Suami Sabarku

Suami Sabarku
Bab 45. Terluka


__ADS_3

Setelah melaksanakan sholat maghrib. Lisha gegas memeriksa ponselnya berharap ada pesan atau petunjuk jika Ando sedang baik-baik saja. Namun setelah melihat tak ada satu pun pesan dari Ando hatinya semakin gelisah karena sampai saat ini ia belum juga tiba.


"Sha..kak Ando belum ada kabar?" Rufi datang ke kamar Felisha setelah shalat maghrib.


"Belum Fii. Pesan aku masih centang satu dari tadi". Jawab Felisha sambil mencoba menghubungi kembali nomor ponsel kekasihnya.


" Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan ". nampaknya suara operator itu masih setia menyambut panggilan Lisha.


" Kak Ando kemana sih...kenapa dari tadi nomernya gak aktif aktif. Bikin khawatir aja ih.." seolah berbicara kepada diri sendiri Felisha kembali mengutak-atik ponselnya mencari nama yang mungkin saja mengetahui perjalanan dinas Ando kali ini.


Rufi mendekat dan mengelus punggung sang sahabat mencoba untuk menenangkan.


"Mungkin kena macet Sha..terus ponselnya kehabisan batre jadi gak bisa ngasih kabar. Sabar ya kita tunggu aja, semoga kak Ando baik-baik saja". Ucap Rufi.


" Enggak mungkin Fii..kalau emang ponselnya low dia masih bisa nge charger di mobil. Dia perginya kan bawa mobil Fii.." Ucap Felisha dengan dahi berkerut dan mata sudah mulai berair tak lama lagi air itu keluar dari tempatnya.


"Iya ya". Rufi terlihat berpikir. Benar juga kalau emang habis batre kan bisa di charger.


Tak lama kemudian Lita muncul dari balik pintu hanya melongokkan kepalanya dan bertanya. "Gimana? udah ada kabar belum dari kak Ando?"


"Astaghfirullahal'adzim...Litaaa ih ngagetin aja". Ucap Felisha dan Rufi bersamaan sambil menaruh tangan di dada masing-masing.


" hehe...maaf". Jawab Lita sambil mendorong pintu untuk masuk ke dalam kamar Lisha dan menutupnya kembali.


"Belum ada kabar sama sekali dari tadi?" tanya Lita yang hanya di jawab dengan gelengan oleh Felisha.


"Kok bisa ya..kita berdoa aja semoga kak Ando baik-baik aja. Tiba dengan selamat pokoknya". Ucap Lita yang tak mau memperlihatkan kekhawatirannya di depan Lisha.


Bagaimanapun Lisha saat ini pasti merasa sangat khawatir karena Ando belum juga tiba di tambah lagi Ando tak bisa di hubungi. Lita mengerti perasaan sahabatnya itu saat ini sekalipun Lisha belum sepenuhnya mencintai Ando tapi yang ia lihat Lisha tak bisa seharipun tanpa Ando.


Jam sudah menunjukkan pukul 19.30 malam dan adzan isya sudah terdengar di masjid yang tak jauh dari kos an namun Ando belum juga ada kabar. Ponselnya masih belum aktif juga. Berulang kali Felisha mencoba menghubungi tapi tak pernah aktif sampai saat ini.


Gegas Felisha berwudlu dan melaksanakan sholat isya berharap setelah sholat ia mendapatkan kabar baik dari Ando. Rufi dan Lita juga kembali ke kamar masing-masing untuk melaksanakan kewajiban mereka sebagai hamba Allah SWT. Dalam Sholatnya Lisha berdoa semoga Allah selalu melindungi sang kekasih di manapun berada.


***


Setelah tiga serangkai Lisha, Rufi dan Lita makan malam. Ke tiganya duduk memperhatikan Lisha yang sedang mengutak-atik ponselnya mencari nama yang bisa memberinya informasi tentang Ando.


"Halo Assalamu'alaikum..."


"Wa'alaikumsalam...Lisha ada apa tumben nelpon?" Ucap Iman di seberang sana. Ya, Lisha menghubungi Iman. Siapa tahu saja Iman bisa memberinya sedikit informasi.


"Kak Iman lagi dimana? aku ganggu kah?" Tanya Lisha berbasa-basi.


"Enggak kok. Aku lagi nongkrong aja sama temen-temen. Ada apa? Sepertinya penting banget".


