
Felisha POV,
Pagi ini aku terbangun dengan perasaan campur aduk. Ada bahagia, ada sedih juga ada rindu. Entah siapa yang ku rindu, air mata seperti selalu ingin meluncur dengan bebas dari kelopak mataku.
Bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi denganku. Kenapa aku jadi melankolis begini. Apakah karena aku sudah benar-benar melepaskan kak Mato dan mulai belajar menerima kak Ando dengan sepenuh hati? Ataukah masih ada rindu yang tersisa untuk kak Mato? Ah tidak tidak...kapan bahagia nya kalau aku seperti ini terus. Aku gak boleh seperti ini, ada banyak kebahagiaan yang kak Ando berikan selama ini.
Setelah shalat subuh, aku seperti merasa kurang nyaman dengan perutku. Gegas melepas mukena, melemparnya ke atas kasur dengan sembarang karena tiba-tiba mules, berlari ke dalam kamar mandi. Setelah menyelesaikan hajat, ternyata aku sedang datang bulan.
"huh pantasan mood ku jadi sensitif banget sejak semalam".
Keluar dari kamar mandi lalu memakai pembalut yang untungnya selalu ku sediakan di kamar ini. Tiba-tiba teringat mukenah yang kupakai tadi jangan-jangan darahnya tembus mengenai mukenah itu buru-buru memeriksanya dan syukurlah tidak ada darah yang kulihat disana.
"Sssshhhh...aduuuhhh perut ku sakit banget ya".
Aku meringis, duduk di kursi dan meraih ponsel yang ada di atas meja. Melihat jam yang di dalam ponsel sudah pukul 4.50 pagi. Ku cari nomor yang ku beri nama "My Angel" lalu menekan tombol hijau untuk memanggil, tak perlu menunggu lama panggilan terhubung.
"Assalamu'alaikum..." Terdengar suara ibu di seberang sana. Ku paksakan menjawab salam dari ibu, berusaha agar tidak terdengar sedang menangis.
"Wa'alaikumsalam ibu, ibu sama ayah sehat?". Masih berusaha agar terdengar baik-baik saja.
" Alhamdulillah sehat nak..kamu gimana disana, Sehat?" Tanya ibu.
Aku mengangguk seperti sedang berada di hadapan ibu.
"Ada apa? Kamu sehatkan sayang?" Mendengar pertanyaan ibu, aku tak tahan lagi untuk tidak terisak.
"Aa aku kangen i ibu sama ayah". Aku terisak sampai terbata-bata mengucapkannya.
Seketika ku ubah panggilan, dari panggilan suara menjadi panggilan video. Aku ingin melihat langsung orang yang telah membuatku ada di dunia ini.
" Kamu kenapa nangis hmm?" Suara lembut ibu langsung menyapa saat panggilan video terhubung.
"Aku kangen bu..." Masih terisak sampai merasakan sesak di dada.
"Istighfar sayang. Astagfirullahal'adzim...Astagfirullahal'adzim...Astagfirullahal'adzim..." Aku mengikuti arahan ibu menyuruhku ber istighfar.
"Udah ya..jangan nangis lagi nanti cantiknya ilang lho.." Ucap ibu sambil tersenyum menenangkan.
"Kalau kamu belum dapet kerjaan di sana terus kangen ibu sama ayah, pulang dulu kesini atuh". Lanjutnya.
Aku lagi-lagi hanya bisa mengangguk.
" Ayah mana bu?" Sedari tadi aku tak melihat keberadaan ayah disana. Mungkin pergi ke masjid untuk shalat subuh berjamaah.
"Ayah shalat subuh berjamaah di masjid. Bentar lagi pulang". Seperti dugaanku.
" Ando gimana kabarnya sayang?" Kebiasaan ibu kalau nelpon gak pernah luput dari pertanyaan ini.
"Baik. Alhamdulillah..." Aku tersenyum saat mengingat tadi malam kak Ando datang hanya untuk melihat ku sebentar lalu pulang. Kak Ando emang selalu punya cara buat bikin aku tersipu.
