Suami Sabarku

Suami Sabarku
Bab 36. Dapet telpon


__ADS_3

Sebulan sudah Lisha, Rufi dan Lita berstatus pengacara (pengangguran banyak acara). Sudah sebulan juga mereka bertiga mencari lowongan pekerjaan yang kiranya bisa menerima mereka untuk bekerja. Mereka sudah memasukkan lamaran mereka ke beberapa tempat namun belum juga ada panggilan untuk interview.


Tiga serangkai itu tak ada niat untuk meninggalkan kota dimana mereka berkuliah karena ingin mencari nafkah untuk diri sendiri di kota itu. Ingin mandiri tanpa mengharapkan transferan lagi dari orang tua.


Sebulan kemudian,


"Halo..Assalamualaikum..." Sapa Felisha setelah menerima panggilan masuk dari nomor tak di kenal.


"........."


"Iya, betul. Ini dengan siapa ya?"


"........."


"Oohh iya iya...dengan saya sendiri. Ada yang bisa saya bantu pak?"


"........"


"Oke, baik pak, terimakasih informasinya".


"......."


"Selamat siang".


tut...tut...tut


Sambungan telepon putus.


Felisha masih terdiam setelah mengakhiri percakapannya dengan seseorang yang tadi menelponnya. Merasa pernah mendengar suara itu sebelumnya, tapi ia bingung sendiri dimana pernah mendengarnya.


" Ah sudahlah, mungkin mirip aja". Felisha mencoba mengabaikan dugaannya sendiri.


"Shaa... dug dug dug..". Suara teriakan Lita bersamaan dengan gedoran pintu kamarnya membuatnya mengelus dada sedikit terkejut dengan perbuatan sahabatnya yang satu itu.


"selalu saja seperti itu". Gerutunya sambil berjalan membukakan pintu untuk sang penggedor pintu.

__ADS_1


" Orang itu dimana-mana kalau bertamu ucap salam dulu bukannya main gedor aja..gimana sih". Ucap Lisha dengan bibir sedikit di manyunin sambil membuka lebar pintu mempersilahkan Lita masuk.


"Hehehe...maaf". Lita hanya cengengesan. "Assalamu'alaikum..." Lita akhirnya mengucapkan salam walau sudah berada di dalam kamar dan duduk bersila di lantai dekat kasur.


"Wa'alaikumsalam... Ada apa sih?"


"Shaaa...aku tadi dapet telpon dari rumah sakit Shaa.." teriak Lita dengan sedikit menekan suaranya seperti sedang menahan bahagia yang meletup letup dengan tangan mengatup di depan dada.


"Oh yaa??"


"Iyaa...aku di suruh ke rumah sakit besok buat interview. Baru sebatas wawancara doang sih". jawab Lita sedikit melemah.


" Kenapa? ko kayak yang gak percaya diri gitu?"


"Hmmmm..." menarik napas lalu membuangnya sedikit kasar. "Besok pasti banyak saingan, pasti banyak yang ikut interview ". Lita menjawab dengan tatapan kosong seperti sedang banyak pikiran.


" Ya iyalah Taa...namanya juga rumah sakit besar kan emang gitu kaan...kamu kudu optimis positif thinking semoga rejeki lu emang disitu, ke terima kerja disitu. Aamiin..."


"Aamiin Ya Robbal'alamiin". Lita mengamini dengan cepat doa dari sang sahabat.


" oh yaa.." Lita membulatkan matanya terkejut. "Jadi kapan kamunya kesana?" Lita semakin bersemangat karena ternyata satu sahabatnya akan mengikuti tes wawancara sama seperti dirinya. Walaupun belum pasti diterima untuk bekerja setidaknya mereka pernah sampai tahap wawancara, itu sudah menjadi pengalaman berharga bagi mereka. Apalagi ini wawancara pertama bagi mereka setelah banyaknya menyebarkan surat lamaran.


"Assalamu'alaikum..." Seketika Lisha dan Lita menoleh ke arah suara. Rufi langsung masuk saja karena pintu kamar yang terbuka hanya tidak terbuka lebar.


"Wa'alaikumsalam..." Jawab Lisha dan Lita.


"Ada apa sih? suara kamu sampai kedengaran di kamar aku lho." sambil duduk di tepi kasur di samping Lisha yang menghadap ke arah Lita, Rufi bertanya dengan dahi berkerut menatap Lita.


"Aku sama Lisha tadi barusan dapet telpon buat wawancara besok Fii... eeh kamu kapan Sha wawancaranya?" Lita menjawab sambil melihat pergerakan Rufi namun seketika menoleh kepada Lisha karena teringat pertanyaannya yang tadi belum sempat di jawab karena kedatangan Rufi.


"Besok juga." Jawab Lisha.


