
"Masih ada yang ingin di tanyain lagi?" Sambil mengelus perutnya yang terkena cubitan maut nan manja dari perempuan di hadapannya, Ando memastikan jika tak ada pertanyaan lagi.
"Mmmmm..." Felisha menyimpan telunjuknya ke dagu, terlihat memikirkan sesuatu.
"Mmm kak..aku mau nyampein satu permintaan dari Rufi dan Lita..boleh?" Felisha ragu-ragu menyampaikan mandat dari ke dua sahabatnya untuk sang calon tunangan.
Ando menyipitkan mata menyelidik.
"Boleh. Apa itu?"
"Kata mereka, setelah kita bertunangan nanti setiap weekend aku harus ngabisin waktu buat mereka aja". Felisha bingung cara menjelaskannya.
" Hmmm?" Dahi Ando berkerut
Perempuan itu duduk tegap lalu memutar badan menghadap Ando. "Gini-gini. Kata Rufi dan Lita, setelah kita bertunangan nanti, setiap akhir pekan aku hanya boleh menghabiskan waktu bersama mereka tidak boleh di ganggu oleh siapapun termasuk kamu". Setelah mengucapkan itu, Felisha menunggu jawaban dari laki-laki jangkung di sebelahnya.
Hening
Hening
Hening
" Maksud kamu, aku boleh ketemu sama kamu itu selain weekend aja?" Ucap Ando akhirnya setelah lama diam mencerna apa yang di katakan Felisha.
Lisha mengangguk.
"Nggak ada permintaan lain gitu?" Ando Tak percaya atas permintaan dari ke dua sahabat kekasihnya.
Lisha menggeleng.
"Terus kamu setuju?"
Lisha kembali mengangguk.
"Haiissss..." Ando menggaruk kepala bagian belakangnya terlihat frustasi.
"Kok kamu setuju sih sayang? Aku tuh gak bisa sehari aja gak ketemu sama kamu. Masa kamu tega setiap akhir pekan gak ketemu sama aku.." Rengeknya seperti anak kecil. Felisha menahan senyum melihat rengekan kekasihnya.
Ando membalik badan menghadap ke depan, mode ngambek sepertinya sedang ON.
"Sampe kapan kayak gitu?" Tanya Ando datar.
"Sampai kita nikah. Toh kalau udah nikah kita bisa menghabiskan waktu kapan aja kan. Kata Lita sih gitu.." Jawab Lisha santai sambil melihat-melihat kukunya yang baru saja ia warnai dengan kutek yang bisa di pakai wudhu.
"Hah?" Ando ternganga mendengar jawaban Lisha yang begitu santai.
"Kamu tega banget sayang.." Ando kembali menatap keluar jendela. Tak mengerti dengan jalan pikiran perempuan di sampingnya itu.
Tak habis pikir, bagaimana mungkin kekasihnya itu lebih memilih menghabiskan waktu bersama sahabatnya daripada bersamanya saat weekend.
"Jangan ngambek gitu dong, aku pikir yang dj katakan Lita juga ada benernya kan. Setelah nikah aku pasti akan jarang bertemu mereka lagi, apalagi menghabiskan waktu yang lama bersama mereka. Itu udah gak mungkin karena aku pasti fokusnya udah sama kelurga baru aku, fokusnya sama kamu dan anak-anak kita nanti". Ucap Lisha panjang lebar.
__ADS_1
Hati Ando seketika berdesir mendengar ucapan Felisha yang seolah sudah mempersiapkan diri untuk membina rumah tangga dengannya, memikirkan untuk mempunyai anak darinya. Sungguh hatinya terenyuh.
Pelan-pelan ia memutar badan dan menatap dengan lekat perempuan itu. Meraih tangannya untuk ia genggam.
" Sayang, aku janji setelah kita menikah aku gak akan melarang atau membatasi waktu kamu buat ketemu sama Rufi dan Lita. Aku tahu selama ini mereka sudah menemanimu setiap waktu suka duka kalian rasakan bersama bahkan lebih lama dariku. Jadi mana mungkin aku tega misahin kalian". Ando merengkuh tubuh mungil itu ke dalam pelukannya.
