
Setelah mendengar pendapat masing-masing dari ke dua sahabatku, aku merenungkan apa yang di katakan oleh Rufi dan Lita.
Kini Rufi dan Lita sudah berada di kamar mereka masing-masing.
Aku sedang merebahkan tubuh ku di atas kasur. Setelah membersihkan diri kini aku berbaring terlentang menatap langit-langit kamar sambil memikirkan apakah aku harus melanjutkan hubungan ku dengan kak Ando atau pelan-pelan menarik diri darinya. Aku masih sedikit merasa terganggu dengan kondisi yang dimana menurut ku kak Ando terlalu dewasa untuk ku.
Aku berbalik menghadap tembok sambil memeluk guling kesayangan ku. Masih dengan pikiran yang sama.
Tiba-tiba suara dering ponsel ku membuyarkan lamunanku.
Aku beranjak meraih ponsel yang berada di atas meja. Ku lihat nama kak Ando terpampang di layar handphone. Aku tak segera menekan tombol hijau untuk menjawab. Aku masih dengan pikiran ku tentang hubungan kami.
Panggilan berakhir begitu saja. Aku menatap layar handphone yang hitam tanda panggilan berakhir. Tapi tak lama kemudian kembali berdering. Lagi-lagi aku hanya menatap nama si penelpon tak ada niat untuk menjawab panggilannya.
Sampai panggilan ke lima aku baru menekan tombol hijau untuk menjawab.
"Halo. Assalamualaikum..." Ucapku serak di buat-buat, seolah-olah aku baru saja terbangun dari tidurku.
"Udah tidur?" Tanya kak Ando dengan nada heran. Pasalnya jam baru saja menunjukkan pukul 9.10 malam. Ini bukan jam tidurku, kak Ando sudah hafal dengan kebiasaan jam tidurku selama ini.
"Baru aja tertidur tapi denger ada bunyi panggilan masuk jadi ke bangun lagi." Ucapku lemah.
"Ya udah tidur lagi aja. Maaf udah gangguin tidur kamu." Ucap kak Ando.
"Mmm.." Aku menjawab malas.
"Assalamu'alaikum..." Ucap kak Ando.
"Wa'alaikumsalam.." Jawabku.
Aku segera memutuskan panggilan dari kak Ando lalu duduk termenung.
__ADS_1
Seketika aku di gerogoti rasa bersalah kepada kak Ando.
Aku mencoba meraba perasaan yang tengah ku rasakan. Sepertinya yang aku rasakan saat ini bukan cinta. Aku hanya kagum saja kepada sosok kak Ando.
Ya, aku hanya mengaguminya karena kedewasaan yang di milikinya. Dia terlihat sangat berwibawa. Aku seperti memiliki saudara laki-laki yang mengayomi dan peduli padaku. Aku yakin ini bukan cinta. Aku hanya kagum.
Tapi bukankah kamu emang suka dengan laki-laki yang dewasa Felisha? Aku membatin melawan pikiran yang mengganggu.
Di satu sisi aku merasa bangga dan senang karena mengenal kak Ando yang dewasa, berwibawa dan karismatik. Di sisi lain aku merasa kurang cocok bersanding dengannya karena perbedaan karakter yang sangat mencolok.
Kak Ando yang terlihat sangat dewasa dan karismatik, sedangkan aku terlihat sangat kekanakan dan labil. Bagaimana mungkin kami bisa bersama.
Selama tujuh bulan lebih mengenalnya, ia memang selalu berusaha mengimbangi ku, selalu sabar menghadapi ku yang terkadang masih belum bisa mengontrol emosi jika sedang banyak pikiran. Sedangkan aku, hingga saat ini aku belum bisa mengimbanginya. Belum bisa mengerti seperti apa sebenarnya dia. Seperti apa keinginannya.
Aku benar-benar bingung dengan perasaan ku.
"Have nice dream"
Lagi-lagi rasa bersalah hinggap di hati.
***
Sudah empat bulan sejak kami memulai hubungan yang serius. Aku dan kak Ando masih menjalani hubungan, aku belum ada keberanian untuk mengambil keputusan tentang apa yang ku pikirkan.
