Suami Sabarku

Suami Sabarku
Bab 84. Keinginan terpendam dari Mamah dan Papah


__ADS_3

"Huffttt...hari ini lumayan melelahkan..." Lisha melempar tas nya sembarangan dan langsung menghempaskan tubuhnya ke atas kasur. Setelah menyapa kedua mertuanya ia gegas masuk ke dalam kamar untuk beristirahat. Teringat pada suaminya yang belum pernah ia sapa sejak tadi siang karena sibuk dengan pekerjaannya, ia kemudian meraih kembali tas dan merogoh handphone, memeriksa apakah ada pesan dari suaminya namun tak ia dapati.


Lisha berniat menghubungi Ando terlebih dahulu sebelum mandi namun yang akan di telpon sudah terlebih dahulu menghubungi nya. Senyum lebar mengembang di bibirnya tatkala melihat siapa yang menelponnya.


"Halo Assalamu'alaikum..." Lisha tak kuasa menahan senyumnya saat mendengar sapaan dari seberang telpon dan menampilkan wajah suaminya memenuhi layar.


"Wa'alaikumsalam..." Jawabnya pendek dengan senyum manisnya.


"Baru nyampe rumah sayang?" Wajah lelah keduanya seketika hilang ketika saling memandang.


"Iya, tadi lumayan banyak kerjaannya yang harus di selesaiin makanya telat pulang.." Keluh Lisha sambil melepas hijabnya. Ando menelan saliva melihat leher jenjang nan putih mulus milik istrinya.


"Kamu belum mandi berarti?"


"Belum lah kak, ini baru aja nyampe..rehat setitik terus mandi..kamu pulangnya larut banget ya? kalau bisa jangan pulang larut malem kak...aku khawatir.." Lisha berjalan ke arah tempat tidur dan duduk bersandar ke kepala ranjang, selonjoran dan meraih bantal lalu menaruh di pangkuan.


"Aku pengen nyium leher kamu boleh ya?" Ando berbisik dengan mendekatkan bibirnya ke kamera sehingga hanya terlihat mulutnya yang komat kamit. Lisha seketika menyentuh lehernya seolah takut akan di cium.


"Ish..Kamu ya..jauh aja mesumnya kayak gitu gimana kalau deket.." Lisha bergidik saat membayangkan suaminya yang menggelayuti lehernya seperti drakulo. Bulu kuduknya jadi meremang.


"Mesumin istri sendiri nggak apa-apa sayang asal jangan mesumin istri orang.." Jawab Ando santai.


"Kamu ada niat mesumin istri orang gitu?" Lisha melotot menatap suaminya. Ando malah tertawa melihat mata bulat istrinya yang terlihat lucu saat melotot seperti itu.


"Ya enggak lah sayang..ngapain mesumin yang haram kalau ada yang halal..nambah-nambah in dosa aja jadi manusia..kita manusia yang udah penuh dengan dosa jangan di tambah-tambah in lagi dengan yang tidak berguna sayang.." Ucap Ando sembari menyandarkan punggungnya ke kursi mobil. Lisha yang mendengarkan ucapan suaminya tersenyum bahagia merasa terharu dengan pikiran Ando.


"Kamu pulangnya jam berapa kak?" Tanya Lisha yang melihat Ando memundurkan kursinya lalu merebahkan badannya sambil menutup mata.


"Sebentar lagi sayang, ini lagi nungguin temen yang masih bertemu dengan klien.." Ando menatap wajah Felisha dengan wajah lelah.


"Ya udah kak..sambil menunggu kamu istirahat aja sambil tiduran sebentar..aku mau mandi dulu.." Lisha menyingkirkan bantal yang ada di pangkuan nya lalu berdiri sambil satu tangannya membuka satu persatu kancing kemeja nya dan satunya lagi masih memegang ponsel, terlihat kamera bergoyang-goyang karena gerakannya.


"Oke sayang, tapi kamu buka baju handphone nya jangan di matiin..aku mau liat". Ucap Ando tersenyum.

__ADS_1


"Astaghfirullahal'adzim...aku malu lah kak.." Keluh Lisha menghentikan gerakan tangannya yang hendak melepas kancing kedua dari atas. Pipinya seketika merona karena malu.


"Ngapain masih malu sayang, isinya kan udah sering aku lihat...malah udah aku sentuh semua...udah hafal lagi gimana bentukannya.." Ando menahan tawa, semakin gemas melihat istrinya itu yang masih saja malu-malu.


"Ih apaan sih pakai di sebutin segala.." Lisha mendelik malu.


"Ayo dong buka aku mau lihat biar capek nya hilang nih...aku butuh recharger tenaga dulu sebelum perjalanan pulang.." Ucap Ando tak ingin di bantah. Lisha akhirnya mengalah, perlahan ia lepaskan kancing kemeja dengan wajah di tekuk. Sekuat tenaga Ando menahan tawanya. Namun setelah melihat dua vitamin D yang terbungkus bra renda hitam itu ia langsung bangkit dan duduk tegak merasakan belalai gajah yang langsung bereaksi karena melihat vitaminnya.


Saat Lisha hendak melepas kaitan bra di punggungnya terdengar ketukan di kaca jendela mobil membuat Ando terkejut dan Lisha langsung menutupi badannya kembali dengan kemeja. Ando tertawa melihat kepanikan Felisha.


"Tuuuhh kaaaannnn...kak Ando awas ya..." Teriak Lisha melempar handphone ke kasur hingga hanya terlihat langit-langit kamar di kamera.


"HAHAHA...kenapa panik gitu sayang...nggak bisa di lihat kok dari luar kan kacanya riben sayang hahaha.."


