
"Mamah. Panggil mamah aja jangan tante." Aku tersenyum canggung mendengar permintaan dari mamahnya kak Ando. Bagaimana bisa aku menjauh dari kak ando kalau udah begini. Batinku.
"I iya Tan..eh mamah." Ahhh sungguh berat lidah ku memanggilnya mamah.
Beliau tersenyum lebar saat ku coba menyebut kata mamah.
"Enggak papa, nanti juga kamu terbiasa sama seperti Ando." Ujarnya dengan senyum yang tak pernah pudar sejak tadi.
"Makasih ya udah hadir di hidup Ando, dia sampai cepet-cepet ngurus pindah kesini lho karena kamu." Lagi-lagi aku terperangah mendengar penuturan mamahnya kak Ando. Entahlah sekarang aku harus merasa senang atau tidak.
Merasa bahagia atas penuturan mamahnya kak Ando sejak awal karena kehadiran ku bisa membuat kak Ando bersemangat lagi, move on dari si mantannya itu. Lalu dia bela-belain cepat pindah tugas ke kota ini karena aku. Tapi di pikiran selalu saja terlintas kalau aku akan susah terlepas dari kak Ando.
Ya Allah aku harus bagaimana lagi. Aku membatin.
"Sama-sama mamah." Jawab ku kaku.
Tak lama kemudian kak Ando datang menemui kami bersama seorang pria yang terlihat tak begitu jauh berbeda usianya dengan mamahnya kak Ando. Aku bisa menebak kalau beliau adalah papahnya.
Kami seketika menoleh ke arah mereka. Ku lirik kak Ando yang menatapku dengan senyumannya. Aku segera berdiri, Kak Ando pun mengenalkan ku kepada papahnya sama seperti tadi saat mengenalkanku pada mamahnya.
"Pah ini Felisha, sayang ini papah." Ujar kak Ando. Aku menyalami papahnya, mencium punggung tangannya dengan takzim.
Ku lihat papahnya tersenyum ramah sambil mengangguk anggukan kepala menatap ku lalu menyuruh ku duduk kembali. Aku pun menuruti perintahnya.
"Mah makan siangnya udah siap belum?" Papahnya kak Ando menoleh kepada sang isteri, menanyakan makan siang ini.
"Oh iya Ya Allah sampai lupa mamah. Bentar ya mamah cek dulu lagi ke dapur." Beliau segera menuju dapur dimana disana ku lihat ada seorang wanita paruh baya yang sedang berkutat menyiapkan makanan untuk kami. terkejut karena sedari tadi hanya mengajakku bicara tanpa mengingat kalau hari ini kami akan makan siang bersama. Aku hanya tersenyum kaku.
Aku pamit kepada papah dan kak Ando untuk menyusul ke dapur, hanya di jawab dengan anggukan oleh ke duanya. Aku melesat ke dapur melihat-lihat siapa tahu ada yang bisa aku bantu. Bukan mau sok ngambil hati mereka tapi lebih ke perasaan tak enak hati jika hanya duduk sambil menunggu panggilan makan. Aahh itu bukan diriku. Aku tak suka seperti itu.
"Mah, ada yang bisa ku bantu? Sini biar Lisha aja yang bawa ke meja." Ucapku sambil meraih mangkuk besar berisi sayur bening yang ada di tangan mamahnya kak Ando. Beliau tersenyum lalu memberikannya padaku.
Aku melihat ibu yang sedang membantu mamahnya kak Ando menyiapkan makan siang kami sedang menatap ku dengan senyumnya.
"Nak Felisha cantik dan imut ya bu hajjah." Katanya kepada mamahnya kak Ando. Ternyata mamahnya kak Ando sudah haji. Aku membatin.
"Iya. Cantik banget kan. Apa sih mbak bahasa English na?" Mamah mengerutkan dahi terlihat berpikir.
"Baby face Bu Hajjah. Nak Ando pinter banget milih cewek." Jawab yang di panggil mbak sama mamah tadi.
"Ya. Baby face." Kata mamah sambil terkekeh.
Aku hanya tersenyum sambil menunduk. Malu rasanya dengar pujian mereka yang aku rasa berlebihan.
"Lisha, bisa bantu mamah untuk panggilin Papah sama Ando ya. Bilang makanannya udah siap." Kata mamah yang hanya ku angguki lalu pergi ke ruang tengah dimana kak Ando dan papahnya berada.
__ADS_1
Aku mendengar suara papahnya kak Ando yang sedang berbicara, membuat ku menghentikan langkah untuk menemui mereka. Sejenak aku tertegun mendengar kata-katanya.
