
Rivan mencoba menepis rasa pusing yang menderanya sejak bangun tidur tadi. Tiara sudah bersikeras melarang suaminya itu untuk bekerja, tapi Rivan berdalih hari ini akan ada rapat penting dengan pimpinannya.
Pergantian cuaca memang tidak pernah bersahabat dengan kondisi tubuh yang selalu diserang hingga membuat beberapa orang sakit. Ditambah lagi dengan polusi kota Jakarta yang masuk dalam kategori berbahaya. Asap kendaraan bermotor menjadi salah satu penyebab polusi udara menjadi kotor.
Rivan termasuk orang yang jarang sakit, tapi sekalinya jatuh sakit kondisinya pasti akan langsung drop, bukan sekadar demam atau pusing saja. Karena Rivan terus memaksa bekerja, Tiara membekali suaminya makan siang serta obat pereda pusing untuk Rivan, katanya untuk jaga jaga kalau pusingnya tak kunjung menghilang.
Hal seperti itu mampu membuat Rivan tersenyum senang dan melupakan sejenak rasa pusing yang sebenarnya begitu mengganggu. Perhatian kecil yang diberikan Tiara selalu membuatnya bersemangat dan bahagia.
Rivan tersenyum melihat ke arah kotak bekal yang dia letakkan di ujung sudut mejanya. Kotak bekal berwarna biru yang terasa begitu menggodanya untuk segera menyantap makanan didalamnya. Tapi apa daya baru beberapa jam yang lalu dia duduk di kursi kerjanya dan jam makan siang pun masih lama.
" Pagi mas..." sapa pak Indra yang sudah berdiri di depan meja kerja Rivan. " Ini beberapa berkas yang kita butuhkan nanti. poin pentingnya semua sudah ada di powerpoint sih, tapi ini untuk jaga jaga aja kalau pak bos besar minta buktinya dan sidak ke ruangan kita" pak Indra meletakkan semua berkas yang nanti dibutuhkan oleh Rivan waktu rapat dengan pak Ahmad.
Tiap minggunya memang selalu ada rapat rutin yang membahas sejauh mana perkembangan pembangunan baik itu Infrastuktur maupun bangunan penunjang lainnya. Selain itu juga membahas akan kendala ataupun masalah yang sekiranya menghambat proses pembangunan tersebut.
" Thank you, mas" ucap Rivan sambil memijit pelipisnya sebentar sebelum memfokuskan matanya untuk melihat berkas yang dibawa oleh pak Indra.
" Lagi sakit, mas?" tanya pak Indra hati hati dan sedikit khawatir melihat wajah Rivan yang sedikit pucat.
Rivan tertegun sebentar. " Ah enggak, mas. Cuma sedikit pusing aja" sebisa mungkin Rivan tidak membuat timnya merasa cemas apalagi mereka akan segera rapat.
Sebenarnya pak Indra tidak percaya melihat wajah Rivan yang pucat, tapi dia hanya bisa mengangguk mengiyakan saja. Menurutnya Rivan sudah dewasa, dia bisa merasa sejauh mana kondisi tubuhnya bisa bertahan. Akhirnya pak Indra pamit kembali duduk di kursinya sendiri.
Rencananya sehabis rapat ini nanti Rivan akan langsung ijin untuk pulang lebih cepat. Dia ingin beristirahat di rumah sebisanya sebelum dia benar benar timbang dan harus berakhir di rumah sakit.
Masih ada waktu sekitar satu jam lagi sebelum waktu rapat dengan pak Ahmad dimulai. Ada banyak waktu bagi dirinya untuk untuk membaca berkas yang dibawa pak Indra dan mempelajari isinya. RI an memang sangat detail, makanya dia bisa mendukung jabatannya saat ini di usianya yang terbilang masih muda.
Sekali lagi Rivan mengecek berkas yang tadi sudah dibacanya sampai berulang ulang karena sepuluh menit lagi rapat akan dimulai. Dia ingin memastikan agar tidak ada satupun berkas yang tertinggal di ruangannya. Dan setelah memastikan semuanya lengkap Rivan langsung bergegas menuju ke ruang rapat.
" Silakan masuk, mas" rupanya pak Indra sudah berada di ruang rapat terlebih dahulu dan menunggu Rivan di depan pintu ruang rapat.
__ADS_1
Rivan mengangguk kecil, dan baru saja Rivan akan masuk ke dalam tiba tiba pusing di kepalanya menyerang dengan hebatnya. Disusul dengan pandangannya yang mulai terasa berat dan kabur. Tenaga Rivan seolah menghilang hingga membuat berkas yang dipegangnya jatuh disusul dengan tubuhnya yang ikut ambruk.
Beruntungnya pak Indra berada di belakang Rivan sehingga dia bisa menahan tubuh Rivan yang akan ambruk ke lantai.
" Vann...." panggil pak Indra saat melihat Rivan yang sudah tidak lagi bergerak dan pingsan.
Beberapa pegawai yang ada di sekitar langsung mengerubungi pak Indra dan juga Rivan.