"Woaahh...beneran?? akhirnyaahhh...Alhamdulillah kalau gitu. Semoga ada titik terang ya kalian.." Ikut senang mendengar kabar baik dari ke dua sahabatnya yang akhirnya mendapatkan panggilan untuk wawancara setelah sebulan memasukkan surat lamaran. "Aku kok belum ada panggilan ya ampe sekarang". Lanjut Rufi memasang wajah sedih.


"Jangan sedih gitu dong Fii...kita doain semoga kamu juga secepatnya nyusul..yaaa walaupun ini belum tentu ketrima tapi setidaknya akan menjadi pengalaman pertama kita ikut tes wawancara..iya kan Sha?". Lita mencoba menghibur sang sahabat yang mengsedih di karenakan belum ada panggilan untuk wawancara seperti mereka. Padahal mereka bertiga sama-sama memasukkan lamaran di rumah sakit yang sama tempat Lita akan mengikuti tes wawancara besok namun Lisha mendapatkan panggilan dari tempat lain yang juga di masukannya surat lamaran selain rumah sakit itu.

__ADS_1


" Iya Fii...kita juga belum tentu diterima, besok baru wawancara aja. Nanti di seleksi lagi kan." Lisha ikut menenangkan sang sahabat.


"Semoga kalian di terima...". Dengan tulus Rufi mendoakan kedua sahabatnya agar di terima bekerja.


" Aamiin..." mereka bertiga mengamini ucapan Rufi.


"Eh kalau udah ketrima kerja..janji ya gaji pertama kalian harus di rasain bareng-bareng.. traktir di cafe deket kantor kak Ando. Oke??". Sepertinya Rufi tak mau melewatkan kesempatan untuk menjarah kedua sahabatnya.


"Iya iya ntar kamu dulu yang aku traktir..nanti aku minta di traktir sama yang empunya kantor deket cafe itu...biar aku gak capek-capek ngeluarin duit...hahaha..". Lita tertawa-tawa merasa lucu dengan lelucon recehannya saat mengatakan itu sambil melirik kekasih yang empunya kantor dan yang di lirik langsung melemparkan tatapan membunuh kepada Lita seperti mengeluarkan kilat-kilat api..merasa berhasil membelokkan calon korban. Sepertinya Ando jadi sasaran.


" Hahahaha..." Rufi tertawa-tawa


"Enak aja..kamu harus punya surat ijin dulu dari ibu negara....baru bisa dapet traktiraan". Sengit Lisha merasa lebih berhak atas Ando sambil tangan di dada.


" iyee iyee... siap ibu negara yang cantik manis seperti kueee... hahaha" Dengan sigap Lita tertawa sambil berdiri di hadapan Felisha memberi hormat seperti sedang menghormat bendera saat upacara.


"Enak aja seperti kue...kalau gitu jangan harap dapet acc dari gueehh.." Lisha tak terima di sebut cantik manis seperti kue jajanan pasar yang berwarna hijau yang tengahnya ada fla.


"hahahaha..." Rufi dan Lita kompak menertawakan sahabat mereka itu..


"Ceileeh...sekarang udah gak boleh macem-macem kita Ta sama kak Ando karena sepertinya dia udah dapat pengakuan tuh dari ibu negara hahahaha.." Rufi dan Lita sama-sama tertawa puas menggoda Felisha hari ini yang hanya bisa cemberut mendengar godaan dari dua sahabatnya itu.


Tidak bisa di pungkiri sekarang keadaan seperti berbalik. Entah kenapa Felisha tak bisa jika Ando mengabaikannya sehari saja. Perempuan itu akan cemberut sepanjang hari jika Ando hanya sibuk dengan pekerjaannya.


Sedangkan ke dua sahabatnya akan menggodanya sepanjang hari itu walau tak bisa di pungkiri di dalam hati mereka tersirat rasa syukur dan bahagia melihat Ando yang begitu baik dan sabar itu sudah tidak mendapat penolakan ataupun perlakuan yang kurang baik dari sahabat mereka.


Rufi dan Lita melihat begitu tulus dan sabarnya Ando menghadapi sikap Lisha yang sangat labil dan mampu bertahan di samping Lisha sampai sekarang. Tak ada bosannya mereka mengingatkan perempuan keras kepala itu untuk membuka hati untuk Ando dan menutup cerita tentang masalalunya bersama Mato. Sudah cukup mereka melihat bagaimana hancurnya sahabat mereka ketika itu. Sudah saatnya Lisha dan Ando bahagia tanpa di bayangi oleh masalalu mereka masing-masing.


...****************...


*Eiiittsss...belum tamat yaaa belluumm..hehe..


ikutin kisah Ando dan Felisha sampai akhir yaa..


abis ini siapin hati dan tenaga karenaaa...nanti aja deh ya...hihi

__ADS_1


jangan lupa like, komen dan vote nya mantemaan..terimakasiiihh ❤️❤️❤️*


__ADS_2