
Malam itu berjalan dengan sempurna dan dia bersyukur telah memberanikan dirinya malam ini. Ternyata keluarga Rivan sangat baik padanya serta dapat menerima Tiara apa adanya.
Ternyata penilaian orang lain mengenai orang kaya tidak semuanya benar. Mungkin memang benar ada beberapa orang kaya yang sombong dan arogan, bahkan tidak jarang mereka tidak menghargai orang miskin.
Tetapi kenyataannya masih ada orang kaya yang memiliki etika baik, misalnya saja Rivan dan keluarganya yang terlihat tidak sombong. Dari sikap mereka bisa Tiara simpulkan bahwa mereka orang yang selalu menghargai orang lain tidak peduli mereka berasal dari golongan bawah sekalipun.
Semua sikap itu tetap berasal dari diri masing masing pribadi, jadi tidak semua orang harus menilai sikap orang lain dari status sosial mereka. Ada juga orang golongan bawah yang terlihat sombong dan arogan begitu juga sebaliknya.
Acara makan malam sudah selesai dengan lancar, dan kek Gun mengajak seluruh anggota keluarga untuk bersantai di ruang keluarga. Di sana semua orang saling bercerita satu sama lain mengenai kehidupan mereka sehari hari.
Karena sudah malam, kek Gun berpamitan terlebih dahulu untuk beristirahat karena tubuhnya merasa kelelahan. Dan kini tersisa dua pasang suami istri dan juga putri ragil di keluarga tersebut.
" Kamu ikut ayah dulu!" kata ayah Tama dengan suara terdengar datar dan beranjak dari duduknya dan mengajak Rivan pergi dari sana setelah kepergian kek Gun.
" I.. iya yah..." sahut Rivan dengan suara terbata, dia tau kali ini dia tidak akan bisa lolos dari kemarahan ayahnya yang selalu bersikap disiplin terhadap anak anaknya.
Tiara dapat merasakan bahwa suaminya saat ini merasa ketakutan dengan ajakan sang ayah mertua. Entah apa yang akan dilakukan oleh ayah Tama terhadap Rivan, jujur saja dia sangat penasaran tapi untuk saat ini dia juga tidak bisa bertanya pada Rivan.
" Aku pergi dulu ya, sayang" ucap Rivan sebelum akhirnya dia pergi meninggalkan istrinya dengan ibu dan adiknya dan berjalan mengikuti ayah Tama yang sudah berjalan menjauh dari mereka.
Tiara hanya bisa melihat punggung suaminya yang pergi menjauh menemui ayah Tama. Ada sedikit rasa cemas yang dirasakannya saat ini, tapi dia berusaha menyakinkan dirinya sendiri bahwa ayah mertuanya tidak akan mungkin memarahi Rivan dengan kekerasan.
" Tenang aja, mbak. Paling mas Rivan akan diceramahi habis habisan sama ayah, jadi mbak Tiara gak perlu khawatir" ucap Vani mencoba menenangkan kakak iparnya yang terlihat begitu mengkhawatirkan kakaknya dan dia senang melihat ada orang lain yang begitu perhatian pada kakaknya. " Salah dia sendiri kenapa nikah gak bilang bilang sama keluarga" lanjut Vani yang ganti menyalahkan kelakuan kakaknya yang suka bertindak semaunya sendiri.
Tiara hanya bisa mengangguk dan tersenyum tipis. Sebenarnya jika dilihat bukan hanya Rivan saja yang harus disalahkan mengenai pernikahan mereka. Seharusnya semua orang juga menyalahkan dirinya karena dia yang langsung mengiyakan ajakan nikah Rivan saat itu.
Jadi bisa dibilang mereka berdualah yang harus disalahkan bukan hanya Rivan. Sebagai seorang perempuan seharusnya waktu itu dia menanyakan terlebih dahulu tentang keluarga Rivan dan mengenal mereka lebih dekat sebelum akhirnya mereka mendapatkan restu dan menikah.
__ADS_1
Tapi nasi sudah menjadi bubur, dan semuanya tidak bisa diulang kembali. Tugas Tiara dan Rivan mulai sekarang adalah menjalani kehidupan rumah tangga mereka dengan baik dan harmonis sehingga baik keluarga Rivan ataupun keluarga Tiara tidak akan merasa kecewa dengan keputusan yang sudah mereka ambil sebelumnya tanpa persetujuan keluarga mereka.
" Sudahlah biarkan saja mereka, itu urusan kamu adam" kali ini bunda Amel yang berbicara. " Tiara... yuk ikut bunda sebentar" ajak bunda Amel yang akan beranjak dari duduknya.
" Aku ditinggal sendiri nih?" tanya Vani dengan wajah yang dibuat cemberut karena semua meninggalkan dia sendirian di ruang keluarga.
" Kamu nonton aja dulu kalau nggak masuk kamar kamu dulu sana, bunda mau kasih sesuatu dulu buat Tiara" sahut bunda Amel dengan santai lalu berjalan menjauh dari ruang keluarga yang sangat besar tersebut.
" Aku pergi dulu ya" pamit Tiara yang mengikuti ibu mertuanya berjalan entah kemana perginya.
