
Perias tampak sedang melakukan touch up make up ke Ibu karena merasa ada yang kurang dengan make up Ibu. Lalu terdengar ketukan di pintu.
"Bisa bertemu Ayah mempelai wanita, pak Herman?" Seorang pria memakai jaz muncul di pintu.
"Saya sendiri kang, silahkan masuk" Ayah langsung berdiri dan mempersilahkan orang itu masuk.
"Saya mau menyampaikan catatan dari Pak Ando untuk Ijab Kabul". Orang itu terlihat mengeluarkan amplop putih dan di berikan kepada Ayah.
"Alhamdulillah... terimakasih kang" Ucap Ayah setelah menerima amplop itu, terlihat lega karena dari tadi Ayah bulak balik gelisah memikirkan proses Ijab Kabul nanti. Setelah orang itu pergi Ayah kemudian melihat ke arah Felisha berulangkali sambil melihat ke catatan yang ada di tangannya.
"Kenapa Yah?" Tanya Felisha.
"Ah enggak. nggak kenapa-napa..." Sambil melipat kertas yang di pegangnya memasukkannya ke dalam saku jaz.
"Kedua Orang tua mempelai wanita bisa segera masuk ke ruangan tempat acara Akad Nikah, mempelai wanita nanti bisa di temani oleh kedua temannya dan tantenya". Petugas WO datang menjemput Ayah dan ibu untuk kemudian masuk ke ruangan acara Akad Nikah.
Wajah Felisha tampak pucat, perasaannya semakin tidak karuan. deg deg deg. Jantungnya seperti akan melompat dari peradaban.
" Sha...mau minum air putih hangat dulu biar sedikit lebih tenang perasaannya.." Rufi datang dengan segelas air putih hangat di tangannya.
"Hehehe...Iya Fii boleh..makasih ya..hadeehhh kenapa makin deg-deg an gini ya...Taa tolong ceki-ceki ke ruangan akad dong..Kak Ando udah disana belum sih.." Felisha jadi kepo banget pengen lihat suasana ruangan Akad.
"Oke. Aku kesana.. bentar ya..nanti tak fotoin biar kamu nggak penasaran lagi." Ucap Lita yang langsung pergi keluar dan masuk ke ruang akad.
Setelah Lisha meminum air putih hangat yang di berikan Rufi. Benar saja perasaannya jadi lebih tenang sekarang. Tak lama kemudian Lita datang dengan raut wajah yang sumringah dan penuh semangat.
"Shaaa...Ruangannya bagus bangeettt..kece badai pokoknya...Kak Ando udah ada disana...Masyallah guantenge pooolllll....Ya Allah semoga nanti aku juga dapet jodoh yang Masyallah kayak kak Ando...Udah ganteng baik soleh pokoknya the best..hari ini hansome nya to the max..hadehh aku jadi speechless liatnya..jadi ikut-ikutan deg deg an euy.." Seperti biasa Lita langsung nyerocos, Lisha terkekeh melihat Sahabatnya itu bercerita panjang lebar sambil memegang dadanya.
"Lita..kamu tuh di suruh lihat setting ruangannya malah gagal fokus lihat Kak Ando." Omel Rufi melihat kelakuan Lita sambil melototi nya karena melihat Tante Rina dan Tante Vania yang ketawa-tawa mendengar cerita Lita.
"Pengantin wanita nya di minta masuk ke ruangan sekarang." Petugas WO yang berjaga di depan pintu langsung sigap memberi tahu ke dalam agar Felisha segera bersiap.
Tante Rina dan Tante Vania langsung sigap merapikan pakaian Felisha di bantu oleh asisten perias. Sedangkan Rufi dan Lita berdiri di belakang Felisha menjaga agar Veil yang panjang tetap aman dan tidak sampai tersangkut.
__ADS_1
Akhirnya mereka semua keluar, berjalan dengan sangat hati-hati karena Felisha memakai sepatu dengan heels yang cukup tinggi.
Sebelum masuk ke ruangan Akad, petugas WO meminta mereka untuk menunggu aba-aba untuk masuk ke dalam ruangan. Bibir Felisha tampak komat-kamit membaca doa yang tak terdengar oleh orang lain untuk menenangkan diri.
"Mempelai wanita memasuki ruangan Akad". Terdengar aba-aba dari pembawa acara mempersilahkan Felisha dan rombongan untuk memasuki ruangan.
" Itu Onty Ica...Onty Ica tanttiiikk..." Terdengar suara anak kecil disana sambil bertepuk tangan.
Lisha langsung mengangkat wajahnya mencari asal suara anak kecil itu. Dan ternyata Naura yang sedang duduk di pangkuan neneknya. Felisha tersenyum. Dan tanpa terasa ia sudah sampai ke tempat akad dan duduk di kursi tepat di sebelah Ando. Lisha tak berani menoleh ke arah Ando karena gerogi. Tangannya terasa sangat dingin. Perias datang untuk merapikan pakaian Felisha dan memasangkan kain yang menyatukan mempelai wanita dan mempelai laki-laki.
