Suami Sabarku

Suami Sabarku
Bab 6. Jawaban2


__ADS_3

Lita mengangkat dua jari nya membentuk huruf V di udara sambil tersenyum simpul. "piisss.." Eitss jangan sembarangan ya, aku tuh sama kak Bara cinta yang sesungguhnya bukan cinta karena ada maunya..hehee.."


Felisha dan Rufi hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan sahabat mereka itu.


"Awas kamu ya kalau niatnya pacaran sama kak Bara cuma mau manfaatin dia aja, aku aduin lho." Ancam Felisha pada Lita


"Enggak Sha, aku tuh beneran sayang sama kak Bara mana mungkin aku pacaran sama dia cuman buat manfaatin kak Bara doang. suer.." Lita lagi² mengangkat dua jari tangan nya membentuk V


"Tapi kamu boleh coba buat Nerima kak Muza Felisha, gak salah juga kan? siapatau dengan berjalannya waktu mulai tumbuh tuh benih-benih cinta di hati kamu..hehee.." Rufi mencoba memberikan solusi tanpa masalah, 'kaya pegadaian aja sih Fi


"Bener tu Sha.." Lita menimpali


Felisha menghela nafas panjang. "Nanti lah aku pikirin lagi." tandanya tak mau memperpanjang pembahasan yang berat itu.


"Ini udah matang, nasinya udah blum Fi?" tanya Felisha pada Rufi yang sedang mengeluarkan nasi putih dari reskuker.


"Udah." jawab Rufi


"Udangnya juga udah matang nih" Lita


"Oke." Felisha


Tiga serangkai Felisha, Rufi dan Lita bergegas membersihkan diri sebelum makan, tak lama mereka kembali berkumpul untuk menyantap makan siang yang sudah siap di lantai kamar Felisha. Ya, mereka duduk melantai karena gak ada meja makan, adanya hanya meja belajar di kamar itu atau meja rias milik Felisha, tentu saja. mau milik siapa lagi coba. hehe


...****************...


3 hari berlalu


Felisha Pov


Sayup-sayup ku dengar Adzan di masjid, aku segera beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan berwudhu, aku segera melaksanakan Sholat subuh.


Hari ini adalah hari dimana aku akan memberikan jawaban atas pertanyaan yang kak Muza berikan tiga hari yang lalu. Sejak saat itu aku gak pernah lagi bertemu dengan nya, mungkin dia sengaja memberikan aku waktu untuk berpikir tanpa bertemu dia dulu. Aku sebenarnya mempertimbangkan juga pendapat sahabat ku Rufi, mungkin aku bisa mencoba untuk menerimanya sebagai bentuk penjajakan antara aku dan kak Muza kan? hehe. Ya..siapa tau lama-lama akan timbul rasa suka terus cinta kan gak ada yang tau. Jujur saja, aku gak pernah sekalipun mau pacaran kalau aku gak ada rasa sama orang itu. Selama ini kalau pacaran ya suka sama suka. But, apa salahnya mencoba siapa tau aja nanti ada rasa, siapa tau?? hehe


Aku berjalan menyusuri koridor kampus bersama dua sahabatku Rufi dan Lita tentu saja dengan siapa lagi kalau bukan mereka. Kami mengobrol ringan tanpa melihat sekeliling. Hari ini sengaja kami datang lebih awal karena sebelum masuk ruang kelas kami menuju kantin terlebih dahulu karena pagi ini kami bertiga akan sarapan di sana.


Di kantin belum begitu ramai, kami memesan makanan sesuai selera masing-masing, aku memilih nasi goreng sedangkan Rufi dan Lita memilih memesan soto ayam. Kami duduk di bangku yang posisinya agak ke sudut, sengaja kami memilih di sana agar bebas mengobrol. Toh ini masih jam 6 lewat 10 menit sedangkan dosen baru akan masuk jam 8 pagi jadi kami punya banyak waktu untuk mengobrol.


"Sha, jadi gimana keputusan kamu, mau gak sama kak Muza?" Lita memulai pertanyaan nya dengan senyum menggoda ciri khas seorang Lita.