" Ini..aku mau nanya kak Ando seharian ini nelpon kamu gak?" Ucap Lisha


"Enggak. Dia gak pernah nelpon aku seharian ini. Ada apa?"


"Begini..tadi kan dia...."


Lisha menceritakan semuanya sejak awal kepada Iman berharap ada solusi untuk mendapatkan informasi tentang Ando malam ini.


"Oohhh gitu ya. Aku coba cari info dulu ke temen kantornya siapa tau ada yang bisa ngasih info". Ucap Iman.


" Oke kak. Makasih ya sebelumnya". Ucap Lisha tak enak hati merasa sudah merepotkan orang.

__ADS_1


"Gak usah sungkan gitu dong Sha..kalian tuh bukan orang lain bagi aku. Kalian sudah aku anggap seperti saudara. Yang ngenalin kamu sama dia kan aku Sha..Jadi sudah semestinya kamu huubungin aku kalau ada hal penting kayak gini". Ucap Iman panjang lebar tak ingin Felisha merasa tak enak hati padanya.


" Hehe...iya deh iya..makasih ya kak..ku tunggu info dari kak Iman aja". Ucap Lisha lalu mengakhiri panggilannya.


"Gimana? Kak Iman bilang apa?" Tanya Lita tak sabaran.


"Katanya mau cari info dulu ke temen kantornya kak Ando siapa tau ada yang bisa ngasih info". Jawab Lisha.


" Semoga kak Iman bisa kasih info secepatnya ya Sha". Ucap Rufi yang di angguki Felisha.


Pukul 9 malam Rufi dan Lita masih berada di kamar sang sahabat. Mereka tak mau meninggalkan Felisha dalam keadaan seperti itu. Iman belum mendapatkan informasi keberadaan Ando saat ini. Akhirnya Felisha pasrah dan hanya bisa menunggu kapan datangnya sang kekasih.


Ketiganya duduk terdiam tak ada yang bersuara. Lisha duduk di atas kasurnya sambil memeluk bantal kesayangannya. Di dekapnya erat seperti meluapkan kekhawatirannya dengan memeluk bantalnya.


Tok tok tok


Seketika ketiga wanita itu menoleh ke arah pintu bergantian saling pandang saat mendengar ketukan itu.


Felisha meloncat dari kasur tempat ia duduk dan langsung membuka pintu berharap itu adalah Ando. Dan ternyata memang benar yang mengetuk pintu adalah Ando. Seketika Felisha menubruk tubuh jangkung yang berdiri di hadapannya itu dan memeluknya sangat erat.


Merasa heran dengan Ando yang membalas pelukannya namun tak erat seperti biasanya. Pelan-pelan Felisha melonggarkan tangannya yang memeluk tubuh jangkung itu lalu mendongak untuk melihat wajah sang kekasih.


"Ada apa? Kamu kenapa lama banget. Aku khawatir kamu kenapa-kenapa di jalan". Cerocos Lisha.


Ando tersenyum namun di saat bersamaan ia meringis menahan sakit.


" Kamu kenapa kak?" tanya Felisha panik melihat keadaan kekasihnya yang seperti tak baik.


"Aku gak papa. Aku pengen rebahan di kamarmu boleh?" Ucap Ando yang langsung di angguki Lisha.


Rufi dan Lita hanya bisa melihat dan membantu menyusun bantal untuk Ando agar bisa berbaring dengan nyaman.


Sebelum berbaring, Ando melepas jaket yang di kenakannya. Betapa terkejutnya Felisha saat melihat ada perban yang melilit di lengan kekasihnya itu.


"Astaghfirullah...Ini kenapa kak?" Tanya Lisha terkejut sambil meraba lengan Ando yang terbalut perban dengan sangat hati-hati.


"Ya Allah itu kenapa kak?" tanya Rufi yang hampir bersamaan dengan pertanyaan Felisha. Lita hanya mengangguk setuju dengan pertanyaan dari ke dua sahabatnya.


"Hanya luka kecil jangan khawatir nanti juga sembuh". Ucap Ando tersenyum tapi juga meringis sambil mengusap kepala kekasihnya untuk menenangkan.


Setelah berbaring. Ando merasakan perutnya terasa sangat kosong. Ia teringat sedari tadi ia belum menyentuh makanan.


"Sayang aku lapar". Ucap Ando sambil menggenggam tangan Felisha.


"Kamu lapar? Tunggu bentar aku ambilin makan". Dengan sigap Felisha ke dapur untuk mengambil makanan, tak lama kemudian ia kembali dengan sepiring nasi beserta lauk pauknya.