"Nggak mau tahu...kak Ando harus tanggung jawab.." Teriak Lisha lagi. Ando hanya tertawa kemudian menurunkan kaca mobil setelah menyimpan ponselnya dengan posisi telungkup agar tak terlihat oleh orang itu.


"Udah beres?" Tanya Ando pendek kepada orang yang mengetuk kaca mobilnya.


"Sudah pak.." Jawabnya.


" Sayang udah dulu aku mau pulang sekarang.. " Ando kembali meraih ponselnya dan berbicara kepada Felisha.


"Iyaaa...hati-hati nyetirnya jangan ngebut.." Lisha yang duduk terlihat sudah memakai kembali kemejanya. Ando mengangguk tersenyum manis menatap istrinya sambil mengedipkan satu matanya membuat Felisha terkekeh.


"Siap sayang..udah yaa..Assalamu'alaikum..." Ando menutup panggilannya setelah Lisha menjawab salamnya. Perempuan yang kini duduk diam di jok belakang tersenyum tipis ketika melihat interaksi Ando dengan istrinya. Ternyata dia tak sekaku kalau berbicara dengan orang lain.


"Maaf tadi sedang nelfon ke Istri saya jadi tidak langsung mendengar ketukanmu." Ando kembali dingin saat meminta maaf kepada perempuan itu.


"Tidak apa-apa pak. Saya mengerti.." Jawabnya tersenyum memaklumi.


Perlahan Ando melajukan mobilnya menuju pulang. Di sepanjang jalan Ando tak banyak bicara sama seperti tadi pagi ketika perjalanan menuju Bogor. Perempuan itu kembali merasakan aura dingin dari seorang Ando, berbeda dengan tadi ketika Ando sedang berbicara kepada Felisha istrinya. Namun sisi dingin Ando tak pernah di ketahui oleh Felisha.


Lisha tak pernah tahu jika suaminya itu memiliki sikap yang dingin kepada orang lain karena selama ini Ando tak pernah menunjukkan di hadapannya begitu pula ketika berbicara dengan kedua sahabatnya Rufi dan Lita. Ando selalu terlihat ramah menyapa sahabatnya.

__ADS_1


Tak terasa Ando sudah dalam perjalanan pulang ke rumah setelah mengantar pulang perempuan itu. Sebelum sampai rumah ia menyempatkan diri membeli beberapa kue kesukaan Felisha di toko kue Asia Cake yang tak lain adalah toko kue milik Mamah nya. Ando tak pernah mengambil kue secara cuma-cuma, ia selalu membayarnya sesuai dengan harga yang sudah ambilnya. Karyawan disana sering merasa heran dengannya yang harus membayar harga setiap kue yang di ambilnya padahal mereka tahu kalau toko itu milik orangtuanya.


"Buat Bu Lisha ya Pak?" Tanya Ana kasir toko kue Asia Cake yang sudah cukup lama menjadi karyawan di toko itu dan sudah cukup lama mengenal keluarga Ando, tersenyum ramah sambil menyerahkan paper bag yang beisi kue pesanan Ando.


"Iya mbak Ana." Ando meraih paper bag itu lalu pamit pulang.


"Pak Ando ganteng banget ya mbak...beruntung sekali bu Lisha yang jadi istrinya.." Ucap salah satu karyawan wanita yang berdiri menatap punggung Ando.


"Iya..Ya Allah semoga nanti aku jodohnya yang kayak pak Ando Aamiin.."


"Bu Lisha nya juga cantik banget, baby face..nggak bosen di lihat...aku kalau lihat bu Lisha pengen nyubit pipinya gemas..hehe.."


"Pasangan yang ideal... serasi banget...ganteng dan cantik."


"Pak Ando keliatan sayang banget ama bu Lisha.."


"Iya...aahhh sisain aku yang seperti pak Ando Ya Allah..."


"Aamiin..."


Mbak Ana yang mendengar suara bisik-bisik beberapa karyawan wanita itu hanya terkekeh dan geleng-geleng kepala tapi tak luput mengaminkan doa-doa mereka.


Dengan semangat Ando berjalan cepat dan masuk ke dalam mobil. Perlahan mobil kembali melaju menuju rumah tanpa peduli dengan bisik-bisik dan tatapan kagum dari karyawan wanita disana selain mbak Ana. Di pikirannya hanya ingin cepat sampai rumah bertemu dengan sang istri tercinta selain kedua orang tuanya yang juga selalu menunggu kepulangannya.


Setelah sampai didepan rumah ia lalu keluar dan membuka pintu pagar, setelah itu ia masuk dan memarkir mobilnya di halaman rumah. Meraih paper bag berisi kue dan masuk ke dalam rumah.


"Assalamu'alaikum..." Ucapnya memencet bel.


"Wa'alaikumsalam..." Terdengar suara Mamah yang membuka pintu.


"Lisha mana Mah?" Tanya Ando setelah menyalami tangan mamah dan juga papah yang berada di ruang keluarga sedang menonton televisi.


"Ada kok di kamar...masuk sana temuin istri kamu.." Mamah mendorong pelan anak nya agar segera menemui istrinya. Bukan apa-apa, Mamah sebenarnya sudah tidak sabar ingin menimang cucu dari anak bungsunya itu tapi tak pernah mengungkapkan nya kepada Ando dan Lisha karena tak mau sampai mereka merasa tertekan dengan keinginannya itu.

__ADS_1


Mamah dan Papah saling pandang memainkan alisnya dan tersenyum sesaat setelah Ando masuk kamar.


...****************...


__ADS_2