Suami Sabarku

Suami Sabarku
Bab 22. Perkenalan Singkat


__ADS_3

"Assalamualaikum..." Ucap orang itu


"Wa'alaikumsalam..." jawab tiga serangkai dengan kompak sambil menoleh ke arah suara.


"Fel..." Panggil orang itu kepada Felisha sambil berjalan menuju ke arah Lisha, Rufi dan Lita sedang duduk.


"Iya kak."


Jawab Felisha yang langsung mengenali panggilan itu. Siapa lagi kalau bukan Iman.


Ketiganya sudah sangat mengenal siapa yang datang, karena memang sudah sering berlalu lalang disana, di rumah kost itu maupun di kampus tempat mereka menimba ilmu.


Orangnya sangat baik dan ramah. Namun baru kali ini orang itu mendatangi Felisha, Rufi dan Lita ke kamarnya.


Selama ini ia hanya biasa datang berkunjung kepada salah satu penghuni kost yang juga adalah temannya namun sekelas dengan Felisha dan juga Lita jika di kampus, Adi.


Orang itu adalah Isman namun biasa di sapa dengan panggilan kak Iman karena usianya yang terpaut enam tahun dari tiga serangkai Felisha, Rufi dan Lita.


Iman cukup akrab dengan ketiganya karena pembawaannya yang supel sehingga mereka dengan mudah menjadi akrab sejak pertama kali bertemu.


***


Flashback ON


Mereka saling mengenal dan saling menyapa untuk pertama kalinya ketika waktu itu Iman hendak ke kamar Adi namun disana ia tak bertemu Adi. Iman yang akan pulang tak sengaja bertemu dengan tiga serangkai Felisha, Rufi dan Lita yang baru saja pulang dari kampusnya.


"Permisi.. Boleh tanya dikit?" Tanya Iman kepada ketiganya


"Iya boleh. mau nanya apa kak?" Jawab Lita


"Kenal yang punya kamar nomer 2A yang sana gak?" Tanya Iman sambil menunjuk ke arah dimana kamar Adi berada.


"Oh iya kenal kak, dia temen sekelas kami." Lita menunjuk dirinya dan Felisha bergantian.


"Oh gitu. Adi kan namanya? Sekarang Adinya dimana ya?" Iman


"Adi tadi masih di kelas kak. belum pulang."


"Ya udah. makasih ya infonya."


Iman segera pamit pulang.


Flashback Off


***


Sejak saat itu mereka saling mengenal dan saling menyapa jika bertemu di lain waktu dan tempat.


Mereka semakin akrab karena seringnya Iman datang ke kamar kos Adi.


Iman berprofesi sebagai seorang jurnalis di salah satu media massa terbesar di kotanya.


"Mau kemana kak? tanya Lita saat Iman mendekati ketiganya.


"Duduk dulu kak." Rufi mempersilahkan Iman duduk di salah satu kursi yang kosong.


Iman duduk sambil menjawab pertanyaan Lita


"Tadi habis dari kamar Adi, pas mau balik eh liat kalian bertiga pada ngumpul disini sambil tawa tawa, jadi sekalian aja mampir. Pada ngetawain apa sih? bahagia amat kayaknya."


Kata Iman panjang lebar sambil menatap tiga serangkai bergantian. Yang langsung di sambut dengan tawa ketiganya.


Iman mengerutkan keningnya heran. Lalu ikut tersenyum


"Heii malah ketawa lagi. Bagi dong ceritanya biar kita ketawanya bareng" Ucap Iman heran melihat tingkah ketiganya yang haha hihi Mulu dari tadi.

__ADS_1


"Rahasia dong kak." Jawab Lita yang membuat mereka kembali tertawa dan Iman hanya tersenyum lebar menampilkan giginya yang rapih sambil menggelengkan kepalanya.


"Eh kalian gak keluar malam mingguan nih?" Tanya Iman menatap ketiganya bergantian.


"Enggak kak. Malas." Jawab Felisha cepat


"Aku sama Rufi sih mau aja kalau ada yang ngajakin keluar malam mingguannya. Ya kan Fi?"


Lita mencolek Rufi yang hanya di balas dengan gelengan dan senyuman lebar dari Rufi.


"Ya elah Fi.. jawab iya aja kenapa sih.." Lita


"Malas ah.. enakan duduk disini sambil ngobrol dari pada di luar sana makan angin."


Jawab Rufi yang di sambut dengan tawa Lisha dan Iman. Sedangkan Lita mencebikan bibirnya kesal. Karena Rufi tak mau di ajak kerjasama malam ini. Padahal ia ingin sekali hang out malam ini.


"Emang Bara gak ngajakin kamu keluar malam mingguan Lita?"


Tanya Iman yang langsung membuat Lita cemberut. Pasalnya malam ini Bara sedang ada hajatan keluarga namun tak mengajak Lita untuk ikut karena acaranya berada di luar kota.


Lisha dan Rufi menahan tawa mendengar pertanyaan Iman yang mengingatkan Lita jika malam ini Bara tak bisa datang karena hajatan itu.


"Enggak kak. Dianya sibuk banget tuh." Jawab Lita cuek sedikit kesal.


