Suami Sabarku

Suami Sabarku
Bab 42. Fatal


__ADS_3

Mato POV,


Aku sudah kehabisan akal membujuk Felisha menikah sebelum ia lulus kuliah. Lisha terlalu keras kepala tak mau mengabulkan satu permintaanku itu. Seperti tidak serius dengan ku.


Aku merasa mungkin ada baiknya jika aku mencari sedikit hiburan di luar untuk mengalihkan pikiran.


Jika aku seperti ini terus mungkin suatu saat aku pasti akan mencelakainya. Memaksanya untuk melakukan yang di luar batas. Aku tak mau jika itu terjadi.


Setelah pulang kerja, aku melajukan kendaraan ku menuju tempat bilyar yang tak begitu jauh dari rumah. Aku memilih bermain disana karena ku pikir tak jauh dari rumah jadi tidak memakan waktu untuk sampai disana. "Cari hiburan gak perlu jauh-jauh". Pikirku.


Awalnya kurang nyaman karena belum terbiasa tapi semakin malam semakin ramai dan makin seru. Disana aku bertemu banyak orang yang sangat ramah. Mengajak untuk bergabung bermain dengan mereka. Ku pikir lumayan juga nih buat mengalihkan pikiran.


Aku bermain hingga larut malam tanpa sadar sudah mendekati subuh. Buru-buru ku akhiri permainan lalu pulang ke rumah. Sudah cukup hari ini, besok harus kembali bekerja.


Keesokan harinya, aku melihat Lisha begitu sibuk dan seperti tak peduli dengan ku. Aku kesal dengan sikapnya yang acuh tak acuh dengan hubungan kami yang sedikit tak baik.


Sepulang kerja, aku kembali mendatangi tempat itu. Saat disana, sejenak melupakan masalah dengan Lisha yang membuat ku kesal. Aku bersenang-senang dengan teman baruku. Setiap malam selalu seperti itu. Sampai suatu malam aku bertemu dengan Abraham yang sedang mabuk berat, ku lihat dia mencari-cari masalah dengan mengganggu beberapa wanita disana sampai hampir di pukuli oleh orang-orang. Aku segera menariknya agar menjauh dari kerumunan orang itu.


Karena tak tau alamat rumahnya jadi ku bawa pulang si Abraham ke rumah ku. Aku biarkan dia tidur di kamar tamu sampai pagi.


Sejak saat itu kami selalu pergi bersama. Setiap malam kami selalu menghabiskan waktu di tempat itu.


Suatu ketika Abraham tak datang, dia sedang berada di luar kota. Aku mendatangi tempat itu sendirian. Saat sedang break, aku melihat ada wanita yang sedang menatapku dan tak lama dia berjalan ke arah ku. Aku mencoba mengalihkan pandangan "mungkin bukan aku tujuan nya". Pikirku.


Tapi makin dekat dia semakin tersenyum lebar kepadaku. Aku tak membalas senyumnya karena ku pikir aku tak mengenalnya.


" Hai.." Wanita itu melambaikan tangan lentiknya setelah berada lebih dekat dengan ku Lalu kemudian berkata "Kamu Mato kan?". Aku mengernyit heran darimana dia tau namaku.


" Ya benar". jawabku singkat.


" Woaahh..kita kok bisa ketemunya disini ya. Udah lama banget gak lihat kamu. Makin ganteng aja. Kamu beneran gak ingat sama aku?" Tanyanya lagi.


Aku menggeleng tanda tak mengingat sama sekali siapa dia sebenarnya.


"Kita seangkatan lho waktu SMA. Aku Sherly anak kelas IPS". Sherly menjulurkan tangan nya untuk bersalaman. Aku pun menyalaminya.


" Oh gitu ya. Maaf aku dulu gak begitu banyak teman apalagi yang cewe. Kalau gak sekelas aku pasti gak bakal kenal sama mereka". Ucapku sok akrab.


"Hehe gak papa. Aku maklum kok".


" Eh kamu udah pernah ketemu sama Abraham belum disini? Abra yang teman sekelas kamu dulu. Ingat gak?" Tanya nya. Kok bisa dia kenal Abraham juga. Ah mungkin karena mereka sudah sering kesini makanya saling kenal. Batinku.