Ku usap perlahan air mata yang tadi menggenangi pipi ku.
"Kalian baik-baik aja kan? Gak sedang berantem kan nak?"
"Enggak kok bu..kita baik-baik aja gak ada masalah".
" Ya udah. ajak sekalian kesini kalau Ando punya waktu senggang".
__ADS_1
Aku mengangguk. "Iya bu nanti aku tanya kak Ando dulu kapan punya waktu senggang kita segera kesana ya bu".
" Assalamu'alaikum... " terdengar salam dari ayah. sepertinya ayah baru saja datang.
"Wa'alaikumsalam..." jawab mama dengan suara sedikit kencang. "Tuh ayah pulang, mau ngomong sama ayah?" ibu menatapku dengan sumringah yang ku jawab dengan anggukan. Terlihat kamera bergoyang-goyang karena ibu sedang berjalan ke arah ayah.
"Ica Yah..nelpon nangis-nangis katanya kangen.." Ucap ibu yang langsung di sambut tawa dari ayah dan sontak saja membuatku cemberut.
"Hahaha...Bayi tua ayah sama ibu kaya anak kecil aja nangis-nangis gitu. Kalau kangen ya sini pulang". Ayah mengarahkan kamera di wajahnya dan wajah ibu membuatku langsung terisak kembali.
" Huuaahuaahuaaa...ayah jangan panggil aku bayi lagi. Ica udah gede sekarang. Udah wisuda lho". Aku semakin terisak mendengar sebutan bayi tua dari ayah.
"Awas aja kalau sampai kak Ando tau". Ancamku.
Ayah semakin tertawa mendengar ancamanku.
" Hahaha...emang ayah takut sama bayi?"
"Ayaahh..." teriakku.
Ayah tertawa-tawa, senang sekali menggodaku. Ibu hanya geleng-geleng kepala melihat ayah yang begitu senang menggodaku dengan sebutan bayi. Seperti itulah ayah memperlakukan ku, kata ayah dan ibu aku akan tetap menjadi bayi selamanya bagi mereka kedua orang tua ku. Tak peduli walau nanti aku sudah memiliki anak sekalipun. Mengingat itu, aku kembali ingin meneteskan air mata.
***
Tak terasa sudah 1 jam lamanya kami ngobrol, membahas segala macam topik. Setelah cukup lama berbincang-bincang dengan ayah dan ibu, kami pun mengakhiri panggilan video kali ini dengan perasaan plong. Betapa lega dan bahagia nya hati ini melihat mereka dalam keadaan sehat dan bahagia walau mereka hanya tinggal berdua tanpa aku disana.
Tiba-tiba terpikir ingin mendengar suara kak Ando saat bangun tidur. Aku melihat jam sudah menunjukkan pukul 5.50 pagi.
"Dia pasti udah bangun dari tadi". Pikirku sambil menekan tombol hijau untuk melakukan panggilan suara ke nomor yang kuberi nama "Kado" singkatan dari "Kak Ando". hihihi
" Seksi sekali..." ada apa dengan otak ku ini. Ternyata dia baru bangun, tidak shalat subuh kah?
"Halo..Assalamu'alaikum". Kak Ando mengulangi salamnya yang belum ku jawab sedari tadi.
" Eeh wa'alaikumsalam..." jawab ku terkejut saat suara bariton nan serak khas bangun tidur itu sedikit lebih keras dari sebelumnya menurut ku.
"Jam berapa ini?" Ucapnya lagi.
"Bangun kak ini udah mau jam 6..kamu gak shalat subuh ya?" Tanyaku menyelidik.
"Shalat subuh dong sayang, tapi tidur lagi setelahnya".
" Oooohh kirain gak shalat subuh tidurnya ampe jam segini".
"Mana mungkin sayang mamah gak mungkin biarin aku tetep tidur, pasti udah sibuk gedor-gedor pintu kalau aku gak bangun shalat subuh. hehe.."
"Hehehe..iya ya".
