
Kak Ando terlihat berdiri dan berpindah duduk di samping ku. Meraih tangan ku dan berkata. "Sekarang Sha, apa kamu mau menjalani hubungan yang serius dengan ku?"
Aku termangu mengedipkan mata pelan berkali-kali meresapi apa yang di katakan kak Ando kali ini.
Diam tak bersuara namun otak ku bekerja keras untuk mencerna kata-kata yang barusan ku dengar.
"Sha, Felisha.." Kak Ando menepuk punggung tangan ku lembut dan memanggil ku berkali-kali sampai aku tersadar dari keterkejutan ku.
"Iya kak. Ada apa?" Jawabku setelah merasakan tepukan lembut di tanganku.
Kak Ando terdiam menatap ku dan tersenyum lembut.
"Apa kamu mau kalau mulai sekarang kita menjalani hubungan yang serius?"
"Apa?" Tanya ku masih belum percaya dengan kak Ando yang begitu cepat mengambil keputusan untuk hubungan kami. Sementara kami baru saja bertemu untuk pertama kalinya.
"Sha, aku udah mengulangi pertanyaanku sebanyak dua kali lho." Kata kak Ando lemas namun tak juga melepaskan genggamannya.
"Apa ini gak terlalu cepat buat kita yang baru pertama kali bertemu kak?"
"Sha, kita udah tujuh bulan lebih saling telponan, saling mengenal satu sama lain walaupun itu hanya lewat telepon tapi itu cukup bagiku untuk mengenalmu. Aku udah gak pengen main-main lagi. Dari awal Iman ngenalin kamu ke aku, aku udah niat gak akan lepasin kamu."
"Kenapa kakak seyakin itu sama aku, padahal kakak belum pernah melihat ku secara langsung. Bagaimana kalau aku tak sesuai dengan yang kakak harapkan?"
"Aku percaya dengan apa yang di katakan Iman padaku. Terbukti sekarang apa yang di katakan Iman semuanya benar adanya."
"Emang kak Iman bilang apa sama kak Ando?" Aku mengerutkan dahi.
"Banyak." Ucapnya tersenyum jahil.
"Apa aja?"
"Biar aku aja yang tau. Kamu cukup jawab aja pertanyaan aku yang tadi?" Ucapnya sangat lembut sambil memandangi tangan besarnya yang menggenggam tangan mungil ku.
"Emang kakak tanya soal apa tadi?" Sengaja aku menggoda nya.
"Kamu mempermainkan ku Felisha?" Kak Ando mendongak dengan tatapan tajamnya.
"Siapa yang mempermainkan kak Ando." Jawab ku acuh. Aku masih saja ingin melihat reaksi nya seperti apa jika aku menggoda nya. Selama ini aku hanya bisa menggoda nya lewat telepon saja tanpa melihat ekspresi wajah nya.
"FELISHA PUTRI." Panggilan khas jika aku terus menggoda dan menjahilinya.
"Iya." Jawabku santai
"Kamu tinggal jawab aja Ya atau Tidak. Tapi aku gak mau kamu jawab Tidak."
"Lho kenapa? Sama aja dong gak usah di jawab sekalian kalau gitu."
__ADS_1
Seketika tawa renyah kak Ando terdengar tanpa sadar aku pun ikut tertawa.
"Aku serius Sha. Walaupun kamu bilang Tidak tetep aku gak akan lepasin kamu."
Ucap kak Ando setelah menghentikan tawanya dan kali ini ia tersenyum lebar lagi-lagi menampilkan giginya yang rapih. Manis sekali.
"Ya udah." Jawabku. Aku sengaja tak melanjutkan, lagi-lagi ingin melihat reaksi kak Ando. Dan benar saja. Kak Ando bertanya dengan tidak sabar.
"Ya udah apa?"
"Mmmm..apa ya?" Aku menopang dagu di atas meja dengan tanganku yang bebas dari genggaman tangan kak Ando dan terlihat seolah-olah sedang memikirkan sesuatu.
"Hei..Jangan mulai." Kak Ando mengeratkan genggaman tangannya sampai aku mengaduh kesakitan yang ku buat-buat.
"Aww..sakit tau." Ku tarik tanganku cepat tapi kak Ando tak mau lepaskan, hanya mengendurkan genggaman nya.
"Jawab dulu yang bener."
Ku tarik nafas dalam-dalam sambil memejamkan mata lalu ku hembuskan pelan dengan mata terbuka. Menetralisir rasa gugup yang tiba-tiba muncul lagi setelah tadi berhasil ku hempaskan.
"Ya udah. Aku akan mencoba seperti yang kakak mau. Kita akan menjalani hubungan yang serius. Semoga kakak gak akan tiba-tiba ngilang tanpa kabar. Meninggalkan ku tanpa alasan." Kataku panjang lebar dengan sendu karena teringat masa lalu.
