
Ando terlihat sibuk memasukkan beberapa koper ke dalam bagasi mobilnya. Sedangkan Felisha duduk di sebelah Ibu sambil memeluknya erat seperti tak ingin berpisah, matanya sembab karena menangis. Ayah yang melihat Istri dan anaknya itu tersenyum lalu mendekat mengusap kepala Felisha yang tertutup hijab.
"Kamu kok yang sedih begitu kayak yang mau pergi nggak akan pulang.." Ucap Ayah yang semakin membuat Felisha mengeluarkan air matanya terisak.
"Ayah.." Lisha berbalik dan langsung memeluk Ayah. Ayah mengusap-usap punggung anak semata wayangnya dengan lembut.
"Sudaaahhh...kan nanti bisa nengokin Ayah sama Ibu kapan aja..udah dong nangisnya nanti jadi jelek..nggak malu tuh di liatin suami kamu tuh.." Ayah menunjuk Ando yang sedang menatap mereka.
Bukannya berhenti, Felisha malah semakin menangis tersedu-sedu membuat Ayah, Ibu dan Ando tertawa.
"Eh kok malah tambah kenceng nangisnya..udah dong kasian suami kamu menunggu tuh.." Bisik Ibu sambil mengusap kepala anaknya.
Perlahan Felisha melepaskan pelukannya dari Ayah. Meraih tisu yang ada di atas meja menyeka air mata dan cairan yang keluar dari hidung.
"Tunggu bentar aku cuci muka dulu kak.." Lisha berlari kecil menuju dapur untuk membasuh wajahnya. Tak lama kemudian ia kembali.
"Ayo kak kita jalan sekarang.."
"Ayah..Ibu..aku jalan dulu..Ayah Ibu harus jaga kesehatan ya ngga boleh sakit..." Matanya kembali berkaca-kaca saat memberi pesan kepada Ayah dan Ibu.
"Kalian juga harus jaga kesehatan, jaga rumah tanggamu dengan baik, manut apapun yang di katakan suamimu selama itu kebaikan.." Ucap Ayah tegas.
"Cepet-cepet kasih Ayah dan Ibu cucu...supaya nanti ada alasan nengokin kamu ke Jakarta.." Ibu menangkup wajah Felisha dengan senyum menggoda dan di ciumnya.
"Ibuuu..." Wajah Felisha seketika merah karena malu. Ando tersenyum lebar mendengar permintaan Ibu. Sepertinya Ando punya senjata baru untuk menggempur istrinya.
"Ayah..Ibu..kami berangkat sekarang.." Ando maju dan meraih tangan kedua mertuanya untuk di cium lalu memeluk Ayah dan Ibu bergantian.
"Titip anak Ibu ya Do...dia banyak kekurangan nya..mohon kamu bisa mendidiknya dengan baik.." Bisik Ibu saat memeluk Ando.
"Ando juga punya banyak kekurangan bu...InsyaAllah kami akan terus belajar saling menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing..saling melengkapi." Balas Ando. Setelah itu berpindah memeluk Ayah.
"Ayah titip Felisha nak...kalau dia ada salah tegur lah dengan baik. Kalau kamu sudah bosan dengan nya maka kembalikan dengan baik pada Ayah. Ayah akan selalu menerima anak Ayah dengan tangan terbuka kalau kamu sudah bosan." Ucap Ayah kepada Ando.
"InsyaAllah Yah...Ando ngga akan pernah bosan Yah...Nanti Ando pasti akan menjaga dan mendidik Istri dan anak-anak Ando dengan baik..Ayah jangan khawatir.." Balas Ando dengan yakin. Ayah tersenyum dan menepuk-nepuk pundak menantunya itu.
Ayah dan Ibu mengantarkan Ando dan Lisha sampai mobil yang di kendarai perlahan menghilang dari pandangan. Ayah menarik nafas, berbalik berjalan masuk ke dalam rumah sambil menunduk dan terlihat menyeka air matanya yang hendak turun. Ibu yang melihat ikut meneteskan air mata karena ia tahu betul kalau suaminya itu sedari tadi menahan sedih di hatinya dan selalu berusaha terlihat baik-baik saja di depan anaknya karena tak mau membuat Lisha semakin sedih.
Sepanjang jalan Lisha banyak diam dan memilih menatap pemandangan lewat jendela. Ando sangat mengerti kondisi perasaan istrinya saat ini. Sesekali ia akan mengusap punggung Felisha dengan satu tangan karena tangan lainnya memegang kemudi.
