
Jam menunjukkan pukul 4.30 sore. Satu persatu orang-orang mulai meninggalkan kubikelnya untuk pulang ke rumah. Namun ada pula yang sengaja melewatkan jam pulang untuk menghindari kemacetan parah saat jam pulang kerja.
Begitu juga dengan Felisha dan Lita. Untuk menghindari terjebak macet mereka akhirnya menunda kepulangan toh Ando juga tidak bisa menjemputnya hari ini jadi mereka bisa bersantai dan memilih melanjutkan pekerjaan yang belum di selesaikan.
"Lisha...Lita..kalian belum pulang?" Tanya Ibu Rofiqoh yang keluar dan berdiri di depan pintu ruangannya memperhatikan ke dua perempuan itu yang masih berkutat dengan kertas-kertas di meja masing-masing.
Keduanya mendongak. "Belum bu...hehe". Jawab Lita dan Lisha hanya tersenyum.
" Ya udah..kalau gitu saya duluan ya". Pamit ibu Rofiqoh.
"Ya bu..hati-hati di jalan bu". Jawab Felisha dan Lita.
Sepeninggal atasan mereka itu, Lita mendekati kubikel Felisha menarik kursi mbak Reta yang bersebelahan dengan kubikel Lisha dan duduk di samping sahabatnya itu.
" Sha...Ibu Rofiqoh udah tua tapi masih cantik gitu ya, abis itu badannya juga masih bagus banget..suaminya pasti klepek-klepek tuh sama bu Rofiqoh. Nggak bisa berpaling kalau istri cantik kaya gitu mah". Cerocos Lita saat punggung sang bos sudah tak terlihat.
"Kalau aku jadi suaminya nih ya...beuh...gak akan aku lepasin tuh bu Rofiqoh.." Ucap Lita menggebu.
Felisha menoleh bergidik mendengar cerocos Lita. Menyipitkan matanya menyelidik. Menempelkan punggung tangannya di kening sahabatnya itu.
"Kamu sakit?" Tanya Lisha.
"Nggak..napa emang?" Dahi Lita berkerut, bingung dengan pertanyaan Felisha.
"Kamu masih normal kan? Masih suka sama laki-laki kan? Jangan bilang kalau kamu sekarang sukanya sama perempuan Ta.."
Seketika Lita menyadari kalau Lisha menganggapnya aneh karena ucapannya tadi.
"Heiiiii....negatif aja pikirannya...gueehh normal banget nget ngeeettt...maksud aku tuh aku aja sebagai perempuan udah kagum banget sama kecantikan ibu Rofiqoh apalagi yang laki. Suaminya beruntung banget dapetin Bu Rofiqoh. Maksud aku tuh gitu..." Lita mendelik kepada Lisha yang hanya tersenyum mengejek sambil manggut-manggut.
"Ku kira kamu mulai goyah karena di tinggal kak Bara".
" Isshh....hahaha enak aja". Lita mendorong bahu Lisha pelan dan kembali ke kubikelnya tanpa mengembalikan kursi mbak Reta yang di ambilnya tadi.
"Assalamu'alaikum..." Mas Yudi datang dan langsung duduk di samping Felisha.
"Wa'alaikumsalam. Loh Mas Yudi ternyata belum pulang?" Lisha terkejut dengan kedatangan Yudi yang ternyata belum pulang. Lita melongokan kepalanya.
"Ya ampun masu Yudi. Ku pikir siapa". Ucap Lita.
" Aku dari ruang pasien Ginjal dan Hipertensi ngambil data. Kalian kenapa belum pulang..tumben udah jam segini masih betah aja disini? " Mas Yudi
"Sengaja biar nggak kena macet di jalan". Jawab Lisha singkat sambil menutup komputernya.
" Udah jam 5 lewat, kita pulang yuk". Ajak Lisha kepada Lita dan mas Yudi.