"Biar aku suapin. Kamu jangan banyak gerak dulu nanti lukanya sakit". Ucap Lisha sambil menyuapkan sesendok makanan ke mulut sang kekasih.


" Ini gimana ceritanya kok bisa begini?" Tanya Lisha sambil menunggu makanan di mulut Ando habis.


"Kak Ando di rampok ya?" Tanya Lita.


Ando menggeleng. "enggak tau maunya mereka apa. Nanti dulu ceritanya aku lapar mau makan dulu". Ucap Ando lemah.


" Hahaha maaf kak. Ayo lanjut makan dulu. Isi tenaganya biar kuat ceritanya ntar". Ucap Lita yang langsung membuat mereka semua ikut tertawa.


Lita sedikit bercanda untuk mengurangi ke panikan dan ketegangan di kamar Felisha malam ini.

__ADS_1


***


Flashback On


Ando segera berkemas untuk pulang saat Lisha menyetujui permintaannya untuk menginap di rumah nya. Sebenarnya tak banyak barang yang harus di kemasnya, hanya ada seragam kantor saja yang tadi di pakainya seharian saat bertemu klien. Cepat-cepat di masukkan nya ke dalam koper kecil miliknya. Lalu kemudian chek out dari hotel tempat ia rencana menginap malam ini namun batal karena hendak pulang ke kotanya secepat mungkin untuk bertemu sang kekasih hati.


Saat panggilan telepon di akhiri terdengar suara adzan ashar dari masjid yang berada tak jauh dari hotel itu. Gegas berwudlu dan melaksanakan sholat ashar sebelum melakukan perjalanan menuju pulang.


Di tengah perjalanan terlihat antrian panjang kendaraan yang menandakan bahwa sepertinya ia terjebak macet yang lumayan panjang. Hampir satu jam lamanya Ando berada di tengah kemacetan panjang itu.


Saat di jalan tanpa hambatan atau jalan tol ia membelokkan kendaraannya di rest area yang ada disana untuk membeli minuman yang akan menemani perjalanannya kali ini sekalian beristirahat sejenak lalu kemudian melanjutkan perjalanan.


"Masih ada waktu buat shalat maghrib di masjid dekat kos an Lisha". Pikir Ando sambil melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


Setelah istirahatnya di rasa cukup ia masuk ke mobil dan melanjutkan perjalanan. Senyum tipis terlukis di wajahnya kala mengingat sebentar lagi akan bertemu dengan pujaan hati.


Ketika meninggalkan jalan tol Ando merasakan laju mobilnya tak seimbang. Melihat dari kaca spion ternyata ban belakangnya kempes. Melaju pelan mencari daerah yang sedikit ramai dengan rumah-rumah warga lalu menepi sebentar untuk mengecek kondisi ban mobil dan benar saja ban nya bocor. Ia celingak-celinguk mencari bengkel terdekat namun tak satupun ia lihat di sana.


Semua terjadi begitu cepat, saat hendak masuk kembali ke dalam mobil tiba-tiba BUG hantaman kayu di belakangnya membuat Ando seketika limbung dan hampir terjatuh. Buru-buru Ando bersandar ke mobil untuk bertahan agar tak terjatuh karena pukulan itu, berbalik untuk melihat siapa yang sudah melakukannya dan hampir saja terkena pukulan ke dua tetapi segera di tangkisnya dengan satu tangan.


Ando melihat ada dua orang lelaki yang sepertinya ingin menyerangnya. Namun Ando melakukan perlawanan dan terjadi perkelahian di antara mereka.


Dengan kemampuan bela diri yang Ando miliki mencoba melawan dan tanpa di duga salah satu di antara orang itu ternyata mengeluarkan benda tajam kemudian di arahkan kepada Ando dan sreeettt....Ando terkena sabetan benda tajam itu di lengan kirinya. Bersamaan dengan itu beberapa orang warga yang mendengar keributan di luar segera menghampiri. Merasa tak aman lagi ke dua orang itu kabur meninggalkan tempat itu dengan menaiki motor.


Saat Ando merasakan lengan kirinya terluka, segera di tutupnya dengan tangan kanannya. Ando terduduk karena merasakan pusing, salah satu warga di sana membawa Ando ke klinik terdekat untuk memeriksa keadaannya sedangkan yang lainnya membantu memanggil orang bengkel untuk mengurus ban mobilnya yang bocor.