Tawa Lisha dan Rufi pun pecah. Sedangkan Iman hanya tersenyum dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Merasa bingung dengan respon Lita.


"Fel..malam ini kamu gak di apelin sama yang staf dosen itu. Kalau gak salah namanya Mato yah? "


Iman mengalihkan pertanyaannya yang sukses membuat Lisha dan Rufi menghentikan tawanya. Ketiganya langsung menoleh ke arah Iman yang bingung dengan ekspresi mereka.


"Ada apa?"


"Ada yang salah dengan pertanyaanku?"


Iman bergidik melihat tatapan ketiganya. Seketika Felisha, Rufi dan Lita tertawa keras. Semakin membuat Iman heran dan bingung melihat tiga serangkai itu.


"Kita tuh JOJOBA kak, Jomblo Jomblo Bahagia."


Ucap Felisha setelah berhasil menghentikan tawanya dan berganti dengan senyuman lebar sambil menunjuk dirinya dan Rufi bergantian.


"Tepatnya pura-pura bahagia kak."


Sambung Rufi dan Lita bersamaan yang kembali membuat mereka terbahak. Iman akhirnya ikut tertawa mendengar perkataan Rufi dan Lita.


"Aku gak yakin ah! Ucap Iman


"Beneran kak, gak liat? ini buktinya enggak ada yang ngapelin kita kan?"


Ucap Felisha meyakinkan setelah berusaha menghentikan tawanya, Rufi dan Lita mengangguk pasti.


"Kalau kak Iman punya temen yang jomblo boleh dong di kenalin ke kita, Ya gak Sha?"


Ucap Rufi sambil menaik turunkan alisnya dan tersenyum menggoda kepada Iman lalu menoleh ke arah Lisha yang tertawa kecil sambil menggeleng pelan mendengar ucapan sahabatnya itu.


"Kalau sama aku, mau gak kamu?"


Tanya Iman kepada Rufi yang langsung di jawab dengan gelengan.


"Jangan dong kak. Kita kan temenan." Jawab Rufi cepat


Felisha dan Lita menutup mulutnya menahan tawa. Sedangkan Rufi merasakan wajahnya menghangat. Pasti sekarang terlihat merah seperti tomat. Batin Rufi


"Tapi kamu serius Fel udah putus sama Mato?


Tanya Iman lagi meyakinkan dugaannya atas jawaban ketiganya sejak tadi.

__ADS_1


"Iya kak. Udah lama banget malah, udah ada setahun lebih." Jawab Derisha sambil tersenyum.


"Serius?" Tanya Iman kaget


"Serius kak. Ngapain boong!


"Aku punya temen nih, aku kenalin ya siapa tau kalian cocok. Ya kan?"


Ucap Iman sambil terlihat merogoh saku celananya mengambil ponselnya dan mengirim pesan kepada seseorang.


Tak lama kemudian ia menerima panggilan telepon dan berbicara sebentar lalu memberikan ponselnya pada Felisha untuk berbicara dengan orang yang sedang menelponnya itu.


Felisha menerimanya dengan alis berkerut.


"Siapa?" Tanya Felisha berbisik menjauhkan wajahnya dari ponsel Iman


"Ayo ngomong aja dulu". Iman


Felisha perlahan menempelkan ponsel Iman ke telinganya dan mendengar suara bariton dari seberang sana.


"Halo..." Ucap seseorang disana


"Ha halo..." Ucap Felisha gugup


"Dengan Felisha ya?"


"Iya kak. Ini siapa ya?


"Saya temennya Iman."


"Oh iya. Salam kenal ya kak."


"Salam kenal juga Lisha."


Hening, suasana menjadi canggung ketika keduanya saling diam. Bingung harus ngomong apa lagi kali ini.


....


....


"Ya udah ya Kak, aku balikin lagi ponselnya ke kak Iman ya kak." Ucap Felisha akhirnya memecah keheningan.


"Eeh Jangan dulu. Kamu lagi sibuk ya. Maaf kalau ganggu."


"Enggak kok kak. Lagi ngobrol aja sama temen-temen."


"Kamu gak nanya nama saya siapa?"


"Eeh iya. nama kakak siapa?" Tanya Felisha canggung


Terdengar suara tawa kecil di seberang sana.


"Enggak penting banget ya mau tau nama saya?"


"Enggak kak. Tadi lupa mau nanya..hehe.." Jawab Felisha cengengesan..malu sendiri. Saking gugupnya sampai lupa nanyain namanya.


"So, mau gak nih saya kasih tau nama saya siapa?"


Orang itu sengaja menggoda Felisha. Ia tau kalau sekarang Lisha gerogi dan canggung berbicara dengannya.


Padahal sebenarnya ia juga merasa gugup saat hendak berbicara dengan Felisha namun ia seorang laki-laki. Ia tak akan memperlihatkan kelemahannya di depan wanita. Apalagi ini pertama kali berbicara dengan gadis setelah beberapa tahun menutup diri dari wanita.


Felisha terkekeh mendengar ucapan orang itu yang sedang menggodanya.


"Iya deh boleh. Jadi siapa namanya kak?"

__ADS_1


...****************...


__ADS_2