Suami Sabarku

Suami Sabarku
Bab 40. Rapuh


__ADS_3

"Aku mau tau alasan dia ninggalin aku. Aku seperti perempuan yang tak pantas di cintai karena seenaknya aja dia menghilang, lalu sekarang muncul di hadapanku seolah merasa bersalah. hiks hiks hiks". Felisha masih sesegukan sambil mengeluarkan uneg-unegnya. Tanpa menyadari ada sepasang telinga yang mendengar tangis dan semua ucapannya".


Laki-laki jangkung yang sedang berdiri di luar itu terpaku. Hatinya seperti di remas mendengar isakan dari wanita yang di cintainya karena ulahnya. Ya, Mato terpaku dengan hati yang hancur mendengar isakan dan ucapan Felisha.


Sejak pertemuannya dengan Lisha tadi pagi Mato menjadi uring-uringan. Segera di selesaikan nya proses interview, berniat untuk pergi menemui wanita yang di cintainya dan menjelaskan semuanya. Setelah pekerjaannya selesai, melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya ternyata sudah waktunya istirahat. Gegas ia meraih jaket nya lalu berlari kecil menuju parkiran untuk mengambil kendaraannya.


Melaju sedikit kencang agar secepatnya tiba di tempat tujuan. Setibanya di depan kamar Felisha, ia sejenak mengatur nafas, menarik nafas lalu melepaskannya dengan pelan. "Sudah lama sekali aku gak pernah kesini, gak ada yang berubah semoga Lisha masih disini belum pindah ke tempat lain". Segera di ketuknya pintu kamar yang dulu sering di kunjunginya namun sampai ketukan ke tiga tak kunjung ada jawaban.


"Sepertinya gak ada orang, apa jangan-jangan Lisha udah gak disini lagi ya". Pikir Mato.


Melangkahkan kakinya pelan menuju kamar Rufi, melihat-lihat siapa tau Rufi masih ada disana mungkin bisa membantunya bertemu Lisha. Semakin dekat sayup-sayup terdengar suara isakan yang menyayat hati. Semakin penasaran ingin tahu siapa wanita yang sedang terisak di kamar Rufi. Dan ternyata itu adalah Felisha. Seketika hatinya hancur saat mendengar ucapan wanita itu di antara isakkannya.


Diam terpaku tak tahu harus bagaimana. Ragu-ragu ia langkahkan kaki nya semakin dekat dengan suara isakan itu. Berdiri di depan pintu kamar Rufi yang terbuka lebar. Seketika Rufi dan Lita menoleh, dua sahabat Lisha itu sangat terkejut melihat keberadaan Mato disana. Lisha menghapus air mata yang menggenangi wajahnya dan ikut menoleh ke arah pintu, tanpa sadar ia langsung berdiri, berjalan dan berhenti tepat di hadapan laki-laki yang terdiam menatapnya lekat dengan wajah sendu.


" PLAAKKK..." Bunyi tamparan di wajah Mato mengejutkan Rufi dan Lita. Segera Rufi berjalan cepat untuk meraih Lisha untuk di tenangkan. Sedangkan Lita sengaja membiarkan saja karena ia juga merasa sakit melihat Lisha yang selalu saja di bayangi oleh masalalu yang pahit.


Mato bergeming. Mengusap pipinya yang merah bekas tamparan wanita yang di cintainya. Merasa pantas mendapatkannya. Lebih dari itu juga dia akan terima dengan ikhlas asalkan Lisha memaafkannya.


Rufi menuntun Lisha agar duduk di kursi teras yang ada di depan kamarnya. Memeluknya sambil mengatakan sesuatu agar Lisha lebih tenang dan menyelesaikan masalah nya dengan Mato secara baik-baik. Tak lupa ia mengingatkan kalau ada Ando yang akan terluka atas sikapnya yang seperti ini. Jadi Lisha harus bersikap semestinya.


"Aku sama Lita ke kamar kamu dulu ya biar kalian ada waktu buat selesaiin masalah dengan baik-baik". Bisik Rufi yang hanya di angguki oleh Lisha. "Ingat ada kak Ando". Lanjut Rufi sambil tersenyum segaris. Lisha hanya menatap Rufi yang berlalu bersama Lita.


Mato berjalan mendekati Lisha, menggeser kursi tepat di hadapan wanita yang sudah menamparnya barusan. Menatapnya dengan sendu. " Apa kabar?" Tanya Mato mengawali percakapan.


"Aku baik". Berusaha berbicara dengan baik dan tenang seperti pesan sahabatnya, Rufi.


" Apa aku mengganggu waktu mu?"


"Tidak, sama sekali tidak".

__ADS_1


" Syukurlah. Terimakasih sudah mau meluangkan waktu untuk ku".


*Hening...


1 menit


2 menit


3 menit*


"Maaf. Aku minta maaf". Ucap Mato sambil menunduk. Malu dengan sikapnya yang kekanakan meninggalkan Felisha tanpa kabar. Tanpa memberitahu apa masalahnya.


"maaf untuk apa?". Lisha berbicara dengan sangat tenang walau hatinya seperti di aduk-aduk.


Mengangkat wajahnya dan menatap Lisha dengan lekat. "Aku minta maaf sudah bersikap kekanakan, ninggalin kamu tanpa kabar dan tak pernah datang untuk menemui mu." Tak ada jawaban dari Lisha.


"Aku..aku minta maaf sudah berbuat yang tidak semestinya di belakang mu waktu itu." Terus berbicara sambil menundukan wajahnya. Mato sangat malu untuk menjelaskan semuanya kepada Lisha atas apa yang terjadi padanya. Lisha membiarkan Mato berbicara.


