
Mereka terus beradu di atas ranjang penuh dengan gairah yang sudah menggebu gebu. Alih alih berlaku pasrah, setelah dirinya merasa puas dengan sentuhan tangan dan bibir Rivan sebelumnya. Dia langsung membalikkan tubuh Rivan hingga kini tubuhnya bergantian berada di atas tubuh Rivan.
Harus lebih terangsang katanya.... berarti Tiara sendiri yang harus mencari rangsangan. Persetan dengan pasrah, Tiara harus mencari kenikmatannya sendiri.
Tiara juga ingin menikmati tubuh atletis suaminya dengan bibirnya yang selama ini hanya bisa dia nikmati lewat matanya saja. Tiara sungguh mabuk kepayang menikmati tubuh suaminya dan meliuk lihai di atas tubuh Rivan sehingga membuat Rivan semakin bergairah.
" Tiara..." panggil Rivan dengan suara yang terdengar berat saat perempuan itu membuka celananya. Tubuhnya seperti terbakar ketika jemari Tiara bergerak bergerak di atasnya.
Setelah dirasa istrinya sudah puas, kembali Rivan membalikkan tubuh Tiara dengan pelan. " Gantian" kata Rivan dengan cepat lalu mencium Tiara kembali.
Tiara hampir saja tertawa karena rasa geli saat Rivan membelai tubuhnya dengan bibirnya. Alih alih tertawa Tiara justru mengeluarkan suara yang membuat Rivan semakin bersemangat.
" Do it, mas" bisik Tiara yang sudah diliputi oleh nafsu.
Mengerti akan reaksi tubuh istrinya, dengan gerakan cepat Rivan melesak ke dalam tubuh istrinya. Menyalurkan seluruh rasa dan dambanya akan perempuan tersebut. Suara teriakan rasa sakit keluar dari mulut Tiara dan seketika itu Rivan langsung mendekap tubuh istrinya dengan erat dan berhenti sejenak untuk memberikan rasa nyaman pada istrinya.
Tidak ada yang bersuara hanya suara nafas mereka yang terdengar saling bersautan untuk meraup udara sebanyak banyaknya. Setelah dirasa istrinya sudah merasa nyaman dengan penyatuan mereka, Rivan mencium bibir Tiara dengan lembut, bergerak secara perlahan memperlakukan Tiara dengan lembut.
Sementara itu ada sensasi luar biasa yang belum pernah dirasakan oleh Tiara selama ini. Dengan instingnya Tiara ikut bergerak mengikuti irama Rivan yang membuatnya haus akan nikmat dunia.
" Tiara..." sekali lagi Rivan memanggil nama istrinya saat tubuh Tiara meresponnya. Dan itu sukses membuat gairah Rivan semakin menggebu gebu.
" Vann..." Tiara tak kalah mesranya memanggil nama suaminya dengan suara yang terdengar menggoda.
Tiara pun memasrahkan tubuhnya dan percaya sepenuhnya bahwa suaminya itu mampu membawanya mencapai surga dunia.
Setelah berpacu bersama sama dengan posisi keduanya yang beberapa kali berubah. Akhirnya mereka berdua bersama sama menyerukan nama pasangan masing masing, ketika mereka sudah akan mencapai ke puncak surganya dunia.
Indah dan penuh gairah, itulah yang dirasakan oleh Tiara maupun Rivan saat mereka secara bersama sama mencapai puncak untuk pertama kalinya. Rasa lelah langsung menyergap tubuh keduanya dengan peluh keringat yang membasahi tubuh keduanya.
Keduanya mengatur nafas dengan meraup udara di sekitarnya hingga nafas mereka kembali teratur. Tiara yang kelelahan membuat matanya seakan mengantuk, dan dia ingin mengistirahatkan tubuhnya dengan menutup matanya.
Tanpa dia duga Rivan kembali berada di atas tubuhnya. " Kamu gak berfikir kalau kita udah selesai kan?" bisik Rivan yang kembali menyadarkan Tiara yang langsung membuka matanya.
__ADS_1
Sebuah seringaian terpasang di wajah Tiara, seakan menyadarkan dirinya bahwa ini semua belum berakhir. Tanpa penolakan sama sekali, Tiara yang merasa kelelahan membiarkan Rivan memimpin seutuhnya. Dia hanya diam sambil menikmati apa yang dilakukan oleh suaminya. Dengan gagah dan penuh stamina Rivan mengarahkan Tiara yang berada di bawahnya untuk bergerak mengikuti iramanya.
Dapat Tiara rasakan ranjang mereka bergerak dengan kuat dan ada sedikit rasa khawatir dalam hati Tiara bahwa ranjang mereka akan roboh. Tapi hal itu mustahil terjadi, mengingat ranjang milik Rivan adalah ranjang yang begitu kuat dan kokok mustahil jika sampai roboh karena ulah mereka.
Rivan yang begitu bersemangat dengan tenaganya yang kuat dan bergairah terus melahap tubuh Tiara. Gairah yang selama ini ditahan akhirnya terlepas, dan dia pun melampiaskannya tanpa ampun.
Rivan menyalurkan perasannya melalui aksinya yang membuat kepala Tiara seakan meleleh tak ingin berhenti ikut berpacu. Tiara merasa dirinya yang dicintai, didamba, diinginkan bahkan dipuja puja oleh Rivan.
