
Wajah Tiara terlihat sendu seolah memikirkan nasib suaminya yang selama ini harus menahan keinginannya untuk bisa menyentuh tubuh Tiara lebih jauh. Tiara merasa bersalah dengan sikapnya yang sudah mengabaikan keinginan suaminya.
Dirinya juga seolah tertampar oleh semua perkataan Nita mengenai kenyataan yang harus dialami oleh suaminya. ' Apakah dirinya telah menjadi seorang istri yang durhaka? karena tidak melayani suaminya dengan baik?'. Seketika pikiran Tiara berkeliaran kemana mana memikirkan segala perilakunya pada Rivan.
" Gue… gue mau nyari daster di sebelah sana dulu ya?!" Tiara kalah telak oleh Nita kali ini.
Namun Nita membiarkan saja dan juga tidak mengejar jawaban Tiara karena tidak penting baginya. Hal yang terpenting saat ini adalah Tiara mengerti poinnya dan sepertinya Tiara sudah memikirkan maksud dari ucapan Nita.
Tiara melihat lihat beberapa daster yang terpajang di hadapannya. Harga pakaian disana lumayan menguras kantong, tapi Tiara yang notabene seorang desainer dapat melihat kualitas yang memang bagus dari tiap pakaian yang dilihat dan disentuhnya saat ini. Apalagi melihat Rivan yang setiap malam dengan piyama dewasanya membuat Tiara juga ingin memiliki baju tidur dengan kualitas yang tinggi.
Sepertinya baju tidur yang nyaman akan meningkatkan kualitas tidurnya karena tiap Rivan memakai piyamanya, tidak lama Rivan langsung tertidur dengan pulas. Bagaimana Tiara bisa tau? karena tiap malam diam diam Tiara suka memperhatiakan Rivan saat tidur. Rivan yang berwajah tegas dan dingin dengan orang lain itu, saat tidur terlihat sangat polos dan seperti bayi. Dia tertidur dengan sangat pulas dan tidak terbangun meskipun Tiara mencolek colek wajahnya. Bahkan kadang Tiara mencolek dengan bibirnya kalau sudah sangat gemas pada prianya itu.
Pandangan Tiara pun lalu tertuju pada sebuah daster berbahan satin dan berwarna peach yang sangat manis dan kalem. Tiara mencoba meletakkan gantungan yang ada bajunya tersebut di badannya dan ternyata panjang daster tersebut kurang lebih sampai di betisnya.
Dalam sekejap beberapa daster yang berada dihadapannya telah mengalihkan semua pikiran Tiara akan semua perkataan Nita barusan mengenai Rivan. Begitu juga rasa bersalahnya terhadap Rivan seolah menguap begitu saja.
Daster itu terlihat sangat manis membuat Tiara ingin sekali memborong beberapa daster dan mengganti piyamanya yang bergambar kartun anak anak di lemarinya saat ini. Sepertimya berbelanja 2 buah daster tidak akan menimbulkan bencana finansial bagi Tiara itu yang ada dalam pikiran Tiara.
Hingga akhirnya Tiara pun mengambil dua daster dan mencoba melihat lihat lagi beberapa baju tidur lainnya yang ada di deretan gantungan baju. Tidak lupa Tiara juga mengambil sepasang pakaian dalam yang ketika dia merasakan getaran di ponselnya, menandakan ada panggilan masuk.
Tiara langsung mengambil ponselnya yang ada di dalam tasnya hingga dirinya merasa sedikit kerepotan karena ada beberapa baju yang ada di tangannya. Untungnya salah satu pegawai toko melihatnya dan segera saja membantu Tiara membawakan baju baju yang telah dipilih oleh Tiara.
__ADS_1
Tiara melihat id pemanggil di teleponnya setelah menyerahkan beberapa baju daster yang telah dipilihnya pada pegawai toko. Rupanya yang menelpon saat ini adalah seseorang yang tadi membuatnya merasa bersalah, siapa lagi kalau bukan Rivan, suaminya.
" Iya mas, ada apa?" tanya Tiara cepat begitu mengangkat panggilan Rivan.
' Aku lupa ngomongin sesuatu sama kamu' jawab Rivan dari seberang.
" Ngomongin apa?" tanya Tiara penasaran hingga kedua alisnya bertaut dengan tajamnya saking penasarannya.
' Mengenai ketentuan pembagian keuangan kita' jawab Rivan langsung tanpa berbicara basa basi.
" Oh… ok, nanti pas pulang kita omongin ya" sahut Tiara yang mengira pembicaraan seperti itu harus dilakukan secara langsung.
' Nggak sayang, kamu sekarang kan lagi belanja, jadi aku pikir biar sekalian aja' sahut Rivan yang ingin masalah ketentuan keuangan mereka dibicarakan saat itu juga.
" Nggak ada apa apa, sayang" sahut Rivan mencoba menenangkan istrinya yang terdengar khawatir. " Sayang... kamu kan istri aku, jadi uang belanja kamu adalah tanggungan aku. Dan aku udah tau nomor rekening kamu dan udah aku transfer uang belanja bulanan buat kamu" jelas Rivan dengan pelan dan jelas.
