Suami Sabarku

Suami Sabarku
Bab 43. What kind of feeling is this??


__ADS_3

Setelah kepergian wanita itu, aku segera masuk kembali ke dalam rumah. Aku masih terguncang dengan apa yang ku dapat saat itu. Benar-benar membuat duniaku hancur.


Aku semakin tak sanggup bertemu dengan Lisha ku. Jiika benar itu benihku itu artinya aku harus segera menikahi wanita yang tidak aku cintai. Aku tak pernah terpikirkan akan menikah dengan wanita lain selain Felisha. Aku tidak akan sanggup jika itu bukan Lisha ku. Aku menyesal telah mengabaikannya. Aku sangat menyesal.


Dengan terpaksa aku harus menceritakan semua apa yang sudah terjadi antara aku dan Sherly kepada Abraham. Semoga dia bisa memberi solusi yang tepat, yang baik untuk ku dan juga untuk Sherly.


Ku raih ponselku dan mendial nama Abraham yang tertera disana.


"Halo. Assalamu'alaikum..."


"Wa'alaikumsalam...ada apa lu?"


"lu ada waktu gak nanti siang?"


"Ada. Nanti ketemunya di resto deket rumah lu aja. gimana?" Ucap Abraham.


"Oke. Aku tunggu disana nanti siang".


" Ya udah ya. gw lanjut kerja dulu. Assalamu'alaikum... "


"Wa'alaikumsalam..."


Aku menutup panggilan. Semoga Abraham bisa membantuku kali ini.


Siang hari,


"Ada hal apa sih? kayaknya penting banget". Ucap Abraham setelah ia menyeruput minumannya.


Ku tarik nafas menghembuskan kasar. Ingat gak waktu itu gw tiba-tiba ngilang di...


Aku menjelaskan semuanya kepada si Abra kadabra semoga saja dia ada solusi dengan masalah yang ku hadapi ini.


Setelah mendengar penjelasan ku, Abra diam seolah memikirkan sesuatu. Ia bahkan tak terkejut saat aku memberi tahunya.


" Sebelumnya gw mau ngasih tau lu dulu tentang si Sherly". Abra menceritakan siapa sebenarnya Sherly. Ternyata dia adalah wanita yang sudah lama menaruh hati padaku namun aku tak pernah menyadarinya dan tak pernah ingin tahu maksud hatinya mendekatiku. Karena ku hanya menganggap sebagai teman biasa tidak lebih.


Beberapa kali ia meminta izin kepada Abraham untuk mendekati ku namun Abra tak pernah mengizinkan. Abra mengancamnya, jika dia tetap ingin mendekatiku maka Abra akan membocorkan kehidupan nya yang merupakan wanita panggilan. Ya, selama ini Sherly bekerja sebagai wanita penghibur. Pantas saja dandanan nya selalu menor.


Dan yang di takutkan oleh Abra ternyata terjadi. Tapi ia tak menyangka Sherly nekat melakukan itu semua demi mendapatkan ku. Abra menarik nafas dan membuangnya sedikit kasar.


"kita tunggu dulu hasil tes DNA keluar, setelah itu baru kita pikirkan bagaimana selanjutnya. Kamu tenang aja biar aku yang mengurusnya".


" Gimana aku bisa tenang bro...kalau hasilnya positif gimana?"


"Ya lu nikahin dia lah..mau gimana lagi? Siapa suruh bego".


" Brengsek banget sih lu. gw nyuruh lu bantuin gw supaya gak sampe nikahin dia. malah enaknya aja suruh nikahin. gimana sih". omelku saat mendengar solusi yang ia ucapkan


akhirnya tes DNA sudah keluar. Aku takut melihat hasilnya jika sampai positif maka hubunganku dengan Felisha tak ada harapan lagi. Akan benar-benar hancur. Lisha ku tak akan mau menerima ku lagi.

__ADS_1


Aku mendatangi kantor Abraham untuk memberi tahunya kalau hasil DNA sudah aku pegang tapi takut membukanya dan melihat hasilnya. Abraham pun mengizinkan aku menemuinya di kantor.


"Buka aja nape sih..waktu lu berbuat gak ada takut-takut nya kan. Masa sekarang lu takut terima hasil perbuatan lu". Ucapan Abraham selalu saja memojokkan ku. Ingin ku robek mulutnya yang tak ada akhlak itu.


" Gak usah banyak bacot. Cepat bukain gw gak sanggup nerima kenyataan kalau DNA nya cocok denganku. Ya Allah ampuni aku".


