
Aku harap laki-laki itu berhenti mengharapkan Felisha lagi. Entah mengapa ada rasa sakit ketika mendengar apa yang di ucapkannya tadi.
Baru saja aku ingin berjalan-jalan dan ingin membelikan baju untuk Lisha, perempuan yang ku tunggu itu sudah keluar. Aku melihat dia seperti mencari seseorang, sepertinya dia mencari Mato yang tadi duduk di sana.
"Cari siapa sayang?" Seketika dia berbalik melihatku dengan ekspresi yang menggemaskan. Dia terlihat bahagia melihatku tapi seperti biasa ia langsung berbalik menuju kursi dimana aku dan Mato tadi duduk.
"Kak Ando...kok kamu ada disini? Bukannya tadi pagi kamu bilang pulangnya larut malam ya, kenapa sekarang malah ada disini?" Bukannya menjawab pertanyaan ku dia malah balik bertanya.
Aku ingin tahu dia akan menjawab ku dengan jujur atau tidak dengan mengulangi pertanyaan ku. Dan ternyata dengan entengnya dia menyebut nama laki-laki itu di hadapanku. Menjelaskan padaku kalau Mato tadi menunggunya disana dengan ekspresi biasa saja seperti sedang menyebutkan nama temannya. Mmm...ku pikir ucapan ku tadi kepada laki-laki itu memang benar. Sepertinya Lisha memang sudah tak menyimpan perasaan apapun lagi padanya.
"Kamu nggak suka kalau aku yang nungguin kamu disini?" Aku ingin lihat respon dia seperti apa ketika aku bertanya seperti itu.
"Bukan gitu maksud aku. Ya aku senenglah ternyata kamu nyusul kesini juga". Ucapnya manja yang langsung mengaitkan tangannya ke lenganku dan menyandarkan kepalanya di bahuku. Aahhh sungguh menggemaskan. Ibarat kata "Malu-malu tapi mau". haha..
Tapi seketika ia menegakkan kembali kepalanya karena teringat sahabatnya yang sudah ku suruh pulang. haha..dia baru menyadarinya.
"Lita udah aku suruh pulang tadi. hehe"
"Ya Allah kak..kenapa Lita di suruh pulang sendirian siihh?" Omelnya sambil merogoh ponselnya dan langsung menelpon Lita sahabatnya. Dia tidak tau saja kalau betapa bahagianya Lita waktu ku suruh pulang.
Setelah berbicara sebentar dengan sahabatnya itu. Kami pun pergi ke Mushollah untuk melaksanan sholat Maghrib setelah melakukan pembayaran.
Dan sekarang kami sedang menikmati makan malam di restauran favorit aku dan Lisha jika berada di mall ini. Sudah lama juga tidak menemaninya makan malam di sini.
"Tadi ketemu nggak sama kak Mato?" Tanyanya.
"Ketemu kok tadi. Sempet ngobrol juga bentar abis itu dia pergi". Jawabku santai.
"Eh..ngobrolin apa? ngomongin aku ya?" Tanya Lisha. Berharap aku mengatakan kalau aku dan Mato membahas tentangnya. Ya..walaupun itu benar tapi aku nggak mungkin ngasih tahu yang sebenarnya juga kan.
"Ngomongin masalah cowok lah". Jawabku. Lisha cemberut dengan bibirnya sudah maju beberapa senti. Ingin ku terkam sekarang juga bibir yang menjadi canduku itu. Ahh dia benar-benar menguji kewarasan ku.
Aku menatapnya lama. Melihat setiap inci wajah imutnya itu. Dia tak tahu saja betapa kesalnya laki-laki itu saat mendengar kenyataan kalau wanita yang ada di hadapanku ini akan segera menjadi istriku. Ya Istriku. Aiihh hatiku berdesir dengan kata istriku. Benarkah dia lah wanita yang akan menemaniku hingga di akhir usiaku? Aku benar-benar masih tak percaya kalau akhirnya dia menerimaku untuk menjadi imam dalam hidupnya. Oh Lisha ku betapa aku mencintai dan menyayangimu. Semoga suatu saat kau pun akan merasakan hal yang sama denganku.
__ADS_1
****
Mato POV,
Benarkah Lisha dan laki-laki itu akan segera menikah?
Kenapa hatiku sakit begini saat tahu Lisha akan menikah dengan orang lain. Bukan kah aku sudah janji akan menjadi temannya saja. Walau aku tak bisa miliki dia tapi aku masih bisa menjadi temannya. Kenapa malah hatiku tak ikhlas begini mendengar kabar jika dua bulan lagi dia akan menjadi milik orang lain.
Ku teguk habis kopi di cangkir yang ku pegang. Rasa pahit kopi itu terasa hambar di bandingkan dengan kabar yang ku dapat hari ini.
"Halo Abra, lu dimana?" Ku rogoh ponselku yang ada di saku kemeja yang ku pakai hari ini. Lalu mendial nomor handphone sahabatku Abraham.
"....."
"Gw butuh temen mabuk nih"
"....."