Mendengar penjelasan suaminya sontak saja langsung membuat mata Tiara membulat seolah tidak percaya dengan keputusan suaminya yang mendadak. " Kok segitunya, mas. Aku kan udah ada uang sendiri" ucap Tiara yang terdengar menolak keputusan suaminya karena dirinya merasa memiliki uang sendiri dengan usahanya selama ini.
' Ya segitunya lah, sayang. Jadi istri kan memang sudah seharusnya begitu kan?' mencoba membujuk istrinya untuk bisa menerima pemberiannya.
" Tapi aku nggak mau bergantung sama orang lain, mas" masih berusaha menolak pemberian Rivan, mengingat dirinya selama ini hampir tidak pernah bergantung pada orang lain terutama mengenai keuangan dirinya masih bisa berusaha sendiri. " Lagian mending duitnya buat apa gitu?" memberikan saran pada suaminya agar uang yang diberikan untuknya bisa digunakan untuk keperluan lainnya.
__ADS_1
' Sayang.... dengerin aku dulu, yang aku kasih ke kamu itu baru 10 persen dari penghasilan aku tiap bulannya, sayang. Orang tua sama adikku nggak butuh uang dari aku karena mereka sudah punya sendiri, rumah dan mobil juga udah ada. Trus buat kebutuhan hidup lainnya juga pakai yang 90 persen sisa dari penghasilan aku aja sudah cukup' jelas Rivan. ' Lalu uangnya buat apa lagi kalau bukan buat kamu, sayang?' lanjutnya mencoba meminta jawaban dari istrinya mengenai uang penghasilannya.
" Kan bisa disimpan untuk keperluan yang memdadak, mas" Tiara masih mencoba membujuk suaminya agar tidak memberikan uang untuk dirinya.
' Sayang, kamu kan sudah tau sendiri penghasilan aku tiap bulannya, itu sudah lebih dari cukup untuk keperluan mendadak kita. Bahkan aku juga sudah mendepositokan uangku yang selama ini aku hasilkan sebelum menikah dengan kamu, sayang' jelas Rivan sekali lagi agar istrinya tidak perlu merasa khawatir dengan masalah keuangannya.
Tiara mencoba mengingat penghasilan yang diterima Rivan selama ini, setelah beberapa hari yang lalu dirinya disuruh memeriksa sendiri buku rekening milik suaminya yang terdapat jumlah uang yang tidak sedikit bahkan banyak sekali.
" Baiklah kalau gitu, makasih mas" akhirnya Tiara luluh dan menerima pemberian suaminya, dirinya juga tidak ingin mendebat suaminya lagi.
Rivan tersenyum senang dari seberang sana meskipun istrinya tidak akan pernah bisa melihatnya. ' Ingat sayang, kamu itu istri aku kamu itu temen berbagi aku. Mau kan?' Rivan memang pembujuk yang handal, dia bener benar tau bagaiman cara membuat Tiara mengatakan 'iya'.
" Iya, makaasih banyak ya, mas Rivan" sahut Tiara dengan suara lembutnya, dia juga merasa bahagia memiliki seorang suami yang begitu pengertian dan sabar menghadapi sikapnya selama ini.
" Sama sama, sayang. Happy shopping, aku pasti seneng banget uangnya bisa kamu habiskan buat kebutuhan kamu, sayang" ucap Rivan merasa bahagia karena kini ada yang bisa memakai uangnya buat bersenang senang.
Jika dulu Rivan merasa bingung siapa yang akan memakai uangnya yang sudah terkumpul banyak selama ini. Jika untuk segala keperluannya sehari hati, uang yang dia dapatkan entah itu dari gajinya sebagai seorang PNS ataupun seorang investor sudah lebih dari cukup malah bisa dibilang sisa banyak. Dan itu akan membuat dirinya lebih bersemangat untuk bekerja dan mencari uang sebanyak banyaknya untuk memenuhi kebutuhan istri tercintanya.
" Kamu juga happy me time" ujar Tiara yang tau betul bahwa saat ini suaminya sedang menghabiskan waktunya di rumah saja, entah itu berolah raga atau membaca buku.
Hingga akhirnya panggilan telepon berakhir, Tiara langsung memeriksa rekeningnya lewat aplikasi keuangan bank Tiara di ponselnya. Seketika mata Tiara langsung terkejut, terdiam dan matanya membulat dengan sempurna.
__ADS_1
Bagaimana tidak terkejut jika di dalam bank mobilnya tertera uang yang diterima di rekeningnya begitu banyak hingga nyaris 9 digit. Sekali lagi Tiara mengecek kembali jumlah saldonya siapa tau ada kesalahan atau matanya yang kurang teliti mengamati. Tapi berkali kali Tiara meyakinkan bahwa jumlah kiriman yang baru diterimanya dari suaminya memang sangatlah banyak.
Tiara benar benar tidak menyangka seorang Rivan akan memberikan dirinya uang sebanyak itu dengan begitu mudahnya. Uang yang dikirim Rivan hanya 10 persen saja sudah sebanyak itu, apa kabarnya dengan sisa yang 90 persennya lagi?