Suami Sabarku

Suami Sabarku
Bab 49. Kenyataan tak sesuai dengan yang terlihat


__ADS_3

Sepulang dari kos an, Ando kembali ke rumah untuk menyelesaikan pekerjaan yang tertunda sejak kemarin. Gegas ke kamar dan berkutat dengan laporan.


ting.


Bunyi pesan masuk di handphone nya. Meraih ponselnya dan memeriksa.


"Assalamu'alaikum pak. Izin melaporkan informasi yang kami dapat untuk sementara laki-laki itu bekerja di kantor Rayapharmindo". Isi pesan dari seseorang.


Menutup ponselnya lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. Terlihat berpikir. " Mungkinkah Kekasihnya itu tiba-tiba ingin mencari kerja di tempat lain dan tak mau jika harus bekerja di Rayapharmindo karena tak ingin bertemu dengan laki-laki itu yang ternyata juga bekerja disana?" Batin Ando.


Tersenyum tipis. Hatinya tiba-tiba merasa seperti banyak bunga-bunga bermekaran yang menggelitiki jika memang itu benar. Kalau Felisha sedang berusaha menghindari sang mantan demi dirinya.


Diam-diam ia merasa sebenarnya cinta Felisha sudah mulai tumbuh untuknya namun kekasihnya itu tak menyadarinya. Ahh sungguh polos perempuan itu.


Kembali fokus mengerjakan pekerjaannya karena esok hari ia akan kembali dengan rutinitas sehari-hari.


***


Malam hari,


"Jadi beneran Sha kamu gak mau bekerja di Rayapharmindo?" tanya Lita setelah mendengar jika sahabatnya itu ingin mencari kerja selain di Rayapharmindo. Setelah shalat maghrib ketiganya memilih duduk bercengkrama sambil menunggu waktu Isya. Nanti setelah shalat Isya barulah mereka akan makan malam.


Felisha mengangguk. "Kamu gimana Ta di rumah sakit AA?"


"Alhamdulillah...aku diterima bekerja disana".


" Aaaaaaaa bener Ta?" Rufi seketika teriak saat Lita dengan santainya mengatakan kalau ia diterima bekerja disana.


"Astaghfirullahal'adzim...Rufiiiiii". Lisha dan Lita sontak saja ikut berteriak karena kaget dengan teriakan Rufi.


" Kamu kok baru ngomong sekarang sih???" Ucap Rufi sambil memukul pelan lengan Lita lalu memeluknya erat dan mengucapkan kata selamat atas di terimanya sahabat mereka itu.


"Ya Kan aku baru dapet email nya tadi Fi..nih lihat aku dapet email informasi di terima bekerja di rumah sakit AA". Lita memperlihatkan email masuk di ponselnya dari pihak rumah sakit AA.


" Coba lihat". Lisha mendekat untuk melihat. "Waaahhhh selamat ya Ta..semoga betah dan lancar kerjanya disana". Ucap Lisha sambil ikut memeluknya.


Lita mengangguk dan tersenyum. Bersyukur memiliki sahabat yang selalu saling support dalam hal apapun itu untuk kebaikan.


" Alhamdulillah...Kamu kapan mulai masuk kerjanya Ta?" Tanya Lisha saat mengakhiri pelukannya.


"Insha Allah senin nanti aku udah bisa masuk Sha".


" Doain kita juga ya Ta biar cepet dapat kerjaan". Ucap Rufi yang di angguki Lisha.


"Tentu saja..aku selalu doain kalian". Ketiganya kembali berpelukan sebentar lalu tertawa bersama.


"Eh Shaa...lukanya kak Ando gimana? udah buka perbankah?" Tanya Rufi.


"Belum. Tadi kata dokter lukanya masih sedikit basah jadi masih harus di perban biar gak infeksi". Jawab Lisha.

__ADS_1


" lukanya kamu lihat langsung gak tadi?" Lita


"Lihat..aku temenin dia waktu perbannya di ganti. Ternyata lukanya di jahit sembilan jaitan." ucap Lisha.


"Ya Allah. Lumayan besar ya lukanya". Rufi bergidik ngilu saat membayangkan luka yang ada di lengan Ando.


Mengangguk dan terdiam sejenak. Lisha kemudian berniat menceritakan kejadian tadi siang saat di restoran.


" Aku tadi ketemu kak Mato di restoran depan rumah sakit AA". Ucap Lisha yang tiba-tiba sendu.