Taira berusaha bersikap tenang sambil berjalan di sebelah bunda Amel. Ada sedikit perasaan cemas kalau dirinya juga akan dimarahi oleh bunda Amel sepeti Rivan yang saat ini pasti juga sedang dimarahi oleh ayah Tama.
Bunda Amel menggiring Tiara untuk masuk ke dalam sebuah kamar. Kamar itu sangatlah luas bahkan lebih luas dari kamarnya dengan Rivan yang menurutnya sudah sangatlah luas.
" Duduk sini, Ra" ujar bunda Amel menyuruh Tiara untuk duduk di sofa.
Dapat Tiara lihat bunda Amel sedang berada di depan lemari mencari sesuatu di dalamnya. Tapi Tiara tidak terlihat ingin tau apa yang dilakukan oleh bunda Amel. Baginya dirinya tidak mendapat amarah atau sindiran dari ibu mertuanya saja dia sudah sangat bersyukur.
Bunda Amel mendekat ke arahnya sambil membawa sebuah kotak perhiasan di tangannya. Beliau langsung duduk di sebelah Tiara dengan jarak yang begitu dekat.
" Ambil dan bukalah" bunda Amel memberikan kotak perhiasan tersebut pada Tiara.
Dengan sedikit ragu Tiara menerima kotak perhiasan tersebut. Kemudian Tiara membuka kotak perhiasan tersebut dan katanya langsung membuka lebar. Ternyata didalam kotak tersebut terdapat satu set perhiasan berisi kalung, gelang dan anting. Seluruh perhiasan tersebut bersimbah permata yang ada sangat berkilau dengan batu Ruby di tengahnya sehingga terlihat sangat indah.
" Ini...." ucap Tiara dengan ragu.
" Ini untuk kamu, Ra" potong bunda Amel dengan cepat.
__ADS_1
" Bun, maaf. Saya nggak bisa menerima ini. Terlalu mahal" kata Tiara dengan segan dan was was.
" Nggak apa apa, Tiara" sergah bunda Amel dengan tegas.
" Bun, saya ngasih hadiah ke kek Gun ikhlas kok, saya nggak perlu imbal balik seperti ini" ucap Tiara dengan hati hati agar tidak menyinggung perasaan sang bunda.
Mendengar cetusan polos Tiara membuat bunda Amel langsung tertawa terbahak bahak. Menurutnya perempuan di sampingnya ini memiliki integritas yang sangat tinggi. Kalau perempuan lain yang pernah dekat dengan Rivan sepetinya malah berburu perhiasan set itu setiap kali bunda Amel memakainya.
Bunda Amel akui, beliau selalu merasa tenang jika berhadapan dengan Tiara. Dia yang biasanya waspada dan memegang pertahanan untuk mencurigai setiap orang yang datang. Dan kalau ini dia bisa merasa tenang dan percaya pada Taira seutuhnya.
Beberapa kali bunda Amel melihat Tiara yang enggan dan kikuk memakai barang barang barang mewah. Menandakan bahwa Tiara adalah perempuan yang sederhana dengan penampilan yang luar biasa.
Kali ini bunda Amel harus angkat topi pada Rivan, tak salah dia mendidik anak itu. Walupun sikapnya aneh dan cuek luar biasa ternyata Rivan sangat pandai memilih seorang istri.
" Ini adalah perhiasan turun temurun mantu keluarga Sanjaya, Ra. Bunda sudah memilikinya sejak menjadi salah satu keluarga ini. Pasti bunda pakai setiap ada pertemuan dan pesta penting. Kini sudah saatnya ini jadi milik kamu" jelas bunda Amel pada menantunya bahwa perhiasan tersebut bukanlah sebagai imbal balik atas pemberian hadiah yang diberikan Tiara untuk kek Gun.
Mulut Tiara menganga, bagaimanapun juga baginya ini terlalu mengada ngada untuk hidupnya. Tiara khawatir bahwa sebenarnya selama ini dia sedang bermimpi panjang karena stres belum mendapatkan pasangan.
" Pakai ini, dan seluruh dunia akan tau kalau kamu adalah salah satu dari kami. Pakai ini, dan semua orang yang meremehkan kamu akan membungkam mulutnya karena tidak mau berurusan dengan keluarga Sanjaya" ucap bunda Amel dengan tegas.
Menurut Tiara, ucapan bunda Amel menyiratkan sebuah misi bagi Tiara. Misi untuk dirinya mempertahankan nama baik keluarga Sanjaya.
Petuah itu menggema di dada Tiara, dia mengangguk dengan yakin dan menerima set perhiasan yang diberikan oleh bunda Amel. Dia melihat bahagia set perhiasan tersebut sebelum menutup kotaknya, bukan karena Kilauan permata tetapi karena perasaan telah diterima seutuhnya oleh keluarga Sanjaya.
Diatas semua itu Taira merasa lega karena dia tidak harus berpura pura menjadi orang lain dengan status sosial serta ekonomi dari kalangan atas.
Tiara keluar dari kamar bersama dengan bunda Amel sambil membawa kotak itu dengan baik baik. Mereka kembali ke ruang keluarga dan ternyata di sana hanya ada Vani yang sedang asyik menonton film.
__ADS_1