
Author POV,
Tidak terasa acara pernikahan Ando dan Felisha tinggal dua minggu lagi. Berbagai persiapan pernikahan sudah 99 persen, tinggal beberapa printilan saja yang belum selesai.
Mamah, kak Femy dan Kak Suci begitu bersemangat dalam mempersiapkan berbagai macam seserahan yang akan di berikan kepada Felisha. Terlebih Mamah karena hari yang di tunggu-tunggu akhirnya akan segera terlaksana sesuai keinginannya.
Tak henti-henti nya Mamah memuji Felisha di depan ke dua anak perempuannya itu. Femy dan Suci juga ikut bahagia karena keduanya tak akan terlalu khawatir lagi jika meninggalkan ke dua orang tua mereka di rumah karena harus kembali ke kota tempat masing-masing tinggal saat ini mengikuti suami mereka.
Bukan hanya itu, ke duanya lebih bahagia lagi karena melihat adik bungsu mereka yang akhirnya menemukan wanita yang mau menerima Ando apa adanya. Keduanya begitu terharu ketika mengetahui kalau adik bungsu mereka akan meminang wanita pujaannya. Melihat adik mereka yang kembali bersemangat dalam menjalani hari-harinya itu adalah suatu anugrah bagi keluarga Ando setelah melihat keterpurukan yang di alaminya dulu ketika Ando di tinggal nikah oleh Kalista.
Tak di pungkiri, di tinggal nikah oleh sang kekasih itu sangat menyakitkan terlebih jika kita tak merasa ada yang salah dengan hubungan yang kita jalani selama ini. Namun tiba-tiba saja kita di tinggalkan oleh orang yang kita cintai. Menyakitkan.
Ketika mendengar kabar jika Kalista memilih menikah dengan pria lain, Femy dan Suci tak henti-henti nya memberikan support terhadap adik mereka. Atau bahkan sekedar menghiburnya. Tanpa terkecuali kakak laki-laki Ando yang bernama Regan. Regan sedikit pendiam daripada Ando.
Ando selalu mengingat nasehat kakak laki-laki nya itu yang selalu terlihat lebih tenang.
"Yang baik akan bertemu dengan yang baik dan jodoh tak akan pernah tertukar, sekalipun kita berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankannya. Bukan berarti kita tidak boleh memperjuangkan tapi lebih memilih untuk kembali berserah diri kepada sang penentu hidup. Ingat setiap kejadian di muka bumi ini semua sudah di tentukan oleh Allah SWT. Jangan Lupakan itu."
"Bukankah seharusnya kamu banyak bersyukur, dengan kejadian ini secara tidak langsung Allah sudah menunjukkan kalau perempuan itu bukan yang terbaik untuk kamu. Dengan kejadian ini kamu bisa melihat bagaimana dia yang sebenarnya yang mungkin selama ini tidak kamu ketahui."
Nasehat itulah yang selalu di ingatnya sampai saat ini. Oleh karenanya ketika Ando pertama kali bertemu dengan Felisha, ia sudah bertekad akan mempertahankan perempuan itu bagaimana pun sulitnya. Perempuan yang begitu polos dengan berbagai kebaikan yang ada dalam dirinya. Ando yakin Felisha adalah wanita yang baik.
"Ando kakak kamu Regan, kapan dia akan pulang? ini tinggal kurang dari dua minggu lagi acara pernikahan kamu akan di laksanakan." Ucap Papah ketika mereka sedang makan malam bersama di meja makan.
Disana sudah ada Mamah, Papah, Kak Femy, Kak Suci dan Ando. Tanpa terkecuali bocah-bocah yang selalu membuat keramaian di meja makan dan dimana saja mereka berada. Mereka adalah anak-anak dari kak Femy dan kak Suci. Sedangkan suami masing-masing masih belum datang karena masih bertugas, nanti akan menyusul setelah mengambil cuti masing-masing.
"Katanya tiga hari sebelum hari H baru bisa kesini Pah.." Jawab Ando. Papah mengangguk mengerti.
"Kakak kamu itu terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Untung aja kakak ipar kamu sabar banget hadapin dia." Omel Mamah.
__ADS_1
"Kamu kalau udah nikah kurangin kesibukkan kamu di kantor. Ingat kalau di rumah ada istri kamu yang nungguin kepulangan mu. Usahain waktu luang ama keluarga." Lanjut Mamah.
"Iya Mah". Hanya itu yang keluar dari bibir Ando.
****
Acara pesta pernikahan akan di laksanakan dua kali, Akad sekaligus resepsi akan di laksanakan di Bandung kampung halaman Felisha. Namun karena Ayah berasal dari Sulawesi dan Ibu berasal dari Bandung namun bukan asli Sunda, campuran Padang dan Sunda, jadi pernikahan itu akan menggunakan adat Sulawesi. Sedangkan pihak keluarga Ando juga akan menggelar resepsi di Jakarta setelah rangkaian acara di bandung selesai.