" Tumben pagi begini nelpon sayang..kangen ya?"
"Idiihh narsis banget jadi orang". Kali ini aku lengah sampe lupa siapin alasan buat pertanyaan yang mungkin saja keluar dari bibir kak Ando. Hufftt
" Hahaha...ya kalau gak kangen, terus apa sayang?"
"Emang gak boleh?" Akhirnya ku jawab saja seperti itu. Tapi tak ada jawaban hanya terdengar air mengalir. Sepertinya dia sedang di kamar mandi. Entah apa yang di lakukannya sekarang.
"Boleh banget sayang, boleh kangennya tapi jangan sampe nangis-nangis lagi ya..." Jawab kak Ando akhirnya setelah beberapa saat. Ku dengar tawa kak Ando yang sedikit agak jauh, sepertinya dia menyimpan ponselnya jauh dari telinga.
__ADS_1
"Iiiisshhh apaan sih".
" Hahaha...Aku VC boleh ya?"
"Enggak boleh..aku gak mau VC aku belum mandi. hehe.."
"Nggak papa, seminggu gak mandi juga kamu tetep cantik dan wangi bagi aku.."
"GOMBAAALLLL..."
"Siapa yang gombal sayang, aku serius".
" Aku matiin nih handphone nya kalau aku di gombalin terus". Aiihhh pipiku terasa panas sekarang, untung saja bukan VC. Kalau gak pasti aku semakin malu di buatnya.
"Hahaha...Jutek amat. Kenapa belum mandi sayang.. hmm?"
"Lagi mager aja".
" Sana mandi dulu biar seger. Aku siap-siap dulu mau ke kantor".
"Mmm..baiklah..Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikumsalam...Kiss pagi dulu dong biar aku semangat kerjanya hari ini".
" Mmuacchh..." Ku cium layar handphone ku dengan sedikit bunyi *******. Aahhh malu sih tapi ya sudahlah..toh dia gak ngerasain langsung kan ******* guwehh..haha..
"Makasih sayang..muachh". eh kak Ando balik kirim *******..gimana dong...huhu
Buru-buru ku tutup telponnya karena bingung mau jawab apa dan ini kenapa jantungku berdebar gak karuan. Aduh bisa bahaya ini. Ku tatap layar handphone yang hitam, menarik nafas lalu ku hembuskan pelan dari mulut. Ku tangkup wajahku yang terasa hangat dengan ke dua tangan. Pagi-pagi udah di buat berdebar-debar sama kak Ando.
" Kok aku se berdebar ini ya hanya karena gombalan kak Ando pagi ini. Padahal udah bertahun-tahun bersamanya tapi baru kali ini aku merasakan hal seperti ini. Mungkinkah aku sudah jatuh cinta padanya?"
Tok tok tok
"Shaaa...buka pintunya". Ketukan pintu yang diikuti teriakan Lita membuatku terkejut dan seketika menjawab panggilan Lita dengan teriakan pula.
" Iyaaaa bentaarrr..."
"Lagi ngapain si dari tadi di panggil-panggil juga gak nyahut". Omel Lita saat pintu terbuka.
" Sory..aku gak denger. Ada apa?"
"Aku mau ke depan buat beli sarapan, mau titip gak?"
"Oh..iya iya.. Aku mau bubur ayam bude Imah satu". Ucapku yang langsung ku ambilkan uang hijau selembar dan di berikan kepada Lita sambil tersenyum simpul. Ku lihat Lita bergidik melihat tingkah ku kali ini.
" Napa lu senyam-senyum gitu".
Aku menggeleng kuat. "Nggak papa. Senyum itu ibadah Taa..pagi-pagi cari pahala". Ucapku sembari mendorong pelan Lita keluar.
" Tumben..." Dahinya berkerut mendengar ocehanku sembari berjalan menuju kamar Rufi.
"Fiiii..Rufiii.." Giliran pintu Rufi yang di gedor Lita.
Litaaa Lita...mau beli sarapan aja kayak bangunin orang se RT.
...****************...
__ADS_1