Merogoh ponselnya mengecek pesan yang ia kirimkan kepada Ando sejak siang tadi yang masih saja centang abu tak kunjung berubah menjadi biru. Menarik nafas dan di hembuskannya pelan. "Kalau udah kerja pasti lupa sama yang lainnya". Gerutu Lisha dalam hati tak sampai keluar dari bibirnya.
Ddrrrtttt
Drrttttt
Ddrrttttt
Ponsel Felisha bergetar panjang tanpa nada tanda ada panggilan masuk. Merogoh ponselnya dalam saku seragam putih yang ia pakai hari ini. Melihat siapa yang menghubunginya. Mungkin Ando karena seharian tak pernah menghubunginya ataupun membalas pesannya. pikir Felisha.
Keningnya berkerut saat melihat kalau ternyata bukan nama Ando yang tertera di layar handphone melainkan nomor tak di kenal. Ragu-ragu Felisha menekan tombol hijau untuk menjawab panggilan itu.
" Halo...Assalamu'alaikum..." Suara bariton di seberang sana menyapanya lebih dulu.
"Wa'alaikumsalam...maaf ini dengan siapa?" Jawab Lisha dengan ramah.
"Ohya maaf Lisha kalau saya lancang meminta nomer handphone kamu tadi sama Mas Yudi. Saya dokter Yoga". Ucap Yoga tak enak hati.
Lisha langsung melirik mas yudi yang menatapnya dengan senyum tanpa dosa.
" Oh nggak papa dok. Apa ada yang bisa saya bantu dok?" Tanya Lisha berbicara dengan formal.
"Terimakasih. Apa saya mengganggu waktumu?" Tanya Yoga.
"Nggak kok dok. saya sedang siap-siap mau pulang ke rumah".
" Apa kita bisa bertemu? Ada yang ingin saya bicarakan denganmu kalau kamu tidak keberatan". Ucap Yoga langsung tanpa basa basi.
Kening Felisha berkerut dalam. "Ada apa dokter yoga ingin bertemu dengannya. Mungkinkah soal pasien? mana mungkin karena selama ia bekerja disana ia tak pernah mengambil data pasien Ginjal dan hipertensi jadi tak ada hubungan dengannya.
" Halo.." Kening Yoga berkerut dan melihat layar ponselnya karena tak mendengar jawaban dari Lisha.
"Eeh..iya boleh dok. Kapan dan dimana kita bisa ketemunya dok?" Ucap Lisha tersadar dari lamunannya.
__ADS_1
"Nanti malam saya jemput kita makan malam di luar. Boleh?" Tanya Yoga.
"Mmmm...boleh dok". Jawab Lisha.
Setelah panggilannya di tutup, Lita mendekat dan terlihat ingin menanyakan sesuatu namun Lisha segera meraih tasnya dan berjalan keluar sambil berkata. " Nanti aja tanyanya. Kita pulang sekarang aku jelasin di kos". Ucap Lisha singkat tak ingin sahabatnya itu banyak tanya.
Lisha, Lita dan mas Yudi kemudian meninggalkan ruangan itu bersama-sama menuju pulang.
Lita sudah memesan taksi online yang akan mengantarkan mereka ke kos an. Sedangkan mas Yudi menuju tempat memarkir motornya.
***
Setegah 6 sore, Ando akhirnya menghubungi Felisha.
"Halo sayang, Assalamu'alaikum..." Ucap Ando menyapa sang tunangan yang menyambutnya dengan wajah cemberut. Setelah tiba di rumah Ando memilih langsung membersihkan diri lebih dulu sebelum melakukan panggilan video dengan tunangannya itu agar terlihat lebih fresh.
"Wa'alaikumsalam... Kamu kemana aja seharian ini gak ada kabar sama sekali. Pesan aku juga kamu nggak peduliin". Omel Lisha.
Ando tak langsung menjawab. Ia tersenyum dan menatap wajah Felisha lama.
" Ishh..malah senyum-senyum gitu". Gerutunya melihat wajah Ando yang malah senyum-senyum menatapnya.
