
Felisha tidak terbiasa dengan situasi seperti ini. Diamnya Ando kali ini benar-benar membuatnya serba salah dan bingung harus memulai percakapan dari mana. Ia lebih memilih Ando yang langsung menanyakan jika ada yang mengganjal di hati nya daripada harus diam seperti ini. Lisha tak suka.
Sesampai nya di kursi kosong yang agak jauh dari keramaian orang-orang. Walaupun masih ada orang yang berlalu lalang tapi tidak seramai di tempat lain. Ando duduk dengan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket yang di kenakannya.
Felisha kemudian ikut duduk di samping laki-laki yang sudah kurang lebih dua tahun ini menemaninya melewati berbagai macam ujian dalam hidupnya. Boleh di bilang Ando selalu setia menemaninya dalam keadaan apapun. Tapi sekarang dia seperti melihat sisi lain dari kekasihnya itu. Lisha seperti tidak mengenalnya. Ia tak suka melihatnya yang seperti itu.
"Ada yang ingin kamu jelaskan sayang?" Tanya Ando mengawali percakapan namun nadanya tetap datar tanpa menoleh ke arah Felisha.
Seketika Felisha menoleh ke kiri di mana laki-laki jangkung yang tak lain adalah kekasihnya itu duduk. Menatap sejenak dan kembali mengalihkan pandangan nya ke depan lalu menunduk dan "heeuuuuheuuuuuheuuu" Felisha menangkup wajahnya ke atas paha menangis tersedu-sedu menumpahkan air mata yang sedari tadi di tahan nya. Tak suka dengan perlakuan Ando yang dari tadi sangat dingin kepada nya, yang selalu mendiamkan nya sejak tadi di kost-an.
"Eeh...kok malah nangis...heh" Ando jadi bingung melihat kekasihnya menangis tersedu-sedu seperti anak kecil yang minta di belikan permen tapi tidak di izinkan oleh ibu nya.
"heeuuuheeuuheeuu..." Felisha semakin terisak.
Cepat-cepat Ando memeluknya dan mengelus-elus lengan kekasihnya dari samping sambil menghapus air mata yang berjatuhan di pipi nya. Panik dengan jawaban yang di berikan Felisha atas pertanyaan nya. Ando membiarkan perempuan dalam pelukan nya itu menyelesaikan isakan nya namun tak kunjung berhenti.
"kamu kenapa menangis hah?" Ando menggaruk-garuk belakang kepala nya yang tidak gatal karena bingung.
"heuuu...maaf...heeuuu.." Lisha menjawab dengan tangis sambil berusaha mengucapkan kata maaf di antara isakan nya.
"Minta maaf karena apa sayang..hah?" Ucap Ando yang masih memeluk kekasihnya sambil menghapus setiap air mata yang jatuh di pipi wanita itu.
"maaf...ma maafin aku.." Ulang Felisha masih terbata-bata karena masih terisak kecil.
"Iya..tapi kamu gak salah apa-apa sayang. ngapain kamu minta maaf" Ucap Ando selembut mungkin agar kekasih nya itu lebih tenang dan itu berhasil.
Dan sekarang Felisha balik memeluk Ando. Duduk saling berpelukan, Ando mengecup puncak kepala kekasih nya yang tertutup hijab instan itu dengan sayang dan lama. Mereka kembali sama-sama terdiam dengan pikiran masing-masing. Namun tangan besar Ando tak berhenti mengelus lengan kekasih nya.
Walaupun merasa sudah lebih tenang, tapi Lisha belum mau melepaskan pelukan nya dari sang kekasih. Ando pun membiarkan saja sampai Lisha benar-benar tenang dan mau menjelaskan semua nya.
"Kak...jangan diemin aku kayak tadi lagi. aku gak suka aku gak suka pokok nya aku gak suka.." Keluh Lisha masih dengan sambil memeluk erat laki-laki yang sedari tadi juga tak melepaskan pelukan nya. Isakan kecil masih sesekali terdengar. Ia sungguh tak terbiasa dengan Ando yang bersikap dingin kepadanya. Aneh rasanya.