Abraham meraih amplop yang ku lemparkan ke atas meja nya. Segera membukanya dan membaca hasil tes DNA itu. Seketika raut wajahnya berubah dari yang santai-santai aja menjadi tegang. Terpaku melihat lembaran kertas isi amplop itu.


"Gimana? kenapa lu diam aja?". firasatku udah gak enak.


" Positif bro". Ucapnya menoleh padaku dengan raut wajah yang sulit ku baca.


Deg


Hancur sudah harapanku untuk menikahi wanita yang ku cintai. Kesalahan fatal telah ku buat. Felisha pasti membenciku.


Pada akhirnya aku tetap menikahi Sherly namun entah apa yang sudah di katakan Abraham kepadanya sehingga ia mau menandatangani surat perjanjian yang ku buat sebelum menikahinya. Padahal sebelumnya ia bersikeras tak mau ada perjanjian apapun. Ia berjanji akan membuatku jatuh cinta sebelum bayi itu lahir. Kalimat itu yang terus di ulangnya setiap kami bertemu untuk keperluan pernikahan yang tak kuharapkan itu.


Aku menikahi Sherly sesuai dengan perjanjian yang sudah ku buat. Kami memang menikah namun tak serumah, aku memilih tinggal bersama Abraham sedangkan Sherly tinggal di rumah yang ku tempati sebelumnya. Setelah bayi itu lahir kami akan segera bercerai, maka dari itu kami memilih tinggal terpisah untuk mencegah hal-hal buruk terjadi. Soal biaya hidup, aku tetap akan bertanggungjawab atas itu.


Sejak saat itu aku keluar dari pekerjaanku sebelumnya. Aku memilih resign karena tak akan sanggup jika tiba-tiba bertemu dengan Lisha ku. Aku tak tahu harus berbuat apa jika bertemu dengannya saat itu. Aku memilih menghilang dari kehidupan Felisha. Kemudian aku mencoba melamar pekerjaan di kantor Abraham dan syukurnya aku langsung bisa bekerja disana hingga saat ini.


Aku merasa diriku sangat kotor, menjijikkan. Buatku, Lisha terlalu sayang untuk di sakiti. Aku terlalu mengikuti hawa nafsu sehingga berbuat kesalahan terlalu jauh. Aku menyesal sangat menyesal.


Benar saja, setelah bayi itu lahir. Aku dan Sherly akhirnya bercerai. Namun setelah dua bulan bercerai aku di kejutkan dengan kabar meninggalnya anakku. Aku terpukul, begitu banyak dosa yang sudah ku lakukan tak terkecuali kepada anakku. Aku merasa sangat berdosa karena sejak di dalam rahim ibunya aku tak pernah mempedulikannya sampai ia terlahir aku seperti enggan menerima kehadiran nya. Mungkin Tuhan menghukumku dengan rasa penyesalan yang ku bawa sampai saat ini.


Menyesali perbuatan dosa yang sudah ku lakukan. Mulai rasa bersalah yang mendalam kepada wanita yang ku cintai sampai kepada anak ku sendiri. Ingin rasanya ku putar waktu kembali seperti sebelum semua kesalahan itu terjadi mungkin semua akan baik-baik saja. Namun semuanya sudah terjadi, menjadikan semua pelajaran yang sangat berharga.


***


Author POV,


Cukup lama Lisha tertidur di pangkuan Rufi, Lita yang baru saja kembali dari kamarnya langsung memberi tahu Lisha kalau Ando menelepon nya tadi ketika ia tertidur.


"Kamu udah bangun". Ucap Rufi sambil melihat Lisha yang mengangkat kepalanya dan beranjak duduk. Walau kedua matanya masih terlihat sembab tapi Lisha sudah terlihat lebih baik dari sebelumnya.


" Tadi kak Ando nelpon, karna kamunya lagi tidur jadi aku jawab aja". Lapor Lita.


"Kak Ando ngomongin apa tadi?" Tanya Lisha sambil meraih ponsel miliknya yang tergeletak di atas nakas.


"Tanyain kalau kamunya baik-baik aja. Kayaknya dia punya firasat buruk tadi langsung nelpon nanyain kabar kamu". Ucap Lita yang langsung mendapat pelototan dari Rufi.


Lisha diam. Melihat jam yang ada di layar handphone ternyata hari sudah sore. Mungkin kak Ando sudah istirahat dari kerjaannya. Menekan tombol hijau untuk memanggil nama yang menelponnya tadi.