Kembali mereka menyamakan ritme ketika ingin mencapai puncak bersama sama, dengan nafas mereka yang tersengal sengal. Rivan menarik tubuh Tiara dan mendekapnya erat dengan nafas yang bersahutan untuk mendapatkan oksigen yang cukup.
" Lagi?" suasana yang kembali tenang dengan tubuh keduanya yang masih menyatu, tiba tiba Rivan bertanya dengan mata tatapan berkilat.
Nafsunya masih menggebu dan sepertinya dia siap menghabiskan sepanjang malam melakukan kegiatan yang seperti candu ini. Tiara tersenyum nakal, seperti hal Rivan, Tiara juga siap untuk melakukannya sepanjang malam ini.
Suasana di dalam kamar mereka terasa begitu panas karena kegiatan mereka yang terus dilakukan sepanjang malam. Seolah menuntaskan tugas mereka yang harus tertunda karena prasangka buruk Tiara yang terus menghantui pikirannya.
*
*
*
Dengan penuh semangatnya mereka melakukannya seolah tidak mengenal lelah, mungkin ini adalah pengalaman yang pertama bagi keduanya setelah sekian lama tertunda setelah pernikahan mereka yang sudah berjalan sekitar 2 mingguan lebih.
Tiara membuka matanya perlahan dan rasa pegal langsung memenuhi tubuhnya. Semalam dia tidak merasa lelah sama sekali saat melakukannya berkali kali dengan Rivan, dan baru sekarang dia merasakan seluruh tubuhnya yang terasa sakit dan pegal semua.
Meskipun tubuhnya teras sakit, tapi hatinya begitu damai ketika mendapati dirinya tengah berada dalam dekapan Rivan. Kemudian Tiara mengecup dada Rivan, bergantian bergerak ke atas mencium tulang selangka dan leher Rivan.
Sentuhan bibir Tiara di kulitnya, membuat Rivan langsung terbangun dan membuka matanya. Dia tersenyum dengan lembut dan menghembuskan nafasnya dengan perlahan saat melihat wajah istrinya yang menengadah menatapnya balik.
" Pagi nyonya sunshine..." sapa Rivan pada Tiara dengan suara yang lembut dan manis. Sangat berbeda saat dirinya berkali kali meneriakkan nama istrinya beberapa jam yang lalu.
" Pagi tuan monster yang baik hati..." balas Tiara yang langsung m ngundang tawa Rivan.
__ADS_1
Rivan tau maksud ucapan Tiara itu pasti mengacu pada kebuasan Rivan semalam. Yang terus menyerang Tiara entah sampai berapa kali mereka melakukannya. Rivan juga tidak tau kenapa dirinya penuh stamina ingin melakukannya ' lagi' dan ' lagi' seolah tanpa kenal lelah. Mungkin karena buah kesabarannya menghadapi sikap Tiara yang menolak melakukannya.
Tiara juga ikut tertawa, sebelum akhirnya mereka bercumbu dan kembali berpelukan. Sepetinya tidak ada yang berniat buru buru untuk melepaskan pasangannya dan mulai beraktivitas.
" Makasih untuk yang semalam ya, sayang..." kata Rivan mengecup puncak kepala Tiara yang berada di atas dadanya.
Ucapan terima kasih Rivan soal semalam, dirasa Tiara sangat berlebihan. Karena menurutnya, jika mengingat kembali momen semalam, apa yang mereka lakukan, Tiara juga ikut bersenang senang di dalamnya.
" Terima kasih juga, mas..." sudah seharusnya Tiara juga berterima kasih pada suaminya kan, karena sudah sabar dengan sikapnya selama ini dan membuatnya bersenang senang semalam.
" Aku cinta kamu istriku..." ucap Rivan semakin mengeratkan pelukannya hingga tubuh polos mereka bersentuhan tanpa celah.
" Ternyata, rasa cinta yang mau kamu tunjukkan ke aku gede banget ya..." bukannya membalas pernyataan cinta suaminya, Tiara melempar candaan.
" Kamu tau, hal mudah apa yang aku rasain tentang kamu? Bahwa mencintai kamu adalah hal termudah yang pernah aku lakukan" ucap Rivan dengan lembut dan romantis.
Tiara yang tidak dapat menahan diri langsung mengecup bibir hangat Rivan.
" Aku bahagia bahwa kamu adalah yang pertama untuk" ucap Tiara mengarah pada malam pertama mereka.
" Aku juga bahagia bahwa perempuan secantik dan se - hot ini yang jadi pengalaman pertamaku" balas Rivan sambil melirik ke bagian bawah tubuh Tiara dengan senyuman mengembang
" Ih... apaan sih?" sahut Tiara dengan wajah memerah sambil memukul pelan dada Rivan.
" Aku serius sayang... i cinta semua tentang kamu" sahut Rivan meyakinkan.
" Semua tentang kamu membuatku gila" balas Tiara sambil mengecup dada suaminya.
" Segila apa?" tantang Rivan sambil menggoda.
" Segila..... lagi?" balas Tiara, mengulang kata yang diucapkan Rivan berkali kali semalam.
Rivan langsung membuka matanya lebar, dengan senyuman mengembang. Jika mengingat semalam dirinya merasa kurang saat melakukan penyatuan dengan istrinya untuk pertama kalinya. Dan tanpa merasa lelah dan puas, dia selalu bertanya 'lagi', 'lagi' entah sampai berapa kali.
__ADS_1