Felisha mendongak, tersenyum tapi juga meneteskan air mata bahagia karena laki-laki itu begitu pengertian dan perhatian kepadanya.
"Terimakasih..." Felisha kembali memeluk Ando dengan erat.
"Sama-sama sayang". Ucap Ando sembari mengecup puncak kepala perempuan itu yang tertutup hijab.
Felisha melepaskan pelukannya pelan-pelan tersenyum. " Walau kamu memberiku kebebasan untuk menemui Rufi dan Lita atau pergi bersama mereka, tetap saja aku gak akan seperti sekarang. Yang masih bisa kemanapun bersama mereka tanpa status punya suami. Karena jika aku sudah menjadi seorang istri itu artinya aku sudah harus memikirkan keadaan keluarga ku. Suami dan anak-anak ku akan menjadi prioritas utama dalam hidupku". Ucap Lisha menangkup pipi kiri Ando dengan satu tangan, hati laki-laki itu kembali terenyuh mendengar penuturan perempuan itu.
"Terimakasih sayang...terimakasih". Ucap Ando dengan tulus. Mengecup tangan kekasihnya lama.
Begitu membuncahnya perasaan bahagia Ando ketika mendengar penjelasan Felisha saat itu. Akhirnya ia luluh dan mengizinkan Felisha menghabiskan waktu bersama dua sahabatnya setiap akhir pekan setelah pertunangan mereka nanti. Toh jarak waktu pertunangan dengan pernikahan juga tidak akan lama. pikirnya.
Dan setelah pertunangan itu Felisha, Rufi dan Lita benar-benar selalu pergi bersama atau sekedar menghabiskan waktu di kos an selama weekend. Ando pun tak keberatan dengan itu karena ia akhirnya lebih memilih menyelesaikan pekerjaannya selama tak bertemu dengan Felisha.
Flashback OFF.
***
Felisha, Rufi dan Lita ketiganya kini sudah memiliki pekerjaan masing-masing. Felisha dan Lita bekerja di salah satu rumah sakit yang sama sedangkan Rufi bekerja di salah satu perusahaan besar yang memproduksi makanan dan obat-obatan.
" Sha..gimana rencana kamu selanjutnya? Setelah nikah kamu tetep lanjut bekerja atau gimana?" Tanya Lita kepada Felisha. Saat ini mereka sedang menikmati makan siang di kantin rumah sakit tempat mereka bekerja.
"Belum tau Taa...aku belum bicarakan ini dengan kak Ando. Tapi aku pengennya setelah nikah fokus ke kak Ando aja. Tapi liat nanti aja gimana". Jawab Lisha sambil sesekali menyuapkan makanannya ke mulut.
Seorang laki-laki mengedarkan pandangannya mencari tempat yang kosong namun nihil. Menoleh ke arah samping kanan dan melihat meja yang hanya ada dua orang wanita disana yang duduk, sedangkan kursi yang kosong masih ada dua karena jumlah kursi nya ada empat.
" Hai..permisi..boleh gabung gak?" Suara bariton terdengar dari seseorang yang datang dengan membawa sepiring nasi beserta lauk pauknya.
Felisha dan Lita menoleh melihat siapa orang itu, lalu saling pandang karena sama-sama baru kali pertama melihatnya berada disana. Lita mengedarkan pandangannya, benar saja ternyata memang sudah tak ada meja yang kosong di sana. Ia kemudian mempersilahkan orang itu untuk duduk bersama mereka.
"Silahkan mas.." Ucap Lita menggeser duduknya agar berhadapan langsung dengan Felisha.
"Terimakasih..." Ucapnya. Laki-laki itupun segera duduk di samping Rufi dan sudah pasti menghadap kepada Felisha.
Mereka makan dengan keheningan, hanya ada suara dentingan sendok dan piring yang saling bersentuhan. Tak ada seorangpun yang bersuara. Setelah makanan laki-laki itu habis, ia meneguk air minumnya sampai tandas.
"Hai..kenalin aku Yoga". Seseorang yang bernama Yoga itu mengacungkan tangannya untuk bersalaman dengan Felisha.
" Oh hai.." Lisha menatap Lita di hadapannya bingung. Lita mengangguk samar hampir tak terlihat. Lisha kemudian menyambut tangan Yoga yang sedari tadi berada di udara menunggu sambutannya.