Ternyata lukanya cukup parah dan harus segera di lakukan tindakan. Terdapat beberapa jahitan dan banyak mengeluarkan darah sehingga menyebabkan pusing.


Ando di anjurkan untuk beristirahat sebentar sebelum melanjutkan perjalanannya. Ia pun menurut saja karena memang merasakan pusing. Jika di paksakan takutnya malah akan berakibat fatal.


Di liriknya jam dinding di ruangan itu, sudah menunjukkan pukul 18.50. Ia sudah melewatkan waktu sholat maghribnya. Segera mencari ponsel miliknya untuk menghubungi Felisha yang sudah pasti sedang menunggunya. Namun sudah di carinya tapi tak di dapatnya. "Mungkin ada di mobil". Pikir Ando.


Beranjak pergi ke parkiran untuk mencari ponselnya di dalam mobil. Ya, mobil Ando sudah di amankan oleh warga. Ando sangat berterima kasih atas pertolongan warga disana. Berjalan dengan sangat pelan dengan beberapa kali terhenti karena merasakan pusing di kepalanya Ando akhirnya sampai ke mobil. Segera membuka bagian depan dan memeriksa mencari keberadaan ponselnya namun nihil.


" Kemana ponselnya. Perasaan tadi aku taruh disini tapi ko gak ada". Ando masih mencoba mencarinya tapi sudah hampir setengah jam ia bulak balik mencari tetap saja tidak menemukannya.


"Sudahlah...mungkin ponselnya jatuh atau mungkin orang tadi sempat mengambilnya lalu pergi". Ando pasrah jika harus kehilangan ponsel. Bukan karena tak mampu membeli yang baru tetapi saat ini ia tak bisa menghubungi Felisha. Sesaat kemudian Ando berpikir jika Felisha mengetahui keadaannya saat ini mungkin akan membuat hati kekasihnya itu tak tenang. Tapi jika tak memberi tahu juga sama aja khawatir.


"Ah sudahlah gak usah di hubungin nanti Lisha makin khawatir lagi". Pikir Ando. bersyukur nyawanya masih selamat.


Kembali masuk ke klinik untuk beristirahat sejenak. Dokter yang menanganinya disana menyarankan Ando untuk istirahat sebentar sampai pusingnya hilang dan boleh melanjutkan perjalanannya. Setelah meminum obat yang di berikan tadi tanpa sadar Ando jatuh tertidur hingga dua jam lamanya.


Ando terbangun merasakan perih di lengannya namun sudah tak merasakan pusing di kepalanya. Melirik jam dinding Ando terkejut jam sudah menunjukkan pukul 20 lewat 45 menit. " Aku tertidur cukup lama. Mungkin efek dari obat tadi". Pikir Ando.


Segera bangun dari baringnya dan beranjak menuju ruang administrasi untuk mengecek biaya yang harus di keluarkannya. Setelah melunasi semua tagihan gegas Ando melajukan kendaraannya menuju kos an Felisha. Dalam perjalanan ia masih sedikit merasakan pusing tapi tidak separah tadi sebelum ia tertidur. Ando tak tahu apa motif kedua orang tadi menyerangnya dengan tiba-tiba.


Diliriknya lengan kirinya yang terbalut perban. "Felisha pasti terkejut jika melihatnya". Batin Ando. Di raihnya jaket yang berada di jok belakang lalu memakainya agar lukanya tak langsung di lihat oleh Felisha.


Saat di rest area tadi, setelah beristirahat dan hendak melajukan kembali kendaraannya ia melepas jaket yang di kenakannya dan menyisakan kaos oblong hitam kesukaannya. Jika perjalanan jauh seperti itu Ando lebih suka memakai pakaian santai di dalam mobil toh tak ada yang akan melihatnya. Begitu pikir Ando.


Tiba di depan Gerbang kos an. Ando merapihkan penampilannya sebelum bertemu dengan sang pujaan hati. Berusaha terlihat baik-baik saja agar Felisha tak khawatir.


Mengetuk pintu tanpa suara. Menunggu dan beberapa detik kemudian pintu terbuka yang langsung menampakkan sang kekasih. Tanpa di duga Felisha menubruknya, memeluk hingga ia merasakan sedikit limbung tapi cepat-cepat Ando menutup mata menahan perih di lengannya, memeluk Lisha untuk bertahan. Lisha menyadari ada yang aneh saat pelukan Ando tak seperti biasanya.


Flashback Off


...****************...

__ADS_1


__ADS_2