"Oke. Gw kesana sekarang".
ku lajukan kendaraan ku menuju tempat dimana Abraham berada.
Aku masuk di cafe yang berada tak jauh dari rumah. Dari jauh aku sudah melihat keberadaan Abraham. Tapi tunggu dulu dia bersama seorang wanita. Siapa dia?
Saat aku berdiri tepat di belakang mereka tak sengaja ku dengar perempuan itu menyebut nama Felisha. Siapa dia sebenarnya, apakah dia mengenal Felisha? Yang ku tahu selama bersama Felisha, aku belum pernah melihat wanita ini berada di sekitarnya.
" Ehm..." Aku berdehem dan menarik kursi kosong yang ada di dekat Abraham tepat di hadapan wanita itu. Mmmm cantik juga ternyata. Batinku.
"Mmm..Abra kalau gitu aku duluan ya.." Pamit perempuan itu setelah aku duduk.
"Eh..apa saya mengganggu waktu kalian?" Tanya ku panik. Takut memang aku mengganggu waktu mereka.
"Nggak kok..aku memang dari tadi mau pulang, kebetulan aja pas kamu datang". Wanita itu tersenyum ramah sebelum pergi meninggalkan kami berdua, aku dan Abraham. Aku menatap punggung wanita itu yang terlihat rapuh sampai menghilang. Lalu menoleh kepada si Abra.
__ADS_1
" Kenape lu?" Tanya Abra melihatku dengan kening berkerut.
"Siapa dia?" Tanya ku balik tanpa menjawab pertanyaan nya.
"Dia sepupu gw, namanya Kalista. Kenapa emang? Lu tertarik ama dia?" Menyebalkan sekali pertanyaannya. Seperti tak tahu saja kalau di hatiku ini hanya ada Lisha.
"Ck..lu pura-pura lupa atau sengaja lupa ha?" Si Abra mancing-mancing emosi aja.
"Haha...ya habisnya lu ngeliat dia kayak gitu. Wajarlah gw curiga. Sudahlah..lu tadi butuh temen mabok kan? Sini gw temenin". Ucap Abra.
"Entar dulu. Gw mau tanya. Tadi gw sempet denger dia nyebut nama Felisha. Maksud dia Felisha?.." Aku sengaja menggantungkan ucapan ku. Dia pasti ngertilah maksud aku apa.
"Yaa...Emang Felisha mantan lu yang dia maksud. Nih.." Abra memperlihatkan gambar wanita yang sangat ku cintai itu. Felisha. Sepertinya gambar itu baru saja di ambil karena pakaian yang di pakai Lisha dan laki-laki yang bersamanya itu sama persis dengan pakaian yang mereka pakai ketika aku bertemu mereka.
"Ada apa ini? Dia kenal ama Felisha?" Tanya ku dengan dahi berkerut.
"Enggak..dia nggak kenal. Dia hanya tahu kalau Lisha itu calon istri dari mantan kekasihnya". Ucap Abra.
" Tunggu..tunggu..maksud kamu laki-laki itu mantannya sepupu kamu itu?" Ucapku memperjelas. Abra mengangguk.
"Kok bisa kebetulan gini ya." Gumam ku.
"Emang dia mau ngapain ampe ngambil gambar Felisha segala?" Aku menyipitkan mata menyelidik kepada Sahabatku itu. Curiga ada sesuatu yang dia rencanakan bersama si Abra.
"Nggak ngapa-ngapain..dia cuman ngasih lihat ke gw perempuan yang jadi calon istri Ando mantan kekasihnya itu. Gw sebenernya terkejut tadi pas dia ngasih liat fotonya. Ternyata calon istri Ando itu Felisha mantan lu". Jelas Abra panjang lebar sambil menepuk jidatnya. " Nggak habis pikir gw ternyata mantan lu mau nikah ama mantannya sepupu gw..Ckckck..." Abraham menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya.
"Dunia ini serasa sempit banget tau nggak lu. hehe.." Ucap Abra sinis padaku.
"Sepupu lu kenapa bisa putus ama laki-laki itu?" Tanyaku ragu-ragu. Takut di bilang gila urusan ama si Abra hehe.
"Si Kalista yang ninggalin Bang Ando. Dia bodoh banget dulu, lebih memilih nikah ama laki-laki brengsek dan ninggalin bang Ando yang gw tahu dia laki-laki baik". Abra terlihat sendu saat mengatakan itu. Sepertinya Abraham menyayangkan perpisahan antara sepupunya itu dengan calon suami Felisha.
Mmm...menarik! Sebaik apa ya laki-laki yang akan menjadi suami Felisha itu, sampai Abra terlihat kecewa ketika menceritakan Kalista yang meninggalkan Ando dan memilih menikah dengan pria lain. Tentu saja pertanyaan ini tidak ku ungkapkan kepada Abraham. Aku menyimpannya dalam hati. Mungkin lain waktu aku pasti akan menanyakannya tapi tidak untuk saat ini.
__ADS_1
...****************...