
Pukul 5 lewat 7 menit Felisha dan Lita berjalan menuju parkiran dimana Ando menunggu. Sebelum jam 5 Ando sudah berada di rumah sakit untuk menjemput tunangannya dan juga Lita tentunya. Ia memberitahu Lisha lewat pesan singkat kalau ia akan menunggu di dalam mobil saja.
"Maaf ya agak lama". Ucap Felisha saat duduk tepat di sebelah Ando. Tak enak hati membuat tunangannya itu menunggu.
" Nggak papa sayang, aku juga tadi lanjutin kerjaan yang tinggal dikit lagi selesai ". Ando menoleh dan mengusap puncak kepala perempuan itu yang tertutup hijab.
" Eheemmm...ada aku disini ingaat!!!" Lita langsung berdehem kuat merasa dirinya di anggap manekin oleh sepasang kekasih di depannya.
Ando dan Lisha terkekeh mendengar peringatan Lita yang hampir setiap hari seperti itu kalau melihat pergerakan dari sepasang kekasih itu yang selalu melupakan jika ada dirinya di antara mereka.
Tak mau melewatkan, Ando tetap meraih kepala Felisha dan mengecupnya dengan gerakan cepat.
"Eheeuuummm...." Lita semakin berdehem keras yang semakin membuat Lisha dan Ando tertawa.
"Hahaha...maafkan kak Ando Taa.."
"Iya iya...asal akur-akur...kalian bahagia aku rapopo lah.." Ucap Lita pasrah.
"Hahaha..." Keduanya kembali tertawa.
Ando melajukan mobilnya membelah jalanan kota yang padat dan macet sudah bisa di pastikan karena waktu pulang kerja. Walaupun jam sudah menunjukkan pukul 17.12 mereka masih juga terjebak macet. Padahal waktu pulang kantor sudah terlewat sekitar satu jam yang lalu.
Tiba di kos an ketiganya lekas turun karena waktu Maghrib sudah hampir habis. Lisha dan Lita gegas ke kamar masing-masing sedangkan Ando langsung menuju masjid tempat biasa ia shalat jika berada disana.
Selesai shalat Maghrib, Felisha sudah terlihat segar setelah membersihkan diri. Ia keluar kamar dan melihat sudah ada Ando yang duduk di sana sambil menatap tab miliknya.
"Kak..bawa pakaian ganti?" Melihat tunangannya itu masih memakai seragam kantor. Felisha mendekat dan duduk di samping Ando. Biasanya ia akan membawa pakaian ganti agar bisa numpang mandi di kamar perempuan itu setelah menjemputnya seperti sekarang ini.
Tak ada jawaban dari laki-laki yang terlihat serius menatap tabnya itu. Sesekali terlihat keningnya berkerut dalam.
"Kak.." Panggil Lisha lagi.
"Hmm.." Ando hanya menjawab dengan deheman singkat membuat Felisha menarik nafas dan membuangnya kasar. Selalu seperti itu jika sedang serius.
Merasa di abaikan perempuan itu hendak berdiri dan masuk kembali ke dalam kamarnya. Percuma juga bicara kalau tak di dengar. Pikirnya.
Baru saja Lisha akan berdiri tangannya sudah di cekal oleh tangan kekar laki-laki di sampingnya itu.
"Mau kemana?" Tanyanya namun tak mengalihkan pandangannya dari tab yang ada di tangan lainnya. Membuat Felisha sudah hampir meradang tapi untungnya Ando segera menyimpan nya di atas meja lalu menoleh melihat wajah cemberut perempuan itu yang sudah hampir menangis.
"Maaf. Tadi sedang ada email yang harus ku kirim secepatnya gak boleh telat". Ucapnya merasa bersalah karena sudah mengabaikan Felisha.
Felisha hanya diam cemberut dan menoleh ke tempat lain, tak mau menatap wajah laki-laki itu.
" Udah dong jangan cemberut gitu, tadi bilang apa hmm?" Meraih dagu Felisha agar menatapnya namun langsung di tepis dan hanya mendapat delikan mata.
