Suami Sabarku

Suami Sabarku
Bab 53. Itung-itung nyicil


__ADS_3

Author POV,


"Shaa..Lishaa...Lishaaa.." gedoran pintu membangunkan Felisha yang tengah tertidur pulas setelah shalat subuh. Dengan sempoyongan Felisha bangun dan membuka pintu.


"Hooaaammmm...ada apa sih Taa pagi-pagi begini udah treak treak ngalahin mas-mas jualan sayur aja kamu". Omel Lisha walau masih sangat mengantuk, kesal karena tidurnya terganggu karena teriakan Lita. Hanya membuka pintu lalu kembali ke dalam selimut kesayangannya menutup seluruh tubuhnya hingga kepala.


" Heeehhhhh jangan tidur lagi. Liat nih udah jam berapa? Kamu gak ikut? kita bentar lagi berangkat ini" Lita menyingkap selimut yang menutupi tubuh Lisha hingga ke dada.


"Emang mau kemana kita?" kening lisha berkerut tanda ia masih bingung dengan maksud sahabatnya itu. Lita memutar bola matanya malas.


"Shaa...Ya Allah..kamu belum siap-siap?" Rufi datang dengan geleng-geleng kepala melihat Felisha yang masih bergelut di bawah selimut.


Felisha bangun dan duduk. "Kita mau kemana sih?" mengulang pertanyaannya


"Kamu gak mau ikut pulang ke kampung aku?" Rufi duduk di kursi menatap Lisha.


"Astaghfirullahal'adzim..kalian kenapa gak bilang dari tadi?" menyingkap selimutnya, buru-buru masuk ke dalam kamar mandi dan mandi secepat kilat. Tak lama kemudian Lisha keluar dan menyuruh ke dua sahabatnya itu meninggalkan kamarnya agar bersiap lebih cepat tanpa gangguan ke duanya.


Karena sehari-hari nya mereka di sibukkan dengan aktivitas masing-masing, jadi setiap akhir pekan selalu menghabiskan waktu bersama tanpa gangguan siapapun itu termasuk Ando. Jadi, laki-laki itu hanya bisa menemui dan menghabiskan waktu bersama tunangannya saat pulang kerja saja. Berbeda dengan mereka, toh sebentar lagi juga Ando akan bersama Felisha tanpa kenal waktu, begitu kata Lita. Kasian sekali Ando pemirsah..


Weekend kali ini mereka memilih menghabiskan waktu ke kampung halaman Rufi. Kata mereka sebelum Felisha benar-benar melepas masa lajangnya, mereka harus sering-sering menghabiskan waktu bersama, hang out bareng, entah ke mall atau kemana saja yang penting bertiga seperti sekarang ini, ketiganya telah tiba dan sedang berkeliling ke wisata-wisata terdekat yang ada di kampung Rufi.


***


Flashback ON


Tepat sebulan setelah melamar Felisha di restoran malam itu, Ando akhirnya memboyong keluarganya untuk melamar sang kekasih di hadapan keluarga besar pihak Felisha.


Dan di hari itu juga sudah di tetapkan hari dan tanggal pernikahannya oleh ke dua keluarga besar, yang di mana akan di langsungkan hari pernikahan enam bulan setelah hari lamaran. Kedua belah pihak sudah sepakat Ando dan Felisha akan melakukan ijab kabul tepat di hari ulang tahun Felisha.


"Aku masih boleh kerja gak kak?". Pertanyaan Felisha sebelum hari lamaran tiba.


"Semuanya terserah kamu saja sayang, aku gak mau kamu merasa di batasi kemauan nya". Ando tersenyum, menoleh sebentar lalu kembali fokus menatap jalan karena sedang memegang kemudi.


" Jadi boleh?" Lisha begitu bersemangat saat mendengar ucapan sang kekasih.


Lampu kuning telah berganti merah, perlahan mobil berhenti di persimpangan. Ando menoleh tersenyum dan mengangguk, mengusap puncak kepala perempuan berhijab di sampingnya yang selalu saja terlihat menggemaskan di matanya.


"Mmmm...kak...mmm...gak jadi ah". Lisha tersenyum kecut teringat akan pertanyaannya yang ingin mengorek sedikit tentang masa lalu kekasihnya itu.


