Suami Sabarku

Suami Sabarku
Bab 52. Melukis Senja


__ADS_3

Alfando POV,


Sejak saat memulai hubungan dengan wanita itu, tak sekali pun ia mau melakukan hal yang seperti tadi saat aku memintanya memberikan ci***nnya walau hanya lewat handphone saja.


Terus terang saja aku terkejut saat ia melakukannya. Ia tak tahu saja dadaku seperti ingin meledakkan ribuan kata cinta untuknya yang tanpa sadar aku membalas ci***nnya dan panggilannya langsung terputus, sepertinya ia malu dengan apa yang sudah di lakukan nya itu. Aku bisa membayangkan wajahnya yang memerah saat ia tersipu. Ingin rasanya segera membawanya ke KUA untuk menghalalkannya. Hahaha. Ci***nnya sungguh membuatku sangat bersemangat untuk bekerja hari ini.


Setelah mandi, aku segera keluar kamar menuju meja makan untuk sarapan bersama mamah dan papah.


"Cerah amat senyumnya sayang". ucap mamah menatap ku dengan tatapan menyelidik. Papah hanya diam seperti menunggu jawaban dari ku.


"Iya dong mah, hari ini emang lagi cerah banget kan di luar. hehe.." Aku hanya menjawab asal dan sedikit tidak nyambung. Biar saja, karena tidak mungkin kan aku jawab dengan jujur kalau pagi ini aku dapat hadiah spesial dari Felisha yaitu ci**an di balik ponsel. Haha


"Ada kabar baik apa hari ini hmm? kelihatannya anak mamah bahagia banget pagi ini".


Aku menghentikan kunyahan ku sejenak, seketika terlintas di pikiran ingin menanyakan bagaimana kalau dalam waktu dekat ini aku berniat untuk melamar perempuan itu. Namun ku urungkan, sebaiknya ku lamar Lisha secara pribadi dulu setelah dia menerima lamaran ku barulah ku beri tahu mamah sama papah agar mereka datang kepada ke dua orang tua Felisha untuk melamarnya dengan resmi.


***


Baru saja b*k*ng ku menyentuh kursi yang ada di ruangan ku, suara pesan masuk terdengar dari handphone milikku. Ku lihat di sana ada pesan masuk dari " My Lovely ". Ku buka pesan itu dengan senyum manis. Senyum ku semakin melebar saat mengetahui isi pesan dari wanita yang ku cintai itu.


" Udah sampe kantor belum kak? Kalau udah, selamat bekerja ya..yang semangat kerjanya biar cepet gede tabungannya buat modal ngelamar aku..hahahaha becanda kak ✌🏻😂"


Aku terpaku melihat isi pesannya. Apakah ini kode darinya? Aku tak percaya jika ini benar. Ku luruskan badan agar duduk lebih tegap. Ku lihat sekali lagi isi pesannya dan tak ada yang berubah. Ia benar-benar mengirim pesan ini untukku? Aku tak percaya ini.


"Ini baru saja sampai di kantor sayang". Ingin tahu reaksinya seperti apa kalau hanya di balas seperti itu. Hehe


Ting..balasan pesannya masuk.


" Oohh ya udah".


Hanya itu, pantasan cepet banget. Sepertinya dia mulai kesal karena aku tak menanggapi becandaan nya. hehe


Memilih menutup dan menyimpan ponselku dan mulai bekerja.


Hari ini aku cukup di sibukkan dengan data-data klien wajib lapor yang akan bebas. Tak terasa waktunya pulang sebentar lagi. Sembari menunggu apel sore, aku turun ke loby untuk menunggu dan berbincang dengan teman-teman yang lain. Tak lama kemudian bel apel sore pun berbunyi.


***


Ku lajukan kendaraan ku menuju mall yang tak jauh dari kantor. Sesampainya disana aku melangkah langsung ke tempat tujuan utama yaitu toko perhiasan. Di sana tersedia banyak macam cincin yang indah tapi aku tak tahu apakah pilihan ku ini akan di sukai perempuan itu.


"Ukuran cincinya mas??" Tanya chichi pemilik toko sambil mengacungkan cincin yang ku pilih tadi di hadapanku.


Aku tak tahu ukuran jari manis perempuan itu jadi ku perkirakan saja seukuran dengan jari kelingkingku. Semoga saja pas di jarinya.


Setelah membayar semuanya, aku berbalik hendak pergi meninggalkan tempat itu. Namun langkah ku terhenti saat seseorang memanggilku.


"Al..." Panggilan itu hanya di pakai oleh satu orang dengan suara lembutnya saat menyebutkan namaku. Ya, dia adalah kalista. Aku bisa mengenali siapa pemilik suara itu walau belum melihat siapa dia. Aku berbalik dan menatapnya dengan ekspresi datar.