Tak habis akal, Ando meraih pinggang Lisha agar dempet dengannya. Mengungkung kuat tubuh mungil Felisha yang berhasil membuatnya menoleh dan berusaha melepaskan tangan kekar itu namun tak berhasil.
"Ishh..lepasin.."
"Nggak.."
"Lepasin ih.." Mata bulat Felisha melotot kepada laki-laki itu. Ando menahan senyum, baginya itu malah terlihat lucu.
"Nggak akan aku lepasin kalau kamunya belum maafin aku". Yang di pelototi tetap tak mau melepaskan.
"Kamu tuh..kalau udah megang tab aja yang lain di anggap patung. Bicara juga percuma gak akan di dengerin". Omel Felisha bibirnya sudah maju beberapa senti.
" Ya maaf. Tadi bener-bener gak bisa di tunda lagi laporannya udah berkali-kali di minta tapi aku baru selesai tadi. Makanya aku usahain harus di kirim sekarang". Jelas Ando panjang lebar.
__ADS_1
"Ya tapi aku males banget bicara dengan orang yang gak nganggap sama sekali..sama aja bicara ama tembok tuh". Sepertinya Felisha benar-benar dongkol kali ini. Mungkin pengaruh capek juga karena seharian bekerja.
" Iya iya maaf. Aku gak akan ngulangin lagi Inshallah..." Ucap Ando mengecup kepala Felisha yang memakai hijab berkali-kali.
"Isshh..udah ah entar di liatin Lita lagi". Lisha mendorong pelan tubuh laki-laki itu agar tak berdempetan dengan tubuhnya.
" Jadi kalau gak di liat Lita boleh dong". Goda Ando.
"Udaaahh...sana mandi kalau kamunya bawa baju ganti tapi kalau nggak..
" Kalau nggak aku pake baju kamu boleh?" sambung Ando cepat yang membuat Felisha langsung menoleh dengan dahi berkerut.
"Emang ada yang pas? Badan gede gitu mana ada baju aku yang pas sama kamu..jangan ngaco". Felisha menggeleng pelan tak percaya bisa-bisanya laki-laki jangkung itu ada niat memakai pakaiannya yang jelas-jelas tak akan muat di badannya.
"Baju kamu yang oversize ayo cariin, aku mau mandi dulu. Oke sayang". Ando menarik pelan tangan Felisha mengajaknya masuk ke dalam kamar untuk mencari kaos yang sekiranya muat di badan Ando. Dengan terpaksa Lisha pun menurutinya.
" Lagian kenapa nggak bawa pakaian ganti sih kak. Biasanya juga bawa kan.." Cerocos Lisha sambil mengikuti langkah Ando.
"Lupa sayang". Jawab Ando singkat.
Setelah memberikan handuk baru kepada Ando, Felisha mengacak-acak isi lemarinya mencari kaos miliknya yang paling besar yang sekiranya bisa di pakai laki-laki itu namun tak ada.
Felisha mengingat-ingat kalau tak salah ada kaos polo ayah yang tertinggal ketika berkunjung ke kos an nya waktu itu. Ia kembali mengacak lemarinya yang tak besar itu.
" Dimana ya..kok gak ada disini.." Lisha berbicara sendiri sambil melihat-lihat dari atas sampai bawah.
"Ah ini dia". Senyum Felisha mengembang saat mendapati polo shirt dengan motif garis-garis berwarna navy kepunyaan ayah.
" Gimana sayang..ada gak?" Teriak Ando dari dalam kamar mandi.
"Hussstt..jangan teriak-teriak gitu kaya yang kamarnya besar aja. Nih pakai baju ayah aja kebetulan ada satu yang keselip". Gerutu Lisha sembari menyodorkan selembar baju ke pada Ando yang hanya menyembulkan kepalanya di balik pintu.
Felisha kembali melihat isi lemari yang sudah di acak-acak nya tadi.
"Huffffttt..." Segera menyusun kembali pakaiannya yang sedikit berantakan.
Felisha menoleh ke arah Ando yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut setengah basah. Penampilan yang biasanya selalu terlihat klimis itu sekarang terlihat seksi karena laki-laki itu sengaja membiarkan rambutnya berantakan setelah mengelap dengan handuk.