"Ha? Berarti kak Ando juga dong". Lita.


Felisha mengangguk. Menarik nafas lalu membuangnya dengan kasar.


" Terus gimana reaksi mereka saat bertemu?" Rufi.


"Kak Mato ngeliat aku dan kak Ando masuk ke dalam restoran. Saat kami baru saja duduk kak Mato datang menghampiri........" Lisha akhirnya menceritakan semua kejadian saat di restoran siang tadi.


"Ya ampun kak Mato gak tahu diri banget ya". Ucap Lita dengan dahi berkerut. Merasa jengkel dengan kelakuan mantan kekasih sahabatnya itu. " Kak Ando bener-bener sabar dan dewasa. Memberikan waktu untuk kalian berdua selesain masalah yang tertunda".


"Kamu harus segera bertemu dan bicara baik-baik dengan kak Mato..biar semua jelas. Mungkin pikir kak Mato hubungan kalian tidak pernah di akhiri jadi dia gak mau lepasin kamu gitu aja". Rufi


" Iya Sha..kamu harus tegas biar kak Mato gak harapin kamu lagi. Kamu gak boleh biarin dia ngerusak hubungan kamu dengan kak Ando. Ingat kebaikan kak Ando dan keluarganya sama kamu Sha. Mereka udah nganggap kamu seperti keluarga sendiri". Nasehat Lita.


Felisha diam. Mendengar nasehat dari kedua sahabatnya membuatnya sadar betapa selama ini Ando dan keluarganya sangat baik kepadanya. Tak ada alasan untuk ia meninggalkan Ando hanya demi seorang Mato yang kenyataanya telah menorehkan luka di hatinya.


Rufi dan Lisha tersenyum mendengar ocehan Lita yang terkesan berlebihan namun tak bisa di pungkiri kalau semua benar adanya.


"Ya tapi kan aku bukan kamu Ta.." Ucap Lisha dengan senyum tertahan. Sengaja memanas-manasi sahabatnya itu. "Aku kan cintanya sama kak Mato..gimana dong". Ucap Lisha dengan memasang wajah pura-pura sedih yang tanpa mereka sadari ada seseorang yang sedang mendengarnya.


Seketika senyum lebar terukir di bibirnya saat mendengar ucapan Felisha tadi. Tak ingin menggangu ke tiga perempuan yang sedang asik berbincang itu. Ia lebih memilih mendengarkan sampai selesai.


"Ya udah kalau gitu kak Ando buat aku aja" Ucap Lita.


"Emang kak Ando mau sama kamu?" ledek Felisha yang membuat Rufi tertawa.


"Hahahaha...udah biar sama aku aja". Ucap Rufi.


"Yeeeee kak Ando gak bakalan mau sama kita berdua karena hatinya udah ada di genggaman dia tuh". Ucap Lita mengarahkan dagunya kepada Felisha. Sontak saja membuat perempuan itu tertawa-tawa mendengar ucapan Lita.


"Nah itu tau. Masih aja niat. gak akan mempan dia... udah terlanjur cintanya sama aku..hehehe". Ucap Felisha sombong. Senyum seseorang yang berdiri di luar perlahan memudar.


"Awas ntar gigit jari lho. di ambil orang baru nyaho kamu.." Ucap Lita lagi tak mau kalah.


"Astagfirullahal'adzim doanya jelek banget ih.." Lisha menoyor lengan Lita sambil beranjak keluar kamar dan betapa terkejutnya saat hampir saja menubruk tubuh jangkung laki-laki yang berdiri tepat di depan pintu kamar yang sedari tadi tak tertutup dengan rapat.


"Aaaaaaaa..... Astaghfirullahal'adzim.... siapa si bikin kaget aja". omel Lisha perlahan mendongak melihat siapa yang hampir saja di tubruknya. Lagi-lagi ia di buat terkejut karena ternyata Mato lah yang berdiri di hadapannya saat ini.


Sedangkan ke dua sahabatnya, Rufi dan Lita juga ikut terkejut dan langsung terdiam saat melihat siapa yang berada disana. Keduanya ternganga melihat penampilan Mato dari atas sampai bawah, laki-laki yang selama ini selalu rapih dan keren itu terlihat membiarkan saja rambutnya yang kriwil sedikit acak-acakan tak serapih biasanya. Berbeda dengan penampilannya yang kemarin ketika pertama kali datang menemui Felisha setelah menghilang.

