Suami Sabarku

Suami Sabarku
Bab 47. Kamu, Aku dan Dia bertemu


__ADS_3

Setelah mengecup kening kekasihnya Ando segera kembali ke dalam kamarnya untuk beristirahat.


Felisha menatap punggung Ando yang berjalan keluar dari kamar itu. Terduduk di tepi ranjang menutup mata sejenak, menggembungkan pipinya lalu membuang nafas dengan kasar lewat mulut.


"Hufftt...ku kira kak Ando mau....ahh sudahlah.. ya ampun Lishaaa mikirin apa siiii". Memukul-mukul pelan keningnya menyalahkan diri sendiri. Bisa-bisanya dia berpikiran sampai kesana.


Menutup pintu dan segera merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuk yang sangat nyaman. Tak butuh berapa menit Lisha sudah tertidur pulas.


***


Di tempat lain,


Lelaki jangkung itu berdiri di balkon kamarnya tanpa mengenakan baju hanya celana santai pendek yang menutupi setengah tubuhnya.


Memandang ke arah taman kecil yang berada di bawah balkonnya. Pikirannya jauh kepada si wanita yang masih tersimpan namanya di lubuk hati.


" Lisha...Dulu setiap aku melamarmu untuk menikah denganku kau selalu menolakku dengan alasan masih kuliah. Sekarang alasan apa lagi yang akan kamu berikan jika aku melamarmu. Semoga kamu masih memberiku kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Sudah cukup aku hidup dengan perasaan bersalah karena kesalahan yang ku buat. Kali ini aku tak mau mengulang kesalahan bodoh lagi". Mato membatin berharap Felisha akan memberinya maaf dan menerima lamarannya kali ini.


Menyeruput kopi yang ada di gelasnya sampai menyisakan ampasnya saja lalu masuk ke dalam kamar mengistirahatkan tubuh dan pikirannya. Mencari waktu yang tepat untuk melamar wanita yang di cintainya tapi juga telah ia sakiti hatinya.


***


Di rumah Ando,


Setelah melaksanakan sholat subuh Felisha keluar kamar menuju dapur untuk membuat sarapan. "Di rumah orang gak boleh malas-malasan apalagi di rumah calon mertua biar terlihat seperti calon menantu idaman. hihi.." Felisha berbicara sendiri saat berjalan pelan menuju dapur.


"Ngetawain apa sayang?" Langkah Lisha terhenti saat suara bariton itu mengejutkannya. Berbalik dan melihat ke arah suara. Disana sudah ada Ando yang tersenyum lebar sambil berjalan mendekat, tanpa di duga oleh Felisha Ando langsung memeluknya dengan erat, mengecup kepala Lisha yang tertutup bergo.


"Jangan kaya gini kak nanti di lihat mamah sama papah". Ucap Lisha sambil mendorong pelan tubuh jangkung Ando.


"Emang kenapa kalau di lihat mamah sama papah?" Ando terkekeh sambil melepas pelukannya.


"Ya malu lah kak. Gimana sih". Ucap Lisha berbalik badan bermaksud melanjutkan tujuannya ke dapur untuk membuat sarapan.


"Kamu mau ngapain subuh-subuh begini ke dapur sayang?" Tanya Ando meraih lengan Felisha dan membawanya ke ruang keluarga.


"Aku mau buat sarapan kak". Ucap Lisha tapi tetap mengikuti kemana Ando membawanya.


" Gak usah repot-repot sayang nanti ada mbak Tuty yang buatin sarapan bentar lagi juga dia datang. Kamu duduk sini aja temenin aku". Ando mendudukkan Felisha di sampingnya lalu menyalakan TV mencari siaran favoritnya yang menayangkan pertandingan bola.


Ando memindahkan tangan Lisha yang ada di pangkuan lalu dengan santainya hendak merebahkan kepalanya di atas pangkuan Felisha. Sontak saja membuat Lisha terkejut dan menahannya kepalanya.


"Kamu mau ngapain?" Tanya Lisha cepat.


"Aku mau baring disini". Ucap Ando sambil kembali memindahkan tangan Felisha dan menurunkan kepalanya tepat di atas paha Felisha menghadap ke arah TV yang menyala.


