Suami Sabarku

Suami Sabarku
Bab 31. Calon mertua 1


__ADS_3

Seperti itulah kak Ando selama ini. Bersikap seolah tak ada yang terjadi jika aku memperlakukan dia kurang baik.


Jika hari ini sikapku kepadanya kurang baik, maka keesokan harinya dia akan tetap bersikap seolah tak terjadi apa-apa.


Bukankah aku terlalu jahat kepadanya? Pertanyaan itu yang selalu saja muncul dalam pikiran. Selalu menghantui.


Rufi dan Lita tak mau lagi mendengar keluh kesah ku tentang kak Ando. Mereka lebih memilih diam jika sudah menyangkut tentang kak Ando.


Aku merasa mungkin mereka sudah bosan mendengar curhatan ku yang itu-itu mulu.


***


Lima bulan kemudian aku masih bertahan dengan hubungan kami yang semakin membuatku tak nyaman karena di hantui berbagai macam pikiran.


Dari awal kak Ando sudah pernah mengatakan bahwa ia tak kan melepas ku begitu saja. Tanpa ada alasan yang tepat dia tak akan begitu saja menerima keputusan ku untuk mengakhiri hubungan kami dan sampai saat ini aku belum pernah mengatakan apapun pada kak Ando soal keinginan untuk mengakhiri hubungan kami.


Seperti yang pernah dikatakannya bahwa dia tak akan melepas ku tanpa alasan yang jelas, kak Ando tak bergeming walau sikapku sudah beberapa hari ini tak pernah baik padanya. Selalu acuh tak acuh jika dia datang untuk menemui ku.


Kak Ando hanya terkekeh jika melihat tingkah laku ku yang seperti sengaja untuk membuatnya pergi. Dan itu sukses membuat ku semakin kesal di buatnya.


Tak di sangka oleh ku, kak Ando malah mengajakku untuk bertemu dengan kedua orangtuanya hari ini. Aku terkejut bukan main. Disaat aku berusaha menghindar darinya dia malah mau mengenalkan ku kepada mama papanya. Aku semakin tak mengerti jalan pikiran seorang Alfando Aban. Apakah memang seperti itu semua laki-laki dewasa, ataukah hanya kak Ando saja yang seperti itu? ah aku sama sekali tak mengerti.


Aku masuk ke kamar Rufi tanpa mengetuk pintunya terlebih dahulu, nyelonong seenak jidat sambil menghentakkan kaki. Kemudian duduk di kasur empuk milik Rufi dengan kasar.


Dahi Rufi berkerut dalam melihat tingkahku.


"Hei...kamu kenapa Sha?" Tanya Rufi heran.


"Aku tuh heran banget sama kak Ando tau gak." Ucapku ngegas.


"Kamu tuh yang bikin aku heran bukannya kak Ando. Kenapa emang dengan kak Ando?"


"Aku tuh berusaha hindarin dia, eh malah dianya ngajak ketemu sama mama papanya. Isshhh heran. Hatinya terbuat dari apa sih. Masa gak ngerti-ngerti juga kalau aku tuh gak suka sama dia. Aku gak cinta sama dia." Ujar ku dengan frustasi.


Rufi malah terbahak mendengar penuturan ku. Tak hanya menertawakan ku, Rufi malah meraih ponselnya lalu mendial nomor seseorang disana.


Dahiku berkerut, siapa yang akan di hubunginya, kak Ando kah? Ah tidak tidak. Awas saja jika benar kak Ando. Aku jitak pala nya ntar. Aku membatin sambil menunggu orang di seberang sana menjawab panggilan dari Rufi yang sengaja ia speaker suaranya.


"Ada apa?" Terdengar suara Lita disana membuat ku bernafas lega. Ternyata dia menelepon Lita bukan kak Ando.


"Ta...ke kamar aku sekarang. Gak pake lama." Ucap Rufi lalu memutuskan panggilannya tanpa menunggu jawaban Lita.


"Kamu kenapa malah ketawa sih. Temen lagi kesal di ketawain. Itu Lita di suruh kesini buat apa coba. Bantuin kamu ketawain aku gitu?" Tanyaku kesal kepada sahabatku itu.


Tawa Rufi semakin jadi. Ia mengusap air di sudut matanya setelah tawanya reda. Tak lama kemudian Lita masuk dengan wajah bingung.


"Kalian ngetawain apa sih kayaknya lucu banget sampai Rufi keluar air mata." Lita hanya tersenyum lebar dengan dahi berkerut.


"Noh... Tanya si Lisha tuh." Ujar Rufi


Lita menoleh padaku dengan mengangkat dagu masih dengan dahi berkerut sambil berkacak pinggang.

