Suami Sabarku

Suami Sabarku
Bab 25. Kembali


__ADS_3

Aku mengerutkan dahi dalam, ketika ku coba menjawab panggilan itu karena masih sama seperti tadi. Tak ada suara apapun.


"Halo..." Aku lagi-lagi mengawali obrolan namun juga tak ada jawaban.


Aneh. Pikirku.


Segera ku matikan panggilannya dan bergegas berdiri mengajak Lita untuk pulang ke kosan.


Jam menunjukan pukul 14.10. Kami berjalan sambil menerka nerka siapa sebenarnya pemilik nomor tak di kenal tadi.


"Menurut kamu siapa Ta?"


"Siapa ya?" Lita terlihat mengerutkan keningnya.


"Ah mungkin hanya orang iseng aja tuh."


"Ya. Mungkin." Lita menjawab tapi seperti tak sepenuh hati.


Kami terus berjalan dan terdiam sibuk dengan pikiran masing-masing. Mungkin karena lelah ataukah masih memikirkan si nomor tak di kenal tadi. Entahlah


Tanpa terasa kami sudah berada di depan kamar masing-masing. Disana sudah ada Rufi yang menyambut kami dengan senyum simpulnya.


"Pada kusut amat mukanye bedua? ada apa?" Tanya Rufi ketika melihat kami.


"Lelah banget hari ini Fi." Jawabku.


Lita tak bersuara, Langsung saja ia membuka pintu kamarnya dan masuk ke dalam meninggalkan ku dan Rufi.


"Lita kenapa Sha?"


"Capek banget kayaknya. Aku juga mau masuk. Mau langsung mandi terus tidur." Ucapku kepada Rufi yang mengangguk mengerti.


"Iya deh. Kalian pasti lelah banget ya, abis praktek IBM (Ilmu Bahan Makanan) kan tadi?"


"Iya. Aku masuk dulu Fi."


Rufi mengacungkan jempol tangannya sambil mengangguk dan pergi ke kamarnya.


Setelah ku tutup pintu kamar, segera ku lepas hijab ku dan merebahkan tubuh ku sejenak untuk meluruskan badan.


Tak lama kemudian aku bangkit dan meraih handuk untuk segera membersihkan diri.


Aku melepas satu persatu pakaian yang menempel di tubuh ku sambil memikirkan nomor tak di kenal tadi. Tiba-tiba terlintas dipikiran apakah mungkin kak Mato yang melakukannya? Tapi kenapa tak bersuara.


Sejenak memikirkan jika benar kak Mato, mungkinkah dia akan datang menemui ku untuk menjelaskan semuanya.


Ahhh rasa lelah sepertinya ikut luruh terbawa air dingin saat ku guyur kepala.


Tapi kenapa aku bisa berpikir jika itu kak Mato? Mungkinkah aku belum move on darinya? Apakah masih ku harapkan kehadirannya?


Ku coba meraba perasaan yang ada. Merasakan apakah mungkin di lubuk hati paling dalam aku masih menyimpan cinta untuknya. Entahlah


Aku segera mengakhiri mandiku dengan air dingin yang berhasil membuat ku lebih rileks.


Setelah ku kenakan pakaian ku gegas ku rebahkan tubuhku dan tak lama kemudian aku tertidur pulas.


***


Aku terbangun dari tidurku yang pulas setelah mendengar suara murrotal Qur'an sebelum Adzan Ashar di masjid yang tak jauh dari kosan.


Ku lirik jam weker yang ada di atas meja menunjukkan pukul 15.10. Aku tertidur selama kurang lebih satu jam. Cukup untuk memulihkan stamina.


Gegas ku duduk sejenak setelah itu beranjak berdiri untuk memeriksa ponsel ku yang tergeletak di atas meja.


Ku lihat di layar tertera tiga panggilan tak terjawab dari nomor tak dikenal yang tadi siang menghubungi nomor ponsel ku. Dan ada dua panggilan tak terjawab dari kak Ando.


Ku abaikan nomor tak dikenal dan langsung melakukan panggilan ke nomor ponsel kak Ando.


Tak lama kemudian ku dengar suara berat di seberang sana.


"Halo, Assalamu'alaikum..." Ucap kak Ando

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam..." Jawabku


"Tadi kak Ando abis nelpon ya?" Tanyaku karena melihat dua panggilan tak terjawab dari kak Ando.


"Iya. Tapi gak di jawab sama kamu." Ucapnya sendu seolah sedang kecewa.


"Gimana mau jawab kalau akunya lagi tidur. Baru saja terbangun."


"Oh gitu. Berarti sekarang masih muka bantal dong"


"Enggak kok. Aku mah biar tidur juga tetep cakep. hehe.."


"Wow. Benarkah? coba aku mau lihat. Video call ya."


"ENGGAK."


"Enggak percaya kalau cakep beneran karena belum pernah lihat rupanya seperti apa."


"Enggak usah mancing. Gak akan mempan. Gak akan aku terima Video call dari kak Ando."


"Hahahaha." Tawa kak Ando pun pecah.


"Kamu tau aja maksud aku." Lanjutnya


"Iya lah... emang aku bocah apa yang bisa di akalin. Enak aja." Sungut ku


Ku dengar kak Ando terkekeh-kekeh di seberang sana.


"Kenapa sih gak pernah mau video call an?" Tanya nya setelah berhasil menghentikan tawanya.


"Aku enggak percaya diri."


"Ya Allah. Emang kamu kenapa sampai gak percaya diri gitu?"


"Ya enggak kenapa-napa sih. Pokoknya aku enggak percaya diri aja."


"Ya sudah kalau gak mau."