Walau sikapku terhadapnya labil, terkadang mau menerima panggilan telepon darinya tapi terkadang juga aku tak mau menerimanya dalam sehari, kak Ando tetap sabar. Ia tak akan protes jika aku sedang tidak ingin bicara padanya.
Setiap kali ia ada waktu senggang, kak Ando akan datang menemui ku walau aku sedang tak mau di temui. Tapi setelah kak Ando pulang, aku sangat merasa bersalah padanya, betapa jahatnya aku dengan sikap kak Ando yang masih saja sama dengan sebelum kami bertemu bertatap muka langsung.
Sikap kak Ando masih sama seperti ketika aku dan dia hanya saling mengenal Lewat telepon. Tak ada yang berubah. Perhatiannya selama ini kepadaku tak pernah luntur.
Akan ada saja perhatian kecil yang diberikan. Dan semua itu menjadikan beban bagiku.
__ADS_1
Selama empat bulan ini aku berperang batin, hati kecilku tak ingin kehilangan semua perhatiannya namun pikiran selalu saja menggoda ku agar mengakhiri saja semuanya karena kami tak cocok. Selalu berpikir bahwa aku dan kak Ando begitu jauh berbeda. Secara fisik maupun yang lainnya.
Selalu saja menginginkan yang sesuai dengan kriteria ku. Padahal selama ini aku selalu mengagumi sosok laki-laki dewasa yang terpaut 5 tahun ke atas dari usiaku.
Sejak menginjak SMP (Sekolah Menengah Pertama) aku berkeinginan untuk mencari jodoh yang dewasa, yang usianya terpaut agak jauh dari usia ku. Aku tak suka brondong, aku tak suka jika pasangan usia laki-laki lebih muda dari wanitanya, Entah kenapa aku bisa berpikir seperti itu.
Tak menyangka ternyata hingga saat ini aku masih saja penganut aliran itu, tak suka jika laki-laki lebih muda usianya dari ku. Tak pernah berpikir akan menyukai berondong. Jangankan menyukai laki-laki yang usianya di bawahku, yang seumur saja aku tak tertarik.
Itulah yang membuat hubungan ku dengan kak Ando masih bertahan hingga saat ini. Hati kecilku tak ingin kehilangan kak Ando, namun pikiran terkadang masih labil.
Lita dan Rufi pun terkadang merasa kesal dengan sikap ku terhadap kak Ando.
Lita berkata "Kalau kamu gak ada rasa dengan kak Ando mending putusin aja Sha, gak usah di gituin kak Ando, kasian tau. Udah baik banget, sabar pula ngadapin kamu." omel Lita.
"Kamu gak akan pernah nemuin lagi laki-laki yang sebaik kak Ando Sha, yakin aku. Kamu bakal nangis kejer kalau kak Ando bener-bener ninggalin kamu." Ujar Rufi.
Aku hanya bisa diam, mendengar ocehan ke dua sahabatku itu yang kesal dengan sikap ku terhadap kak Ando yang selalu saja ingin menghindar dan acuh tak acuh jika kak Ando datang untuk menemui ku.
Suatu ketika kak Ando bertanya pada ku.
"Kamu kenapa Sha? Gak nyaman ya kalau aku datang malam ini? Kalau gak nyaman bilang aja gak papa aku bisa pulang dulu kalau kamunya gak mau di temuin."
Aku tak menjawab, hanya diam sedikit cemberut, membuat kak Ando tersenyum lalu beranjak pergi.
Setelah kepergian kak Ando, aku memandangi punggungnya yang berjalan meninggalkan ku sampai menghilang dari pandangan.
Beralih menatap kotak makanan yang teronggok di atas meja teras. Hatiku seperti di remas saat itu melihat sikap kak Ando, rasa bersalah atas sikapku terhadapnya semakin menjadi. Menarik nafas, mendongak menatap langit-langit menahan agar air mata tak jatuh namun tetap saja turun tanpa bisa ku cegah. Buru-buru ku hapus takut Rufi dan Lita melihatku. Sungguh aku merasa bersalah.
Ku raih kotak makanan itu lalu membukanya, melihat apa yang sudah di bawakan oleh kak Ando. Mataku berbinar ketika melihat isinya adalah makanan favorit ku. Lagi-lagi bulir air mataku turun.
Sungguh kak Ando menambah beban di hatiku saat itu.
__ADS_1
...****************...