
Sekarang Ando dan Lisha sedang berada di kamar. Wajah laki-laki itu terlihat serius menatap laptop, sesekali Ando akan mengerutkan keningnya melihat-lihat email yang masuk. Saat ini ia sedang memeriksa pekerjaan dari kantor. Lisha kemudian pamit keluar kamar untuk bergabung dengan Ayah dan ibu di ruang keluarga.
"Kak..aku mau cerita-cerita sama Ayah sama ibu di ruang nonton..boleh ya?" Tanya Lisha yang merasa bosan karena melihat Ando yang hanya sibuk dengan laptopnya, padahal harusnya mereka sedang menikmati masa cuti.
Kebiasaan Ando yang kadang membuat Lisha ingin marah tapi segera ia alihkan dengan kegiatan lain seperti sekarang ini, Lisha memilih keluar kamar dan bergabung dengan kedua orang tuanya dari pada harus duduk menemani suaminya yang kalau sudah berhubungan dengan masalah pekerjaan suaminya itu akan terlihat serius dan seperti melupakannya.
"Hmmm..??"
"Aku mau keluar duduk cerita sama Ayah sama Ibu.." Lisha mengulangi ucapannya.
"Oohh...boleh sayang tapi cium dulu.." Ando menunjuk pipinya untuk di cium Lisha tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.
"Harus ya?" Lisha meringis, asalnya selama ini Lisha tak pernah mau kalau di suruh Ando menyium pipinya. Malu kata dia.
Ando yang duduk di tepi ranjang menoleh menatap Lisha yang berdiri di sampingnya.
"Harus sayang..kalau nggak mau biar aku yang cium.." Ando menyimpan laptopnya ke samping lalu bergeser mendekat seolah akan menyium Felisha.
"Iya iyaa...aku cium pipinya sekarang.." Terlihat Ando tersenyum mendekatkan pipinya. Lisha cemberut sambil menunduk mengarahkan bibirnya ke pipi Ando, setelah wajah Felisha hampir saja menyentuh pipinya, Ando langsung membalikan wajahnya hingga bibir Felisha mendarat dengan sempurna di bibir Ando.
Felisha yang tidak siap langsung menarik wajahnya cepat dan melengos malu, memukul pelan lengan laki-laki itu.
"Kamu tuh...tadi nunjuk ke pipi ini malah sengaja berbalik sampai mengenai bibir.." Ucap Lisha malu.
"Tapi kamu malah suka kaan.." Ando tersenyum lebar sampai gigi rapihnya terlihat.
"Ishh..udah ah..aku keluar sekarang.." Lisha buru-buru berjalan keluar meninggalkan Ando yang terkekeh melihatnya. Ando kembali melanjutkan pekerjaannya setelah punggung Felisha menghilang dari balik pintu.
Ketika sedang melihat-lihat email masuk, Ando tersenyum saat tiba-tiba terpikir akan malam unboxing mereka kemarin yang belum berhasil. Hasratnya seketika naik ketika mengingat pergulatan hebat yang sudah mereka lakukan walau belum berhasil membobolkan gerbang.
Ando kemudian menutup laptop nya lalu menyimpannya. Ando gegas mengetes kelayakan ranjang yang akan di pakai menggempur Felisha nanti malam (Aman). Lalu mengecek pintu dan kunci kamar (Aman). Terakhir menguji kedap suara kamar itu, apakah suaranya terdengar hingga keluar atau tidak.
"Lishaa...." Ando mencoba memanggil Felisha dari dalam kamar dan ternyata Lisha menjawab dan langsung mendatanginya.
"Ada apa kak?" Lisha membuka pintu kamar melongokkan kepalanya ke dalam.
"Nggak papa sayang, tadi ada yang mau aku tanyain tapi ngga jadi...kamu balik lagi sana ngga enak sama Ayah sama ibu.." Lisha terlihat bingung. Namun tak banyak bertanya ia kemudian kembali ke ruang keluarga.
Ando tertawa pelan setelah Lisha menutup kembali pintu kamar.
"Ah sayang sekali kamarnya ngga kedap suara...bagaimana kalau Lisha nanti teriak-teriak mende sah..." Ando hanya bisa berdoa semoga saat pergulatan nanti tak ada orang di ruang keluarga yang akan mendengar jeritan dari dalam kamar.
Setelah mengecek segala persiapan, Ando keluar dan bergabung bersama Ayah, Ibu dan Lisha. Tante Vania dan Ara belum juga pulang sejak tadi pagi. Benar-benar memanfaatkan kesempatan mumpung masih berada di Bandung.
Ando duduk memperhatikan Felisha yang tertawa-tawa mendengar cerita Ayah dan Ibu soal apa saja yang terjadi saat Felisha tak ada disana.