Ku lihat ia mendekat dengan memasang wajah sendu. Kenapa lagi dia harus berpura-pura terlihat sedih di depan ku.


"Apa kita bisa bicara sebentar?" Tanyanya dengan sangat lembut seperti biasa. Dia terlihat masih seperti dulu yang selalu terlihat anggun.


"Maaf sekali aku sedang buru-buru. Lain waktu saja kalau mau". Tawarku sembari mengacungkan paper bag kecil yang ada di tangan ku.


" Sebentar saja Al...". Dia tetap kekeuh ingin berbicara dengan ku setelah bertahun-tahun tak berjumpa. Sebenarnya bisa saja aku menyetujuinya hanya saja aku tak ingin menunda waktu ku untuk bertemu wanita yang ku cintai demi wanita ini.


"Untuk sekarang ini aku tidak bisa. Maaf". Setelah mengatakan itu aku langsung berbalik pergi meninggalkannya yang ku yakin ia masih berdiri menatap kepergian ku.


***


Di rumah aku di sambut dengan senyum manis dari ke dua orang yang ku sayangi, menyapa ke dua orang tua ku yang seperti biasa sedang berada di halaman depan jika hari sudah sore seperti ini. Mamah yang sibuk dengan bunganya sedangkan papah yang setia menemani dan mendengarkan curhatan mamah soal bunga terbaru dan yang sedang naik daun itu. Berbincang sebentar lalu pamit masuk ke dalam rumah.


Kini tujuan ku adalah kamar. Menyimpan tas kerja dan melepas seragam yang kupakai hari ini. Tubuh ku terasa sangat lengket, gegas masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri sebelum pergi menemui perempuan yang selalu saja membuat ku uring-uringan. Haha.


Ku guyur kepala dengan air dingin, Aahhh segarnya. Terlintas di pikiran bagaimana jika lamaran ku di tolak? Bagaimana jika ternyata ia masih mencintai laki-laki itu? Pikiranku di penuhi dengan berbagai pertanyaan yang mungkin saja terjadi. Tapi ku pikir ia tak mungkin mau memberiku kecu**n seperti tadi pagi jika memang belum cinta seperti sebelum-sebelumnya.


Kali ini aku tetap akan melamarnya apapun yang terjadi aku akan terima. Jika ia menolakku tak apa, aku akan menunggu sampai dia siap untuk aku nikahi.


Setelah shalat maghrib, aku pamit kepada mamah dan papah untuk mengajak Lisha makan malam di luar mereka pun mengizinkannya.


Sebelum ke kos an Felisha, aku mampir ke toko kue langganan aku yang sebenarnya itu adalah salah satu usaha miliki mamah selain butik muslimah yang berada tak jauh dari rumah. Ya, mamah sudah merintis usahanya sejak sebelum menikahi papah yang bekerja sebagai abdi negara di salah satu universitas yang ada di kota ini.


Toko kue ini di beri nama "Asia Cake" yang entah terinspirasi darimana mamah memberi nama usahanya dengan "Asia".


" Asia cake dan Asia Muslimah"


Ku lajukan mobil ku membelah jalanan kota yang cukup padat malam ini. Sebelum beranjak dari toko kue tadi aku mengirim pesan lebih dulu kepada Felisha agar bersiap sebelum aku menjemputnya makan malam di tempat yang sudah ku siapkan sebelumnya.


Berjalan masuk sambil menenteng paper bag yang berisi box kue tadi.


"Assalamu'alaikum..." Ucapku saat melihat di depan kamar Lisha sudah ada Rufi dan Lita yang sedang duduk mengobrol. Sepertinya Lisha masih bersiap di dalam kamar.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam... Eh..duduk dulu kak". Tawar Rufi.


Ku letakkan box kue itu yang langsung di sambut Lita dan Rufi dengan sumringah.


" Waahhh...enak nih...untuk aku sama Rufi kan? makasih ya kak". Cerocos Lita tanpa menunggu jawaban dariku ia langsung membuka box itu dan menggigit salah satu kue favorit nya.


"Sama-sama". Jawab ku singkat.


Rufi hanya geleng kepala melihatnya, berdiri dan masuk ke dalam kamar, tak lama kemudian ia keluar bersama perempuan cantik yang selalu saja membuat ku terpana saat melihatnya. Malam ini ia terlihat sangat cantik dengan dandanan naturalnya. Bibir pink yang selalu saja menggodaku namun tak pernah ku sentuh itu, tersenyum saat melihat ku. Aahhh manis sekali. Terlihat sedikit lebih dewasa dari biasanya. Auranya terpancar dari dalam dan berhasil mengalihkan dunia ku.


Aku berdiri menyambutnya, ku raih tangannya untuk ku genggam kami pun pamit pergi kepada dua sahabatnya. Hati ku berdesir saat mengingat malam ini adalah malam yang sangat berarti bagi ku.