" Kak jangan kaya gini dong. Aku malu tau kalau di lihat mamah sama papah". Keluh Lisha.


"Jadi kalau gak di lihat mamah papah gak malu gitu?". Goda Ando.


" Tetep malu lah". Lisha mulai jengah dengan kelakuan kekasihnya itu. Masih pagi sudah mengajaknya ribut.


"Gak papa sayang..kita gak ngapa-ngapain kok. Udah dong diam jangan gerak-gerak terus nanti aku balik menghadap perut kamu mau?". Ancam Ando yang langsung membuat Lisha diam. Pasrah saja melihat kelakuan Ando kali ini yang membuatnya kesal pagi-pagi.


" Tadi abis darimana?" Tanya Lisha yang teringat mengapa bisa kekasihnya itu berada disana saat ia hendak ke dapur.


"Tadi pulang dari masjid langsung nemenin papah ngobrol sebentar di belakang. Pas mau balik ke kamar aku liat kamu senyam-senyum sendiri makanya aku tanya ngetawain apa".


" Oohh..." Lisha hanya ber oh.


"Emang tadi ngetawain apa sayang?" Ando mengulangi pertanyaaannya sambil memutar kepala menengadah menatap Felisha.


"Gak ada. Kepo amat sih. amat aja gak kepo lho. hehehe..." Lisha tertawa-tawa setelah mengatakan itu.

__ADS_1


Seketika Ando mencubit pipi cabi Lisha dengan sedikit bertenaga alhasil membuat perempuan itu sedikit berteriak.


"Aawww...sakit tauuu.." Lisha memukul tangan Ando dan mengusap pipi bekas cubitannya sambil cemberut.


"Pada ngapain sih pagi-pagi udah pada ribut aja.." Mamah datang dari taman depan dengan tangan yang masih basah karena baru saja selesai menyiram bunga.


Mamah berasa punya dua anak yang tinggal serumah lagi seperti ketika kak Suci belum menikah. Entah mencubit pipinya atau membuatnya kaget. Hal itu sering kali Ando lakukan untuk menjahili kakaknya.


"Kak Ando jahil banget mah". Adu Felisha kepada mamah dengan memasang wajah sesedih mungkin.


"Jahil gimana?" Ucap Ando dengan berpura-pura menonton tv seperti tak terjadi apa-apa.


"Alfando!" Panggil mamah dengan wajah galaknya. Ia sudah tahu kelakuan sehari-hari anaknya itu karena mamah pun sering menjadi korban pipi dicubit sampai merah.


Ando mengangkat kepalanya bangkit dari baringnya lalu duduk di samping Lisha. Mengusap lembut pipi cabi kekasihnya sambil meminta maaf.


"hehe..maaf". ucap Ando yang langsung mendapatkan lirikan tajam dari Felisha.


Mamah hanya geleng-geleng kepala.


" Lisha, sini ikut mamah". Ucap mamah sambil berjalan menuju belakang yang segera diikuti Lisha meninggalkan Ando sendirian.


Tak lama kemudian Ando pun masuk ke kamar untuk memeriksa beberapa pekerjaan. Hari ini ia masih belum masuk kantor karena masih terhitung perjalanan dinasnya selama dua hari, kemarin dan hari ini.


Di dapur ternyata sudah ada mbak Tuty yang sedang menyiapkan sarapan untuk keluarga itu. Gegas Lisha dan mamah membantunya menata ke meja makan.


"Lisha tolong panggil Ando sarapan ya".


" Iya mah".


Karena melihat sudah tak ada Ando di ruang nonton, Lisha langsung saja menuju kamar kekasihnya itu untuk mengajaknya sarapan.


Tok tok tok


"Kak Ando di panggil mamah sarapan dulu.." Teriak Lisha di depan pintu kamar.


"Sini masuk dulu". Ucap Ando.


" Gak mau..kita udah di tunggu untuk sarapan bersama". Tak ingin berlama-lama takut di tungguin calon mertua.