"Rahasia." Aku hanya menjawab singkat dengan senyum tipis. biar aja dia penasaran. hehe


"Ish..sekarang main rahasia-rahasiaan ya, oke baiklah kalau begitu." katanya sambil mencebikan bibir tak terima kalau aku bilang rahasia.


Rufi hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat kami yang berdebat. "kalau aku sih yes, coba aja dulu kan." celetuk Rufi membuat kami langsung menoleh ke arahnya.


Obrolan kami tertunda saat makanan pesanan kami datang yang di antarkan oleh anaknya ibu kantin yang bernama Susi. Kami menyantap makanan masing-masing sambil melanjutkan obrolan kami saat Susi sudah kembali ke dapur kantin.


"Aku denger, Kak Muza punya mantan yang se angkatan dia tapi beda ruangan." kata Rufi.

__ADS_1


"Denger darimana?" Lita


"Dari sepupu aku, kak Reni" Rufi.


"Namanya siapa?" Lita si Miss kepo


"Kalau gak salah Indri, ya namanya Indri. mereka seangkatan, makanya kak Reni tau." Rufi


"Woaahh..gimana ya kalau misalnya kamu nerima kak Muza dan kalian pacaran, cemburu gak ya dia?" Ucap Lita padaku yang ku balas dengan memutar bola mata malas, selalu saja dia berandai-andai.


"Dia siapa?" Aku pura-pura gak tau


"Ya si Indri, mantan kak Muza itu." ucap Lita lagi antusias


"Mantan apa Ta?" Rufi ikut menggoda Lita yang keliatan lebih bersemangat pagi ini jika membahas tentang kak Muza


"Ish kalian kenapa sih pagi ini, pada lemot gitu?" tanyanya dengan bibir cemberut. ya mantan pacar lah" sambungnya


Aku dan Rufi tertawa melihatnya. Lucu sekali.


"Oooohhhh mantan pacar?" Ucapku lagi.


"Kamu kaya nya semangat banget kalau soal kak Muza ya." Rufi


"Ya iyalah semangat kan dianya suka sama sahabat aku makanya aku kepo sama kehidupan nya." Ucap Lita lagi antusias sambil memasukkan soto ayam suapan terakhir kedalam mulutnya.


"Kalau aku sih penasaran pengen liat yang mana si Indri itu." Rufi


"Ya siapa tau aja dia masih ada rasa sama kak Muza kan." Lita


"Tapi mana mungkin jadi mantan kalau masih ada rasa."


"mungkin saja kak Muza nya yang udah gak ada rasa, bisa jadikan?" Ucap Lita lagi gak mau kalah pokoknya.


"Udah ah kamu terlalu berandai-andai, padahal belum tentu juga Derisha terima kak Muza." Ucap Rufi akhirnya menutup obrolan kami di kantin pagi ini.


Kami tertawa bersama menyadari kalau kami sudah membicarakan sesuatu yang belum tentu terjadi. Jam masih menunjukkan pukul 7 lewat 5 menit. Kami beranjak menuju gazebo yang berada tidak jauh dari ruang kelas. Kami akan menunggu dosen yang akan masuk pagi ini disana.


Kami kembali menyusuri koridor sambil bercanda dengan menggoda Lita yang di ajak oleh kak Bara akan menghadiri sebuah acara pesta pernikahan salah satu teman kak Bara.


"Kamu harus terlihat lebih cantik paripurna Ta gak boleh malu-maluin kak Bara" celetuk Rufi yang di hadiahi delikan mata oleh Lita


"Jangan ragukan sahabatmu yang paling cantik sekomplek ini Fi, tak dandanpun kak Bara udah klepek-klepek sama aku." Ucap Lita sombong


"Idiihh, biasa aja kali tuh mata, entar juling baru tau rasa." Rufi gak mau kalah menutup mata Lita sambil di goyang-goyangkan maju mundur.


"Hahaha." Aku hanya tertawa melihat tingkah mereka.