Hari ini Ando dan Felisha berencana pergi ke toko perhiasan langganan Mamah untuk mengambil cincin pernikahan yang sudah di pesan.
" Assalamu'alaikum... " Ando mengetuk pintu kamar Felisha sambil mengucapkan salam.
"Wa'alaikumsalam..." Terdengar jawaban dari dalam kamar dan tak lama pintu kamar pun di buka.
"Udah siap sayang? Yuk." Ajak Ando.
"Lita mana Fii?" Tanya Lisha kepada Rufi sambil menyerahkan kunci kamar miliknya.
"Ada di kamarnya". Jawab Rufi sembari menerima kunci itu.
" Ya udah aku jalan dulu". Pamit Lisha yang di jawab Rufi dengan anggukan dan senyum bahagia melihat sahabatnya itu akhirnya akan hidup bahagia bersama orang yang tepat.
"Taa..aku jalan dulu ya.." Teriak Lisha di depan pintu kamar Lita.
"Iyaa..hati-hati di jalan..jangan sampe ke sandung batu..nikahan lu gak lama lagi..hahaha". Jawab Lita yang hanya melongokan kepalanya di pintu.
" Apaan sih gak nyambung banget.." Lisha memutar bola matanya jengah dengan candaan garing dari sahabatnya itu.
Ando menahan senyum melihat interaksi kedua perempuan itu. Lita berbeda dengan Rufi yang kalem.
__ADS_1
Ando fokus mengemudikan mobilnya sambil meraih tangan perempuan yang duduk di sampingnya itu, Lisha menoleh menatap wajah laki-laki yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.
Hatinya tiba-tiba saja melow mengingat sebentar lagi dia akan benar-benar menjadi seorang istri, yang tentu saja akan mengikuti kemana pun suaminya pergi, meninggalkan ke dua orang tuanya yang hanya tinggal berdua tanpa dirinya.
Matanya berkaca-kaca menatap wajah laki-laki tersabar yang pernah ia temui setelah ayahnya. Jika mengingat Ayah, Felisha selalu ingin meneteskan air mata teringat kesabarannya yang menafkahi ibu dan dirinya dari gaji PNS yang masih pas-pasan karena saat itu ayah belum menyelesaikan kuliahnya tapi ia sudah lulus saat ada pendaftaran PNS. Sampai akhirnya ayah berhasil menyelesaikan sarjana nya di salah satu perguruan tinggi yang ada di Bandung.
"Kenapa sayang? Kamu kenapa menangis hmm??"
Ando segera menepikan mobilnya terkejut melihat perempuan itu meneteskan air matanya.
Meraih tubuh mungil itu, memeluk dan menenangkan perempuan itu di pelukannya. Berharap Lisha segera kembali tenang dan mau bicara padanya.
Setelah merasa kini Felisha sudah mulai tenang, Ando bertanya tanpa melepas pelukannya.
"Kalau ada yang mengganjal di hati kamu, keluarin aja sayang. Aku akan dengarkan". Ucap Ando mengelus punggung perempuan itu.
" Aku hanya kepikiran Ayah dan Ibu. Aku sedih nanti kalau kita udah nikah aku bakalan ninggalin Ayah dan ibu sendirian..hiks..Kita bakal jarang pulang ke Bandung..hiks...hiks.." Lisha kembali sesegukan saat berbicara.
"Ssstttt...kamu jangan khawatir nanti kita bakal sering-sering nengokin mereka. Kalau aku ada waktu luang, kita pulang ke Bandung". Ando mencoba menenangkan perempuan yang ada di pelukannya itu. Felisha hanya mampu mengangguk.
Mengecup lama puncak kepala Felisha yang tertutup hijab sambil mengusap-usap punggung perempuan itu. Ia sangat mengerti ke khawatiran calon istrinya itu yang akan memiliki waktu terbatas untuk mengunjungi ke dua orang tuanya di karenakan waktunya yang kadang di habiskan untuk bekerja.
Tetapi Ando berjanji akan sering mengantar Felisha pulang untuk menemui ke dua orang tuanya, karena ia tahu Felisha hanya sendiri, tak punya kakak ataupun adik yang bisa menggantikan dia merawat dan menengok ke dua orang tuanya.
Menghapus air mata lalu mengecup kening dan ke dua pipi wanita itu. Terakhir mengecup singkat bibir merona nan menggemaskan itu.
Mereka melanjutkan perjalanan setelah Felisha merasa tenang. Hari ini mereka harus datang ke toko perhiasan tempat mereka memesan cincin. Tak enak hati kepada chichi pemilik toko jika harus menundanya lagi karena sudah seminggu mereka mengulur waktu untuk kesana.
...****************...
__ADS_1