__ADS_1


"Udah sering. Hampir tiap malam aku kesini sama dia. Tapi malam ini dia gak kesini karena sedang keluar kota". Sebenarnya aku kurang nyaman berbicara dengan wanita jika hanya berdua. Tapi karena ku pikir dia adalah teman masa SMA jadi gak enak hati kalau gak di ladenin.


Malam itu kami bercakap-cakap seperti hal nya teman biasa. Ku lirik jam tanganku sudah menunjukkan pukul 2.00 dini hari.


"Udah malem nih, aku balik duluan ya". Kataku hendak berdiri.


" Eeh boleh minta nomer handphone kamu gak?". Ucap nya sambil menahan lenganku. Karena dia gak mungkin percaya jika aku berbohong tak punya handphone jadi aku meminta ponsel miliknya dan mengetikkan nomer ponselku disana lalu ku berikan kembali ponselnya untuk di save.


"Oke. makasih ya". Ucapnya dengan senyum lebar.


hmm cantik juga, hanya saja dandanan nya terlihat lebih tua dari usianya. Batinku.


Aku hanya mengangkat jempol sambil berlalu dari sana.


Setelah malam itu aku dan Abraham selalu bertemu dengan Sherly disana. Bersenang-senang melupakan Felisha yang tak pernah mau menerima lamaran ku. Aku tak pernah membalas pesan darinya. Aku sudah tak peduli dengan masalah ku dengan nya. Aku benar-benar seperti kecanduan dengan tempat itu. Aku senang mabuk-mabukan sampai suatu malam Sherly memberikan minuman yang ku pikir itu minuman seperti biasanya tapi ternyata aku salah.


Wanita itu tega menjebakku dengan minuman haram itu. Dia membuatku seperti orang gila, dia sudah memasukkan obat perangsang didalam minumanku yang menyebabkan semakin lama semakin tak terkendali. Sherly meliuk-liukkan tubuhnya di hadapan ku. Sekuat tenaga ku fokuskan pikiran agar tetap sadar namun libidoku semakin naik dan tak bisa ku kendalikan dan akhirnya Sherly menyadari gelagat ku.


Dia menarikku menjauh dari sana dan membawaku masuk ke mobilnya lalu pergi. Di dalam mobil aku semakin tak bisa mengendalikan diri melihatnya yang terlihat sangat seksi saat mengemudi.


Sherly ternyata membawaku ke hotel. Sherly memapahku menuju satu kamar yang tak ku ingat nomor berapa. Kami memasuki kamar itu dan disana sherly benar-benar melakukannya dengan sangat agresif. Aku tak menyangka dia lihai sekali dalam bermain. Dia seperti sangat berpengalaman. Aku benar-benar di buat seperti melayang karena permainannya.


"Aaahhhh..." Akhirnya aku terpuaskan oleh permainannya. Berkali-kali kami mengulanginya sampai kami benar-benar lelah dan tertidur lelap.


Aku tetap memaksakan diri untuk meraih pakaian ku yang berserakan di lantai.


Aku berharap dia tak mendengar gerak gerik ku sampai aku benar-benar pergi dari sana. Akhirnya aku bisa keluar dari hotel itu.


Aku merogoh ponselku lalu mengetik satu nama seseorang untuk menghubungi nya.


"Halo...lu dimana? tolong jemput gw di hotel XX sekarang". Tanpa menunggu jawaban dari seberang sana langsung saja ku tutup panggilan lalu berjalan keluar dari loby.


Tak lama kemudian orang yang ku hubungi sudah berada di depan loby hotel. Aku segera masuk ke mobil dan berlalu pergi.


"Lu nape bisa ada di hotel itu?" Tanya Abraham.


Aku diam tak menjawab. Bingung harus jujur atau tidak sama si Abra. Kalau aku jujur takut masalah ini tersebar kemana-mana. Ku buang pandangan keluar jendela mobil yang sengaja ku turunkan sedikit agar merasakan sejuknya angin subuh menerpa wajahku. Ya, saat itu aku terbangun ketika sayup-sayup terdengar suara adzan subuh yang berada tak jauh dari hotel itu. Seketika aku teringat dengan Felisha. Aku merasa sangat berdosa.