Aku duduk di gazebo yang kosong tak ada seorangpun disana yang di ikuti oleh dua sahabat aku itu Rufi dan Lita. Baru saja kami duduk tiba-tiba entah datangnya dari mana Kak Muza dan Kak Arsen sudah berada di depan aku. Kak Arsen memilih duduk di depan kedua sahabatku seperti memberi ruang untuk aku dan kak Muza.

__ADS_1


"Bisa kita bicara sebentar?" tanya kak Muza yang hanya ku jawab dengan anggukan. Dia menunjuk ke arah bawah pohon yang tak jauh dari gazebo tadi.


Kak Muza berjalan terlebih dahulu dan ku ikuti dia dari belakang.


Hening


"Gimana, udah bisa kasih aku jawabanmu sekarang?" tanya kak Muza setelah lama terdiam.


Hening lagi


"Aku akan mencoba, walau aku belum ada rasa apa-apa sama kak Muza gak papa kan?"


"Jujur aku belum mengenal kak Muza dan bertemu baru empat kali kan. Kita ketemunya terhitung 5 kali dengan sekarang tapi kita baru mengobrol waktu kak Muza datang ke kosan dan sekarang." kataku panjang lebar


"Baiklah, Aku akan berusaha buat kamu nyaman dulu sama aku, Setelah itu barulah aku akan membuatmu menyukai ku." Muza


Aku hanya mengangguk dan tersenyum tipis."ternyata dia tetep mau nerima walaupun aku udah jujur tentang perasaan aku ke dia". Batinku


"Baiklah, aku ke ruangan dulu sebentar lagi dosen akan masuk." Aku melirik jam yang melingkar di pergelangan tanganku menunjukkan pukul 7 lewat 40 menit. masih ada waktu sebenarnya tapi aku masih kurang nyaman berlama-lama dengan kak Muza berduaan.


Kak Muza mengangguk dengan senyuman hangatnya. "Makasih ya Sha udah kasi aku kesempatan untuk dekat dengan kamu". Ucapnya dan hanya ku jawab dengan senyuman.


Aku kembali ke gazebo untuk mengambil buku yang ku tinggalkan disana tadi. Aku dan dua sahabatku Rufi dan Lita pamit pada kak Arsen untuk masuk ke ruangan lebih dulu.


"Oh ya silahkan." hanya itu jawaban kak Arsen


Kami masuk ke ruangan dan langsung duduk kursi masing-masing. sedangkan Rufi juga ikut duduk di depanku dengan wajah penuh tanya. haha. Rufi dan Lita tak bersuara, namun memasang wajah menunggu jawaban. sungguh lucu sekali wajah mereka saat ini.


Aku dengan sengaja terdiam cukup lama lalu menghembuskan nafas panjang. Dan itu cukup membuat mereka tambah penasaran. haha.


Bahagia banget rasanya sukses mengerjai mereka.


"Jadi gimana Sha, apa jawabanmu pada kak Muza?" Akhirnya Lita bertanya dengan tidak sabar.


"Iya Sha, ayo dong kasih tau ke kita." Rufi ikut menimpali dengan tidak sabar.


Sungguh aku ingin sekali tertawa melihat wajah mereka yang penuh tanda tanya itu. Tapi aku menggigit bibir bawahku untuk menahan ledakan tawa yang sebentar lagi akan pecah. Dan sepertinya bukan hanya dua sahabatku Rufi dan Lita saja yang penasaran dengan jawaban ku ini tapi juga reader yang manis-manis kaya gulali. haha


"Sha, kok diem aja sih di tanya juga." Rufi memukul pelan tanganku yang berada di atas meja.


"Ho'oh, di tanya malah diem aja, berat banget yah Sha?" Lita mencebik kesal yang di buat-buat.


"Nanti aja setelah kuliah aku ceritainnya, bentar lagi dosen masuk nih." jawabku santai


"Yaaaahhhhh" Ucap Rufi dan Lita bersamaan


"Ku pikir kamunya bingung mau mulai cerita dari mana." Ucap Lita cemberut.


Aku hanya tersenyum tipis sambil mengeluarkan buku dari dalam tas setelah dosen masuk dan memulai proses belajar mengajar pagi ini. sedangkan Rufi juga sudah kembali ke ruangan nya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2