Sambil menunggu sambungan telepon terhubung, Lisha meminta air minum kepada Rufi.


" Fii aku haus, tolong ambilin minum ya".


Belum sempat Rufi beranjak, Lita lebih dulu berdiri pergi mengambil segelas air putih untuk Felisha.

__ADS_1


"Biar aku aja Fii". kata Lita.


Panggilan pertama Ando tak menjawab. Setelah panggilan ke dua terdengar suara bariton di seberang sana.


" Assalamu'alaikum sayang". Lisha menutup matanya sejenak mendengar ucapan salam hangat dari sang kekasih.


"Wa'alaikumsalam...gimana kerjaanya disana, lancar?"


"Alhamdulillah lancar. Aku VC boleh ya?" tanya Ando.


"VC? tunggu bentar aku pake hijab dulu". Lisha buru-buru masuk ke kamar mandi mencuci wajahnya, sedikit mengompres matanya yang sembab dengan air dingin agar tersamarkan.


Rufi dan Lita menahan senyum melihat gerakan Lisha yang secepat kilat masuk ke kamar mandi lalu keluar mengelap wajahnya dengan tisu. Lalu kemudian memoleskan sedikit bedak di wajahnya dan lip bam di bibirnya agar tidak terlihat pucat. Lalu memakai kembali hijab instannya, setelahnya ia meraih kembali ponsel yang masih terhubung itu dan menekan layar yang terdapat simbol kamera.


" Pake hijabnya lama bener sayang". Ucap Ando terkekeh-kekeh saat pertama kali muncul di layar handphone yang membuat Lisha langsung cemberut.


"Eeh cantik amat neng, mau kemana?" Goda Ando sambil senyum tertahan setelah melihat dengan jelas wajah kekasihnya di layar yang membuat wajah Felisha merah karena malu. Seketika tawa Rufi dan Lita pecah.


"Hahahaha...kak Ando gak peka an banget deh". Ucap Lita yang memunculkan wajahnya di belakang Felisha.


" Eh ada Lita juga ternyata ya. Rufi mana?" Tanya Ando yang wajahnya terlihat lelah namun bahagia karena melihat sang kekasih.


"Aku hadir kak". Ando terkekeh mendengar teriakan Rufi dari balik layar.


Rufi dan Lita pamit kembali ke kamar masing-masing, memberikan waktu untuk sepasang kekasih itu saling menyapa lewat handphone.


" Kak. Aku sama Rufi balik ke kamar dulu ya. Kalian silahkan bicara empat mata. daa kak Ando". Pamit Lita mewakili Rufi sambil keluar dari kamar Felisha.


"eh kok malah kabur sih". Ucap Ando.


" Mereka udah dari tadi disini mangkanya pamit pulangnya sekarang".


"Ooh..kirain karena aku nelpon makanya pamit pulang".


Lisha tak menjawab. Ando pun diam menatap sang kekasih yang sepertinya hari ini kurang enak badan walaupun sudah ia tutupi dengan polesan bedak dan lip bam. Ando tetap masih bisa melihat ada kesedihan dan kebimbangan di raut wajah Felisha.


" Ada apa sayang? Kamu sakit?" Tanya Ando dengan sangat lembut penuh perhatian setelah melihat Lisha yang hanya menunduk sedari tadi. Seperti berusaha tak bertatap mata dengannya.


"Enggak kok, aku sehat. Kamu juga sehatkan disana?" Tanya Lisha cepat mengalihkan pertanyaan.


"Aku Alhamdulillah sehat. Tapi sepertinya hatiku gak baik". Ando menatap Lisha dengan sendu. Dan ucapan Ando seketika membuat Felisha mau tak mau kini menatap sang kekasih.


" Kamu kenapa? Kamu kapan pulangnya?" tanya Lisha sedikit panik. Takut jika Ando mendengar kabar kedatangan Mato tadi siang.


"Gak ada apa-apa, sepertinya hatiku sedang kangen aja pengen pulang cepet biar bisa deket sama kamu".


" Gombal banget sih jadi orang ". Lisha cemberut dan tersipu di saat yang bersamaan mendengar gombalan dari sang kekasih.


" Hahahaha..." Ando tertawa lebar saat melihat wajah Felisha yang menurutnya sangat menggemaskan itu.

__ADS_1


Felisha menatap lekat wajah Ando yang tertawa-tawa. "Aku ga akan tega nyakitin dia. Aku gak akan nyakitin orang yang sangat tulus padaku, berada di sampingku di masa-masa sulitku".


...****************...


__ADS_2