"Felisha anak yang cantik dan sepertinya juga baik. Usia Kalian cukup jauh, dia terlihat masih sangat muda untuk mu. Papa hanya mengingatkan lagi jangan sampai kamu terlalu berharap banyak padanya lalu kemudian menyakitimu. Tapi papah dan mamah selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu. mendukung keputusan mu, apapun itu yang terpenting untuk kebaikan."
Kalimat-kalimat papahnya kak Ando mengetuk hati kecilku. Beliau terlihat sangat menyayangi anak lelakinya. Tak peduli dengan kemauan atau persetujuannya yang penting hati anaknya bahagia.
Aku menunggu kak Ando bersuara namun tak terdengar suaranya selama beberapa saat sehingga aku memutuskan untuk masuk ke ruangan itu seolah tak mendengar percakapan mereka.
"Om. Kak. di panggil mamah. Makan siangnya udah siap." Kataku menatap keduanya bergantian. Keduanya seketika menoleh ke arahku.
Kak Ando dan papahnya tersenyum dan beranjak menuju ke ruang makan yang bersebelahan dengan dapur dan juga ruang keluarga. Tepatnya ruang makan berada di tengah-tengah antara dapur dan ruang keluarga rumah itu.
"Panggil papah aja sama kayak Ando manggil papah." Ucap papah setelah berada tak jauh dari ku. Aku mengangguk saja.
Kami makan di selingi obrolan ringan dengan mamah yang aktif bertanya padaku soal makanan kesukaan sampai makanan khas daerah asal ku.
Sedangkan kak Ando dan papahnya hanya sesekali menimpali. Sesekali akan tertawa jika ada hal lucu dari pembicaraan antara aku dan mamahnya.
Setelah acara makan siang, kami berbincang sebentar lalu beranjak untuk melaksanakan shalat Dzuhur. Aku dan mamah shalat di rumah sedangkan Kak Ando dan papahnya menuju masjid yang letaknya tak jauh dari rumah untuk melaksanakan shalat Dzuhur.
Sekarang mamah mengajakku ke halaman belakang rumah seperti ada hal serius yang akan di bicarakan. Aku hanya menuruti apa yang di katakannya.
Aku dan mamah duduk berdampingan menatap halaman kecil yang di tanami pisang dan tanaman lainnya. Yang ku lihat seperti kebun mini.
"Nak Lisha. Mamah mau cerita sedikit tentang Alfando boleh ya." Mamah meminta persetujuan ku. Aku mengangguk sambil menatap senyum mamah yang tak pernah luntur sedari tadi. Cantik. Satu kata itu yang ada di pikiran ku saat melihatnya. Sekarang aku tau kak Ando mewarisi hidung bangir mamahnya sedangkan postur tubuhnya mewarisi postur tubuh papahnya yang tinggi. Mamahnya juga lumayan tinggi untuk ukuran wanita Indonesia pada umumnya.
"Kakak-kakaknya semua sudah menikah dan tinggal bersama keluarga masing-masing, hanya tinggal Alfando saja yang belum menikah. Dulu mamah sering bertanya-tanya, wanita seperti apa yang di carinya. Sekarang pas mamah melihatmu ternyata yang di carinya bukan wanita biasa." Ucap mamah tersenyum menatap ku.
Aku mengerutkan dahi, apa maksud dari perkataan mamahnya kak Ando kali ini. Bukan wanita biasa? Aku membatin. Tapi mulutku gatal kalau tidak menanyakannya.
"Bukan wanita biasa?" Akhirnya aku bertanya dengan dahi berkerut.
Mamah tersenyum sambil mengelus lenganku lembut.
"Ya. Yang mamah lihat kamu wanita luar biasa. mamah yakin kamu wanita yang sangat baik dan mandiri sama seperti Alfando. kamu memang terlihat jauh lebih muda dari Alfando, kamu boleh baby face seperti kata mbak Tuti tadi, tapi mamah melihat aura kedewasaanmu terlihat dari gestur tubuh mu. Aura kecantikan mu terpancar lebih natural tanpa di buat-buat. Mamah melihat ada ketulusan hati yang tidak bisa kamu elak di dasar hatimu. Yang mamah lihat, kamu wanita yang selalu melakukan hal dengan hati nurani. Seperti yang kamu lakukan saat ini." Aku lagi-lagi terenyuh mendengar penuturan mamahnya kak Ando. Dalam hati aku bertanya-tanya, mungkin kah beliau tau kalau aku tak mencintai anaknya. Ahh tidak tidak. Jangan sampai beliau tau aku mohon. Batinku
"Mamah melihat belum ada cinta untuk anak mamah Alfando, tapi kamu menghargainya untuk datang menemui kami kedua orangtuanya." Lanjutnya.
