
Felisha POV,
Hatiku sebenarnya tak setenang yang orang lain lihat. Teringat ucapan kak Mato waktu itu. Entah darimana dia tahu kalau aku bekerja di Rumah Sakit AA. Aku sangat terkejut ketika sedang makan siang di kantin.
Tiba-tiba saja ada yang datang dan langsung duduk di samping ku. Aku menoleh dan melihat siapa dia. Lita pun ikut terkejut melihat kak Mato ada disana.
"Eh kak Mato? ngapain disini..??" Seketika aku membrondongkan pertanyaan kepada laki-laki yang pernah mengisi hatiku itu. Lita diam namun seperti sedang menunggu jawaban dari pertanyaan ku kepada kak Mato.
"Kenapa? Nggak boleh? " Bukannya menjawab dia malah balik bertanya.
"Enggak laahhh..cuman heran aja kak Mato bisa ada disini. Jengukin seseorang?" Tanya ku lagi sambil menyuapkan sesendok soto ayam ke dalam mulut.
"Enggak.." Jawabnya singkat. Kalau di lihat dari wajahnya sepertinya dia sedang kesal. Siapa yang membuatnya kesal? Pikirku.
"Oohh.." Aku hanya ber oh ria merasa sepertinya kak Mato sedang malas berbicara.
Ku lihat Lita menatapku lalu menggeleng samar hampir tak terlihat. Aku mengangguk tanda mengerti kode darinya yang melarang ku terlalu banyak bertanya kepada laki-laki itu. Aku memilih menghabiskan sisa soto ayam yang ada di mangkok ku.
Kami bertiga makan dengan diam, hanya ada suara sendok dan piring yang saling bersahutan. Hari ini mas Yudi tak ikut bersama kami karena sedang berada di ruangan dokter Yoga. Entah sedang membahas tentang apa, mungkin soal data-data pasien Ginjal dan Hipertensi.
Setelah makanan ku habis, aku dan Lita pamit kembali ke ruangan kepada kak Mato. Namun ia tak menahan ku dan menyuruh Lita untuk pergi lebih dulu. Keningku berkerut melihat ekspresi wajahnya yang bisa di bilang dingin. Ada apa dengannya? bukankah waktu itu dia sudah menerima kalau hubungan kami saat ini hanya sebatas teman saja tak lebih dari itu. Ataukah ada hal lainnya?.
Lita mengangguk pelan menatapku seolah mengatakan tidak apa-apa, akupun menurut saja. Aku mengikuti langkah kak Mato yang mengajak ku ke suatu tempat tapi aku tak tahu dimana.
BUG
Aku meringis saat menabrak punggung jangkung itu, ku usap keningku lalu mendongak.
"Aduuuhhh...ada apa sih kak..kok berenti nggak bilang-bilang?" Ucapku kepada kak Mato yang tiba-tiba saja berhenti yang membuatku menabrak punggung nya.
"Kamu kenapa berjalan di belakang ku...seperti anak kecil yang ngikutin langkah bapaknya". Omelnya. Lalu menarik tanganku agar berdiri di sampingnya dan berjalan sejajar menuju tempat yang aku tak tahu kemana. Aku hanya bisa melongo saat mendengar omelan nya. Kenapa malah dia yang marah. Aneh.
Ternyata dia membawaku ke balkon paling atas rumah sakit itu. Sepi sekali karena tak satupun orang yang berada disana. Tapi tunggu, kenapa dia kelihatannya sangat hafal dengan tempat itu. Bukankah dia tidak bekerja disana, dia kan kerjanya di Rayapharmindo. Ah sudahlah, bukan urusan aku juga kan.
__ADS_1
Sesampainya di balkon itu, angin bertiup sangat kencang. Aku bersidekap tangan di dada menatap punggung kak Mato yang berjalan menuju bangku panjang yang ada di sana. Ada hal apa sebenarnya sampai dia mengajak ku kesini dengan wajah dingin seperti itu.
Setelah menjatuhkan bokongmya di bangku itu, ia menoleh ke arah ku dan menganggukkan kepalanya meminta ku mendekat. Aku pun mendekatinya namun tak langsung duduk dj sampingnya.
" Ada apa kak..kenapa mengajakku kesini?" Tanya ku tanpa basa basi.
Ku lihat kak Mato memalingkan wajah ke sembarang arah. Lalu kembali menatap ku.
"Tidak bisakah kita bicara setelah kamu duduk disini dulu?"
"Huufffttttt..." Orang ini bertele-tele sekali. Terpaksa aku duduk di bangku yang sama dengannya karena memang disana tak ada bangku lain, hanya ada satu bangku saja.
Setelah ku duduk dia malah diam menatap ke depan seperti sedang menerawang jauh. Aku menoleh menatapnya menunggu ia berbicara.
"Sha...aku ternyata tidak bisa hanya menjadi temanmu..hatiku benar-benar tidak bisa menerima setelah mendengar kabar kalau kamu akan menikah dengan orang lain". Ucap kak Mato setelah lama terdiam. Ia menoleh menatapku dalam dengan wajah sendu.
" Apa maksud kamu?"
"Aku tidak bisa melepasmu Felisha...aku tidak bisa menerima jika kamu menjadi milik orang lain..sudah beberapa bulan setelah waktu itu aku bilang akan menjadi temanmu, namun kenyataannya aku tidak bisa..hatiku benar-benar sakit saat tahu kamu akan segera menikah dengan laki-laki lain".
