Suami Sabarku

Suami Sabarku
Bab 58. Mamah atuuu!!????


__ADS_3

Ando melajukan kendaraannya menuju kos an untuk menyusul Felisha. Tapi di tengah perjalanan ia membelokkan mobilnya ke restoran siap saji, membelikan makanan untuk perempuan itu karena ia tahu kalau tadi Lisha tak sempat makan.


Setelah itu, Ando juga mampir ke salah satu cabang toko kue milik mamahnya yang berada tak jauh dari toko makanan siap saji itu. Membelikan beberapa kue kesukaan Felisha dan dua sahabatnya.


Kembali melajukan mobilnya menuju kos an. Meraih kresek yang ia simpan di jok belakang dan membawanya turun. Ia sudah bersiap dengan berbagai kemungkinan yang terjadi. Ando sudah terbiasa menghadapi perempuan itu saat marah.


Tok


Tok


Tok


Mengetuk pintu kamar Felisha tanpa mengucapkan salam. Tak ada jawaban dari dalam kamar itu. Baru saja Ando berniat untuk mengulangi mengetuk pintu, Rufi keluar dari kamarnya.


"Kak Ando?" Panggil Rufi sambil berjalan ke arah Ando.


"Eh Rufi, Lishanya ada di dalam?" Tanya Ando.


"Ada. Tadi katanya keluar tapi pulang-pulang nangis dia. aku tanya kenapa dia nggak mau jawab". Jelas Rufi yang memang ketika Lisha pergi bersama Yoga ia belum pulang dari tempatnya bekerja. Ia di beri tahu oleh Lita kalau Lisha pergi keluar.


Tok


Tok


Tok


" Shaaa..buka pintunya Sha ini aku Rufi.." Ucap Rufi di depan pintu Lisha. Rufi sedikit mengencangkan suaranya agar Lisha membukakan pintu untuknya.


Benar saja tak lama kemudian terdengar suara kunci pintu di buka. Lisha hanya memutar kenop pintu agar terbuka sedikit lalu kembali masuk ke dalam selimutnya, menutup seluruh tubuhnya hingga kepala.


Rufi membuka pintu lebar-lebar dan mempersilahkan Ando masuk.


"Ayo masuk dulu kak." Ucap Rufi. Ando mengangguk dan kemudian masuk. Memberikan paperbag kue dan kresek makanan jadi itu kepada Rufi.


Ando duduk di tepi kasur, mencoba meraih ujung selimut dan membukanya tapi ternyata Lisha menahannya.


"Sayang ayo isi tenaga dulu, biar kuat marah-marahnya". Ucap Ando. Rufi yang sedang mengeluarkan makanan, menggigit bibir bawahnya menahan tawa mendengar Ando bisa-bisanya membuat lelucon di saat seperti ini. Pikir Rufi.


"Sayang bangun, aku butuh penjelasanmu. Aku nggak akan pulang sebelum kamu jelasin semuanya sama aku". Ucap Ando sambil menarik ujung selimut Felisha. Tetap tak ada jawaban.


Ando menyimpan tangan nya ke sisi kiri dan kanan Lisha seolah akan menindihnya. Pelan-pelan selimut itu terbuka namun hanya sebatas mata yang ia perlihatkan.


" Kamu kenapa hmm...? yang harusnya marah itu aku loh sayang bukan kamu". Ando menurunkan selimut dan menampilkan wajah sembab perempuan itu. Sedikit terkejut melihatnya, Ando segera mengusap lembut pipi kekasihnya ia tak tega melihatnya seperti itu.


Lisha bangkit dari baringnya dan duduk tegak dengan selimut masih menutupi setengah badannya.


"Aku laper...mau makan". Ucap Lisha lemah. Ando dan Rufi yang mendengar menahan senyum.


Rufi memberikan makanan yang sudah di simpannya di piring kepada Lisha. Sedangkan Ando hanya sibuk memperhatikan perempuan yang sedang makan dengan lahapnya itu hingga selesai.