"Aku mau shalat Ashar dulu kak. Udah Adzan tuh di masjid." Ucapku setelah terdiam beberapa saat.


"Oh iya oke. Aku juga mau shalat."


"Ya udah ya. Assalamualaikum..."


"Wa'alaikumsalam..."


Panggilan terputus dan segera beranjak menuju kamar mandi untuk berwudhu dan menunaikan kewajiban menyembah Allah SWT.


***


Baru saja aku menyelesaikan shalat ku, terdengar ketukan pintu membuat ku urung melepas mukenah.


Aku berdiri bermaksud untuk membuka pintu kamar dan melihat siapa yang datang. Karena biasanya jika Rufi ataupun Lita yang datang pasti langsung membuka pintu tanpa menunggu ku yang membukanya.


Terdengar getaran panjang dari handphone milikku yang ku simpan di atas meja. Ku raih dan melihat siapa si penelpon dan ternyata nomor yang sama tadi siang menghubungi ku, nomor tak dikenal.


Tak langsung ku jawab, terlebih dahulu ku buka pintu kamar. Ku biarkan saja panggilan masuk itu sampai tak terdengar lagi getaran handphone milikku.


"Assalamualaikum..." Ucap seseorang setelah ku buka pintu. terkejut melihat siapa yang datang. Buru-buru ku jawab salamnya.


"Wa'alaikumsalam... Duduk dulu kak." Ku persilahkan duduk di kursi teras depan kamar. "Sendirian aja kak?". Tanyaku sambil clingak clinguk mencari keberadaan sahabatnya yang biasa menemaninya.


"Iya aku sendiri aja kesini." Ucapnya


"Kak Arsen gak ikut?"


Kak Muza menggeleng. "Enggak."


Ya, aku terkejut melihat kedatangan kak Muza sore ini. Seperti ada hal serius yang akan di bicarakan.


"Kamu sibuk Sha?"

__ADS_1


"Enggak kok. baru aja selesai shalat. Ada apa kak?"


Tidak ada Jawaban atas pertanyaan ku. Kak Muza hanya menatap ku lekat. Aku semakin bertanya-tanya ada apa dengannya. Apakah ada yang salah dengan pertanyaanku?


"Felisha." Panggil kak Muza. Dan hanya ku jawab dengan alis terangkat.


"Sha aku..aku mau kita balik kayak dulu."


"Maksud kak Muza?" Aku semakin mengangkat alis dengan mata membulat.


"Maksudku. Aku ingin kita menjalin hubungan lagi seperti dulu. Aku janji gak akan buat kamu gak nyaman di dekatku."


Tak ku jawab. Aku terlalu terkejut mendengar kak Muza mengatakan itu. Tak ku sangka perkataan Lita tadi pagi ternyata benar.


"Felisha. Aku minta maaf jika dulu selama kita bersama kamu sering merasa gak nyaman. Kali ini aku akan berusaha agar kamu selalu nyaman bersama ku.


Aku bingung harus berkata apa. Akhirnya hanya ku jawab dengan gelengan kepala.


"Tidak kak. Aku gak bisa." Hanya kata itu yang keluar dari mulut ku.


"Kenapa Sha?"


"Kak Muza tau sendiri dari dulu. Aku gak ada perasaan apapun sama kakak selain menganggap kakak sebagai teman. Maaf kak."


Aku menangkup kedua tangan di depan dada. Memohon maaf tak bisa untuk kembali menjalani hubungan yang sama sekali tak kurasakan ada cinta ataupun rasa suka di hatiku.


Kak Muza terlihat menarik nafas panjang lalu menghembuskannya pelan. Menatap ku sendu.


Sungguh aku tak tega melihat nya. Tapi aku harus jujur sekarang. Aku tak punya pilihan selain harus berkata jujur dengan apa yang ku rasakan terhadapnya.


Sebenarnya aku merasa heran dengan kak Muza yang masih berharap balikan dengan ku. Padahal sudah hampir dua tahun aku putus dengan dia. Dan dia sendiri tau kalau aku tak pernah ada rasa ke dia.


"Sama sekali gak ada kesempatan buat ku Sha?"


"Kak. Aku gak mau kita menjalani hubungan yang tidak sehat. Aku gak ada perasaan apapun sama kakak. Sungguh aku minta maaf kak." lagi-lagi aku menangkupkan tangan di dada memohon maaf kepada kak Muza.


"Baiklah Sha. Aku mengerti, aku minta maaf sudah mengganggu waktu mu."


"Aku sama sekali gak merasa ke ganggu kak. Aku minta maaf."


"Minta maaf untuk apa. Kamu gak salah."


"Aku minta maaf karena gak bisa memenuhi permintaan kak Muza."


"Enggak apa-apa Sha. Aku mengerti."


"Terimakasih kak."


"Rufi sama Lita mana nih. Kok gak keliatan dari tadi?" Seketika kak Muza mengalihkan pembicaraan kami.


"Ada kok di kamar mereka masing-masing. Sebentar aku panggilin dulu."


Aku hendak beranjak untuk memanggil ke dua sahabatku namun segera kak Muza menghentikan gerakan ku.


"Eeh gak usah Sha. Aku pamit pulang dulu. Nanti lain waktu aku main kesini lagi sama Arsen."


"Lho cepet banget kak."


"Abis ini aku ada urusan Sha."


"Oh ya udah kak."


"Aku pulang dulu." Pamit kak Muza sambil berdiri dari duduknya.


"Iya kak. Hati-hati di jalan."


Kak Muza tersenyum dan mengangguk. Aku menatap punggung kak Muza sampai tak terlihat lagi.


Aku berbalik untuk kembali masuk ke kamar, namun aku di kejutkan oleh Rufi yang sedang berdiri tepat di belakang ku.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2