tersenyum melihat Lisha yang tertidur seperti anak kecil dengan mata sembab. Sedangkan Lita menatapnya dengan sendu. Merasa kasihan dengan sahabatnya itu.
Handphone milik Lisha berbunyi, buru-buru Lita mencari keberadaan nya takut Lisha terbangun karena dering handphone miliknya, lalu segera menjawab telpon yang ternyata panggilan dari kekasih sang sahabat. Siapa lagi kalau bukan Ando. Lita sedikit menjauh saat akan berbicara.
" Assalamu'alaikum kak. Ini Lita, Lisha nya sedang tidur". Lita cepat-cepat menjelaskan dengan sedikit berbisik namun masih terdengar oleh Ando di seberang sana.
"Wa'alaikumsalam...Oh Lita ya. Lisha nya tapi baik-baik aja kan?" Suara bariton itu terdengar khawatir.
" Ya udah ya, nanti aku telpon lagi".
" Siip kak..nanti pas Lisha nya bangun tak kasih tahu kalau kak Ando abis nelpon".
"Oke. Makasih Ta. Assalamu'alaikum..."
"Sama-sama kak. Wa'alaikumsalam..." Lita menutup panggilan dari Ando dan bernafas lega karena Ando tidak bertanya terlalu banyak tentang Felisha.
"Hufftt...untung saja kak Ando gak Video Call". Ucap Lita sambil mengelus dada.
***
Mato melajukan kendaraannya membelah jalanan yang mulai lengang. Diliriknya jam yang melingkari pergelangan tangannya sedikit terkejut, ternyata jam sudah menunjukkan pukul 15.00 pantas saja ia merasakan perutnya yang sedikit melilit karena belum makan siang sedari tadi.
Membelokkan kendaraannya ke restoran yang kebetulan di lewati nya menuju parkir yang juga sudah terlihat lengang karena jam istirahat sudah habis. Orang-orang sudah kembali bekerja namun ia masih berada di luar kantor. Apa yang akan di katakan sang atasan jika mendapati dirinya yang tak ada di ruangan saat jam kantor seperti ini.
__ADS_1
Masuk dan langsung memesan makanan yang prosesnya cepat untuk di sajikan. Setelah itu meraih handphone yang dari tadi tak pernah di lihatnya. Disana sudah ada 3 panggilan tak terjawab dari nomor yang di beri nama "Pak Boss". Mulai memikirkan alasan apa yang akan di katakan nya nanti setelah bertemu si Pak Boss itu.
Setelah melihat tangannya yang tertutup perban, otak nya langsung merespon alasan yang tepat. Tersenyum tipis sambil melihat-lihat tangan nya yang di perban. " Terimakasih sayang terimakasih. Aku yakin kamu juga masih mencintaiku seperti aku yang selalu mencintaimu sampai saat ini dan nanti. Maafkan aku yang baru bisa menemuimu sekarang." Batin Mato.
Pesanan datang, lumayan cepat. "Silahkan, selamat menikmati".
"Terimakasih". Ucap Mato kepada si pelayan.
" Sama-sama Mas".
Setelah pelayan pergi Mato melahap makanan nya dengan sedikit tergesa-gesa. Setelah perutnya terisi, Mato segera melajukan kendaraannya menuju kantor.
Membuka pintu ruangannya, berjalan menuju sofa yang ada disana, tempat ia biasa menerima tamu. Menjatuhkan p*ntatnya disana dan bersandar melepaskan lelah.
Tak sadar ia tertidur dengan posisi duduk bersandar. Benar-benar lelah. Lelah otak dan fisik.
"Ayah..."
"Ayah..."
Panggilan itu selalu datang.
"Heh...bangun lu. Datang-datang main tidur aja nih anak".
Mato membuka mata dan langsung duduk tegak. Terkejut dengan keberadaan sang bos di ruangannya.
" Darimana aja lu. Dari tadi di telponin gak di jawab-jawab. Balik kantor malah tidur". Omel sang bos yang sebenarnya adalah sahabat nya sendiri.
Ya, Mato bertemu sang sahabat sebelum dirinya bermasalah dengan wanita yang pernah di hamilinya. Sahabatnya yang bernama Abraham itu merupakan teman semasa SMA dulu sama seperti Sherly si wanita yang menjebaknya itu. Mereka adalah seangkatan namun tak sekelas kecuali Abraham. Mato dan Abraham adalah teman sekelas sedangkan Sherly bukan.
Saat Mato sering mengunjungi tempat bilyar dulu, ia tak sengaja bertemu dengan Abraham yang juga memiliki hobi bermain bola sodok itu. Mereka kemudian selalu pergi bersama ke tempat bilyar sampai saat Mato terjebak oleh wanita itu, maka Abraham lah yang menolongnya dan membantunya terlepas dari Sherly.
...****************...
__ADS_1