Penghulu yang duduk kemudian bertanya kepada Ando.
"Saudara Ando, betul ini pengantin nya?"
Ando menoleh ke arah Felisha, sedangkan Lisha hanya mampu meliriknya. Ia merasa sangat malu. Lisha belum berani menoleh ke arah Ando.
"Betul pak, tapi kok sedikit beda ya..yang ini makin cantik pak.." Ando menatap Felisha dengan senyumnya membuat perempuan itu semakin malu untuk menatap calon suaminya.
"Neng coba lihat dulu calon suaminya, apa sudah betul yang ini? Sebelum Akad di mulai, harus saling lihat dulu untuk memastikan soalnya takut salah ruangan." Ucap pak penghulu yang semakin jahil menggoda Felisha yang terlihat sangat gugup.
Di lihatnya Ando yang sedang tersenyum manis ke arahnya. Benar saja kata Lita tadi, hari ini Ando terlihat sangat tampan dengan pakaian berwarna krem tua dengan dasi biru dongker serta bunga yang tersemat di jaz nya.
"Ya, betul pak." Jawab Felisha dengan sangat pelan.
"Sudah ya tatap-tatapan nya jangan lama-lama, nanti setelah ijab kabul baru boleh lama-lama, lebih dari tatap-tatap an juga sudah sah..sekarang kita Ijab Kabul dulu ya kang.." Ucap pak penghulu yang kemudian mempersilahkan Ayah dari mempelai wanita dan dua orang saksi untuk maju dan bersiap melakukan akad.
Pembawa acara kemudian mempersilahkan untuk pembacaan ayat suci Al-Qur'an terlebih dahulu, lalu selanjutnya menyerahkan acara akad kepada penghulu.
"Ayah mempelai wanita nya betul bapak Herman Kasim?" Ucap Penghulu.
"Ya betul, saya sendiri pak".
" Tenang Pak Herman jangan gugup, yang mau nikah kan anaknya pak bukan bapak nya..hehehe"
__ADS_1
"Bisa aja Pak Penghulu..hehehe"
"Ya baiklah Pak Herman nanti yang mengucapkan Ijab dan langsung di jawab Kabulnya oleh Saudara Ando tanpa ada jeda dalam satu tarikan nafas. Saksi di mohon untuk menyaksikan dengan seksama."
Ayah dan Ando langsung berjabat tangan untuk melakukan Ijab Kabul. Ayah sudah terlebih dahulu mengeluarkan catatan dan menyimpannya di atas meja. Felisha merasa gugup sekaligus terharu melihat Ayah akan mengucapkan Ijab.
"Ananda Alfando Aban Bin Adijaya Syakban. Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan anak saya yang bernama Felisha Putri Binti Herman Kasim dengan maskawinnya berupa Seperangkat alat shalat dan Uang sebesar Tujuh Ratus Lima Puluh Juta Rupiah, Tunai karena Allah.”
" Saya terima nikah dan kawinnya Felisha Putri Binti Herman Kasim dengan maskawin tersebut Tunai karena Allah."
"Sah?"
Tak ada jawaban dari para saksi. Sekali lagi Pak Penghulu bertanya kepada para saksi dengan dahi berkerut.
"Bagaimana Saksi, Sah?"
Tersadar, kedua orang saksi tadi langsung mengucapkan kata "SAH...SAH.."
Seketika di belakang menjadi riuh mengucapkan kata SAH. Semua orang sempat tercengang mendengar maskawin yang di sebutkan tadi. 750 juta rupiah, hampir 1 Milyar. Oh My God.
Felisha sampai bengong mendengar 750 juta yang di sebutkan ayah. Apa dia tidak salah dengar. Pantesan tadi Ayah terlihat kaget setelah menerima amplop.
"Alhamdulillah...Sekarang mari bersama-sama berdoa". Pak Penghulu segera membacakan doa dan Khutbah nikah setelahnya.
Felisha menoleh dan menatap Ando, sedangkan yang di tatap tersenyum bahagia.
"750 juta" Ucap Felisha tanpa suara dengan gelengan kepala pelan yang hampir tak terlihat.
Ando semakin tersenyum lebar memandang ekspresi wajah wanita yang baru saja resmi menjadi istrinya itu. Menggemaskan sekali di mata Ando.
...****************...
Alhamdulillah...akhirnya Ijab Kabul sudah terikrar dengan sangat baik...Othor terharu melihat mereka akhirnya bersatu. SAH menjadi suami istri. Semoga SAKINAH MAWADDAH WAROHMAH dunia akhirat Ando dan Lisha.🥺🥰🤍🤍
__ADS_1
Eeh Btw emang Ando horang kaya ya ampe maskawinnya uang 750 jeti. 🤭