Air mataku seketika luruh tak bisa ku bendung. Aku memeluk mamah dengan erat sambil sesegukan. Kurasakan mamah membalas pelukan ku, mengelus punggung ku lembut. Sedikit lebih lama aku memeluknya, seperti meluapkan rasa bersalah yang menancap sangat dalam di relung hati. Seolah sedang memohon maaf tanpa suara. Hanya tangis yang mewakili hati ku saat ini. Aku benar-benar bingung dengan perasaan yang ada selama ini.
"Sudah. jangan nangis, nanti mamah di kira nyakitin kamu lagi." Mamah melepaskan pelukan kami perlahan mencoba mengembalikan suasana syahdu menjadi hangat kembali dengan candaannya sambil menepuk-nepuk lenganku pelan.
Aku segera menghapus jejak air mata di pipiku sambil terkekeh mendengarnya.
"Maaf mah." Hanya kata itu yang keluar dari bibirku.
__ADS_1
"Gak papa. Mamah gak akan memaksa kamu untuk mencintai anak mamah, tapi mamah sangat berharap kamu mau jadi mantu mamah. Lho gimana sih." Kata mamah yang membuat kami tertawa bersama menertawakan kata-katanya barusan. Ahhh mamah i love you so much. Tapi itu hanya ku ungkapkan di dalam hati saja. Tak berani mengungkapkan nya pada mamah. Malu aku.
Kini aku lebih dulu jatuh hati pada mamahnya dari pada ke anaknya. Hatiku terasa lebih tenang.
Kak Ando muncul dari balik pintu yang menghubungkan antara ruang makan dengan halaman belakang. Ia berjalan mendekati kami dengan senyuman khasnya.
"Lagi cerita apa sih, kayaknya asik banget. Ceritain aku ya." Ucapnya setelah duduk di bangku yang berhadapan dengan kami.
"Ih siapa yang ceritain kamu. Kita ceritanya masalah wanita dong, Ya kan Sha." Mamah meminta kesaksian ku yang hanya ku angguki dengan senyuman lebar. Ku lirik kak Ando yang juga ikut tersenyum lebar menatap ku.
Tatapan kami bertemu sesaat dan langsung ku buang pandangan ke sembarang arah. Ku yakin wajahku sekarang memerah seperti tomat. Seperti biasa aku menangkup pipiku dengan kedua tangan agar meredakan panas yang di rasakan di wajahku.
Kak Ando tidak melepas tatapannya kepadaku.
"Mau ku antar pulang sekarang?" Tanya kak Ando
Aku menoleh ke samping kepada mamahnya.
"Mah aku mau pulang sekarang gak papa?" Tanyaku pelan yang di angguki oleh mamah.
"Tapi kamu harus janji tiap akhir pekan datang kesini, yah." Mamah menyetujui tapi ada syaratnya, harus berkunjung setiap minggunya. Haduh..
"Inshaa Allah mah. Lisha gak janji, kan kadang Lisha ada praktek lab nya sampai hari minggu, tergantung dosennya. Soalnya kadang dapat dosen yang maunya praktek di hari minggu." Aku menjelaskan panjang lebar semoga mamah mengerti.
"Iyah gak papa. Yang penting jangan lama-lama, mamah suka kesepian kalau tinggal sendirian di rumah." Mamah tetep dengan bujukan mautnya.
"Kan ada kak Ando sama papah juga." Kataku
"Iya ada. Tapi gak sama." Katanya berbisik tapi masih bisa di dengar oleh kak Ando yang berada di belakang mengikuti kami menuju ruang keluarga.
Ku lirik kak Ando yang hanya geleng-geleng kepala dan tersenyum geli mendengar ucapan mamahnya.
Mbak Tuti yang tadi membantu mamah di dapur sudah tak terlihat lagi, entah kemana dia.
Setelah berada di ruang keluarga, mamah menyuruh menunggu sebentar ia akan memberi tahu papahnya kak Ando kalau aku pamit pulang.
Tak lama kemudian papah muncul bersama mamah. Aku segera pamit pulang, mencium punggung tangan kedua orang tua kak Ando dengan takzim. Kak Ando melakukan hal yang sama.
"Sering-seringlah main kesini kalau ada waktu senggang nak. Papah lihat mamah seperti punya teman baru." Kata papah yang membuat kami semua terkekeh.
"Ya udah ya pah mah. Ando pamit antar pulang Lisha dulu. Assalamualaikum..." Pamit kak Ando.
"Wa'alaikumsalam..."
"Hati-hati di jalan ya... Jangan ngebut." Nasihat mamah sebelum kami meninggalkan halaman rumah.
__ADS_1
...****************...