
WARNING !!!
18+
Yang belum cukup umur part ini di skip aja!!!
langsung baca part berikutnya!!!
Perlahan aku melepaskan pelukan kami karena merasa mulai sesak. Kak Ando menggenggam erat tanganku dan membawaku pergi dari tempat itu.
Kamipun menjauh dari sana. Aku mengikuti kemanapun kak Ando melangkah. Ia terus menggenggam tanganku pergi menuju tempatnya memarkir mobil. Kak Ando ternyata membawaku pergi meninggalkan rumah sakit itu.
__ADS_1
Membukakan pintu mobil lalu menyuruhku masuk. Aku hanya menuruti tak berani membantah. Ia kemudian mengitari mobilnya itu dan masuk duduk di bangku kemudi. Kak Ando tak langsung melajukan kendaraannya melainkan duduk diam sambil menggenggam erat kemudinya dengan rahang mengetat seperti sedang menekan rasa marahnya. Aku ikut diam tak berani mengeluarkan suara. Menunduk sambil memilin-milin ujung bajuku.
Ekspresi yang baru aku lihat selama bersamanya. Sebenarnya aku di buat bingung dengan ekspresi nya itu, karena ketika tadi berada di balkon ia menampilkan senyum lebarnya menyambutku tapi kenapa sekarang malah yang terlihat ia sedang menahan amarah. Apakah marah padaku yang berani bertemu laki-laki lain hanya berdua seperti tadi ataukah marah kepada kak Mato yang mencoba mendekatiku lagi. Entahlah.
Ingin sekali aku menanyakannya tapi sepertinya ini bukan waktu yang tepat. Aku membiarkan dia untuk memulai pembicaraan lebih dulu.
Kak Ando menoleh ke arah ku dan menatapku dalam. Akupun hanya bisa menatapnya. Dan tiba-tiba saja ia meraih tengkuk ku, seketika aku menutup mata merasakan sentuhannya. Apa ini? aku merasakan tubuhku seperti tersengat listrik dengan sentuhannya. Otakku ingin menolaknya namun bertolak belakang dengan tubuhku. Tubuhku begitu menikmati sentuhan-sentuhan lembutnya.
Mengecup dan melu*** bibirku yang awalnya lembut namun perlahan sedikit bersemangat hingga membuat ku kehabisan nafas. Sepertinya ia mengerti kalau aku butuh oksigen. Ia melepaskan sebentar namun kembali menyatukan nya dan sepertinya semakin tak terkendali. Tangan besarnya ikut bergerak mengusap-usap punggung hingga tengkuk ku membuat ku semakin terhanyut.
Ia kemudian menempelkan dahinya ke dahiku. Mengatur nafas yang masih sama-sama tersengal sambil membisikan kata "I love you".
__ADS_1
Setelah merasa nafas sudah lebih teratur ia mengecup seluruh wajah ku lalu membawaku ke dalam pelukannya. Ku dengar detak jantungnya yang berdetak lebih cepat dari biasanya. Berkali-kali ia membisikan kata " I Love You" di telingaku. Aku tak mampu membalas kata-katanya, hanya mampu mengangguk.
Lama kami berdiam diri dalam posisi berpelukan. Pelukan yang begitu hangat yang diam-diam selalu ku rindukan. Aku yang diam-diam selalu merindukan perhatian laki-laki ini. Sehari saja tanpa dirinya terasa menyiksa. Aku yang selama ini tak pernah menyadari betapa aku mencintainya, menyayanginya dan takut kehilangannya.
Tanpa terasa air mataku mulai menetes kembali mengingat betapa bodohnya aku yang tak pernah menyadari betapa beruntung nya aku di pertemukan dengan laki-laki ini. Dia yang sudah begitu sabar menghadapi ku selama beberapa tahun ini. Dia yang selalu ada saat aku sedih. Dia yang selalu mengalah dan menerima ku apa adanya. Dia yang selalu membuatku merasa di hargai dan di lindungi.
Air mataku kini sudah mengucur bebas tanpa bisa ku tahan. Kak Ando merasakan bahu ku yang terguncang karena menekan suara tangisku pun menunduk menatapku. Meraih wajah ku dan lagi-lagi mengecup kedua mataku bergantian.
"Sudah..jangan menangis sayang..kita akan lalui bersama-sama.. aku nggak akan pernah meninggalkan kamu sendirian apapun yang terjadi.." Ucapnya menenangkan ku sembari mengusap wajahku yang penuh air mata.
"Bersabar sedikit lagi sayang..setelah Ijab kabul sudah ku ucapkan untukmu maka tidak ada lagi kesempatan nya mengejar dan mengganggumu". Lanjutnya dengan yakin.
__ADS_1
Lagi-lagi aku hanya bisa mengangguk mendengar semua ucapannya.
...****************...