Baju yang di pakainya terlihat pres di badan karena ukuran baju ayah ternyata lebih kecil dari ukuran baju yang biasa ia pakai.
Ando meraih tas yang di simpannya di meja dan mencari krim untuk menata rambut yang selalu di bawanya kemanapun. Setelah menata rambut, Ando menoleh kepada perempuan yang sedari tadi menatapnya tanpa berkedip.
Berjalan mendekat dan memeluk perempuan yang sejak tadi berdiri terpaku di depan lemari.
"Eeh.." Felisha terkejut mendapat pelukan tiba-tiba.
"Kamu ngapain diam disini..hmm.." Tanya Ando memeluk sambil menggoyang-goyang kan Tubuh Felisha ke kiri dan ke kanan berulang kali sampai tubuh mereka terbentur lemari dan terpantul jatuh ke kasur, karena memang jarak antara lemari dan kasur hanya menyisakan daun pintu lemari jika di buka.
"Awww..." Ucap Felisha mengusap keningnya yang terbentur dagu Ando. Saat menyadari kalau dirinya berada di atas tubuh laki-laki itu buru-buru Felisha bangkit dan duduk di samping Ando yang masih saja berbaring sambil mengusap dagunya.
"Kamu sih.." Ucap Felisha canggung.
Ando tak menjawab dan malah menutup mata seperti sedang tidur melipat tangan di dada. Lisha mendekat melihat wajah laki-laki itu.
"Kak....malah tutup mata lagi..bangun ih.." Felisha berdiri dan menarik tangan Ando untuk duduk namun tenaganya tak sekuat itu. Yang di tarik tak bergeser sedikitpun.
Ando bangkit dan duduk. "Kenapa hmm?? Aku mau lurusin badan bentar aja nggak boleh". Gerutu Ando dengan mata memerah karena ngantuk. Setelah mandi ia malah ingin tidur.
"Kita makan malam dulu kak, nanti aja istirahatnya sekalian abis makan". Ucap Lisha sambil menuju dapur untuk menyiapkan makanan.
__ADS_1
Ando beranjak keluar kamar pergi ke mobil. Tak lama kemudian ia kembali ke dalam kamar dan langsung masuk ke kamar mandi. Felisha hanya melihat sepintas lalu kembali sibuk menyiapkan makanan membawanya ke teras untuk makan bersama dengan Lita, Rufi sepertinya lembur hari ini karena masih belum pulang juga sampai jam segini.
Lisha menunggu Ando keluar dari kamar mandi untuk mengajaknya makan. Laki-laki itu keluar sudah mengganti celana kain yang di pakainya tadi dengan jeans panjang berwarna putih. Terlihat semakin kren.
" Ternyata dia bawa celana tapi gak bawa baju". Batin lisha.
"Ayo kak..Lita nungguin kita di luar". Ajak Lisha yang di angguki Ando.
Keduanya keluar dan benar saja Lita sudah menunggu mereka. Saat ketiganya sedang asik makan dan berbincang Rufi datang dengan wajah lelahnya.
" Assalamu'alaikum..." Ucap Rufi
"Wa'alaikumsalam..." Jawab tiga orang yang sedang makan itu. Menoleh ke arah suara.
"Ya Allah Fiii..kamu kok pulangnya ampe malam banget sih". Lisha prihatin melihat sahabatnya yang satu itu yang selalu saja pulang malam.
" Hmmm.." Rufi mendudukkan bok*ngnya di kursi yang berada tepat di samping Lita. Duduk dengan gaya pasrah seperti tak berdaya walau di apakan. Tak mampu menjawab ucapan Lisha.
"Kasian...cape banget ya". Lita memandang Rufi prihatin sembari mengelus lengan Rufi dengan tangan kirinya yang tak menyentuh makanan.