"Aku...aku memiliki anak dari wanita lain". Dengan susah payah ia mengatakannya. Wajahnya memerah. Sudah di perkirakan olehnya kalau Felisha akan sangat terkejut mendengar pengakuannya ini.


Felisha begitu terkejut mendengar ucapan laki-laki yang ada di hadapannya saat ini. Namun tak juga mau berkata sepatah katapun. Lidahnya seperti kaku untuk berbicara. Lalu Mato melanjutkan ceritanya.


" Saat kamu sedang sibuk-sibuknya kuliah waktu itu kita jarang bertemu, aku mengalihkan pikiran dengan sedikit hiburan agar aku gak lagi-lagi memaksamu untuk menikah secepatnya sebelum kamu lulus kuliah".


"Sepulang kerja, aku pergi ke tempat bermain bilyar, disana aku merasa terhibur dan pikiran ku sedikit teralihkan".


" Aku ternyata kecanduan. Setiap malam aku menghabiskan waktu disana. Sampai aku bertemu seseorang yang menawarkan minuman padaku. Kupikir itu gak akan membuatku mabuk tapi ternyata aku salah, itu sangat memabukkan. Tapi aku terus mengulanginya. Aku seperti kecanduan dengan minuman itu".


"Sejak hari itu aku selalu pulang ke rumah dengan keadaan mabuk. Akhirnya gak pernah berani untuk datang kesini menemui mu".

__ADS_1


" Disana aku mengenal banyak wanita sampai akhirnya aku bertemu dengan teman masa SMA. Kami bertemu disana lalu kemudian akrab. Ku pikir dia wanita baik tapi ternyata dia menjebakku. Dia menawarkan minuman yang ternyata itu sudah di tambahkan dengan obat yang membuatku gila. Aku melihatnya begitu menggoda dan ingin menerkamnya dengan cepat. Dan..dan..akhirnya itu terjadi. Aku melakukannya dengan wanita itu". Mato menjelaskan dengan wajah merah dan mata yang juga sudah memerah.


"Kupikir aku hanya melakukannya sekali dia gak akan hamil tapi ternyata setelah sebulan aku gak pernah lagi bertemu dengannya, aku berusaha menghindarinya tetapi dia malah datang menemui ku, memintaku untuk menikahinya karena dia sedang mengandung benihku."


Felisha mengalihkan wajahnya ke sembarang arah menutup matanya sejenak mencoba untuk tenang mendengarkan penjelasan dari Mato, karena inilah yang selama ini di harapkan nya. Mengharapkan penjelasan dari laki-laki yang meninggalkannya begitu saja. Hatinya sakit, sangat sakit namun ia harus menerimanya. Mengikhlaskan semua yang sudah terjadi.


"Saat itu aku merasa duniaku hancur lebur. Aku merasa sangat kebingungan harus bagaimana. Aku gak ingin menikah dengan wanita lain selain kamu. Aku gak pernah terpikirkan sedikitpun akan menikah dengan wanita lain selain kamu karena kamu perempuan yang aku cintai". Menatap wajah Lisha yang tak pernah mau menatapnya. Setetes demi setetes airmata keluar namun dengan cepat di hapusnya dengan kasar. Mato mengatakan itu dengan hati yang hancur.


Hati Felisha juga ikut hancur dengan kenyataan yang di terimanya.


"Aku gak percaya kalau dia hamil karena ku. Aku mengatakan kalau aku akan menikahinya jika benar itu anakku."


"Kami akhirnya melakukan tes DNA. Dan ternyata DNA ku cocok dengan janin yang di kandungnya".


"Aku gak pernah menghubungi mu karena pikiran ku terlalu kacau saat itu. Memikirkan bagaimana aku menjelaskan semuanya ke kamu. Bagaimana jika kamu gak mau lagi menerimaku yang kotor ini".


" Aku gak pernah punya keberanian untuk menemuimu sampai saatnya kita bertemu tadi pagi. Aku laki-laki pengecut. aku laki-laki pengecut". Ucapnya dengan mata memerah. Mengepalkan tangannya tanpa di duga Mato berdiri dan langsung melayangkan kepalan tinjunya ke tembok kamar Rufi yang berada tepat di hadapannya berkali-kali menumpahkan amarah yang selama ini di simpannya. Marah kepada diri sendiri yang telah jauh menyakiti hati wanita yang di cintainya.


"STOOP!!! Berhenti kak Mato sudah cukup tanganmu terluka". Lisha sangat terkejut dengan yang di lakukan Mato. Tanpa sadar ia teriak untuk menghentikan Mato yang terus menghantamkan tinjunya ke tembok sampai tangannya mengeluarkan darah.


Rufi dan Lita seketika langsung berlari keluar kamar mendengar teriakan Lisha.


" Ada apa Sha...?" Ucap keduanya sambil berlari mendekat. Betapa terkejutnya mereka saat melihat Mato yang terduduk dengan darah segar mengalir di tangannya.


Rufi masuk kedalam kamar lalu tak lama kemudian ia keluar membawa kotak obat yang selalu tersedia di kamarnya. Memberikannya kepada Lisha, dengan sigap Lisha mengeluarkan alat-alat yang di perlukan nya. Meraih tangan Mato untuk membersihkan lukanya, mengoleskan obat merah dengan hati-hati lalu menutupnya dengan perban.


Mato tak melepaskan tatapannya sedikit pun kepada wanita yang sudah di sakitinya itu. Hatinya semakin sakit melihat Lisha yang berusaha tegar walau sebenarnya sangat rapuh. Ingin sekali ia memeluknya erat melepaskan kerinduannya selama ini namun itu urung ia lakukan karena Lisha tidak akan mengizinkannya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2