"Emang kenapa kalau aku diam kayak tadi?" Ando mengulum senyum tertahan sambil menaruh pipi nya di atas kepala Felisha yang lebih pendek dari nya.
"Aku gak suka di cuekin kak...aku gak suka pokok nya.."
"Oke...baiklah...aku gak akan cuekin kamu lagi. Tapi kamu ngomong dulu besok kamu mau kemana? tadi aku liat sepertinya kalian sibuk banget siapin ini itu sampai gak denger aku ucap salam sampai dua kali lho gak ada yang sadar.. ya udah aku duduk aja tungguin kalian kelar..eh ternyata gak kelar-kelar sampai aku ketok-ketok pintu sambil ngucap salam baru deh di denger". Ucap Ando panjang lebar terselip sedikit nada kesal disana.
Felisha terdiam sejenak mendengar penuturan Ando yang ternyata sudah sejak lama dia datang ke kost-an. Itu berarti ada kemungkinan dia mendengar semua percakapan mereka tadi.
" Kak Ando tadi denger kita ngomongin apa?" Sambil melepaskan pelukan nya Felisha bertanya kepada Ando.
__ADS_1
"Yaa banyak lah..." Jawab Ando menatap kekasih nya yang terlihat mulai panik. Yang di tatap hanya menunduk memilin jari tangan nya.
"Emang tadi kalian ngomongin apa? ngomongin aku ya?" Ando mengulum senyum menggoda kekasih nya. Senang melihat sang kekasih yang bingung ingin menjelaskan tapi tak tahu harus memulai nya dari mana.
"Tadi siang aku dan Lita dapet panggilan dari kantor tempat kita berdua masukin surat lamaran kerja..." Akhirnya Felisha bisa menjelaskan semua nya kepada Ando. Tak terkecuali tentang suara yang menelpon nya tadi mirip dengan suara si mantan yang tak lain adalah Mato.
Dengan sabar dan setia Ando mendengarkan curhatan kekasih nya itu sambil menatapnya lekat. Mencoba mencerna apa yang sudah di ceritakan oleh wanita yang berada di hadapan nya sekarang dengan bersandar ke senderan bangku.
"Kak..."
"Hmm..."
"Enggak papa kan aku besok ke kantor Rayapharmindo buat interview?"
Hening...Ando tak langsung menjawab pertanyaan dari Lisha. Meraih dagu kekasih nya agar mendongak melihatnya, Ia menatap lekat ke dalam mata sang kekasih, seberapa besar keinginan nya untuk ikut interview besok. Ia melihat ada semangat dan harapan bisa masuk ke perusahaan tersebut. Dan akhirnya Ando mengangguk "Iya gak papa, asal kamu nya seneng aku ikut seneng" Ucap Ando yang langsung di hadiahi pelukan erat dari sang kekasih.
"terimakasih kak..." Ucap Lisha dan di angguki oleh Ando.
***
Keesokkan hari nya, Felisha dan Lita sudah siap untuk berangkat ke tempat tujuan masing-masing. Rufi senantiasa menyemangati ke dua sahabatnya yang hari ini akan berjuang untuk masa depan yang lebih baik. Sebelum berangkat mereka berdoa bersama. Kali ini Felisha menolak untuk di jemput oleh Ando karena dia akan pergi bersama sahabatnya Lita. Ando mengerti dan akhirnya mengalah, kebetulan siang ini dia juga akan keluar kota karena ada dinas luar yang kemungkinan dia pulang agak larut.
"Assalamu'alaikum..."
"Iyaa..ttdj...Wa'alaikumsalam..." Jawab Rufi.