Lisha terlihat beberapa kali menarik nafas untuk mengurangi sesak di dada memikirkan kedua orang tuanya yang hanya tinggal berdua tanpa dirinya. Walaupun selama ini ia berada jauh dengan Ayah dan Ibu tapi sekarang keadaannya sudah berbeda. Sekarang ia sudah menikah dan otomatis tak bisa pulang menengok kedua orang tuanya dengan seenak hatinya seperti ketika ia masih sendiri.
"Kak Femy dan kak Suci masih ada di rumah Mamah?" Lisha menoleh menatap sang suami yang fokus mengemudi. Felisha menanyakan kedua kakak perempuan suaminya jika masih berada di rumah Mamah, sedangkan kakak Ando yang laki-laki ia sudah kembali ke kota tempat ia bertugas sehari setelah pernikahan adiknya.
"Kata Mamah udah ngga ada orang disana kecuali Papah". Ando menjawab dengan pandangannya masih tetap ke depan. Lisha kembali menatap keluar jendela.
" Kalau ngantuk tidur aja sayang, nanti aku bangunin kalau udah nyampe rumah". Ando menoleh sebentar lalu kembali pandangannya ke depan. Lisha mengangguk lemah.
__ADS_1
Memundurkan kursinya lalu bersandar menghadap Ando. Hanya butuh beberapa detik saja Lisha langsung tertidur, tubuhnya benar-benar lelah. Bagaimana tidak, semalaman Ando merengek meminta belalainya menyembur lagi dan kembali mengulanginya tadi subuh. Dan pagi ini tenaganya kembali terkuras karena menangis.
Ando tersenyum mendengar dengkuran halus Felisha, mengulurkan satu tangannya mengusap kepala sang istri lalu meraih tangannya dan di kecupnya.
Setelah kurang lebih 3 jam perjalanan, akhirnya mereka tiba dengan selamat di rumah Papah dan Mamah. Sayup-sayup terdengar suara-suara ribut, perlahan Felisha membuka mata dan mendapati senyum di wajah suaminya yang duduk menghadapnya.
"Kita udah sampai sayang..turun yuk..itu Mamah udah heboh dari tadi nungguin kita turun.." Ando tersenyum sampai deretan gigi rapi nya terlihat, melihat kehebohan mamahnya.
Lisha kemudian duduk tegak melihat-lihat keluar sambil mengumpulkan kesadaran penuh, benar saja Mamah sudah menunggu dengan senyum sumringahnya.
"Halo sayaaaanggg...welcome to mommy's little castle..." Ucap Mamah membuka lebar tangannya menyambut anak dan menantunya dengan senyum lebar.
Ando dan Felisha mengecup punggung tangan Papah dan Mamah, bergantian memeluk keduanya.
"Apa kabar sayang?" Tanya mamah sambil memeluk erat Felisha.
"Alhamdulillah baik mah..mamah sama papah apa kabar?"
"Baik..Alhamdulillah baik.." Jawab keduanya.
Ando mengeluarkan koper dari dalam mobil lalu membawanya ke dalam kamarnya yang ternyata sudah di tata rapi dan sedikit berubah.
"Cat nya Mamah ubah jadi putih semua supaya Lisha betah lama-lama di kamar kamu. Kalau warna nya masih seperti yang dulu, khawatir mantu Mamah pasti dikit-dikit minta keluar kamar karena warnanya yang gelap..bisa-bisa cucu mamah lama jadinya.." Cerocos Mamah sambil mengajak Felisha masuk ke dalam kamar. Ando hanya geleng-geleng kepala dengan aksi mamahnya yang tidak berkompromi dulu dengan nya. Felisha tersenyum kecut mendengar ucapan Mamah yang terakhir.
"Main ganti cat aja tanpa bilang dulu ke orangnya.." Ando hanya berani menggerutu dalam hati sambil berjalan mendorong koper di belakang kedua perempuan itu.
"Biar Lisha bantu mah.." Jawab Lisha cepat merasa tak enak hati kepada mamah mertua.
"Ngga usah sayang...ada mbak Tuti yang bantu siapin..kamu istirahat aja, kalian pasti capek..udah ya mama tinggal dulu.." Mamah berjalan keluar meninggalkan Ando dan Lisha di kamar itu.