__ADS_1


"Kenapa sih?" Tanya Lita.


"Mana ku tahuu. Gila kali si Rufi tuh. Ketawa aja gak ada yang lucu." Jawabku cemberut.


"Si Lisha maksud hati mau buat kak Ando menjauh dari dia, eh malah di ajak buat kenalan sama mama papanya hari ini. Gimana aku gak ketawa coba." Rufi menjelaskan kepada Lita dengan terkekeh-kekeh.


Lita ikutan tertawa mendengar Rufi memberi tahunya sambil tertawa-tawa.


"Serius Sha?" Tanyanya sambil tertawa dengan mata membulat membuatku makin kesal saja.


"Isshh...kalian kenapa malah ketawa sih...aku tuh lagi kesel sama kak Ando tau gak." lirih ku.


"Ya ampun Sha, kok kamu malah kesel di ajak ketemu sama mama papanya kak Ando sih, aku malah pengen banget kak Bara tiba-tiba ajak aku ke rumahnya terus ngenalin aku ke keluarganya. Uhhhh pasti seneng banget aku mah." Lita menggenggam tangannya sendiri di depan dada sambil menerawang sambil senyum-senyum sendiri seandainya itu terjadi padanya.


Membuat Rufi kembali tertawa melihat tingkah Lita.


"Eeh by the way kapan kak Ando kesini buat jemput kamu?"


Bunyi handphone milikku mengalihkan pandangan kami bertiga yang langsung menatap ke arah ponsel yang tergeletak begitu saja di atas kasur.


Ku raih dan ku lihat ada nama kak Ando tertera di layar. "Kak Ando Calling"


Aku melirik ke dua sahabatku terlihat wajah antusias mereka menyuruhku segera menjawab panggilan kak Ando. Ku hembuskan nafas kasar lalu menekan tombol hijau untuk menjawab.


"Halo. Assalamualaikum..." Ucapku


"Wa'alaikumsalam...Udah siap? Aku bentar lagi sampai nih." kata kak Ando.


"Ya udah siap-siap dulu sana."


"Hmmm." Aku menjawab dengan malas.


Segera ku putus sambungan telepon lalu beranjak pergi ke kamar sedikit berlari, Rufi dan Lita mengikuti ku dari belakang sambil bertanya.


"Ada apa Sha?"


"Kak Ando bentar lagi sampai. Dia nyuruh aku buat siap-siap." Jawabku sambil cemberut


"Ya udah kita bantuin kamu buat siap-siap, kamu mandi dulu sana."


"Aku udah mandi dari tadi tau." Jawabku kesal, mereka tertawa melihat wajah ku yang ku tekuk sedari tadi.


Aku bersiap sambil di ceramahi oleh ke dua sahabatku itu. Mereka bilang "orang itu kalau mau ketemu calon mertua harusnya semringah berseri-seri, ini kamu malah di tekuk gitu mukanya. Ayo dong senyum."


"Calon mertua calon mertua." Kataku cemberut.


Tak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu dengan di ikuti ucapan salam seseorang yang tak lain adalah kak Ando.


Aku telah siap untuk pergi, Lita menjawab salam lalu membukakan pintu untuk kak Ando.


Kak Ando tersenyum lebar melihat ku yang sudah siap namun terlihat tidak ikhlas untuk memenuhi ajakannya.

__ADS_1


"Udah siap?" Tanya kak Ando.


"Seperti yang kak Ando lihat." Jawabku acuh.


Ku lirik ke dua sahabatku yang langsung memberikan pelototannya padaku.


Kak Ando hanya terkekeh mendengar jawaban ku dan melihat wajahku yang tak bersahabat.


"Ayo jalan sekarang."


"Fi, Lita aku jalan dulu." Aku menoleh pamit kepada dua sahabat ku yang memberikan kode agar aku senyum. mereka berdua melebarkan bibirnya yang diikuti jari telunjuk dan ibu jari yang membentuk senyuman.


Kak Ando hendak meraih tangan ku untuk ia genggam namun dengan cepat aku meraih tali tas selempang yang ku pakai dan berjalan lebih dulu meninggalkan kak Ando yang ku dengar berpamitan pada Rufi dan Lita. kemudian menyusul ku ke tempat parkiran dimana aku sedang menunggunya dan sudah memakai helm tanpa menunggu kak Ando yang memakaikannya.


Setelah kak Ando berdiri di dekat motor sport nya ku dengar kak Ando menghela nafas panjang menatap ku.


Kami melaju membelah jalanan kota. Karena hari ini hari minggu jadi jalanan di jam begini sangat lengang karena sepertinya orang-orang sedang berlibur ke tempat-tempat wisata. Hari ini rencananya kami akan makan siang di rumah kak Ando sekaligus berkenalan dengan kedua orang tuanya.