Setelah makan Lisha menarik selimut dan hendak berbaring kembali namun Ando langsung menahannya.


" Jangan baring dulu sayang". Ucap Ando. Lisha kembali duduk tegak. Rufi pamit kembali ke kamarnya membawa beberapa potong kue.


"Kamu mau tanya apa? Aku akan jawab". Lanjut Ando setelah Rufi pergi.


" Siapa perempuan tadi?" Tanya Lisha menatap lurus ke depan.


"Dia temen aku". Jawab Ando. Lisha tak puas dengan jawaban singkat seperti itu. Baru saja Lisha akan berbicara Ando sudah kembali berbicara.


" Dia beneran temen aku. Nggak lebih dari itu".

__ADS_1


"Tapi dia bukan hanya menganggap kamu sebagai teman, cara dia menatap kamu itu nggak seperti teman, kamu sadar nggak sih?". Lisha mendelik menatap wajah Ando.


" Itu bukan urusan aku sayang, yang penting aku nggak ngeladenin dia kan, aku hanya menganggap dia teman biasa aja". Ucap Ando. Seketika dada Lisha kembali bergemuruh.


"Kamu pikir dengan kamu pergi berdua, makan berdua seperti tadi itu nggak ngeladenin dia gitu??" Suara Lisha mulai meninggi.


"Hanya makan berdua sayang, ngga lebih dari itu".


" Tapi kalian janjian kan ketemunya disana?" Dada dan hidung Lisha kembang kempis karena emosi.


"Dia emang hubungin aku buat ketemu disana tapi aku hanya mau menemani makan saja nggak ada niat yang lain". Ucap Ando.


" Tadi kamu bilangnya sama aku kalau kamu capek seharian kerja, tapi ternyata dia hubungin kamu buat ketemuan di sana kamunya mau?" Air mata yang sedari tadi di tahannya akhirnya keluar juga.


"Sayang, dia temen lama aku dan dia baru aja datang kesini lagi setelah lama pindah dari sini makanya dia hubungin aku buat ketemuan seperti halnya temen lama". Ucap Ando frustasi.


" Kamu sendiri tahu kalau dia nggak hanya nganggap kamu temen biasa, tapi kamu malah mau dia ajak makan berdua seperti itu. Hiks hiks.." Lisha menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan terisak.


"Sayang, aku minta maaf kalau ternyata itu nyakitin hati kamu. Aku berani sumpah aku nggak peduli dengan dia menganggap ku apa tapi yang jelas aku hanya menganggap dia teman biasa sama seperti yang lain". Ando meraih bahu Lisha untuk di peluk namun di tepis. Ando menarik nafas dan membuangnya kasar.


"Kamu sendiri ngapain pergi berdua sama Yoga sepupu aku?" Ando bertanya dengan dingin. Teringat dengan Lisha yang juga pergi berdua dengan laki-laki lain. Lisha menghentikan isakkannya lalu mendongak, meraih tisu yang ada di atas nakas lalu menghapus air mata di wajahnya.


"Dokter Yoga adalah dokter di rumah sakit tempat aku bekerja, dia mengajakku untuk makan malam bersama karena kata dia ada yang mau dia bicarakan dengan ku. Jadi aku menyetujuinya karena aku nggak enak jika menolaknya bagaimana pun dia adalah dokter disana". Jelas Lisha dengan polos.


"Jadi kalau misalnya dia ngajak kamu nikah, kamu nggak akan nolak karena nggak enak hati?" Tanya Ando datar.


"Apa maksud kamu bicara seperti itu? kamu pikir aku perempuan apa?"


"Kata kamu, kamu nggak bisa nolak ajakan dia karena nggak enak hati kan itu artinya kalau semisal dia ngajak kamu untuk menikah kamu ngga bisa nolak dia karena nggak enak hati seperti yang kamu bilang".


" Kenapa kamu bicara seperti itu. Memangnya siapa yang mau ngajak aku nikah..dia hanya mengajak makan malam saja". Ucap Lisha.


