
"Kak..aku mau ngomong sesuatu boleh?" Tanya Lisha sambil memainkan jarinya di atas dada suaminya setelah pertempuran usai mereka lakukan untuk ke dua kalinya. Ando menangkap tangan Felisha untuk menghentikan aksinya sebelum si belalai kembali on. Lisha mendongak menatap wajah Ando yang juga sedang menatapnya.
"Jangan kayak gitu sayang, nanti belalainya bangun lagi kamu mau tanggung jawab?" Lisha langsung mendelik dan mengalihkan tangannya dengan memeluk suaminya. Ando terkekeh melihat respon Felisha yang takut di gempur untuk ke tiga kalinya malam ini.
"Kamu nggak ada capeknya kalau yang soal gituan.." Lisha cemberut sambil merebahkan kepalanya di dada Ando.
"Aku malah makin semangat sayang...kalau hanya sekali terasa masih kurang banget..."
"Kalau nurutin kamu mah akunya nanti bisa-bisa telat bangun subuh kak."
"Ya makanya aku bilang jangan mancing-mancing, kamu tau sendiri kalau aku udah kepancing susah berentinya.."
"Iya iya...maaf.." Ando kembali terkekeh mendengar gerutuan istrinya soal asupan vitamin yang tak bisa kalau hanya sekali.
"Tadi mau ngomong apa sayang kayak yang serius gitu?" Ando teringat tadi Lisha hendak mengatakan sesuatu tapi malah membahas yang lain.
"Oh iya kak...mmm...tadi pagi pas aku lagi kerja...tiba-tiba ada yang ngirimin pesan aneh gitu.." Ando mengerutkan dahinya.
"Pesan aneh gimana?"
"Bentar aku ambil handphone dulu.." Felisha melepaskan pelukan dan berbalik untuk meraih ponselnya yang ia simpan di atas nakas samping tempat tidur. Ando hanya mengikuti gerakan Lisha dengan mata.
"Nih kamu baca sendiri aja.." Lisha memberikan ponselnya setelah membuka pesan tersebut kepada Ando agar membacanya sendiri. Ando pun meraih lalu membacanya dengan dahi berkerut.
from : 082xxxxxxx34
"Udah tiga bulan nikah tapi belum hamil juga".
"Kamu yakin bisa ngasih suami kamu anak?".
__ADS_1
" Berani taruhan nggak?".
Balas :
"Kamu siapa berani ngirim pesan begini ke saya?"
From : 082xxxxxxx34
"Kamu nggak perlu tahu siapa yang ngirim pesan. Cukup jawab aja berani nggak taruhan dalam waktu dekat kamu bisa hamil anak suami kamu?"
Balas :
"Jangan jadi PENGECUT! Saya nggak punya waktu ngeladenin kamu".
Ando tersenyum senang saat membaca balasan pesan terakhir Felisha kepada si pengirim pesan itu. Ada rasa lega di dalam hatinya mengetahui kalau istri tercintanya itu tak mudah untuk di intimidasi.
Ando melihat-lihat nomor yang sudah mencoba mengusik rumah tangga nya itu kemudian meraih ponselnya yang juga berada di atas nakas yang sama dengan ponsel Felisha tadi. Terlihat mengotak-atik untuk mengecek apakah nomor tersebut ada di dalam kontaknya namun ternyata nihil.
"Ada apa kak?" Tanya Lisha.
"Nggak ada apa-apa sayang...nggak usah di ladenin kalau misalnya dia ngirim pesan aneh-aneh lagi. Mungkin hanya orang iseng yang mau ngetes kesabaran kamu.." Ando mengusap pipi lembut Felisha dan kembali memeluknya dengan erat mencoba menenangkan istrinya.
"Semoga Lisha tidak terpengaruh dengan pesan itu.." Ando membatin dengan tangannya yang terus menepuk-nepuk punggung Lisha.
"Kita tidur sekarang ya biar nggak kesiangan..." Ucap Ando yang hanya di angguki Felisha karena ia benar-benar sudah merasakan kantuk sejak tadi, tubuh nya sangat lelah setelah pergulatan mereka. Tak lama kemudian terdengar dengkuran halus.
Ando tak langsung bisa tertidur memikirkan isi pesan dari nomor tak di kenal itu. Ia memikirkan cara agar bisa dengan cepat mengetahui siapa pelakunya karena takut akan menjadi beban pikiran sang istri jika selalu di teror dengan pesan-pesan yang berisi soal kehamilan. Karena ia tahu istrinya itu ada perasaan was-was jika setelah menikah tak bisa memberikan anak kepada suaminya mengingat ia tak memiliki saudara di karenakan Ibu nya yang memiliki riwayat eklamsia saat hamil.
Saat Ibu hamil anak pertama yaitu Felisha, Ibu kerap mengalami preeklamsia dan ketika Ibu kembali hamil anak ke dua janinnya tak selamat sampai lahir karena mengalami eklamsia, beruntung nyawa ibu masih bisa diselamatkan. Dan akhirnya Ibu memilih tak pernah hamil lagi karena resiko yang akan terjadi tidak main-main. Begitupun dengan Ayah yang sangat mendukung keputusan Ibu karena takut hal yang tidak di inginkan kembali terjadi.