Aku diam dan menutup mata sambil memijat kening. Kepalaku semakin sakit saat teringat akan wanita yang ku cintai. Ada apa denganku yang telah jauh berbuat dosa.


"Heh..nape lu? kayaknya semalam abis enak-enakan lu ya sampai berantakan gitu". si Abra masih saja mengoceh walau aku tak menjawab satu patah kata pun dari tadi.

__ADS_1


Abra mengantar ku hingga ke rumah tapi tak ikut masuk. Ia segera pulang ke rumahnya karena pagi akan pergi untuk bekerja.


" Makasih bro". Ucapku yang hanya di acungi jempol oleh Abraham.


Aku masuk ke rumah dan langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Di kamar mandi aku mengguyur kepala dengan air dingin berharap penat ikut luruh bersama guyuran air.


***


Aku berdosa. Aku sudah kotor. Aku telah jauh melakukan dosa. Bagaimana ini. Bagaimana jika Felisha tahu. Apakah aku harus jujur saja padanya. Bagaimana kalau Felisha tak mau lagi denganku yang kotor ini. Berbagai ketakutan yang muncul di benakku.


Aku tak sanggup menemui Lisha. Berbagai ketakutan itu selalu menghantuiku. Aku menunda-nunda menemui nya sampai satu bulan berlalu setelah kejadian itu aku tak berani bertemu dengan Lisha ku. Aku sangat merindukannya namun juga terlalu takut akan kesalahan yang sudah ku buat.


Aku pun tak pernah lagi menginjakkan kaki di tempat bilyar itu. Aku berusaha menghindar dari Sherly. Aku jijik dengan wanita itu. Dia ternyata bukan wanita baik-baik seperti perkiraan ku. Dia licik. Aku membencinya.


Suara bel berbunyi. Aku mengernyit, melirik weker yang berada di atas nakas masih pukul 7 pagi. Siapa yang datang sepagi ini. Abraham kah? mau apa dia datang pagi-pagi begini. Aku beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk mencuci wajahku dan sedikit menata rambut yang masih acak-acakan khas bangun tidur.


Aku keluar menuju pintu utama dan membukanya.


Deg. Wanita ini lagi. Darimana dia tau aku tinggal disini. Benar-benar tidak ku duga dia bisa menemukan tempat tinggal ku.


"Ada apa kau kemari sepagi ini?".


" Aku masuk dulu baru aku jelasin".


"Aku gak butuh penjelasan mu. Pergilah".


" Aku hamil Mato. Hamil karena mu". Deg. serasa duniaku runtuh seketika. Aku tak percaya karena aku melakukannya hanya malam itu saja. Bagaimana mungkin dia hamil karena ku. Dia pasti berbohong.


"Uhuk...uhuk...Hamil? karena ku? omong kosong. Kamu tidak melakukannya hanya dengan ku. Kamu juga melakukannya dengan laki-laki lain. Jangan membodohi ku. Pergilah sana yang jauh.." Ucapku berusaha tak terpengaruh oleh apa yang di ucapkan wanita itu.


"Enak aja. Kamu harus menikahiku sebelum ada orang yang tahu kalau aku hamil di luar nikah."


"Hahaha...jangan mimpi kamu. Aku gak bakal nikah sama wanita lain selain wanita yang aku cintai".


" Aku gak mau tahu kamu harus menikahiku secepatnya sebelum perutku terlihat membuncit".


" Aku butuh bukti kalau itu benihku. Aku mau kamu tes DNA. Kalau itu terbukti aku akan menikahimu tapi jangan harap aku akan mencintaimu ".


" Baiklah. Akan aku buktikan". Ucapnya dan berlalu pergi meninggalkan kediamanku.

__ADS_1


Aku terduduk di depan pintu, matilah aku jika memang benar itu benihku. Yang aku takutkan sudah terjadi. Bagaimana ini. Bagaimana caraku menjelaskan kepada Lisha. Aku tak sanggup harus melihatnya terluka karena kebodohan ku. Aku tak bisa memaafkan diriku sendiri. Aku bodoh bodoh bodoh...


...****************...


__ADS_2