
Malam ini aku mencurahkan isi hati ku yang selama ini ku pendam sendiri. Setetes demi setetes tanpa sadar air mataku menetes dengan sendirinya. Rufi dan Lita mendengarkan curhatanku sambil sesekali mengelus lenganku untuk menenangkan ku yang terkadang terisak kecil menahan sesak di dada.
"Kak Mato pasti punya alasannya sendiri kenapa sampai dia tak ada kabar Sha." Ucap Rufi di tengah elusannya.
"Iya. Aku tau kak Mato cinta banget sama kamu Sha. Dia pasti punya alasannya." Lita
Aku hanya mengangguk menyetujui apa yang di katakan Rufi dan Lita.
Perlahan ku hapus air mataku, ku pejamkan mata menarik nafas dalam-dalam dan ku hembuskan pelan untuk mengurangi gundah di hati.
Aku akan mencoba untuk menunggu kak Mato sampai ia datang menjelaskan semuanya padaku.
Hari-hari ku, ku jalani seperti biasa dengan aktivitas di kampus. Ku coba untuk menunggu kak Mato walau tak pernah ada kepastian kapan dia akan datang menemuiku lagi.
Sampai enam bulan kemudian dia sekalipun tak pernah ada kabarnya.
Aku mulai menyerah menunggunya. Aku merasa memang sepertinya kak Mato tak akan pernah kembali lagi. Mungkin dia sudah menemukan orang yang tepat untuk ia jadikan istri dan pendamping hidupnya.
Aku putuskan tak akan menunggunya lagi. Aku akan melanjutkan hari-hariku seperti sebelum bertemu dengannya. Ya, You have to move on Lisha! Aku menyemangati diri sendiri.
***
Hari berlalu ku jalani tanpa kak Mato lagi. Awalnya berat karena terbiasa dengan perhatiannya, sehari-hari nya dia akan memberikan perhatian kecil yang membuat hatiku nyaman dengannya.
Tapi aku tidak bisa jika harus berlama-lama dengan perasaan sedih, sakit dan marah jika mengingat semuanya.
Aku harus bisa melupakan semua kenangan bersama kak Mato. Tepatnya bukan melupakan tapi mengubur dalam-dalam kenangannya yang sesekali akan ku kenang nanti untuk di jadikan pelajaran hidup.
Sejak saat itu kak Mato benar-benar tak ada kabar sama sekali. Seperti di telan bumi.
Aku kembali sibuk dengan rutinitas sehari-hari yaitu kuliah. Untung saja akhir-akhir ini di kampus sedang mulai di sibukkan dengan pembekalan untuk persiapan PKL (Praktek Kerja Lapangan) yang sebentar lagi akan di laksanakan.
Membuat pikiranku tentangnya sedikit teralihkan.
***
Hari ini tepat setahun Mato tak ada kabarnya sama sekali dan Felisha sudah tak pernah mengharapkan kehadirannya lagi.
Felisha, Rufi dan Lita selalu bersama kemanapun. Mereka terlihat seperti kembar tiga saja. hehe
__ADS_1
Di kampus Felisha, Rufi dan Lita sedang duduk di gazebo ruang kelas seperti biasa, mengerjakan laporan hasil praktikum sambil mengobrol santai.
Sesekali mereka akan tertawa riang jika Lita bercerita tentang kejadian lucu.
Hari ini tidak ada proses belajar mengajar karena telah menyelesaikan praktikum jadi semua sedang mengerjakan laporan masing-masing.
Pukul 12.00 siang, tiga serangkai Felisha, Rufi dan Lita beranjak menuju ke kantin untuk makan siang lalu menunaikan shalat Dzuhur setelahnya.
Di tengah obrolannya sambil menunggu pesanan mereka datang, mereka mendengar bisik-bisik dari dua gadis yang sedang duduk tak jauh dari tempat duduk Felisha, Rufi dan Lita.
Dua gadis itu ternyata adalah teman sekelas Rufi. Mereka adalah Yuli dan Mila. Keduanya sedang duduk makan siang dengan posisi membelakangi tempat duduk Felisha, Rufi dan Lita sehingga tidak mengetahui keberadaan mereka disana.
Entah apa yang sedang mereka bahas sampai terdengar ada nama Mato dalam pembahasan mereka.
Hati Felisha terasa berdenyut mendengar nama Mato. Sedangkan Rufi dan Lita seketika menoleh ke arah sahabat mereka yang tentu saja langsung terdiam mendengarnya.