__ADS_1
"Dia terlihat semakin cantik saat tertawa lepas seperti itu bikin si adek bangun." Ando membatin berusaha menekan hasrat yang semakin membuncah saat ini.
"Ibu, gimana bunganya mau kita ambil langsung kesana atau mau menunggu aja kurir antarkan kesini?" Ibu langsung terlonjak kaget setelah Ayah bertanya soal bunga yang sejak tadi pagi di pesannya tapi belum nyampe juga.
"Ya Allah...naha teu acan dianteurkeun? Ibu sampai lupa sama bunga pesanan online yang tak kunjung datang.
" Tunggu sebentar Ibu ganti jilbab dulu, kita langsung kesana aja sekarang.. " Ibu buru-buru ke kamar mengganti jilbab rumahannya dengan jilbab yang lebih bagus buat keluar rumah. Tak lama kemudian Ibu keluar mengapit dompet hitamnya di bawah ketek sambil membenarkan jilbabnya
Setelah Ayah dan Ibu pamit keluar untuk mengambil bunga ke kampung sebelah, Lisha dan Ando kembali masuk kedalam kamar. Di dalam hati Ando bersorak sorai, sepertinya tidak perlu menunggu malam, siang ini pertempuran akan segera terjadi.
"Aaaaa..." Lisha teriak kaget saat merasakan tubuhnya melayang. Ando mengangkat Felisha di bahunya seperti sedang memikul beras. Membawanya ke atas ranjang yang sudah ia tes kelayakannya tadi.
Ando tak langsung membaringkan Felisha disana namun membawa Felisha ke pangkuan dan duduk di tepi kasur untuk pelan-pelan melakukan pemanasan global dalam kamar itu.
"Kak aku mandi dulu ya..aku gerah banget ini.." Lisha mengibas-ngibaskan kerah bajunya karena merasa gerah.
"Ntar aja mandinya sekalian.." Ando tak melepaskan Lisha dari pelukan.
"Kaakk...aku nggak nyaman banget di sentuh kalau aku gerah begini...aku mandi dulu ya..bentar aja kok aku ngga lama-lama.." Lisha memelas.
Dengan terpaksa akhirnya Ando melepaskan pelukannya, Lisha tersenyum turun dari pangkuan lalu segera masuk ke dalam kamar mandi. Di dalam Lisha memegangi dadanya yang sedari tadi berdegup kencang saat berada di pangkuan Ando. Lisha tak bisa berlama-lama di kamar mandi karena panggilan dari Ando dari kamar tak membiarkan.
"Sayang jangan lama-lama aku keburu sakit kepala.." Ando mengulang-ulang ucapannya sambil berbaring telungkup di atas kasur.
"Iya iya...ini udah beres tinggal dikit lagi.." Lisha bergerak cepat mendengar suara laki-laki itu yang sedari tadi mengulang-ulang ucapannya.
"Aku pakai baju dulu kak.." Lisha berjalan ke arah Lemari untuk mengambil pakaian.
"Ngga usah pakai baju sayang..ntar di buka lagi, belalainya udah ngamuk-ngamuk ini.." Ando meraih pinggang Felisha dan mendudukkan ke atas pahanya. Lisha merasakan ada yang mengganjal di bawah sana seketika wajahnya memerah karena malu.
Ando menciumi pipi dan lehernya sampai badan Felisha bergerak meliuk ke kiri dan kanan karena kegelian. Ando melepas handuk kecil yang melilit di rambut Felisha. Hasratnya semakin tak terkendali melihat rambut basah Felisha.
"Aku mau vitamin D sayang..." Tangan kanannya meremas vitamin D, nafasnya memburu dan menatap Lisha dengan penuh hasra t. Lisha mengangguk dengan malu-malu. Ando tersenyum senang dan melanjutkan sampai tangannya menyentuh vitamin B.
"Aahhh...kak.." Lisha menahan tangan Ando yang bergerak mengusap-usap vitamin B.
"Yang ini, kamu tahu ngga kenapa aku beri nama vitamin B?" Ando bertanya untuk mengalihkan perhatian Felisha sambil tangannya tak berhenti mengusap dan sesekali menekan vitamin B. Lisha menggeleng.
"Aku beri nama Vitamin B, vitamin Body. Karena dia berada di tengah-tengah dan merupakan inti tubuh." Ando tersenyum merasakan tubuh Lisha yang mulai rileks mendengarkan penjelasannya. Saat Ando merasakan genggaman tangan Lisha mulai mengendur, ia kemudian memasukkan tangannya ke dalam handuk yang di pakai Felisha mengusap perut ratanya.
"Aahhh..." Lisha kembali mende sah saat merasakan tangan Ando bergerak turun menyentuh vitamin B secara Live. Sekuat tenaga Lisha menahan tangan Ando.