Aku kembali menatap kak Mato dan menggeleng pelan. "Tidak kak. Kamu nggak boleh seperti ini. Dua minggu lagi aku akan menikah. Kita emang di takdirkan nggak berjodoh. Aku yakin kamu pasti menemukan perempuan yang jauh lebih baik dariku".
Kak Mato terlihat menggeleng, tak mau melepaskan tatapannya dariku.
" Kau tahu Sha. Bertahun-tahun aku hidup dalam rasa bersalah karena mengkhianati mu waktu itu. Setelah aku memiliki keberanian menemui mu dan mengakui semua kesalahanku, aku..aku ternyata sudah tak bisa meraihmu lagi..kamu sudah jauh terlepas dariku..sekuat tenaga aku mencoba meraihmu kembali namun kamu semakin menjauh.." Ku lihat air mata yang sejak tadi di tahannya jatuh setetes demi setetes ke pipinya namun langsung di hapusnya dengan kasar.
Diam tak membalas ucapannya. Hatiku terenyuh melihatnya namun cepat-cepat aku memalingkan wajah ke arah lain. Takut kalau sampai hatiku goyah melihat keadaannya yang seperti ini.
"Lisha..ikutlah dengan ku pergi jauh. Menikah lah dengan ku. Aku berjanji akan menebus kesalahan ku di masa lalu dan aku berjanji akan membahagiakan mu. Sekuat tenaga aku akan berusaha menjadi laki-laki terbaik yang pernah kamu temui."
Tanpa ku duga kak Mato turun dari duduknya dan berlutut di hadapan ku membuatku sangat terkejut dengan yang di lakukan nya.
"Astaghfirullahal'adzim...kak...bangun...jangan kayak gini..gimana kalau ada yang melihat.." Ucapku panik menoleh ke kiri dan kanan melihat keadaan sekitar. Aku segera meraih pundak kak Mato menyuruhnya berdiri namun ia bergeming.
__ADS_1
"Aku nggak akan berdiri sebelum kamu menjawab ku". Ucapnya yang masih tetap dengan posisi berlutut.
" Kak...aku tinggal dua minggu lagi lho mau nikah..nggak mungkin aku batalin semua yang sudah susah payah aku urus dengan baik. Tidak segampang itu kamu mau ngajak aku menikah dan pergi jauh denganmu. Banyak yang harus kita fikirkan". Ucapku frustasi.
"Aku bisa mengurus semuanya. Kamu nggak usah mikirin itu. Aku yang akan mengurusnya jika kamu izinkan aku menikahimu". Ucapnya lagi.
"Sudahlah kak..kita emang nggak berjodoh. Aku jodohnya dengan kak Ando. Mau nggak mau kamu harus terima itu".
" Tapi kamu nggak cinta sama dia..kamu cintanya sama aku dan aku mencintaimu Lisha". Teriak kak Mato yang semakin membuat ku frustasi.
"Aku mohon kak..mengertilah...aku sudah tidak mencintaimu sejak kamu meninggalkan ku tanpa alasan..sejak saat itu aku sudah menghapus rasa cintaku kepadamu dan bertahun-tahun hanya menunggu jawaban dan alasan atas perlakuan mu itu kepadaku". Tegasku.
" Jangan coba membohongiku Lisha. Aku tak percaya kalau kamu tidak mencintaiku."
"Sekali lagi aku katakan..AKU SUDAH TIDAK MENCINTAIMU". Tegasku. Aku berdiri dan hendak pergi meninggalkan nya namun sebelum aku melangkah ia kembali membuatku terpaku.
" Tapi kamu juga tidak mencintai laki-laki itu Lisha".
Aku diam. Menutup mata sejenak, mencoba meraba hatiku saat ini. Apakah aku mencintai kak Ando ataukah tidak seperti yang kak Mato katakan. Ku buka mata ku perlahan lalu menjawab ucapannya.
"Kau sungguh ingin tahu???" Ku lihat kak Mato menunggu kelanjutan ucapanku.
"AKU MENCINTAINYA..SANGAT MENCINTAINYA. Kau dengar itu?". Aku sengaja menekan setiap kata yang ku ucap.
Setelah itu aku buru-buru melangkah pergi meninggalkan kak Mato yang terpaku disana masih dengan posisi berlutut.
" Aku nggak akan berhenti sampai disini Lisha. Aku akan mendapatkanmu kembali". Teriak kak Mato.
Aku terus berjalan tanpa menghiraukan ucapannya, namun ketika berbelok menuju pintu balkon itu betapa terkejutnya aku saat melihat kak Ando berada disana berdiri menatapku dengan senyum lebar menampilkan deretan gigi rapihnya.
Tanpa sadar aku berlari menubruk tubuh jangkungnya memeluknya dengan erat, seketika air mata ku meluncur dengan derasnya membasahi wajahku. Aku menangis tersedu-sedu di pelukannya. Entah perasaan apa yang sedang aku rasakan saat ini. Perasaan campur aduk menguasai hatiku sehingga menangis adalah pilihan yang terbaik saat ini. Sepertinya perasaan takut dan rasa bersalah padanya lebih mendominasi. Hiks..
Kurasakan pelukan kak Ando begitu erat, seperti takut kehilangan. Akupun semakin mengeratkan pelukanku. Lama kami berdiam disana sambil mengeratkan pelukan seolah saling menguatkan satu sama lain.
__ADS_1
Perlahan aku melepaskan pelukan kami karena merasa mulai sesak. Kak Ando menggenggam erat tanganku dan membawaku pergi dari tempat itu.
...****************...