Tak ingin mendengar percakapan dari dua gadis itu, Felisha segera memasang headset untuk mendengarkan musik melalui aplikasi yucub di ponselnya.
Rufi dan Lita mengelus lengan sahabat mereka agar merasa tenang.
Pesanan mereka datang dan ke tiganya langsung saja melahap makanannya dengan diam tak ada yang bersuara sampai selesai.
Setelah itu mereka beranjak ke musholla untuk melaksanakan shalat Dzuhur.
"Aku mau langsung pulang ya. kalian langsung pulang juga gak?" tanya Felisha pada dua sahabatnya.
"Aku masih ada laporan yang harus ku kerjakan." Ucap Rufi cepat sambil melirik Lita yang juga meliriknya.
"Ya udah, aku mau pulang duluan. Kamu mau ikut pulang sekarang gak Ta?"
Tanya Felisha kepada Lita yang hanya terdiam sedari tadi. Mungkin masih syok mendengar percakapan kedua gadis yang duduk tak jauh dari mereka tadi, yaitu Yuli dan Mila.
"Aku ikut pulang Sha, lagian di kampus sudah gak ada yang harus di kerjakan kan." Lita beranjak dan menggamit lengan Felisha mengajaknya pergi dari sana.
"Kita pulang duluan ya. baaayyy.." Lita melambaikan tangannya kepada Rufi.
"Oke. baayy" Rufi membalas lambaian Lita dan berjalan menuju ke ruang kelasnya.
"Kita mampir ke Indojuni ya Sha"
__ADS_1
"Iya, aku juga mau beli snack buat cemilan di kamar.
"Oke. Let's go!
Keduanya jalan bersisian dengan Lita yang tak henti-hentinya bercerita sampai tiba di depan Indojuni. Apa aja di bahas olehnya dan Felisha hanya menjadi pendengar setia, hanya sesekali ia menimpali.
Mereka masuk untuk berbelanja kebutuhan mereka masing-masing.
Tak lama kemudian mereka beranjak dari sana dan pulang ke kosan.
Lita kemudian mengirim pesan kepada Rufi untuk tidak memberi tahu Felisha tentang apa yang sudah mereka dengar tadi.
Lita tak memberi tahunya tentang apa yang sudah di dengarnya tadi ketika di kantin, bersyukur Felisha langsung memasang headset ke telinganya agar tak mendengar percakapan Yuli dan Mila tadi. Begitu pula dengan Felisha yang tak menanyakan kelanjutan percakapan dari Yuli dan Mila ketika di kantin.
Lita tak mau sahabatnya merasakan sakit hati lagi dan lagi jika mengetahui kenyataan tentang Mato. Jadi ia putuskan untuk tidak menceritakannya kepada Felisha.
Felisha benar-benar tak ingin lagi mendengar tentang Mato. Ia tak ingin usahanya selama setahun ini menjadi sia-sia untuk melupakan semuanya.
Terkadang Rufi dan Lita merasa iba melihat sahabat mereka yang tiba-tiba di tinggal pergi. Kok bisa-bisanya Mato meninggalkan Felisha tanpa alasan yang jelas seperti itu.
Mereka tau tidak mudah bagi Felisha untuk bisa seperti sekarang. Mereka juga tau dan mengerti perasaan Felisha untuk bisa menerima kenyataan bahwa Mato benar-benar meninggalkannya.
Sedih, Sakit, kecewa dan marah bercampur jadi satu. Itu yang di rasakan oleh Felisha ketika tiba-tiba Mato pergi dan tak ada kabar sama sekali.
Namun sekarang Lisha sudah baik-baik saja. Sudah bisa menerima semuanya. Ia kembalikan lagi bahwa mereka belum berjodoh.
***
Di kos,
Felisha, Rufi dan Lita sedang duduk santai sambil mengobrol di teras depan kamar. Lisha terlihat sedang serius mendengarkan cerita Lita dan Rufi yang membahas tentang perjodohan.
Sesekali mereka akan tertawa ketika Rufi terlihat polos dalam membahas mengenai jodoh.
Tiba-tiba terdengar suara orang yang mengucapkan salam.
"Assalamualaikum..." Ucap orang itu
"Wa'alaikumsalam..." jawab tiga serangkai dengan kompak sambil menoleh ke arah suara.
__ADS_1
...****************...
Jangan lupa like dan komen ya akak-akak sayang 🤗