Saat di perjalanan menuju restoran, aku sibuk berbalas pesan dengan sahabat ku Iman yang tak lain adalah anak dari pemilik restoran tempat aku akan melamar wanita yang duduk di sebelah ku saat ini.


"Pesan dari siapa sih?". Tanya Lisha dengan dahi berkerut.


" Ini..teman". Jawabku sedikit gugup takut rencana ku ketahuan. Haha


Tak lama kemudian kami memasuki area parkir, halaman yang sangat luas untuk memarkir kendaraan.


Restoran yang bergaya klasik itu terbuat dari kayu yang nuansa alamnya sangat terasa. Ada ruang terbuka dan ada ruang tertutup yang merupakan VIP dari restoran itu. Aku menautkan tangan ku dengan tangan Felisha menuju ruangan yang sudah di sediakan oleh sahabat ku Iman bersama dengan pihak restoran lainnya yang turut membantu.


Ku lihat dahi perempuan cantik di samping ku itu berkerut saat kami terus berjalan menuju VIP.


"Kita makannya di mana sih kak? Disini juga bagus lho. Tuh masih ada yang kosong di sana". Ucap Lisha dengan menunjuk meja kosong dengan dagunya.


" Aku udah pesen meja buat kita di dalam sana sayang". Jawabku dengan terus menggandeng tangannya berjalan menuju VIP. Tak ada protes lagi setelah itu. Ia hanya mengikuti kemana langkah ku membawanya.


Setelah masuk ke ruang VIP kami di sambut ramah oleh pelayan di sana. Duduk di meja yang sudah di sediakan. Felisha mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan itu.


Pelayan datang untuk menawarkan menu yang ada di sana. Felisha seketika menatap ku saat melihat daftar harga yang tertera di buku yang ada di tangannya itu. Aku mengerti maksud dari tatapannya. Ku berikan senyuman yang seolah mengatakan tenang saja aku masih sanggup membayar nya. Haha. Sungguh gemas melihat wajah polosnya itu.


"Aku minumnya orange juice. Makannya ikut pesanan kamu aja". Ucapnya sambil menutup dan menyerahkan kembali buku menu itu kepada pelayan.


Setelah memesan beberapa makanan pelayan itu pergi. Live musik sudah akan di mulai. Ku lihat Iman berada di belakang panggung, sibuk mengatur rencana yang sudah di susunnya seharian ini. Saat aku mendapat pesan dari Lisha tadi pagi, seketika terlintas ingin membuat kejutan untuknya saat melamarnya. Gegas ku telpon Iman untuk membantuku menyiapkan segalanya. Dengan senang hati ia menyetujui rencana ku ini. Dan pada akhirnya dia sendiri yang sibuk menyiapkan segalanya, aku hanya punya andil membeli cincin untuk Felisha dan menuruti semua instruksi dari Iman.


Ku lihat Lisha tak menyadari keberadaan Iman di sana.


" Bentar ya aku ke sana dulu". Pamit ku kepada Felisha yang hanya mengangguk bingung.


"Tes..tes..1 2..." selamat malam semuanya..."


"Malam..." Jawab orang-orang yang berada di ruangan itu.


"Ehemmm.." Aku berdehem untuk mengurangi kegugupan yang tiba-tiba menyerang.


"Izinkan saya membawakan satu lagu untuk orang yang sangat spesial, kekasih saya tercinta yang ada di sana". Aku menunjuk ke arah Felisha yang sedang duduk.


Dengan gugup dan malu-malu Lisha berdiri memberi salam kepada para pelanggan restoran dengan sedikit membungkukkan badannya. Tepuk tangan dan siulan dari mereka terdengar menggema di ruangan itu. Felisha lalu duduk kembali. Ku lihat orang langsung berbisik-bisik setelah melihat Felisha. Samar-samar ku dengar " cantik dan imut banget ceweknya". Aku tersenyum mendengarnya.


Jreenngggg... semua terdiam tak ada lagi suara riuh yang terdengar.


" Terimakasih...semoga hadirin sekalian suka dengan lagunya dan suara saya yang pas-pasan ini...hahaha".


"Lagu ini sangat mewakili perasaan ku saat ini". Sebuah lagu yang berjudul " Melukis Senja" by Budi Doremi.


"Aku mengerti perjalanan hidup yang kini kau lalui.


"Ku berharap meski berat kau tak merasa sendiri.


"Kau telah berjuang menaklukan hari-hari mu yang tak mudah.


"Biar ku menemanimu membasuh lelah mu.


"Izinkan ku lukis senja


Mengukir namamu di sana


Mendengar kamu bercerita


Menangis tertawa


"Biar ku lukis malam


Bawa kamu bintang-bintang


Tuk temanimu yang terluka


Hingga kau bahagia


"Aku disini walau letih coba lagi jangan berhenti

__ADS_1


"Ku berharap meski berat kau tak merasa sendiri


"Kau telah berjuang menaklukankan hari-hari mu yang tak indah.