"Kamu sadar nggak sayang, aku ini laki-laki sama seperti Yoga, aku tau gerak gerik laki-laki jika tertarik pada wanita, Yoga itu tertarik sama kamu, dia menyukaimu sayang". Jelas Ando panjang lebar. Berharap kekasihnya itu sadar dari kepolosannya.


" Apa? Aku..aku gak tau kalau dia menyukai ku, selama ini kami hanya pernah bertemu dua kali dan tak pernah berbicara satu sama lain. Bagaimana bisa dia tertarik sama aku". Kening Lisha berkerut, menatap wajah Ando yang terlihat frustasi.


"Kamu terlalu polos atau pura-pura nggak tau sayang".


" Kamu menuduh ku pura-pura nggak tau??" Lisha melotot kepada Ando.


Ando terkekeh dan meraih kepala Felisha yang tertutup hijab di peluknya sambil sesekali di kecupnya. Ando membuang nafas kasar. Betapa polosnya perempuan di pelukannya itu sampai tak menyadari jika ada lelaki yang menyukai dan ingin mendekatinya.


"Aku minta maaf sayang. Kamu mau kan maafin aku?" Tanya Ando menunduk menatap wajah sembab perempuan itu. Felisha mengangguk.


"Aku juga minta maaf". Ucap Felisha menatap jari-jari tangannya yang ia mainkan sejak tadi. Ando tersenyum lalu mengangguk.


Pelan-pelan Ando melepas pelukannya, menangkup ke dua pipi Felisha. Ibu jarinya bergerak mengusap bibir pink itu yang terlihat sedikit membengkak karena menangis.


Ando mendekatkan wajahnya dengan wajah perempuan itu, semakin dekat jantungnya semakin berdetak tak karuan seketika Lisha menutup matanya. Ando tak tahan melihat wajah polos perempuan itu setelah menangis. Hidung memerah dan bibir pink itu menggoyahkan imannya.


Ando takut tak bisa mengontrol dirinya, ia mendaratkan bibirnya di bibir ranum Lisha namun hanya mengecupnya sekilas lalu beralih ke pipi dan mengecup lama kening perempuan itu sambil menetralkan degup jantungnya. Setelah itu ia kembali membawa Felisha kedalam pelukannya sambil sesekali mencium wangi shampoo yang di pakai perempuan itu.


Felisha hanya diam tak mengeluarkan sepatah kata pun. Wajahnya menghangat mengingat kecupan sekilas di bibirnya.


" Sayang, aku udah jelasin ke Yoga kalau kamu adalah calon istriku, kamu adalah tunanganku dan akan menikah beberapa bulan lagi". Pelan-pelan Lisha melepaskan pelukannya dan mengangguk.


"Syukurlah kalau kamu udah jelasin semuanya ke dokter Yoga, semoga dia mengerti dan berhenti berharap dengan ku". Ucap Lisha tulus.


***


Sudah 2 hari ini Felisha tak pernah bertemu dengan dokter Yoga. Dokter Yoga tak pernah lagi terlihat di kantin rumah sakit itu.

__ADS_1


Lisha berharap silaturahmi mereka tidak putus karena walau bagaimana pun ia akan menjadi bagian dari keluarga Ando yang otomatis mereka akan menjadi satu keluarga dengan dokter Yoga.


Ddrrrtttt


Ddrrrttttt


Ponselnya bergetar pendek tanda ada pesan yang masuk. Di rogohnya saku seragam putihnya mengambil ponselnya itu. Memeriksa kotak pesannya dan tertera nama dokter Yoga di sana. Di bukanya pesan itu dan Lisha terdiam setelah membaca pesan yang di kirim oleh dokter Yoga.


" Sha..apa aku masih boleh menemui mu?"


"Tentu saja boleh dokter. Dimana aku bisa menemui dokter?"


"Di restoran depan rumah sakit setelah istirahat".