"Inshaa Allah aku gak akan ninggalin kamu. Mungkin saja kamu yang akan ninggalin aku nanti." Katanya sendu.
"Kalau kita berjodoh ya gak akan aku tinggalin kan. Kan udah jodoh." Kataku mencoba mengajaknya bercanda namun benar adanya.
Kami sama-sama terdiam dengan senyum tak pernah lepas dari bibir kak Ando. Tak bosan-bosannya ia menatapku yang mana itu membuat ku jadi salah tingkah.
"Jangan di liatin terus kayak gitu dong kak. Risih tau." Ucapku malu-malu.
"Aku kok rasanya gak pengen kamu pulang ya." Jawabnya pelan sambil terkekeh.
"Enak aja. kakak mau aku tinggal disini sampai kapan coba?"
"Kak, aku mau pulang. Ini udah sore banget, bentar lagi Maghrib."
"Ayo. aku antar pulang."
Kak Ando segera membayar semua pesanan kami tadi dan mengajakku pulang.
Kami berjalan menuju parkiran dengan tangan bertautan. Kak Ando tak pernah mau melepas genggaman nya sedari tadi. Kak Ando menarik ku menuju motor sport yang terparkir tak jauh dari pintu masuk.
Memakaikan helm wanita ke kepala ku yang sepertinya sengaja ia siapkan untuk ku, kemudian memasang helm sport nya sendiri.
Melajukan motornya pelan memecah jalanan kota yang padat karena hari sudah sore menjelang magrib.
Tak sampai lima belas menit kami sudah berada di depan gerbang kosan. Aku menyuruh kak Ando memasukkan motornya ke tempat parkiran.
__ADS_1
Kami berjalan menuju kamar kos milikku dengan kak Ando yang kembali menggenggam tanganku. Aku menoleh ke samping, mendongak menatap wajah kak Ando yang dimana tinggi badan ku hanya mencapai bahunya saja, aku menggeleng pelan.
"Kenapa?" Tanya kak Ando
"Enggak enak di liat orang." Kataku berbisik
"Jadi kalau gak di liat orang boleh dong?" Kak Ando ikut berbisik menggoda ku.
Ku pukul pelan lengannya yang terbalut dengan jaket kulit berwarna hitam pekat itu. Kak Ando terkekeh. Ku rasakan wajahku menghangat, segera ku tangkup wajahku dengan kedua tangan sambil berjalan menunduk, malu terlihat oleh kak Ando karena pasti sekarang wajahku merah.
Dari jauh ku lihat dua sahabat ku sedang duduk mengobrol di depan kamar Rufi, seketika menoleh saat mendengar langkah ku dan kak Ando yang berjalan ke arah mereka. Aku di sambut dengan senyuman menggoda dari mereka. Ku berikan mereka pelototan dan itu malah membuat mereka terbahak-bahak.
Ku lirik kak Ando yang menatapku heran dengan tingkah ke dua sahabatku. Ia tak tahu saja kalau aku sedang melototi mereka yang tersenyum menggoda. Memberikan kode agar tak macam-macam.
Kak Ando sudah mengenal dua sahabat ku itu namun kali ini adalah pertemuan pertama mereka secara langsung sama sepertiku. Maklum saja karena kak Ando juga baru sebulan lebih berada di kota ini.
Rufi dan Lita segera berdiri dan berjalan ke arah kami. Kak Ando menyalami mereka bergantian dengan menyebutkan nama masing-masing.
Aku segera mempersilahkan kak Ando duduk di kursi teras yang ada di depan kamar sembari mengobrol bersama Rufi dan Lita.
"Kak, kalau mau shalat Maghrib ke masjid aja. Gak jauh kok dari sini." Kataku mengingatkan kak Ando jika hendak melaksanakan shalat Maghrib.
Kak Ando mengangguk dan bertanya arah jalan ke masjid itu.
"Tunggu bentar." Ucapku kepada kak Ando dan menoleh ke arah Lita. "Ta, Adi ada gak tuh di kamarnya?"
"Ada kayaknya Sha. Coba samperin ke kamarnya."
Aku gegas ke kamar Adi yang berada di sebelah kamar Lita.
"Assalamualaikum..." Aku mengetuk pintu kamar Adi sambil mengucapkan salam.
"Wa'alaikumsalam..." Jawab Adi membuka pintu.
"Di. Kamu gak shalat Maghrib ke masjid?"
"Ini lagi siap-siap. Ada apa Sha?"
"Temen aku mau ikut shalat ke masjid tapi gak tau arah jalannya. Makanya aku nanya kamu dulu biar perginya di temenin kamu."
"Ooh..temen kamu yang mana Sha? Emang cowok?" Tanya Adi heran
"Iya. Temen kak Iman juga tuh."
Adi manggut-manggut setelah itu pamit untuk bersiap ke masjid.
"Ayo." Ajak Adi yang di angguki oleh kak Ando.
__ADS_1
...****************...