
Aku berbalik untuk kembali masuk ke kamar, namun aku di kejutkan oleh Rufi yang sedang berdiri tepat di belakang ku dan tersenyum menggoda.
"Ih ngagetin aja." Aku memukul pelan lengan Rufi. Dia malah tertawa. Bahagia sekali melihatku kaget seperti itu.
"Ehm..Tadi itu kak Muza ya yang datang?" Tanyanya sambil menahan senyum.
"Iya, kamu gak lihat tadi?" Jawabku sambil berjalan masuk ke kamar.
"Hehe..Lihat kok." Rufi terus mengikuti ku hingga ke dalam kamar.
"Terus kenapa nanya kalau udah lihat?"
"Hehe..siapa tahu salah orang kan"
"Halaaahhh alasan kamu aja." Sambil melepas mukenah yang ku pakai tapi sebelumnya aku menutup pintu terlebih dahulu.
"Eh by the way kak Muza ngapain kesini tadi?" Rufi duduk di atas kasur sambil selonjoran kaki ke lantai, menopang badan dengan kedua tangannya ke belakang sambil melihat kemanapun aku bergerak.
"Mau tau?" Tanyaku menggoda Rufi yang terlihat sangat penasaran.
"Mau dooong."
"Mau tau aja apa mau tau banget?"
"Iihhh mau tau banget dong Sha. Cepetan penasaran nih...atau jangan-jangan kak Muza kesini mau minta balikan ya?"
Tanya Rufi dengan mata membulat sambil menutup mulutnya sendiri dengan satu telapak tangannya. Terkejut dengan pertanyaannya yang dia pikir mungkin benar adanya.
Ku jawab dengan anggukan kepala tanpa suara. Dan sukses membuat Rufi lagi-lagi terkejut.
"Hah yang benar saja Sha. Kok bisa?" Hanya ku jawab dengan mengangkat bahu tanda tak tahu mengapa bisa kak Muza minta balikan.
"Ya ampun Sha. Aku gak nyangka padahal udah lama banget kalian putus lho. Masa kak Muza belum bisa move on dari kamu sih. Enggak percaya ah. Kayaknya nih ya, kak Muza masih penasaran banget sama kamu deh Sha." Ucap Rufi panjang lebar.
"Maksud kamu? Penasaran soal apa coba?"
"Ya penasaran soal semuanya lah. Emang dulu kamu terbuka sama dia, enggak kan. Kalian gak pernah intens saling bercerita banyak hal tentang pribadi kalian masing-masing kan. terus dulu juga dia gak pernah nyentuh tangan kamu kan. Enggak pernah berhasil kan dia nyentuh-nyentuh kamu." Cerocos Rufi
"Enggak boleh su'udzon Fi."
"Bukan su'udzon Sha tapi curiga. Curiga boleh kan."
"Udahlah Fi gak usah bahas kak Muza lagi. Intinya tadi dia kesini dengan tujuan minta balikan lagi sama aku tapi langsung aku tolak, aku jujur aja sama dia kalau aku tuh gak bisa balik lagi dengan dia dan dianya udah terima. Selesai."
Semoga penjelasan ku ini bisa langsung menghentikan pertanyaan dari Rufi.
Untungnya berhasil. Rufi hanya mengangguk-anggukan kepalanya lalu beralih menanyakan Lita.
"Lita apa belum bangun juga ya jam segini." Ucapnya melirik jam yang ada di atas meja.
"Enggak tau..coba aja samperin ke kamarnya."
"Oke. Aku ke kamar Lita dulu."
Rufi beranjak dan akan pergi. Namun langkahnya terhenti saat ia mendengar bunyi getaran handphone di kasur tepat di belakangnya. Karena tadi aku hanya melemparkan ke kasur saat kak Muza datang.
Menoleh ke belakang, meraihnya dan melihat siapa si penelpon dan ternyata Lagi-lagi nomor tak dikenal itu.
"Enggak ada namanya Sha."
Rufi menatap layar ponsel ku dengan dahi berkerut.
__ADS_1
"Coba ku lihat."
Ku raih handphone milikku yang di acungkan Rufi. Melihat nomor yang sama sedari tadi.
"Ni orang apa maunya sih..." Ucapku berbicara sendiri. Kesal juga jadinya di telponin terus sama orang gak jelas.
"Siapa Sha?"
"Enggak tau. Dari tadi nelpon mulu tapi gak mau ngomong. Heran."
"Coba siniin ponselmu biar aku yang ngomong."
Ku kembalikan handphone milikku kepada Rufi untuk ia jawab panggilan tidak jelas itu.
"Speaker aja Fi biar aku denger."
Rufi segera menekan tombol speaker.
"Halo, Assalamu'alaikum..." Ucap Rufi setelah menekan tombol hijau. Aku hanya menatap Rufi menunggu jawaban dari orang di seberang sana.
Tak ada jawaban. Sunyi senyap. Tak ada suara apapun.
"Halooo..Halo..Halo..Halo..." Ucap Rufi berulang-ulang dan aku menahan tawa.
"Sudahlah Fi. Gak jelas banget." Kataku dengan kesal.