Buru-buru Lisha melepaskan tangannya tanpa menyebutkan namanya.
"Yoga.." Kembali menyalami Lita yang ada di sampingnya. Yang juga di sambut Lita dengan menyebutkan namanya. "Lita".
" Oya Lita, nama temen kamu siapa?" Yoga melirik Felisha saat menanyakan namanya kepada Lita. Yang di lirik langsung mendongak dan tersenyum kikuk. Ia lupa menyebutkan namanya tadi saat bersalaman dengan laki-laki itu.
__ADS_1
"Oh..Felisha. Biasa di panggil Lisha aja". Ucap Lita terkekeh.
Yoga ikut terkekeh. " Senang berkenalan dengan kalian. Kita boleh berteman kan?" Tanya Yoga bergantian menatap ke dua perempuan itu.
"Boleh mas". Ucap Lita dengan ramah.
" Oke. Ini kartu nama saya. Kalau perlu bantuan atau apapun boleh hubungi saya". Yoga mengeluarkan selembar kertas kecil dari dalam dompet nya. Menyimpannya di atas meja.
"Kalau gitu saya duluan ya. Terimakasih sudah mengizinkan saya duduk makan bersama kalian". Ucapnya lalu pergi meninggalkan tempat itu.
" Sama-sama". Ucap Lita pelan yang hanya di dengar oleh Felisha sambil melihat punggung laki-laki itu yang sudah jauh dari pandangan.
"Shaaa....cakep bangeettt..." Ucap Lita kagum melihat Yoga yang memang memiliki tubuh yang kurang lebih sama seperti Ando dan wajah yang tampan.
"Husshh.....emang cakep banget ya? aku gak perhatiin soalnya tadi". Ucap Lisha, menyeruput minuman dinginnya yang tinggal setengah.
Lita mengangguk. "Kamu sih kalau ada cowo cakep gak mau ngeliat. Makanya kalau ada orang di buka tuh mata lebar-lebar biar sadar dengan lingkungan". Ucap Lita sambil mendelik ke arah sahabatnya itu.
Tanpa Felisha dan Lita sadari beberapa pasang mata menatap ke arah mereka sambil berbisik-bisik. Entah apa yang sedang mereka bicarakan.
Felisha meraih Handphone miliknya dan melihat ada pesan dari Ando disana.
"Sayang hari ini lembur lagi ya? Aku jemput jam berapa?"
Lisha segera mengirimkan pesan balasan kepada Ando.
"Sepertinya enggak kak, jemput jam lima aja seperti biasa".
Tak lama kemudian ada pesan balasan.
" Oke sayang".
Setelah saling berkirim pesan, Lisha kemudian memasukkan ponselnya ke dalam saku seragamnya. Melihat kartu nama laki-laki tadi, mendorong ke hadapan Lita untuk di simpan.
"Taa, kamu aja yang simpan". Ucap Lisha.
" Oke". Lita meraih kertas kecil itu dan membaca nama yang tertera disana.
"dr. Yoga Abiyyah, Sp.PD-KGH
(Dokter Spesialis Ginjal dan Hipertensi)"
"Praktek di Rumah sakit AA dan Rumah sakit SS"
" OMG...ternyata dia dokter di rumah sakit ini Shaaa...." Mata Lita seketika membulat sempurna saat melihat dan membaca kartu nama itu.
"Ssssstttttt...suara kamu di pelanin dikit napa sih..tuh orang-orang pada ngeliatin kita" Lisha meletakkan jarinya di bibir. Lita mengedarkan pandangan melihat apa yang di katakan Lisha. Benar saja hampir semua mata tertuju kepada mereka. Lita hanya menampilkan cengiran kudanya.
"Udah ah..kita balik ke ruangan sekarang. 7 menit lagi jam istirahat habis". Lisha berdiri dari duduknya dan beranjak pergi meninggalkan kantin.
" Hei tunggu.." Lita menyusul Felisha dengan berlari kecil. Lisha tak mau berlama-lama di tempat itu karena malu dengan kelakuan Lita tadi.
__ADS_1
...****************...
*Ada yang mau kenalan dengan dokter tam*van?