Sudah lama ia ingin menanyakan soal mantan kekasih Ando namun selalu merasa ia tak berhak bertanya soal itu dan hanya menunggu sampai Ando menceritakan sendiri kisah masalalunya.


Entah kenapa, saat ini rasa penasarannya begitu kuat hingga mendorong ia untuk menanyakannya.

__ADS_1


Lampu sudah berganti hijau, melanjutkan perjalanan menuju kos an. Hari ini ke duanya baru saja pulang dari memesan cincin tunangan di toko perhiasan langganan mamah.


Mamah merekomendasikan toko perhiasan langganannya dan sudah berkoordinasi dengan pihak toko bahwa Ando dan Lisha akan datang untuk memesan cincin tunangan. Mereka pun langsung di sambut dengan ramah dan di antar ke ruang vip oleh pelayan toko itu. Ternyata di sana juga terdapat ruang vip untuk pelanggan spesial walau terlihat kecil tapi sangat nyaman.


Perlahan Ando menepikan mobilnya di tempat yang cukup sepi. Memutar badannya menghadap perempuan yang ada di sebelahnya.


"Kamu boleh bertanya apa saja tentang aku sayang, selama aku bisa menjawab aku akan jawab. Emang harusnya seperti itukan? Kita sebentar lagi mau bertunangan, jadi aku harap kita sudah saatnya saling terbuka satu sama lain". Ando meraih tangan Felisha yang berada di pangkuan, menggenggamnya sembari menatap ke dalam bola mata perempuan yang selalu saja ragu jika harus bertanya kepadanya.


" Aku..aku ingin bertanya tentang masalalu kamu".


"Masalalu?" Tanya Ando dengan dahi berkerut.


"Ya, mantan kekasih kamu". Walau ragu namun akhirnya pertanyaan itu berhasil keluar dari bibir Felisha.


" Mantan kekasih". Ucap Ando dengan ekspresi datar.


"Kenapa?" Tanya Felisha semakin penasaran karena melihat ekspresi Ando yang langsung berubah saat ia mengatakan ingin menanyakan tentang mantan kekasihnya.


"Nggak kenapa-kenapa. Kamu mau tanya soal apa. Silahkan saja". Ando kembali tersenyum namun Lisha melihat ada kecewa yang masih tersimpan di balik senyum itu.


Ada perasaan sakit saat melihat senyuman itu, tapi ia segera menunduk menatap tautan tangan mereka. Sebenarnya hatinya tak siap jika mengetahui kenyataan soal masalalu kekasihnya yang mungkin bisa saja menyakiti hati, tapi mau tak mau ia harus tahu agar ke depannya tak menjadi masalah bagi rumah tangga mereka nanti.


" Apa kak Ando masih menyimpan cinta untuknya? Jujur aja kak, aku gak papa". Dahi Ando berkerut mendengar pertanyaan perempuan yang ada di hadapannya itu.


"Maksud kamu?" Konyol sekali rasanya kalau ia masih menyimpan cinta untuk wanita yang memilih meninggalkan nya karena laki-laki lain.


"Aku tidak sebodoh itu sayang, aku cintanya sama kamu bukan orang lain". Ucap Ando, mengangkat tangan perempuan itu lalu mengecupnya lama. Menatap ke dua bola mata bulat itu agar Felisha yakin dengan yang di ucapkannya saat ini.


Seketika wajah Felisha merona. Ando merasa gemas melihatnya. Mencubit pelan pipi cabi itu.


"Masih ada lagi?" Tanya Ando.


"Dia ninggalin kamu hanya untuk menikah dengan orang lain?" Sepertinya Lisha masih belum puas dengan satu pertanyaan.


"Maybe".


" Apa karena laki-laki itu lebih kaya dan tampan?" Tanya Lisha dengan polos.


"Maybe". Jawab Ando dengan dahi berkerut.


" Kok jawabannya maybe maybe mulu?" Lisha cemberut merasa kesal dengan jawaban singkat dari Ando.


"Ya aku gak tahu sayang, kan aku gak pernah nanya dan gak pernah lihat seperti apa suaminya. Mungkin saja kan dia kaya dan tampan". Ando terkekeh melihat wajah kesal perempuan itu.