Lisha menatap punggung mama mertuanya sampai pintu tertutup kembali.
"Kita istirahat dulu sayang.." Ando memeluk Lisha dari belakang sambil menciumi leher yang masih tertutup hijab.
"Kaaakk..geliiii..ihh." Lisha menahan wajah Ando yang mendusel di ceruk lehernya dan berusaha melepaskan tangan Ando yang melingkar di perutnya namun tenaganya kalah kuat.
"Ni orang ya..tenaganya ko kuat banget..." Keluh Lisha yang membuat Ando tertawa.
"Kamu baru sadar kalau aku kuat?? Dari kemarin aku gempur tapi baru hari ini kamu ngakuin aku kuat..ckck.." Satu tangan Ando bergerak merema s vitamin D.
"Aauuhhh...kaaakkk...tangannya diem dulu ih..aku mau lepas hijabnya dulu ini gerraahh.." Tangan Felisha menahan tangan Ando yang sudah hendak menyentuh vitamin B.
"Sini aku bantu lepas..." Ucap Ando akhirnya menghentikan aksinya.
"Ngga usah..aku bisa sendiri.." Lisha melepas hijabnya dengan cepat. Lalu mengganti baju dengan memakai baju rumahan. Begitupun dengan Ando yang juga mengganti pakaian dengan memakai baju kaos dan celana pendek kesukaan.
"Kak..aku ke dapur bantuin mamah ya.."
__ADS_1
"Ngga usah...kamu ngga denger tadi mamah bilang apa?" Ando sudah kembali memeluk Felisha.
"Ya udah tapi jangan meluk-meluk terus kayak gini...sesak akunyaaa.." Keluh Lisha.
"Aku mau vitamin B sebelum makan siang boleh ya?" Ando membalikkan badan Felisha menghadapnya.
"Ya Allah...kamu ngga capek kak?..kamu nyetir mobil dari Bandung ke sini tanpa henti..sekarang bukannya istirahat malah minta nyembur lagi..?" Lisha merasa tak percaya dengan permintaan suaminya.
Ando melihat jam dinding di kamarnya menunjukkan pukul 10 pagi.
"Ya udah, kita istirahat sekarang tapi kamu kabarin Ayah dan Ibu dulu kalau kita udah nyampe rumah." Ando melepaskan pelukannya lalu duduk di tepi ranjang.
"Tuuh kaan sampai lupa mau nelfon Ibu.." Gerutu Lisha yang langsung meraih dan membuka tasnya mencari handphone. Ando tersenyum merasa lucu melihat ekspresi istrinya jika sedang panik.
"Halo...Assalamu'alaikum bu..kita udah nyampe rumah ini."
"Alhamdulillah...salam ya sama Mamah mertua kamu.."
"Iya bu, nanti Lisha sampaikan.."
"Ayah mana bu?"
"Ada..bentar ibu panggil dulu.." Terdengar teriakan Ibu yang memanggil Ayah.
"Ayah seperti biasa..mainin ayam-ayam nya.." Ucap Ibu saat panggilan nya tak di jawab.
"Hehehe..Ya udah bu..Lisha cuman mau ngabarin kalau udah nyampe rumah. Lisha tutup dulu telponnya ya bu..Assalamu'alaikum.."
"Wa'alaikumsalam.."
"Rufi sama Lita nggak di kabarin sayang?" Ucap Ando yang kini berbaring menutup setengah wajahnya dengan lengan.
"Iya ini baru mau ngabarin mereka." Lisha terlihat mengutak-atik ponselnya. Mengetik pesan lalu di kirimkan kepada Rufi dan Lita. Ia memilih mengirim kan pesan di grup yang anggotanya hanya mereka bertiga karena jika melepon takut mengganggu Rufi dan Lita yang sedang bekerja.
"Fiiiii...Taaaa...kangen kaliaaaannnn...😭😭😘😘😘"
"Eh pengantin baru apa kabaaarrr?????". Lita
"Kangen kamu juga Shaaa...😘😘😘🤗🤗". Rufi
" Taaa kamu ngga kangen sama akuuu????? JAHAT !!!" Lisha
"Kangeeeennnn banget...tapi aku lebih kangen ama yang 750 jeti ituuu...☺️☺️☺️" Lita
"LITAAAAA....DASAR MATREEEE!!!" Lisha dan Rufi
"🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣" Lita.
__ADS_1
...****************...