__ADS_1
Sejak Felisha mengetahui penyebab ia tak memiliki saudara kandung, ia selalu merasa takut jika suatu saat ia menikah dan mewarisi penyakit yang di derita sang ibu, ada kemungkinan ia tak bisa memiliki anak. Itu juga yang selalu di katakan kepada suaminya.
Sebelum menikah ia sudah pernah menceritakan semuanya kepada Ando. Lisha tak pernah memaksa Ando untuk menikahinya karena ia merasa takut jika setelah nikah tak bisa memberikan keturunan kepada Ando. Tapi Ando selalu meyakinkan perempuan yang di cintainya itu kalau semua sudah di atur oleh Sang Maha Kuasa, jika memang di takdirkan bersama namun tak memiliki keturunan itu tak masalah bagi Ando yang penting mereka sudah mengusahakan yang terbaik karena tugas kita sebagai manusia hanya berusaha dan berdoa, selebihnya kita serahkan semuanya kepada sang penentu hidup, kata Ando saat itu kepada Felisha.
Felisha akhirnya merasa lega ketika sudah menceritakan kegelisahannya beberapa bulan sebelum menikah dengan Ando.
Ando menarik nafas dan membuangnya kasar. Ia harus segera mendapatkan informasi tentang siapa si pengirim pesan. Ando menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka dan kembali memeluk istrinya dengan erat. Mendaratkan kecupan beberapa kali di keningnya sampai Lisha mengerang namun kembali tertidur dengan pulas. Ando tersenyum menatap wajah polos itu ketika tidur, benar-benar seperti bayi.
****
"Kak...aku pengen resign dari pekerjaan." Ucap Lisha kepada Ando yang sedang duduk menatap laptop dengan wajah serius. Hari ini mereka memilih berakhir pekan di rumah saja, menghabiskan waktu berdua walau kenyataan yang terjadi Ando masih saja berkutat dengan pekerjaannya.
"Hmm..?" Ando menoleh menatap Lisha dengan alis terangkat. Terkejut dengan pernyataan istrinya karena ia pikir Lisha sangat mencintai pekerjaannya selama ini jadi ia tak pernah memintanya untuk resign.
"Aku pengen fokus dengan rumah tangga kita aja.." Lisha menatap lurus ke taman kecil yang ada di depan balkon kamar mereka. Saat ini keduanya duduk berdua di sana. Lisha terlihat menerawang jauh seperti memikirkan nasib rumah tangga nya.
"Ada apa sayang..kamu masih kepikiran pesan itu lagi?" Ando menyimpan laptop nya di atas meja lalu beranjak mendekati istrinya yang kini berdiri, memeluknya dari belakang dan menciumi puncak kepalanya.
"Nggak kok..aku hanya pengen fokus aja sama kamu..kamu nggak suka?" Lisha berbalik dan membalas pelukan Ando dengan manja. Ando tersenyum senang mendengar ucapan Felisha yang hanya ingin fokus dengannya saja tanpa ada yang lain.
"Kamu serius sayang? Yakin nggak akan nyesel??"
"Ih kamu kenapa jawabnya gitu? di tanyain kalau nggak suka ya udah aku tetep kerja aja.." Lisa cemberut mendengar pertanyaan suaminya itu yang tidak sesuai dengan yang ia harapkan, Ia kemudian melepaskan pelukannya dan hendak memutar badan tapi Ando tak membiarkan.
"Aku bukannya nggak suka sayang, malah saking senengnya aku sampai nggak percaya kalau kamu mau resign dan hanya mau fokus ke aku aja..bener kamu mau resign demi aku?" Tanya Ando lagi untuk meyakinkan.
"Iya...aku rasa selama ini aku belum jadi istri yang baik untuk kamu. Aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan pekerjaan. Kita paling ketemunya hanya malam aja pas pulang kerja dan akunya udah capek banget jadi bawaannya pengen tidur aja.." Ucap Lisha sambil jarinya ia mainkan dengan gerakan melingkar di dada suaminya. Ando menahan tangan Felisha yang tak pernah menyadari kalau itu adalah salah satu titik kelemahannya.
"aku juga kasian sama Mamah sama Papah..aku selama tinggal disini jarang banget punya waktu buat mereka..aku nggak pernah ada waktu buat nemenin Mamah cerita karena sepulang kerja, mamah ngertiin aku pasti capek banget.. jadi dia selalunya nyuruh masuk kamar buat istirahat." Felisha terlihat sedih saat mengatakan alasannya pengen berhenti dari pekerjaan. Ando tersenyum senang karena istrinya itu tak hanya memikirkan dirinya tapi juga kedua orang tuanya. Kebahagian yang tak bisa ia ungkapkan dengan sikap Felisha terhadap kedua orang tua nya. Ia tahu kelemahan istrinya ada pada Mamah dan Papah.
__ADS_1
"Terimakasih sayang..terimakasih.." Ando memeluk erat sambil menciumi puncak kepala istrinya. Kemudian menangkup kedua pipi Felisa dan di ciumi seluruh wajahnya, terakhir ia lu mat dengan lembut bibir yang selalu menggodanya tiap saat.
...****************...