__ADS_1


" Masa gak nanya kenapa dia tega ninggalin kamu? Gak nanya masalahnya dimana, terus gak nanya dia nikahnya sama siapa gitu". cerocos Lisha yang mengundang tawa Ando ketika melihat bibir yang tidak tebal tapi juga tidak tipis itu mengeluarkan berbagai pertanyaan yang menurutnya tak perlu ia tanyakan.


"Hahahaha... ngapain harus di tanyain lagi sayang? udah jelas-jelas dia maunya nikah sama orang lain kan. Masa aku harus ngemis-ngemis ke dia buat milih aku, enggak kan..Udahlah..Itu artinya aku sama dia gak berjodoh. Aku jodohnya sama kamu. Inshaallah semoga Allah ijinkan. Aamiin". Jawab Ando yang lagi-lagi membuat pipi cabi itu merona.


" Aamiin..." Felisha ikut mengaminkan.


"Mmm...Selama dia nikah, kalian gak pernah ketemu lagi?"


"Pernah sekali, tapi itu gak sengaja ketemu di Mall".


" Kapan? Waktu kita udah kenal?" Felisha terlihat terkejut.


"Ya.."


"Apa?" Mata bulat itu seketika melebar tak percaya kalau ternyata Ando pernah bertemu dengan mantan kekasihnya.


"Eits dengerin dulu dong". Ucap Ando mengapit wajah perempuan itu dengan gemas. Felisha diam menunggu penjelasan.


"waktu aku beliin cincin ini buat kamu di mall sebelum aku ngelamar kamu di restoran malam itu, aku gak sengaja ketemu dia. Pas aku mau balik pulang dia manggil aku, dia ngajak bicara sebentar katanya ada yang mau dia omongin tapi aku gak punya waktu karena aku harus buru-buru nyiapin segala sesuatunya kan buat surprise kamu waktu itu". Ucap Ando sambil mengelus cincin yang melingkar di jari manis Lisha.


" Ooooohhh jadi kalau misalnya waktu itu kamu gak lagi nyiapin buat ngelamar aku, kamu mau gitu ngeladenin dia bicara berdua aja?" Lisha langsung tersulut emosi saat mendengar penjelasan Ando yang seolah-olah jika punya waktu ia tetap akan menerima ajakan si mantan untuk berbicara berdua.


"Ya ampun sayang, bukan gitu maksud aku. Siapa yang mau terima ajakan dia buat ngobrol..ngapain aku buang-buang waktu buat hal yang gak penting kayak dia."


"Isshh.." Lisha membuang pandangannya dan memutar posisi duduknya kembali menghadap ke depan. Melepaskan genggaman Ando dan melipat tangan di atas perut.


"Udah dong. Jangan mancing-mancing gitu". Ando tersenyum melihat wajah cemberut kekasihnya.


" Mancing apaan? kamu tuh.." masih kesal, bibirnya maju beberapa centi membuat Ando gemas.


"Ini jangan di majuin gitu, mancing buat di gigit tau gak". Bisik Ando tepat di telinga Felisha sambil menyentuh bibir perempuan itu dengan ibu jari. Seketika Lisha menutup bibirnya dengan telapak tangan dan sedikit menjauhkan kepalanya sembari menoleh ke arah Ando.


Senyum jahil terukir di bibir laki-laki itu.


"Gigit dikit gak papa kan, itung-itung nyicil sebelum malam pertama biar gak kaku-kaku amat". Ando kembali mendekatkan wajahnya dengan wajah Felisha.


" Awww.....ampun ampun..aku cuma bercanda sayang.." Cubitan keras di perutnya menghentikan gerakannya yang seolah akan meci*m Felisha.


"Mau macam-macam lagi?" Tanya Felisha melotot tak melepaskan cubitannya.


Ando menggeleng kepala berkali-kali.


"Nggak....ampun sayang". Ucapnya sambil mengusap-usap bekas cubitan perempuan itu.

__ADS_1


...****************...


Ando jahil banget...rasain tuh di cubitin..memar gak tuh bekas cubitannya hahaha


__ADS_2