
" Eh by the way Lita mana ya?" Lisha menegakkan kepalanya kembali mencari-cari keberadaan sahabatnya itu. Ia berdiri dan hendak pergi mencari Lita namun Ando menahan tangannya.
"Lita udah aku suruh pulang tadi. hehe" Ando menampilkan cengirannya.
"Ya Allah kak..kenapa Lita di suruh pulang sendirian siihh?" Omel Lisha sambil merogoh ponselnya di dalam tas.
"Halo Taa...kamu dimana?" Tanya Lisha tanpa basa basi setelah panggilannya terhubung.
"Aku udah deket kos an Sha..kak Ando tadi nyuruh pulang duluan katanya biar dia aja yang temenin kamu. hehe..maaf ya aku tinggal..hehe" Lita sepertinya bahagia sekali di suruh Ando pulang duluan.
"Tapi kamu nggak papa kan Ta?"
"Enggaakk...kamu jalan ama kak Ando dulu ya aku mau pulang istirahat... hehe...baaiii...Assalamu'alaikum..." Ucap Lita dan tanpa menunggu jawaban Lisha ia langsung memutuskan panggilannya.
Lisha menggeleng-gelengkan kepala dengan kelakuan Lita. Menoleh kepada laki-laki yang duduk sambil menatap serius handphone nya. Lisha menatap wajah dan handphone yang ada di tangan laki-laki itu bergantian. Menarik nafas dan membuangnya kasar. Ando menoleh menatap Felisha.
"Kenapa sayang? Udah selesai belanjanya?" Tanya Ando.
"Yaa..udaahh.."
"Sekarang kita kemana lagi?"
"Kita Maghrib an dulu kak. ini udah waktunya sholat Maghrib". Lisha berdiri yang diikuti laki-laki itu. Menarik tangan Ando pelan menuju Musholah yang ada di sana. Ando hanya mengikuti kemana perempuan itu membawanya.
Setelah melaksanakan sholat Maghrib mereka kemudian menuju restauran langganan mereka yang juga masih berada di dalam mall itu. Ando menautkan jari-jarinya dengan jari Felisha. Berjalan bergandengan tangan seperti biasa.
"Kamu tadi kenapa bisa tahu kalau aku ada di toko itu?" Tanya Lisha setelah memesan makanan dan minuman favoritnya.
"Aku tadi nelpon kamu tapi nggak kamu jawab padahal aku telponin ampe 3 kali lho". Ucap Ando.
__ADS_1
Lisha segera memeriksa handphone miliknya untuk memastikan ada panggilan masuk atau tidak saat tadi ia berada di ruang ganti. Benar saja ada 3 panggilan tak terjawab dan tertera nama "KADO" disana. Tadi saat menelpon sahabatnya Lita ia tak memperhatikan kalau ada panggilan tak terjawab dari kekasihnya itu.
"hehe..maaf..ponselku aku silent tadi waktu di kantor takut deringnya mengganggu temen-temen yang lain. Aku lupa aktifin kembali tadi pas pulang". Lisha cengengesan karena merasa ia memang salah kali ini.
" Nah...karena kamunya nggak jawab-jawab telpon aku, jadi aku hubungin Lita aja".
"Oohhh jadi Lita ya yang ngasih tahu kamu kalau aku ama dia lagi di mall?" Lisha menyeruput minumannya yang baru saja di antarkan oleh pelayan.
"Ya..untung aja sama Lita di jawab telpon aku. Kalau nggak aku pasti udah di kos an sekarang".
" Hehe...maaf. Tapi kamu ketemu nggak tadi sama kak Mato?" Tanya Lisha sambil menyuapkan sesendok makanan ke mulutnya.
Lisha bisa sesantai itu membahas Mato kepada tunangannya itu karena Ando tak pernah mempermasalahkan hubungan yang pernah terjalin antara Lisha dan Mato. Toh semua sudah berakhir dan sekarang perempuan itu sudah menjadi tunangannya dan sebentar lagi akan menjadi miliknya seutuhnya.
"Ketemu kok tadi. Sempet ngobrol juga bentar abis itu dia pergi". Jawab Ando santai.
"Ngomongin masalah cowok lah". Jawab Ando singkat. Lisha cemberut tak percaya.