Felisha dan Lita berangkat dengan naik angkutan umum yang lebih murah ongkos nya. Maklum karena masih berstatus pengangguran jadi harus lebih hemat. Kantor Rayapharmindo sudah terlihat, Felisha semakin deg-deg an akan mengikuti interview di kantor yang berdiri menjulang ke langit itu. Dia lebih dulu turun dari Lita, sedangkan Lita sendiri masih melanjutkan perjalanan nya menuju rumah sakit tujuan nya yang juga berada tak jauh dari kantor Rayapharmindo.
Dengan sigap Lisha merapihkan penampilan nya sambil berjalan menuju loby. Sesampainya di loby ia langsung menuju resepsionis dan mengatakan tujuan nya datang ke kantor tersebut. Dengan ramah sang resepsionis meminta pak satpam setempat mengantarkan Felisha ke tempat tujuan.
Sambil menunggu Lift terbuka yang akan mengantarkan mereka ke lantai dimana aula tempat para pelamar kerja menunggu itu berada, Lisha mengedarkan pandangannya di setiap sudut ruangan tempat ia berdiri.
Ting...pintu lift terbuka.
Pak satpam lebih dulu masuk kemudian di susul oleh Lisha. Di dalam terdapat dua orang wanita yang kalau di lihat dari penampilan nya mereka adalah karyawan di kantor tersebut. Tersenyum ramah kepada pak satpam yang juga membalas dengan ramah pula. Di dalam Lift tak ada yang bersuara.
Ting...pintu Lift kembali terbuka.
"Mari neng tak antarin ke dalem" Kata pak satpam sambil menunjuk ruangan yang cukup besar menurut Lisha yang ada di lantai itu dengan ibu jarinya. Sepertinya pak satpam nya orang jawa.
"Oh iya pak" Lisha mengangguk dan mengikuti langkah pak satpam yang bernama Sukirman sesuai dengan apa yang di lihat oleh Lisha di papan namanya.
__ADS_1
"Silahkan masuk neng. Silahkan bergabung dengan yang lain. Kalau begitu saya permisi dulu". Pak satpam segera pamit setelah mengantarkan Felisha.
" Ya pak terimakasih banyak sudah mengantar saya". Ucap Lisha dengan sedikit menundukkan badan nya.
"nggeh sami-sami neng".
Setelah kepergian pak satpam, Lisha masuk ke dalam aula yang ternyata disana sudah banyak para pelamar kerja yang duduk menunggu sambil bercengkrama. Lisha melihat disana ada Shinta, teman yang sejak memasukkan surat lamaran ia sudah bertemu dengan nya dan lumayan langsung akrab.
"Shinta.." Panggil Lisha sambil duduk di kursi kosong di sebelah Shinta. Seketika Shinta menoleh dan langsung terkejut melihat ada Lisha yang tentu saja akan melakukan interview hari ini sama sepertinya karena berada di satu ruangan yang sama dengannya.
"Heiii..Lisha..aaa..akhirnya aku ada temen". Shinta langsung memeluk Lisha merasa senang akhirnya memiliki teman untuk ngobrol karena sedari tadi dia hanya menunduk melihat handphone miliknya. Kerena tak ada teman ngobrol dia memilih mengutak-atik hp. Lisha balas memeluk Shinta. Akhirnya mereka mengobrol sambil menunggu panggilan.
Satu persatu orang-orang yang berada di ruangan itu di panggil untuk melakukan tanya jawab di ruang interview. Lisha begitu gugup maklum ini kali pertama ia mengikuti tahap ini. Namun kegelisahan nya sedikit terobati dengan adanya Shinta di sampingnya. Mereka sama-sama saling menenangkan dengan berpegangan tangan yang sudah sama-sama dingin itu.
Dan sekarang giliran Lisha yang masuk. Mendorong pelan pintu kaca lalu mengucapkan salam dengan pelan yang seperti berupa bisikan untuk dirinya saja dan tak di dengar oleh sang pemilik ruangan. Ia mendapati seseorang yang sedang duduk di balik meja dengan posisi membelakangi pintu masuk sambil mengutak-atik leptop yang ada di hadapannya dan sesekali melihat ke arah berkas-berkas yang ada di samping leptop nya. Sepertinya dia sibuk sekali tanpa menyadari kedatangan nya.