" Baik dokter".


Lisha menyimpan kembali ponselnya setelah berkirim pesan lalu melanjutkan pekerjaannya. Tapi pikiran melayang kepada sang kekasih, apakah ia harus memberitahu Ando atau tidak soal ini. Jika memberitahu takut Ando akan salah paham lagi kepada dokter Yoga jika tidak memberitahu nya takut Ando salah paham padanya. Lisha membuang nafas kasar. Tapi ia tetap harus meminta izin Ando karena walau bagaimana pun Ando adalah calon suaminya.


Melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul 10 pagi. Ia beranjak pergi ke toilet. Lisha masuk ke dalam toilet lalu merogoh ponselnya untuk menghubungi Ando.


"Halo, Assalamu'alaikum sayang". Ucap Ando saat panggilannya terhubung.


" Wa'alaikumsalam...Mmm aku ganggu waktu kamu nggak?" Tanya Lisha basa basi.


"Ada apa sayang?" Ando tak menjawab pertanyaan basa basi Lisha karena ia tahu kalau pasti ada hal penting yang akan ia bicarakan sampai menghubungi nya di jam kerja seperti sekarang ini.


"Mmm..begini kak...dokter Yoga tadi memintaku untuk menemuinya di restoran depan rumah sakit. Boleh?" Izin Lisha ragu-ragu.


Tidak ada jawaban dari seberang sana. Ando terlihat berpikir sejenak. Teringat percakapannya dengan dokter Yoga kemarin setelah bertemu di restoran malam itu bersama Lisha. Ando menarik nafas dan membuang nya kasar.


"Baiklah aku izinin. Tapi kamu harus ingat kalau kamu tunangan aku, milik aku. Jadi menjaga jarak dengannya lebih baik". Ucap Ando tak ingin di bantah.


" Baiklah kak. Kalau gitu aku tutup ya telponnya aku mau lanjut kerja. Assalamu'alaikum..."


"Wa'alaikumsalam..."


Setelah panggilan di tutup, Ando menyandarkan punggungnya ke kursi. Mengingat perkataan Yoga kemarin saat bertemu lagi dengannya setelah pertemuan tak sengaja di restauran malam itu bersama Lisha.


***


Waktu istirahat tiba. Lisha dan Lita berjalan menuju restauran yang berada di seberang jalan rumah sakit itu. Sesampainya disana Lisha dan Lita mengedarkan pandangan mencari nomor meja yang sudah di pesan dokter Yoga.


"Disana Sha.." Lita menunjuk keberadaan dokter Yoga yang melambaikan tangannya saat Lita melihatnya.


Mereka kemudian berjalan menuju arah dokter Yoga. Tetapi kening Lisha berkerut saat melihat anak perempuan yang juga duduk bersebalahan dengan Yoga.


"Halo dokter, maaf menunggu". Ucap Lisha canggung.


" Nggak papa santai aja, silahkan duduk". Dokter Yoga mempersilahkan mereka duduk dan memperkenalkan putrinya kepada Lisha dan Lita.


"Naura sayang kenalin ini tante Lisha dan ini tante Lita". Lisha, Lita maaf aku bawa Naura putriku untuk bertemu dengan kalian karena di rumah nggak ada temennya". Ucap Yoga yang membuat kedua perempuan itu heran.


" Oh hai Naura...cantik banget..salam kenal ya dari tante". Ucap Lisha dan Lita tersenyum manis kepada Naura.


"Halo tante atu Nola". Jawab anak perempuan itu yang langsung membuat ke duanya gemas mendengar ucapan Naura yang masih cadel menyebutkan huruf dan menyebut namanya Nola yang maksud dia adalah Naura.


" Tante Lisha mamah atu?" Tanya Naura.


"Naura sini sayang biar papah pangku ya". Ucap Yoga mengalihkan suasana.


Sedangkan Lisha dan Lita saling pandang, terkejut mendengar Naura memanggil Lisha mamah.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2