__ADS_1


Buru-buru Lisha membalikkan badannya untuk kembali ke dalam kamar namun Mato mencegahnya dengan cepat.


" Tunggu Sha...aku mau ngomong sama kamu" Ucap Mato menahan lengan Felisha.


"Mau ngomongin apa? aku gak ada waktu buat ngomong sama kamu".


" Sebentar saja. Aku janji gak bakal lama". Mohon Mato dengan wajah sendunya.


Melirik dua sahabatnya yang masih berada di dalam kamar. Meminta pendapat mereka tanpa suara. Rufi dan Lita mengangguk samar yang hampir tak terlihat.


"Lepas" Ucap Felisha melihat genggaman tangan Mato di lengannya.


"Aku gak mau lepas kalau kamu gak izinin aku untuk bicara sebentar sama kamu".


" Lepasin. Aku mau duduk di luar". Ucap Lisha. Perlahan Mato melepaskan genggaman nya lalu memberikan jalan kepada Felisha untuk duduk di kursi teras yang ada di sana.


Mato membiarkan perempuan itu untuk duduk lalu kemudian ikut duduk tepat di hadapan Felisha.


"Terimakasih udah mau kasih aku kesempatan".


" Gak usah basa basi..cepat ngomong kamu maunya apa".


Mato diam menatap perempuan di hadapannya. Betapa hatinya teriris melihat wanita yang di cintainya seperti tak lagi mengharapkan kehadirannya. "Apa yang aku harapkan. Ternyata sedalam itu aku menorehkan luka di hatinya sehingga sikapnya berubah 360 derajat dari yang ku tahu selama ini". Mato membatin.


" Aku..aku minta maaf". Ucap Mato terhenti. Tak sanggup melanjutkan.


"Gak perlu minta maaf. Aku baik-baik aja selama ini. Kamu gak perlu khawatir in aku". Lisha membuang pandangannya ke sembarang arah.


" Aku tetep akan minta maaf sama kamu. Bagaimanapun caranya aku akan meminta maafmu sampai kamu berikan". Ucap Mato yang langsung turun dari duduknya. perlahan menekuk lututnya untuk bersujud di hadapan perempuan itu. Sontak saja Felisha berdiri.


"Jangan kaya gini kak. Aku gak suka. berdirilah". Ucap Felisha sambil meraih pundak Mato menyuruh berdiri dari sujudnya.


" Aku gak akan berdiri sampai kamu maafin aku". Ucap Mato.


Rufi dan Lita menutup mulutnya terkejut melihat posisi mereka saat ini. Dimana Mato yang bertekuk lutut di hadapan Felisha.


"Ayolah kak jangan begini. Apa kata orang jika ada yang lihat".


" Biar saja. Biar semua orang tau kalau aku bersalah sama kamu. Biar semua orang tau kalau aku cinta sama kamu. Aku mohon maafin aku". Ucap Mato dengan kencang. Matanya memerah sekuat mungkin di tahannya air mata yang hendak keluar.


"Ya..aku maafin. Tapi aku mohon kamu jangan kayak gini kak. Ayo berdirilah". Ucap Felisha yang langsung membuat Mato seketika berdiri dan memeluk erat perempuan itu. Merasakan detak jantung laki-laki yang memeluknya erat saat ini berdegup kencang. Menutup mata sekuat tenaga tak ingin meneteskan air mata. Felisha membiarkan Mato memeluknya yang ia anggap ini adalah pelukan terakhir. Setelah ini Ando akan menjadi prioritasnya. Tak akan ada lagi laki-laki lain selain Ando. Itu yang ada di pikiran Felisha saat ini.


Dari jauh seseorang melihat adegan itu. Diam terpaku lalu kemudian membalikkan badan dan masuk kedalam mobil. Melempar paper bag yang ada di tangannya ke kursi yang ada di sampingnya. Mencengkram kemudi dengan kuat. Menarik nafas lalu di hembuskan dengan pelan berharap mengurangi sesak di dada. Menenangkan pikirannya dan tersenyum smirk ditujukan untuk dirinya sendiri. Entah apa yang ada di pikirannya. Perlahan melajukan mobilnya pergi meninggalkan tempat itu.


...****************...


Halo semuanya 🤗 Maaf ya baru sempat Up lagi di karnakan beberapa hari ini waktunya padat banget jadi gak ada celah buat nulis😥


Selamat membaca 🤗🙏🏻

__ADS_1


__ADS_2