"Permisi pak." Ucap Lisha dengan sangat sopan.
Hening...seketika tangan laki-laki yang sedang bergerak-gerak di atas papan kibord itu terhenti saat mendengar suara Lisha. Ia berbalik dan deg deg deg...jantung Felisha berdetak lebih cepat dari biasanya seperti hendak keluar dari peradabannya. Secepat mungkin Felisha menetralkan detak jantung nya, jangan sampai terdengar oleh laki-laki yang sekarang berada di hadapannya.
Felisha yakin keadaan wajahnya sekarang tak bisa ia kembalikan seperti sedia kala yang cerah dan bersemangat tapi tak apa, ia akan berusaha sekuat mungkin untuk tidak terpengaruh oleh kenyataan yang di dapatinya pagi ini agar ia tetap terlihat baik-baik saja. Ia mengikuti alur yang ada.
Ia tak peduli lagi akan di terima atau tidak setelah ini. Berusaha tidak terpengaruh dengan keadaan sungguh sangat sulit bagi Lisha namun ia selalu mengembalikan konsentrasi nya selama sesi tanya jawab agar tetap fokus sampai waktunya selesai.
Setelah sesi tanya jawab selesai, Lisha buru-buru pamit undur diri namun tetap sopan.
"Terimakasih pak saya permisi". Ucap Felisha tersenyum manis dan menunduk dengan sopan lalu berbalik untuk meninggalkan ruangan yang membuatnya sesak pagi ini tanpa ada jawaban dari sang pemilik ruangan. Mato terpaku dengan senyuman itu. Sudah lama sekali ia tak melihatnya. Mato sangat merindukan nya.
" Lisha..." Suara bariton itu seketika membuat Felisha menghentikan langkah kakinya menuju pintu tanpa membalikkan badan. Diam menunggu kelanjutan dari panggilan itu. Ia mendengar langkah kaki mendekatinya. Memejamkan mata sejenak menarik nafas lalu membuangnya pelan dari mulut. Berusaha menetralkan jantung dan hati nya saat ini.
Semakin dekat jantungnya semakin tak terkontrol. Cepat-cepat ia membalikkan badan dan menghadap kepada laki-laki yang mencoba mendekatinya itu yang tak lain adalah Mato. Yang telah meninggalkan nya tanpa pesan. Mato semakin mendekat dan hendak meraih tangan nya namun langsung di tepis oleh Lisha.
"Maaf pak. Ada yang bisa saya bantu?" Ucapan Lisha berhasil membuat hati Mato seperti tertusuk pisau. Wajahnya langsung memerah menahan gejolak di dada. Ingin rasanya ia menarik Felisha ke dalam pelukannya, memeluknya dengan erat tanpa melepaskan nya lagi. Namun ucapan Lisha barusan membuatnya seperti jatuh dari ketinggian dan rasanya sakit sekali.
"Lisha..." Ucap Mato sekali lagi.
"Kalau sudah tidak ada yang harus di bicarakan saya permisi pak". Lisha segera berbalik menuju pintu dan pergi meninggalkan Mato yang terpaku melihat Lisha nya yang dulu sangat di cintainya sekarang seperti orang yang tak mengenalnya. Ada sakit, kecewa, benci dan rindu yang ia lihat di mata wanita yang sudah di tinggalkan nya itu. Ia tak tahu harus berbuat apa setelah pertemuan nya dengan Lisha yang pertama kali setelah bertahun-tahun meninggalkan nya tanpa kabar sama sekali.
Segera berbalik dan kembali duduk di kursi. Diam sejenak kemudian meneguk air putih yang ada di atas meja sampai tandas berharap mood nya kembali baik karena masih ada peserta lain yang harus di interview hari ini. Berusaha bekerja dengan profesional tanpa melibatkan hati yang sedang tidak baik-baik saja.
...****************...
__ADS_1