"Aku kangen kamu sayang, kamu gak kangen sama aku?"
"Kalau kangen kenapa gak ada kabar seharian?" Ucap Lisha jutek.
"Kemarin Aku kan udah bilang sayang, hari ini aku padat banget kerjaannya. Nggak ada kesempatan buat megang handphone". Jelas Ando dengan lembut. Sudah tahu kalau perempuan itu pasti akan protes jika seharian tak ada kabar darinya sekalipun ia sudah memberitahu alasan sebelumnya.
"Emang pas waktu shalat sama makan siang nggak ada kesempatan walau hanya sekedar balas chat gitu?"
"Sayang, waktu shalat dzuhur ya aku shalat, terus waktu makan siang itu aku pakai untuk makan sambil ngecek berkas yang akan di sidangkan selanjutnya. Jadi benar-benar gak ada kesempatan buat ngecek handphone".
"Ayo dong jangan cemberut gitu, masa suaminya capek seharian bekerja malah di sambut dengan muka cemberut, kasih senyum dulu dong biar capeknya hilang". Lanjutnya menyebut dirinya suami.
Hati Felisha berdesir mendengar Ando menyebut dirinya suami.
" Isshhh.." Lisha akhirnya tersenyum dengan malu-malu.
"Nah gitu dong sayang. Cantiknya berkali-kali lipat kalau senyum".
" Jangan Gombaalll..." Lisha mendelik membuat Ando tertawa.
"Tadi aja bilangnya suami, sekarang tunangan". Ucap Lisha pelan yang dipikirnya tak terdengar oleh orang lain.
" Hahaha...sengaja..biar istriku senyum". Ando tertawa mendengar gerutu Lisha. Lisha tersenyum lebar sambil menggeleng.
"Eh udah dulu kak, udah Adzan Maghrib tuh".
" Oke. Tapi abis maghrib an kita lanjut ya". Ucap Ando dengan wajah penuh harap. Lisha tersenyum mengangguk.
Setelah shalat Maghrib Ando benar-benar melanjutkan panggilan video yang terjeda oleh waktu Maghrib tadi.
Ando ingin menghabiskan waktu semalam ini dengan Felisha lewat panggilan video. Namun Felisha memberitahu nya kalau ia ada janji makan malam dengan teman kantor. Jadi Ando mengalah dan memberi izin.
***
Yoga melajukan mobilnya menuju ke alamat yang sudah di kirimkan Felisha melalui pesan singkat. Dalam perjalanannya ia mencoba merilekskan pikirannya dengan mendengarkan lagu agar tak terlalu gerogi saat bertemu Felisha.
Ini bukan kali pertama ia akan mendekati perempuan yang membuatnya jatuh cinta tetapi Yoga seperti baru pertama kali akan bertemu dengan gebetan, sama seperti dulu ketika ia hendak mendekati mendiang istrinya.
Maklum saja ia bukan pria yang gampang menyatakan cinta kepada wanita. Bisa di bilang Yoga adalah pria yang tidak gampang berinteraksi dengan wanita selain Ibu, mendiang istri dan pasien-pasiennya.
Yoga menghentikan mobilnya tepat di depan kos an Felisha. Ia segera mengirimkan pesan untuk memberi tahu Lisha kalau ia sudah menunggunya di depan kos.
Tak lama kemudian ia melihat Lisha berjalan ke arahnya yang sedang berdiri di samping mobil. Yoga terpaku melihat kecantikan wanita itu. Benar-benar cantik yang tak bosan di pandang.
"Kita bisa pergi sekarang?" Tanya Lisha saat berada dekat dengan sang dokter. Yoga tersadar dan langsung mengitari depan mobilnya membukakan pintu untuk Felisha.
"Silahkan.." Yoga mempersilahkan Felisha duduk.
"Huuuffttt...." Yoga membuang nafas pelan untuk mengurangi gerogi yang menyerangnya saat pintu mobil di tutup.