Rufi kemudian duduk tegap, menyadari kalau perutnya lebih baik di isi dulu sebelum mandi agar setelah mandi nanti tinggal shalat Isya lalu tidur. Mereka makan sambil bercerita apa yang sudah mereka temukan seharian bekerja, tanpa terkecuali soal dokter tampan itu. Ando hanya menjadi pendengar di sana, namun sesekali menanggapi jika ada yang lucu dari cerita ke tiga perempuan itu.
" Eh tau gak Fii..dokter Yoga itu tampannya Masyallah bangeeett..auranya tuh bikin hati aku meleleeehhh..." Lita bercerita dengan penuh ekspresif.
Lisha hanya diam tak ikut berkomentar. Ando melirik sejenak wanita yang ada di sebelahnya tetap fokus dengan makanannya, sepertinya Lisha tidak tertarik untuk ikut menanggapi cerita dari sahabatnya itu.
"Ah biasanya kalau dokter spesialis gitu tuh pasti umurnya udah..." Jawab Rufi sambil meninggikan tangannya yang bermaksud kalau biasanya dokter spesialis itu usiannya pasti sudah agak tua. Yaahhh jauh di atas mereka maksudnya.
"Gak kok..kalau di lihat-lihat sih usianya kayanya gak jauh dari kak Ando, yaahh sekitar 3 sampai 4 tahunan lah. Keliatannya kalau sama aku masih cocok-cocok aja. Iya kan Sha?" Ucap Lita yang mencoba untuk menyandingkan dirinya dengan sang dokter.
"Hah?" Lisha mendongak menatap Lita yang meminta kesaksiannya. "Iya cocok jadi sugar daddy". Ucap Lisha santai lalu kembali memasukkan suapan terakhir ke mulutnya.
" Hahahaha..." Rufi tertawa mendengar perkataan Lisha yang dengan entengnya mengatakan kalau si dokter cocoknya jadi sugar daddy untuk Lita.
"Ya kalau beda usianya 3 ampe 4 tahun di atas kak Ando berarti dengan kamu beda usianya kurang lebih 10 tahun kan..berarti cocok nya di sebut sugar daddy kan.." Ucap Lisha lagi. Ando hanya manggut-manggut mendengarkan.
"HOTS Sugar daddy ...tapi dia gak terlihat tua kok. buktinya banyak perempuan yang kagum melihatnya bukan cuma aku doang." Sambung Lita sambil mengacungkan jempolnya ke hadapan Rufi tak lupa dengan senyum genit.
"Kalau soal itu sih aku nggak tau ya, karena aku nggak perhatiin". Ucap Lisha setelah meneguk habis air minumnya.
***
Setelah makan dan ngobrol sebentar, Ando pamit pulang ke rumah karena jam sudah menunjukkan hampir pukul 10 malam. Ke tiga perempuan itu juga harus istirahat karena besok masih harus bekerja.
"Aku pulang dulu sayang..besok sepertinya aku nggak bisa jemput kamu gak papa ya?" Ucap Ando sambil memeluk Lisha. Rufi dan Lita sudah kembali ke kamar mereka masing-masing.
"Sibuk banget ya?" Tanya Lisha.
"Aku besok jadwalnya padat banget sayang, mungkin pulangnya agak malem karena besok ada beberapa sidang dan diversi". Jelas Ando.
" Oohhh..ya udah nggak papa, aku sama Lita biar naik taxi online aja besok pulangnya".
Ando mengangguk. Seperti biasa mengecup puncak kepala perempuan itu sebelum pulang.
Selama ini terkadang memang Ando selalu memaksa untuk menjemput Felisha dan Lita di rumah sakit jika sempat. Felisha tak mau meminta Ando menjemputnya karena tahu Ando pasti capek jika harus menjemputnya lalu mengantar pulang ke kos an mengingat jarak kantor dan rumah Ando yang tak begitu jauh sedangkan Rumah Sakit tempat ia bekerja harus melewati jalan menuju kos an terlebih dahulu untuk pergi ke Rumah Sakit itu.
Jadi posisi kantor Ando berada di tengah antara rumah dan kos an sedangkan rumah sakit melewati tempat kos an itu.
...****************...
__ADS_1
Sepertinya babang dokter usianya di atas Ando. Gimana menurut kalian?