****
Ando POV
Hah akhirnya selesai juga. Ternyata pekerjaanku selesai lebih cepat dari waktu yang sudah ku perkirakan. Aku melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan ku ternyata masih pukul 17.05 sore. Aku menutup laptop dan hendak beranjak menuju Musholah yang ada di kantor, bersantai sejenak disana sambil menunggu waktu Maghrib tapi ku pikir waktunya masih cukup lama. Aku mengurungkan niatku kesana, lebih baik aku pulang sekarang agar bisa sholat Maghrib di masjid dekat kos an Felisha saja.
Ku lajukan mobilku menuju kos an tapi aku ingin memastikan terlebih dahulu kalau Lisha benar-benar sudah pulang ke kos an.
Ku raih ponselku dan mendial nomor yang selalu berada di urutan paling atas di icon "panggilan keluar". Tetapi sampai panggilan ke tiga pun ia tak menjawab telpon dariku. Kemana dia? pikirku.
Aku menepikan kendaraan ku. Mencari nama Lita di kontak telepon. Mendial nomornya untuk menanyakan keberadaan Felisha, perempuan yang paling ku cintai melebihi diriku sendiri. haha..terdengar lebay sih tapi emang begitulah kenyatannya. Entah mengapa aku begitu mencintainya walau aku tahu hingga saat ini dia belum sepenuhnya mencintaiku.
__ADS_1
" Halo Assalamu'alaikum kak.." Tak butuh waktu lama Lita langsung menjawab panggilan ku.
"Wa'alaikumsalam...Lita..Lisha mana ya aku telponin dari tadi nggak di jawab-jawab sama dia".
" Oh aku sama Lisha sekarang ada di mall kak..." Lita akhirnya memberitahu ku kalau mereka sedang berada di mall yang kebetulan berada tak jauh dari tempat ku menepikan kendaraan ku.
Ku lajukan kembali mobil ku menuju mall tempat Lisha dan Lita berada. Sampai disana aku melihat ada pesan dari Lita yang mengirim lokasi keberadaan mereka saat ini.
Mendial nomor Lita kembali dan menyuruhnya pulang lebih dulu karena aku tahu Lita pasti lelah seharian bekerja dan sekarang menemani tunanganku itu berbelanja. Syukurnya Lita menyambut dengan senang hati. Sepertinya dia memang lelah hanya saja tak enak hati untuk menolak permintaan calon istri ku itu.
Aku berjalan menuju toko tempat Lisha berada. Aku cukup terkejut melihat ada seseorang yang sangat ku kenal sedang duduk di kursi tunggu seperti sedang menunggu seseorang disana.
"Ehm.." Aku berdehem ketika berdiri tepat di hadapannya yang sedang menunduk menatap ponselnya. Seketika laki-laki itu mendongak dan sedikit terkejut melihat keberadaan ku disana. Terlihat dari ekspresi wajahnya yang langsung berubah, ia membuang pandangannya ke samping dan tersenyum sinis. Sepertinya dia belum menerima kalau Lisha masih bersama ku sampai saat ini.
Ku duduk di sampingnya. Kami sama-sama terdiam tak ada yang mau memulai percakapan.
"Kau tahu? Lisha cintanya sama saya. Lisha itu tidak cinta sama kamu seberapa pun kamu memaksanya dia tetap cintanya sama saya". Akhirnya dia mulai membuka suara.
Sakit sih dengernya, karena aku tahu Lisha emang belum sepenuhnya mencintaiku tapi aku yakin di hatinya sudah benar-benar tak ada lagi nama laki-laki itu disana. Sepertinya Mato menganggap kalau Lisha masih mencintainya.
" Yaa...memang benar Lisha belum sepenuhnya mencintaiku tapi saya yakin namamu juga sudah benar-benar ia hapus dari hati dan pikirannya. Karena dua bulan lagi saya dan Lisha akan menikah dan hidup bersama. Dia akan menjadi milikku seutuhnya". Jawabku yang membuatnya lagi-lagi terkejut. Wajahnya terlihat sangat kesal.
"Hahaha...omong kosong...mana mau dia menikah sama orang yang tidak dia cinta..Kamu terlalu terobsesi ingin memilikinya". Ucapnya sinis.
" Terserah...mau percaya atau tidak semua terserah kamu. Dua bulan lagi. Aku harap kamu bisa hadir di acara pernikahan Saya dan Lisha". Ucapku lagi.
Ku lihat Wajahnya semakin merah menahan kesal. Ia berdiri dan pergi dari sana tanpa pamit. Haha...syukurlah sekarang dia sudah tahu kenyataannya. Aku harap dia benar-benar akan menghadiri acara pernikahan kami nanti.
...****************...
__ADS_1