"Biar ku menemanimu membasuh lelah mu.


"Izinkan ku lukis senja


Mengukir namamu di sana


Mendengar kamu bercerita


Menangis tertawa


"Biar ku lukis malam


Bawa kamu bintang-bintang


Tuk temanimu yang terluka


Hingga kau bahagia hah


"Izinkan ku lukis senja


Mengukir namamu di sana


Mendengar kamu bercerita


Menangis tertawa


"Biar ku lukis malam


Bawa kamu bintang-bintang


Tuk temanimu yang terluka


Hingga kau bahagia


Tuk temanimu yang terluka


Hingga kau bahagia.


Tepuk tangan dan sorakan dari penonton kembali menggema. Ku lihat senyum lebar dari bibir Felisha.


" Terimakasih... "


Aku turun dari panggung berjalan perlahan menuju tempat duduk Felisha sambil membawa mikrofon yang kupakai tadi. Setelah berada di hadapan Felisha, ku raih tangannya untuk berdiri. Ku rogoh kotak kecil berwarna merah dari saku celana dan menekuk lutut ku sembari berkata.


"Sayang...maukah kamu menikah dengan ku?" Aku tak pandai merangkai kata jadi aku langsung saja pada intinya.


Ruangan seketika hening. Sesaat kemudian sorakan kembali terdengar di ikuti kata "Terima..terima..terima..."


Aku menunduk. Jantung ku seperti hendak keluar dari tempatnya saat ini. Berharap Felisha menerima lamaran ku.


Aku mendongak saat aku merasakan sebuah tangan menyentuh tangan ku yang memegang kotak cincin itu. Felisha mengangguk dan tersenyum namun sesaat kemudian ku lihat air mata menetes turun ke pipinya. Aku gegas berdiri memeluknya dengan erat, tangisnya pun pecah. Ku biarkan ia menangis di pelukanku. Tanpa sadar air mata ku tetes demi tetes ikut meluncur bebas. Aku tak menyangka ia akan menerima lamaran ku malam ini.


Sorakan kata cium terdengar disana. Perlahan kami melepaskan pelukan, aku memilih membuka kotak merah itu dan meraih jari manis Felisha untuk ku pakaikan cincin. Jantung ku kembali berdebar takut tak muat di jarinya. Namun ketakutan ku sirna saat cincin itu terpasang sempurna di jari manis nya. Rasa syukur kepada yang kuasa tak hentinya ku ucapkan di dalam hati atas kelancaran acara malam ini.


"Cium...cium...cium..."


Sorakan kata cium masih terdengar disana. Ku tangkup kedua pipi cabi itu dan mendaratkan kecup*n di keningnya. Sontak siulan dan tepukan tangan terdengar.


Ku lihat wajah Felisha sudah memerah karena malu. Menggemaskan.


Tak lama kemudian Iman muncul dari belakang layar dan di susul empat orang yang sangat aku kenal. Ya, ternyata mamah, papah, Rufi dan Lita juga ada di sana. Hahaha...aku tak menyangka ternyata Iman juga merencanakan ini semua dalam waktu yang sangat singkat. Hanya dalam waktu beberapa jam saja. Amazing.


Ku sambut kedatangan mereka. Gegas ku cium punggung tangan ke dua orang tuaku dan memeluknya bergantian. Mamah kemudian memeluk erat Felisha dengan berurai air mata bergantian dengan dua sahabatnya.


" Selamat ya Sha...semoga hubungan kalian di lancarkan sampai halal". Ucap Rufi yang ikut terbawa suasana.


"Selamat Sha...pokoknya aku ucapin selamat..dah gitu ajah..." Lita pun tak kalah terharunya.


"Terimakasih sayang sudah menerima Ando. Mamah janji secepatnya akan datang menghadap ibu dan ayah untuk melamar mu di depan keluarga besar mu". Kata mamah yang hanya mampu di angguki oleh Lisha saat ini karena air matanya tak henti-henti nya turun.


Iman tak ketinggalan mengucapkan selamat untukku.


" Selamat bro...semoga di lancarkan sampai halal". Ucapnya dengan tulus sambil menepuk pundak ku.


"Terimakasih bro... ini semua karena usahamu..karena jerih payahmu hingga saat ini aku berhasil melamarnya dengan sangat baik. Terimakasih... untuk semuanya". Ucapku tak bisa berkata banyak selain ucapan terimakasih.


...****************...

__ADS_1


Jangan lupa bacanya sambil dengerin lagu Melukis Senja ya.. biar makin terasa gregetnya hihihi..


Selamat membaca ayang2 ku 🤗😘😘


__ADS_2