Mengitari mobilnya untuk duduk di samping Felisha. Mengemudikan kendaraannya pelan menuju restoran. Di dalam mobil, keduanya sama-sama terlihat canggung. Sama-sama bingung harus memulai percakapan.
"Ehem.." Yoga berdehem sebelum membuka suara.
"Kamu sukanya makan di restoran mana?" Tanya Yoga menoleh sejenak melihat perempuan cantik di sampingnya lalu kembali fokus ke depan melihat jalan.
"Saya terserah dokter aja, saya ngikut.." Jawab Lisha masih formal menggunakan saya.
__ADS_1
"Kamu suka makanan jepang?" Tanya Yoga yang menatap lurus ke depan.
"Suka tapi saya lebih suka makan di restoran yang menunya Indonesia banget. hehe.. ". Jawab Lisha jujur kalau lidahnya lebih menyukai makanan dalam negeri di bandingkan makanan luar negeri. Yoga mengangguk dan melaju menuju restoran yang biasa ia datangi bersama putrinya.
Kini mereka duduk berhadapan di meja yang di pilih Felisha. Setelah memesan makanan, keduanya kembali terdiam. Felisha mengedarkan pandangannya melihat sekitar. Matanya seketika menyipit saat melihat punggung laki-laki yang duduk dengan posisi membelakangi nya berada tak jauh dari tempatnya dan Yoga duduk saat ini. Ia sangat mengenali pemilik punggung itu.
"Mmm..dok aku ke belakang sebentar ya". Izin Felisha. Yoga mengangguk dan memilih mengutak atik handphone miliknya setelah kepergian Lisha.
Lisha berjalan mendekati meja dimana laki-laki itu duduk berhadapan dengan seorang wanita tak berhijab dan rambutnya terurai indah. Semakin dekat jantungnya semakin berdegup kencang. Ia menarik nafas dan membuangnya kasar berharap detakan jantungnya kembali normal.
Saat Lisha berdiri tak jauh dari tempat duduk laki-laki dan wanita cantik itu, ternyata ia tak salah orang. Ia melihat Ando yang sedang duduk makan sambil berbincang dengan seorang wanita. Ia melihat tatapan wanita di hadapan Ando itu tak seperti tatapan seorang teman. Ia melihat ada tatapan memuja di mata wanita itu.
Felisha menghampiri keduanya. Ando menoleh dan seketika wajahnya berubah saat melihat keberadaan Felisha disana.
" Sayang. Kamu disini juga?" Tanya Ando yang langsung berdiri dan hendak meraih tangan Lisha namun langsung di tepis.
"Sayang denger dulu.." Ucap Ando lagi namun Lisha langsung berbalik pergi meninggalkannya dan berjalan ke arah meja di mana dokter Yoga menunggunya.
Ando pamit kepada wanita yang bersamanya tadi, tanpa menunggu persetujuannya Ando langsung pergi mengikuti kemana langkah Felisha.
Yoga yang melihat Felisha berjalan ke arahnya pun terkejut melihat raut wajah perempuan itu yang tak baik-baik saja dan di susul oleh Ando di belakangnya. Keningnya berkerut dalam.
"Ada apa Lisha?" Tanyanya saat Lisha kembali duduk di hadapannya. Namun tak ada jawaban.
Ando berdiri tak jauh dari mereka. Yoga menoleh kepada Ando.
"Ando, kamu disini juga?" Tanya Yoga tersenyum melihat keberadaan Ando disana.
Felisha terkejut mendengar Yoga menyebut nama Ando seperti sudah saling mengenal. Ia menatap Yoga dan Ando bergantian seperti menunggu penjelasan.
Yoga berdiri mengacungkan tangannya untuk bersalaman, Ando mendekat dan saling bersalaman ala pria lalu berpelukan. Felisha semakin tak percaya dengan apa yang di lihatnya.
"Kalian saling kenal?" Tunjuk Lisha kepada dua lelaki di hadapannya itu bergantian.