Rufi kemudian memutuskan panggilan itu dan beralih menatap ku
"Siapa ya?"
"Enggak tau. Sedari tadi waktu aku dan Lita masih di kampus ampe sekarang nomor itu udah nelpon berkali-kali."
"Enggak ada suara gitu?"
Dahi Rufi berkerut semakin dalam memikirkan siapa sebenarnya pemilik nomor itu. Meraih handphone miliknya dan mengecek nomor itu namun tak ada dalam daftar kontak nya.
"Udah coba cek ke ponsel Lita belum?"
"Belum sempat Fi."
"Aku ke kamar Lita sekarang."
Rufi beranjak langsung menuju kamar Lita tanpa menunggu jawaban dariku.
Tak lama kemudian ku dengar langkah Rufi dan Lita menuju kamar ku.
Mereka datang langsung duduk dan mengecek nomor itu di kontak handphone milik Lita. Namun juga tak ada disana.
Kami terdiam sejenak dengan pikiran masing-masing.
"Sha, kamu udah coba kirimin dia pesan singkat ke nomor baru itu?" Tanya Rufi dan hanya ku jawab dengan gelengan.
Ku buka aplikasi pesan untuk mengiriminya pesan singkat.
"Assalamualaikum... Ini dengan siapa ya?"
Terkirim.
Kami menunggu balasan pesannya dengan rasa penasaran. Tak lama ada balasan dari nomor baru yang ku tulis dengan nama "nomor baru".
"Maaf"
__ADS_1
Hanya itu jawabannya.
Pada akhirnya kami memilih mengabaikannya.
"Udah ah. Enggak usah di ladenin kalau nelpon lagi."
Rufi dan Lita mengangguk setuju. Walaupun itu sangat menggangu ku.
Kami pun beralih membicarakan tentang hal-hal yang kami lakukan saat praktikum tadi sehingga membuat kami sangat lelah saat tiba di kosan.
***
Sudah empat bulan aku dan kak Ando berkenalan hanya lewat telepon. Walau begitu, semakin hari kami semakin dekat dan akrab saja.
Nomor baru itu pun sudah tak pernah lagi menghubungi ku sejak saat itu.
Kak Ando mengatakan kalau ia akan segera berpindah tugas ke kota tempat ku berada sekarang ini.
Dua bulan kemudian,
Kak Ando akhirnya sudah berada di satu kota dengan ku, karena ia sudah bertugas di kantor barunya.
Namun aku masih belum juga mau menemui kak Ando.
Entah kenapa, aku masih saja bertahan dengan tak mau bertemu kak Ando secara langsung.
Beberapa kali kak Ando berusaha untuk menemuiku tapi aku selalu saja menolaknya dengan berbagai alasan.
Kak Ando pun dengan sabar menunggu sampai aku siap untuk di temui. Ia pun masih setia untuk menelponku setiap hari.
Setiap harinya kak Ando tak pernah absen untuk menelponku walau hanya sebentar. Menanyakan kabar hari ini atau memberikan perhatian-perhatian kecil nya kepada ku.
Semakin hari aku semakin nyaman dengan perhatiannya.
Seperti merasakan perhatian dari seorang kakak laki-laki.
Bukan kak Ando tak tahu tempat tinggal ku sekarang ini. Hanya saja ia tidak ingin aku tak nyaman jika dia datang menemui ku tanpa seizin ku. Dia sudah mengetahui alamat lengkap ku dari kak Iman, teman yang mengenalkan ku pada kak Ando.
Sangat menghargai apapun keputusan ku. Sejauh ini ia tak pernah memaksakan kehendaknya.
Terkadang akan ada saja kurir yang datang membawa paket makanan suruhan kak Ando.
Biasanya ia akan menelponku menanyakan hari ini ingin makan apa.
Walaupun aku akan bilang tidak ingin makan apa-apa tetap saja ia akan mengirimkan makanan sesuai apa yang ia makan hari ini.
Setelah kirimannya sampai, ia akan menelpon menanyakan apakah aku menyukai makanannya atau tidak.
Terkadang aku merasa tak enak hati dengan ia yang selalu saja memberikan perhatian-perhatian nya kepadaku walau ia sendiri tau, sampai sejauh ini kami belum pernah bertemu dan bertatap muka secara langsung.
Ia belum tahu bagaimana rupa ku dan aku pun tak pernah tahu bagaimana rupanya.
Pernah suatu ketika, aku mengatakan pada kak Ando bahwa lama kelamaan aku akan ketergantungan dengan nya yang selalu saja mengirimi ku paket makanan. Walaupun itu tidak tiga kali sehari tapi sangat berpengaruh dengan kebiasaan sehari-hari ku.
Yang hanya di jawabnya dengan santai.
"Ya Alhamdulillah kalau gitu. Gak papa kamu tergantungnya sama aku aja jangan sama orang lain. Aku ikhlas."
Dan bila aku mengatakan, bahwa jika dia bosan menunggu ku yang gak pernah mau menemuinya, sudah gak usah menunggu ku lagi.
Ia akan menjawab
__ADS_1
"Aku gak akan pernah bosan sampai kamunya bosan menolak ku untuk ketemu sama kamu."
...****************...