"Ya udah tunggu bentar". Ando menutup leptop nya lalu keluar. Menggandeng tangan kekasihnya berjalan bersama menuju meja makan.


" Ayo sarapan dulu anak-anak mamah". Sambil bergerak lincah mamah menyendokkan nasi goreng di piring papah, Ando dan Lisha.


"Makasih mah". Ucap ketiganya.


Mereka menghabiskan waktu dengan sarapan sambil mengobrol ringan.


"Ando hari ini kamu masuk kantor?" Tanya mamah.


"Belum mah, kan hari ini masih terhitung perjalanan dinas". Jawab Ando


Setelah sarapan Ando dan Lisha pamit kepada mamah untuk ke kamar masing-masing namun Ando membawa Felisha duduk di ruang keluarga sedangkan papah kembali dengan rutinitas sehari-hari nya yaitu bermain dengan ikan-ikannya dan mamah dengan bunga-bunga nya.


"Gimana hasil interview kamu kemarin sayang?" Tanya Ando sambil mendaratkan bokongnya di sofa.


Felisha diam, tak segera menjawab. Ando menatap kekasihnya itu dengan dahi berkerut.


"Kenapa hmm?" Ando mengusap pipi wanita di hadapannya itu dengan lembut dan di jawab dengan gelengan pelan oleh Lisha.


"Aku gak mau kerja disana kak". Jawab Lisha dengan menunduk.


" Lho ada apa sayang? Bukannya kemarin kamu semangat banget bisa masuk kesana.." Ando merasa heran dengan perubahan sikap Felisha yang tiba-tiba tak mau jika harus bekerja disana.

__ADS_1


"Enggak ada apa-apa kak. Aku pengen cari kerja di tempat lain aja. Sepertinya aku gak cocok disana". Ucap Lisha tak ingin di bantah.


Ando manggut-manggut mendengar perkataan Felisha yang tak ingin bekerja disana padahal sebelumnya perempuan itu begitu bersemangat saat akan mengikuti tes tanya jawab di kantor itu. Merasa ada yang aneh Ando berniat diam-diam mencari tahu penyebabnya.


" Terserah kamu kalau gitu. Aku mendukung saja pilihan kamu". Ucap Ando akhirnya. Lisha tersenyum menatap kekasihnya itu yang begitu pengertian dan perhatian padanya.


"Luka kamu gimana? Mau ganti perban dulu?" Tanya Lisha.


"Rencananya aku mau ke dokter buat ngecek kalau udah kering jahitannya". Jawab Ando yang seketika membuat Lisha meringis mendengar luka jahitan.


" Mau aku temenin?" Tawar Lisha yang langsung di angguki Ando dengan semangat.


"Makasih sayang". ucap Ando dengan mengecup tangan kekasihnya yang di jawab dengan senyuman.


***


Setelah bertemu dokter, Ando masih harus mengganti perban lukanya. Dokter bilang lukanya belum kering seutuhnya jadi masih harus di tutup perban agar tidak infeksi.


Sepulang dari cek up, Ando mengajak Lisha makan siang setelah tadi mengantri untuk masuk ke ruangan dokter di restoran yang berada di seberang jalan rumah sakit itu yang berarti juga tak jauh dari kantor Rayapharmindo, hanya berjarak sekitar 200 meter.


Seperti biasa Ando tak pernah melepaskan genggaman tangannya kepada Lisha jika jalan bersama. Mereka masuk dan langsung mengedarkan pandangan mencari meja yang kosong dan disana ada dua meja yang bisa mereka pilih. Memilih meja di pinggir yang berada dekat dengan dinding kaca restoran itu.


Keduanya berjalan masuk tanpa memperhatikan orang-orang di sekitar. Sepasang mata tak melepaskan pandangan kepada dua orang yang baru saja masuk. Bergantian melihat wajah keduanya lalu melihat tautan tangan mereka. Seketika hatinya menciut. Seperti jatuh dari ketinggian. Mengepalkan tangannya kuat.


Mato memperhatikan mereka sampai saat keduanya duduk dan memesan makanan semuanya Mato amati. Saat pelayan pergi meninggalkan meja Ando dan Lisha, barulah Mato berdiri dan mendekat.