"Yaa..Ando ini sepupu aku". Ucap Yoga tersenyum sambil menepuk pelan pundak Ando
Felisha lagi-lagi di buat ternganga tak percaya karena selama ini Ando tak pernah bercerita jika mempunyai saudara sepupu yang bernama Yoga. Sedangkan Ando hanya diam menatap Felisha dengan ekspresi yang sulit di artikan.
Perempuan itu menyadari kalau saat ini hati tunangannya itu sedang tak baik-baik saja. Ia tak berani menatapnya walau hanya sebentar.
"Kita makan bersama aja Do disini". Tawar Yoga.
"Terserah Lisha aja, kalau di ijinin aku bergabung ya aku akan disini bersama kalian". Ucap Ando datar tanpa melepas tatapannya kepada Lisha.
Sekarang keadaannya berbalik. Bukan Lisha lagi yang hatinya memanas tapi Ando karena melihat kalau Yoga menyukai tunangannya itu. Namun Ando memakluminya karena Yoga tak tahu jika Felisha adalah tunangannya karena selama Ando menjalin hubungan dengan perempuan itu sampai akhirnya bertunangan, Yoga sedang berada di luar negeri untuk menyelesaikan pendidikannya.
Belum lama ini Yoga kembali ke Indonesia dan bekerja di rumah sakit, Ando tak pernah tahu Yoga bekerja di rumah sakit mana dan Yoga hanya mengetahui bahwa Ando sudah bertunangan dan sebentar lagi akan melangsungkan pernikahan namun tak pernah tahu siapa wanita yang menjadi calon iparnya itu. Jadi Yoga benar-benar tak tahu siapa Lisha.
Yoga menoleh kepada Lisha untuk meminta persetujuannya.
" Saya mau pulang aja dok". Lisha berdiri dan hendak pergi.
"Loh..kenapa? Kamu nggak lapar? Kita kan belum makan apa-apa Sha". Ucap Yoga bingung.
"Saya udah nggak lapar dok. Saya permisi pulang". Lisha sedikit membungkukkan badannya lalu pergi meninggalkan ke dua laki-laki itu.
" Tunggu Lisha..aku antar pulang". Ucap Yoga yang hendak menyusul perempuan itu namun Ando menahannya.
"Yoga biarkan saja dia pulang sendiri. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu". Ucap Ando dingin.
Yoga kembali duduk di hadapan saudara sepupunya itu.
" Bagaimana mungkin aku biarin dia pulang sendiri Do, tadi dia datang kesini sama aku". Ucap Yoga merasa bersalah.
" Aku nggak bisa lama-lama jadi aku akan langsung memberitahu mu kalau Lisha adalah calon istriku, Lisha adalah tunangan ku". Ando tak menanggapi ucapan Yoga. Ia tak mau masalah ini berlarut-larut jadi ia ingin menyelesaikannya saat ini juga.
Yoga sangat terkejut mendengar pengakuan saudara sepupunya itu.
"Kamu jangan bercanda Do. Nggak lucu". Yoga terkekeh, menggeleng tak percaya.
" Terserah kamu mau percaya atau tidak. Tapi aku sudah mengatakan yang sebenarnya". Ucap Ando datar. Menyeruput minuman yang di pesan Felisha tadi hingga tersisa setengah. Tenggorokannya terasa sangat kering saat ini.
Yoga kembali terkekeh, benar-benar tak percaya dengan semuanya. Ia merasa dunia begitu sempit sampai-sampai dia menyukai wanita yang ternyata itu adalah tunangan sepupunya sendiri.
"Aku duluan Ga..." Ando berdiri dan beranjak meninggalkan Yoga yang terpaku dengan kenyataan. Menatap punggung Ando yang pelan-pelan menghilang dari pandangannya.
Inikah yang di namakan Kalah sebelum berperang? Jika di beri kesempatan bolehkah Yoga berjuang walau akhirnya kalah?
Yoga duduk termenung menatap makanan di hadapannya yang belum tersentuh sama sekali.
__ADS_1
...****************...