Suami Sabarku

Suami Sabarku
Bab 33. Ada Cinta Untuk Calon Mertua


__ADS_3

Kak Ando melajukan motor sport miliknya memecah jalanan kota, tapi tak berapa lama ia membelokkan kendaraannya ke sebuah toko kue.


Aku turun dengan dahi berkerut, dalam hati bertanya-tanya apakah kak Ando akan membeli kue? Ya iyalah mau apalagi coba, ku pukul jidat sendiri. Aku biarkan saja ia masuk tanpa bertanya padanya, hanya menunggunya di dekat motor miliknya. Tapi tak lama kemudian ia keluar dengan menenteng satu paper bag dengan motif batik berwarna coklat.


Tanpa bicara kami pun melanjutkan perjalanan menuju kos. Kami di sambut oleh ke dua sahabatku Rufi dan Lita dengan senyuman menggoda yang sangat lebar sampai menampilkan gigi-gigi mereka. Menyebalkan.


Rufi meraih paper bag yang di berikan kak Ando yang langsung membuat mata ke dua sahabatku itu berbinar menerimanya. Dasar anak kos.


"Ini apa kak?" Tanya Lita dengan senyuman khasnya.


"Tadi waktu mau nganterin Lisha pulang kita mampir ke toko kue sebentar buat beli itu. Cobain dulu yakin pasti mau nambah lagi." Ucap kak Ando tersenyum ramah.


"Woaahh... makasih ya kak. Ternyata kita gak di lupain." Mata Lita berbinar, dan langsung mendapat pukulan dari Rufi di lengannya.


"Ck. Kenapa sih?" Lita mencebikan bibirnya kepada Rufi.


"Biasa aja dong, jangan kayak orang gak pernah dapat ginian napa sih." Rufi mendesis


"Ih emang kita gak pernah dapat ginian kan."


"Iya, tapi jangan kentara kayak gitu, malu lah sama kak Ando." bisik Rufi yang masih terdengar olehku dan kak Ando.


"Au ah." Lita tak ambil pusing. Malah menyuruh Rufi cepat-cepat membukanya.


Kak Ando hanya terkekeh melihat kedua sahabatku itu. Rufi segera membuka kotak kue yang di bawa kak Ando lalu di persilahkan untuk mencicipi.


"Ayo kak icip-icip. hehe..." Rufi cengengesan sambil menatap ku.


"Enggak mau di icip Sha? Ntar nyesel lho." lanjutnya menggoda ku dan langsung ku layangkan pelototan tajam untuknya.


"Idih. biasa aja tuh bola mata. ntar keluar dari tempatnya baru nyaho lu." Sungutnya tak terima dengan tatapan tajamku.


Tanpa sadar aku tertawa mendengarnya. Mana ada bola mata keluar dari tempatnya. Rufi ada-ada aja.


Ku lirik kak Ando yang tersenyum lebar menatap ku perlahan tawaku hilang. Aku membuang pandangan ke sembarang arah.


Sedangkan Lita sudah tak sanggup berkata-kata karena mulutnya sibuk mengunyah mencoba berbagai varian rasa cake dan kue pie yang di beli oleh kak Ando tadi.


"Kamu kenapa gak ikut makan sayang?" Tanya kak Ando padaku.

__ADS_1


"Lisha udah kenyang kayaknya melihat Lita makan seperti orang kesurupan kak." Ucap Rufi asal membuat ku lagi-lagi tertawa, kak Ando pun ikut terkekeh di buatnya.


Lita hanya mendelik kepada Rufi tapi tak urung bersuara. Sepertinya Lita benar-benar fokus ingin menikmati oleh-oleh dari kak Ando itu, gak pernah nemu yang kayak gitu soalnya. Kan mahal untuk ukuran anak kos seperti kami ini. Gimana bisa ke beli coba, makan aja banyakan mie instan.


Kak Ando meraih satu buah pie susu lalu hendak menyuapiku namun buru-buru aku mengambilnya dari tangan kak Ando. Ia pun mengalah dan memberikannya padaku.


"Mmm enak juga ternyata."Ucapku sambil menghabiskan kunyahan di mulut.


"Mangkanya... kalau di tawarin gak usah sok jual mahal." Lita akhirnya bersuara dan membuat ku malu saja. Kak Ando tersenyum lebar mendengar ucapan Lita.


"Isshh siapa yang jual mahal, gimana aku mau cobain orang kamunya makan kayak gak ingat utang gitu." Sungutku yang membuat semua orang tertawa.


"Heh yang punya hutang siape..aku emang gak punya hutang ya nyonya Ando yang terhormat." Kata Lita yang lagi-lagi membuat semua orang tertawa.


Aku mendekati dan membekap mulut Lita dengan gemas. Berani-beraninya dia membuatku salah tingkah di depan kak Ando dengan menyebut ku nyonya Ando. Dasar Lita.


Saat kami sedang asik bercanda terdengar suara adzan ashar di masjid yang letaknya tak jauh dari kosan.