Tak bisa ku pungkiri, jantungku berdetak lebih cepat sejak memasuki halaman rumah kak Ando. Rumah yang sederhana berwarna perpaduan abu putih dengan halaman luas yang di hiasi dengan berbagai macam bunga dan ada satu pohon mangga namun tidak terlalu tinggi. Disana terlihat mobil sejuta umat terparkir cantik. Sepertinya mobil itu milik papanya. Mobil apalagi kalau bukan mobil Xenia. Deg degan akan bertemu ke dua orang tua kak Ando.


Setelah turun dari motor. Kak Ando lagi-lagi meraih tangan ku yang langsung ku berikan tatapan tajam lalu menggeleng. Kak Ando pun hanya menghela nafas kasar dan mempersilahkan aku masuk.


"Assalamualaikum..." Kak Ando mengucapkan salam yang di sambut oleh wanita yang terlihat sudah tak muda lagi dengan senyum lebar. Beliau terlihat datang dari arah dapur menuju ruang tengah dimana aku dan kak Ando berdiri. Ya, kak Ando mengajakku langsung saja masuk ke ruang tengah setelah dua kali mengucapkan salam tapi tak ada jawaban ketika kami berada di depan pintu rumah bercat kayu itu.


Kak Ando mencium punggung tangan wanita yang aku perkirakan usianya sudah menginjak lebih dari setengah abad itu lalu memeluknya. Aku mengikuti apa yang di lakukan oleh kak Ando tadi, meraih tangannya lalu menciumnya dengan takzim. Ku rasakan tangannya mengusap kepala ku yang tertutup hijab. Meraihku lalu mencium pipi kanan dan kiri ku.


"Sayang, ini mamah. Mah kenalin ini Felisha." Kak Ando mengenalkan mamahnya padaku begitu pula sebaliknya mengenalkan aku pada mamahnya.


Aku menatap senyuman hangat itu. Langsung teringat akan senyuman mamah ku yang berada jauh dengan ku, di kampung halaman. Aaahhh rindunya. Aku segera menunduk takut aku semakin terbawa keadaan dan meneteskan air mata. Tidak, jangan sampai itu terjadi. Buru-buru aku mengedipkan mata berkali-kali untuk mencegah air mata keluar.


Kak Ando menanyakan keberadaan papanya. Oh iya sedari tadi aku tak melihatnya. Aku mengedarkan pandangan melihat sekeliling tapi tak seorangpun disana selain mamahnya kak Ando.


"Papa mana mah?"


"Ada di halaman belakang. Kamu kesana aja temuin dia. Lisha sama mamah aja ya." Ujar mamahnya kak Ando.


"Ya udah, aku ke belakang dulu sayang." Pamit kak Ando padaku yang hanya ku balas dengan anggukan kepala pelan. Ia segera berlalu untuk menemui papanya.


Setelah kak Ando tak terlihat. Wanita yang sudah tidak muda lagi itu segera menuntun ku untuk duduk di sofa yang tak jauh dari tempat kami berdiri. Kami duduk dengan mamahnya kak Ando yang tersenyum menenangkan ku yang merasakan gugup sedari tadi. Tak tau harus memulai obrolan kami dari mana.


"Lisha santai aja ya sama mamah." Ujarnya tersenyum sambil menggenggam tanganku yang dingin. Aku hanya mengangguk membalas senyumannya.


"Mamah udah sering banget denger tentang kamu dari Alfando." Mamahnya kak Ando memulai obrolan. Aku lagi-lagi hanya tersenyum menunggu kelanjutan dari ceritanya. Aku penasaran cerita apa aja dia sama mamahnya tentang ku.


"Sudah lama mamah gak pernah lihat Ando semangat lagi kayak dulu. Sudah lama juga Ando gak pernah ngenalin cewek ke mamah. Sejak Ando di tinggal menikah sama si mantannya itu Ando hanya fokus dengan karirnya. Seperti takut memulai hubungan baru lagi dengan wanita." Ucap mamahnya kak Ando dengan tenang, membuatku sangat terkejut tapi buru-buru aku mengembalikan ekspresi wajah ku sebelum mamahnya kak Ando menyadari keterkejutan ku.


"Mmm Kak Ando cerita apa aja tentang aku sama Tante?" Ragu-ragu akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya setelah menetralisir rasa gugup yang mendera.


"Mamah. Panggil mamah aja jangan tante." Aku tersenyum canggung mendengar permintaan dari mamahnya kak Ando. Bagaimana bisa aku menjauh dari kak ando kalau udah begini. Batinku.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2