"Lisha..." Panggil Mato dengan lembut saat berada tepat di samping mereka.


Lisha dan Ando sama-sama menoleh ke arah suara dan seketika wajah Lisha pias. Ando pun sedikit terkejut melihat Mato berdiri di sana menatap Felisha dengan ekspresi wajah yang sulit di artikan. Ando menoleh kepada Lisha.


"Kamu kenal dia sayang?" Ando sengaja menyebut Lisha dengan kata sayang dan bertanya kepada kekasihnya itu seolah tak tahu menahu soal hubungan Felisha dan Mato.


Lisha hanya mengangguk.


"Kenal". Hanya itu jawaban Lisha.


" Oohh...mau kita duduk makan bersama?" Tawar Ando dengan sangat tenang kepada laki-laki yang masih tetap berdiri menatap Felisha itu.


"Saya boleh bicara berdua dengan Felisha sebentar?" Ucap Mato tak mengalihkan tatapannya dari Felisha. Lisha membuang pandangannya ke sembarang arah.


Ando diam sejenak melihat ada masalah yang belum selesai di antara Lisha dan Mato jadi ia memberikan waktu kepada keduanya untuk menyelesaikan apa yang harus di selesaikan. Karena tempat duduk yang di pilih mereka tadi berada dekat dengan tempatnya memarkir mobil, maka ia Memilih untuk menunggu di dalam mobil saja sambil memperhatikan keduanya dari dalam.


"Sayang, aku tunggu di mobil ya". Ucap Ando sambil berlalu dari sana.


Felisha menoleh memandangi punggung lelaki sabar yang sudah menemaninya beberapa tahun terakhir hingga saat ini. Ia ingin melarang agar Ando tak pergi dari sana tapi ia juga berpikir, mungkin ini saatnya untuk memberitahu Mato kalau hubungan mereka sudah lama berakhir sejak Mato memilih pergi tanpa kabar.


Setelah Ando masuk ke dalam mobil, Mato duduk di hadapan Felisha menggantikan posisi Ando tadi. Meraih tangan Felisha untuk ia genggam namun dengan cepat Lisha menurunkan tangannya kebawah meja.


Pelayan datang membawakan minuman pesanan Ando dan Lisha tadi. Setelah pelayan pergi Mato langsung bertanya kepada Lisha.


" Dia siapa kamu Sha? Sudah seberapa jauh hubungan kalian?" Tanya Mato yang wajahnya sudah memerah menahan amarah sejak tadi.


"Kamu gak denger tadi dia manggil aku apa?" Ucap Lisha tenang.


"Jangan bertele-tele Lisha". Mato menatap tajam Felisha.


"Bertele-tele gimana kak. Dia calon suami aku". Merasa tenggorokannya sangat kering saat mengatakan itu Lisha segera menyeruput minumannya sampai tersisa setengah.


Deg


Hati Mato seketika hancur berkeping-keping. Hancur sudah rencana yang ia susun untuk melamar wanita yang ada di hadapannya itu.


Mengepalkan tangan sampai buku-buku tangannya terlihat memutih, wajah dan matanya sudah memerah, mengusap wajahnya kasar lalu menyandarkan punggungnya ke kursi dengan sedikit kencang hingga menimbulkan bunyi sampai orang-orang di sekitar mereka pun menoleh, Mato membuang pandangannya ke luar dinding kaca menghirup udara banyak-banyak melalui hidung dan membuangnya lewat mulut. Mato mengulanginya sampai dua kali. Berharap bisa mengurangi sesak di dadanya. Sedangkan Felisha hanya diam memperhatikan tanpa mengeluarkan suara.

__ADS_1


Sejujurnya, Lisha juga merasakan hal yang sama seperti Mato saat mengatakan kalau Ando adalah calon suaminya. Walau bagaimanapun, kenyataannya ia masih mencintai lelaki yang ada dihadapannya saat ini. Namun air matanya seperti sudah mengering untuk menangisi hubungan mereka yang sudah lama berakhir baginya dan sekarang sudah ada Ando di sisinya.


...***********...


__ADS_2