Karena kak Ando sudah tahu jalan menuju masjid terdekat, ia kemudian pamit untuk menunaikan shalat Ashar di masjid.


Kami bertiga menatap punggung kak Ando sampai hilang dari pandangan, kemudian ke dua sahabatku itu langsung melempar tatapan penuh tanya kepadaku. Sepertinya mereka ingin mendengar kisahku saat tadi di rumah kak Ando. Bertemu dengan kedua orang tuanya.


"Enggak usah pura-pura gak tau maksud kita tuh apa. Kita gak terima alasan apapun." Ujar Lita yang di angguki Rufi.


Mereka benar-benar kompak kalau soal ginian. Kompak dalam hal kepoin aku.


"Aku mau shalat Ashar dulu ah. Kalian gak shalat ya?" Tanyaku mengalihkan isu. haha


"Aku shalat dong"


"Aku juga."


"Ya udah sana shalat dulu."


Rufi merapihkan kotak kue yang berserakan di atas meja, kami pun masuk ke kamar masing-masing untuk melaksanakan shalat Ashar.


***


Kak Ando sudah pamit pulang sejak tadi sepulang dari shalat Ashar di masjid. Ia hanya duduk sebentar lalu tak lama kemudian pamit pulang.

__ADS_1


Kini kami bertiga Aku, Rufi dan Lita sudah berada di kamar Rufi. Mereka sedang menunggu cerita ku mengenai ke dua orang tua kak Ando.


"Gimana dengan mamah papahnya kak Ando Sha?" Tanya Rufi.


"Iya Sha, gimana awalnya mereka ketemu sama kamu? Baik gak?" Tanya Lita antusias ingin mendengar cerita ku.


"Alhamdulillah... orang tua kak Ando baik banget fi, ta. Baiiik banget. Mamah papahnya malah minta aku manggil mereka mamah papah juga seperti kak Ando katanya."


"Aku pikirannya udah traveling aja kemana-mana nih, jangan-jangan Lisha ketemu calon mertua yang jutek atau gak nerima dia." Ucap Lita


Aku tersenyum lalu menceritakan dari awal aku datang dan di sambut dengan ramah sampai saatnya aku pulang pun mereka mengantar sampai di halaman depan rumah.


"Alhamdulillah... bersyukur banget kamu Sha ketemu sama kak Ando yang baik, ternyata mamah papahnya juga baik. Kamu bener-bener beruntung." Kata Rufi tersenyum kagum.


"Iya Sha, kamu bikin aku iri tau gak. Aku aja yang udah lumayan lama hubungannya dengan kak Bara belum juga di kenalin sama keluarganya sampai sekarang." Ucap Lita tiba-tiba sendu.


Aku meraih bahu sahabatku yang satu itu memeluk dan mengusap lengannya lembut.


"Sabar... mungkin kak Bara masih cari waktu yang tepat buat bawa kamu ke hadapan keluarganya." Kataku menenangkan.


"Iya ta, mungkin kak Bara pikir kamunya juga masih fokus kuliah kan." Rufi menimpali.


Lita hanya mengangguk lemah.


"Aku harap kamu ga sia-sia in kak Ando Sha, kamu gak bakal ketemu lagi orang sebaik dia." Lita masih saja terlihat sendu.


"Inshaa Allah...sampai sejauh ini hubungan kami nyatanya masih tetep aku jalani kan walaupun di hatiku belum ada cinta untuk kak Ando, tapi sudah ada cinta buat mamah papahnya sejak bertemu mereka tadi siang." Aku tersenyum tipis mengingat kebaikan dan keramahan kedua orang tua kak Ando kepada ku. Aku benar-benar speechless akan kebaikan mereka. Tak menyangka mereka akan menyambut ku dengan begitu ramah.


"Kak Ando ternyata punya cara jitu buat luluhin hati kamu Sha, dengan mengajak kamu bertemu kedua orang tuanya kamu bisa menilai seperti apa dia yang sebenarnya."


Rufi seketika menyadarkan ku betapa kak Ando sangat dewasa menghadapi ku. Dia tak perlu menjelaskan sebesar apa perasaannya padaku, dia tak perlu menjelaskan panjang lebar bagaimana dia berusaha mencuri hatiku. Dengan aku bertemu mamah papahnya itu sedikit banyak memberi pengaruh padaku. Sungguh aku tak bisa berkata apa-apa lagi.


"Kak Ando emang the best lah pokoknya. Dia gak perlu banyak bicara, tapi selangkah lebih maju dari yang aku kira." Lita mengacungkan jempol dengan ekspresi kagum.


"Semua di luar perkiraan ku sebelum bertemu mamah papahnya kak Ando."


"Iya. makanya aku bilang, kamu tuh gak butuh yang lain lagi, semua udah ada pada kak Ando."


Lita mengangguk-anggukan kepalanya tanda ia setuju dengan apa yang di katakan Rufi.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2