"Buka aja ya handuknya?" Ando hendak melepaskan handuk yang masih menutupi setengah tubuh Felisha. Namun lagi-lagi Lisha menangkap tangannya lalu menggeleng.
"Kenapa?" Ando mengerutkan dahinya.
__ADS_1
"Malu kak.." Wajah Lisha sudah merah menahan hasra t.
"Kenapa masih malu? kan kemarin udah tidur bareng sampai roketnya udah sempet mendarat di depan gerbang.."
"Itu karena kak Ando main serobot aja..akunya sampai ngga bisa gerak karena di tekan badannya.." keluh Lisha.
"Ya udah sekarang aku mainnya pelan ngga main serobot lagi...tapi kamu nya harus kooperatif biar ngalir airnya.." Ando masih mencoba negosiasi agar permainan berjalan dengan mulus. Lisha kembali mengangguk malu.
Ando kemudian membawa Felisha ke tengah kasur, lalu kemudian melancarkan aksinya karena Lisha Akhirnya kooperatif mau di ajak kerjasama. Memulai sentuhan-sentuhan dengan penuh kelembutan yang membuat Felisha seakan melayang terbang ke Syurga.
"Aaaaaahhhh...sa sakit banget..." Ando menghentikan permainannya setelah mencoba menerobos benteng yang membuat Lisha tanpa sadar mengigit bahunya. Merasakan perih ketika Lisha melepas gigitannya namun perihnya menghilang saat berhasil masuk menembus pintu.
Diam tak melakukan pergerakan, menatap mata Felisha yang terpejam dengan nafas tersengal dan tes demi tetes air mata turun ke samping, Ando mengecupi seluruh wajah Felisha dan memainkan lama vitamin K dan D untuk sedikit mengalihkan rasa sakitnya. Setelah di rasa cukup tenang Ando kembali bermain dengan sangat lembut namun lama kelamaan permainannya semakin cepat, desa han kian terdengar memenuhi ruangan sampai akhirnya permainan selesai.
"AaaaaaaaaaaaaaaaaAaahhhhhhhh............I Love You Honey.. I Love You" Ando ambruk menindih tubuh Felisha sembari menciumi seluruh wajahnya namun tak lama kemudian ia menggulingkan badan ke samping. Sama-sama mengatur nafas yang tersengal karena pertempuran.
Ando menoleh melihat perempuan yang kini sudah ia miliki seutuhnya. Senyum terukir di wajahnya. Lisha masih setia memejamkan mata dengan dada yang masih sedikit terlihat kembang kempis tapi sudah tak seperti tadi.
Berbalik badan kesamping membawa Felisha kedalam pelukannya sembari mengucapkan kata I Love You berkali-kali. Setelah nafas keduanya kembali normal, Ando berniat mengulangi pertempuran mereka tapi ia urungkan karena mendengar suara Ibu yang mengucapkan salam dari luar.
"Assalamu'alaikum..." Ucapan salam dari Ibu hanya di jawab dengan gumaman Ando dan Felisha.
"Wa'alaikumsalam..." Jawab keduanya namun seperti berbisik.
Ibu membuka pintu rumah yang tidak terkunci di susul Ayah dari belakang. Ibu mengerutkan dahi saat mendapati rumah terlihat sepi seperti tak ada penghuninya. Saat Ibu hendak ke kamar Felisha, Ayah langsung mencegah.
"Ibu mau kemana?" Ayah memegang kedua bahu Ibu lalu membawanya berbelok masuk ke dalam kamar utama, kamar mereka.
"Mau ke..."
"Ssssttttt...anak-anak jangan di ganggu dulu bu..kamu lupa kalau mereka pengantin baru??" Ayah mengingatkan Ibu sambil hidungnya kembang kempis menahan senyum.
"Ayok..kita jangan mau kalah sama pengantin baru.." Ajak Ayah yang langsung mendapat cubitan keras di perutnya.
"Aduuuhhhh...kamu nyubitnya ngga tanggung-tanggung sampai merah begini.." Ayah meringis sambil mengusap perutnya yang merah kena cubitan Ibu. Ibu tertawa sambil ikut mengusap perut Ayah.
"Kamu sih pakai bilang jangan mau kalah ama penganten baru sagala..udah tua Yah....kita ngga akan sanggup ngalahin penganten baru yang tenaga na hm..." Ibu tersenyum malu-malu sambil mengacungkan jempol ke hadapan Ayah.
"Ayah masih kuat...ibu aja yang suka K O kalau mainnya lama.." Ayah langsung gercep membawa Ibu ke kasur saat melihat senyum malu-malu dari ibu.
Dan Akhirnya siang itu sepasang pengantin baru dan sepasang pengantin yang sudah hampir kadaluarsa beradu kuat. Kira-kiranya siapa yang akan jadi pemenang?
...****************...
Jumat barokah 😇
__ADS_1
Semoga menghibur yaa 🤗