" Tolong ambilkan kunci mobil saya, kita bawa ke rumah sakit aja langsung" kata pak Indra pada beberapa staf yang sedang mengerubungi. Salah satu staf langsung berlari untuk mengambil kunci mobil dan beberapa lainnya membantu menggotong tubuh Rivan.
Sementara Rivan akan dibawa menuju ke rumah sakit, pak Indra tengah kebingungan. Dia memegang ponsel Rivan, namun bingung siapa yang akan dihubunginya.
" Loh... mas Rivan!" seru Siska kaget, dia yang penasaran langsung bergegas menghampiri.
" Mas, kabarin istrinya aja" kata Siska yang langsung bisa menangkap kebingungan pak Indra.
" Kamu yang ngomong ya, nih. Saya tunggu di mobil" suruh pak Indra sambil menyerahkan ponsel Rivan pada Siska.
' Hallo... kenapa, mas?' sapa suara merdu seorang perempuan dari ujung telepon.
" Pagi, mbak... saya sekretarisnya mas Rivan" Siska langsung memperkenalkan dirinya dengan singkat. " Pak Rivan pingsan, bu. Sekarang lagi dibawa ke rumah sakit" jelas Siska dengan hati hati.
' Mas Rivan pingsan?!' tanya Tiara dengan suara seru saking paniknya yang terdengar jelas di telinga Siska.
Sedari tadi perasaan Tiara memang sudah tidak enak dan dia terus kepikiran dengan suaminya itu. " Ke rumah sakit maba ya, mas Rivan dibawa?" tanya Tiara setelah berhasil menguasai rasa paniknya.
" Rumah sakit Jakarta, mbak" jawab Siska setelah memastikan Rivan akan dibawa ke mana oleh pak Indra.
' Saya langsung ke sana, ya. Terima kasih infonya, mbak' balas Tiara langsung tanpa bertanya lagi
__ADS_1
Setelah sambungan teleponnya terputus, Dinda mantap layar ponsel Rivan. Wajahnya sendu tidak bisa bicara lagi.
*
*
" Kalau ada yang nyari aku, tolong bilang aku ke rumah sakit, ya" pesan Tiara pada salah satu karyawannya. Mengingat sekarang Nita sudah tidak bekerja lagi, mulai sekarang Tiara akan mempercayakan butiknya pada salah satu karyawannya yang sudah lama bekerja di sana.
" Iya, mbak" sahut salah satu karyawan bagian kasir yang tidak ingin bertanya lebih lanjut saat melihat raut wajah Tiara begitu panik.
Tiara langsung tergesa gesa keluar dari butik terlihat seperti sedang berlari.
Mendengar Rivan dilarikan ke rumah sakit apalagi saat dirinya tidak ada di samping Rivan, membuat Tiara diserang rasa panik luar biasa. Rasa heran yang muncul saat mendengar suara perempuan yang menjawab sapaannya benar benar hilang tak bersisa begitu tau kabar yang dibawa si penelepon.
Taksi konvensional menjadi pilihan Tiara saat dirinya tidak punya waktu lagi untuk memesan dan menunggu taksi online.
Tiara mengingat jelas bagaimana tadi pagi setelah berdebat dengan Rivan yang berjalan alot dan diputuskan kalau Rivan tetap bekerja juga. Tiaralah yang akan mengantar Rivan, tapi Rivan dengan otak jeniusnya selalu punya cara. Alih alih menyetujui ide Tiara, Rivan lebih memilih menggunakan jasa pak Rudi untuk mengantarkan mereka berangkat kerja.
Tiara sedikit menyesal, seharusnya dia tetap ngotot supaya Rivan nggak masuk kerja, bukannya luluh dengan ciuman yang didapatkan Rivan. Hati Tiara memang cepat sekali leleh sih, kali berhubungan dengan Rivan.
Setelah tiga puluh menitan perjalanan akhirnya Tiara sampai juga di rumah sakit. Dia segera menuju ke IGD, tempat dimana pasien pertama kali masuk sebelum mendapatkan kamar rawat inap.
" Permisi, sus. Pasien atas nama Rivan Dimas Sanjaya di bed berapa, ya?" tanya Tia pada perawat bagian pendaftaran di IGD
" Pak Rivan ada di bed nomer empat, bu" kata petugas tersebut memberitahu Tiara.
Setelah mengucapkan terima kasihnya, Taira segar mencari bed nomer empat di dalam ruang IGD. Agak sulit menemukan bed di IGD, selain tidak ada nomernya, raya rat semua tirai yang memisahkan antara bed tertutup. Tapi, begitu melihat seseorang dengan pakaian formal seragam PNS sedang berdiri dan didepan bangsal pasien yang tertutup oleh tirai, dengan segera Tiara bergegas langsung menghampiri.
" Permisi...." pada wanita yang berpakaian formal itu, kas sekali seorang pekerja kantor apalagi seragamnya merupakan seragam PNS.
__ADS_1
Beberapa pasang mata yang ada di sana hanya menatap sekilas ke arah perempuan cantik yang meminta jalan.
" Hai, sayang...." sontak saja semua mata langsung tertuju pada seseorang yang baru saja menyapa wanita cantik yang baru datang itu. Dengan tubuhnya yang masih lemah dan terbaring di ranjang pasien, Rivan menyapa Tiara dengan suaranya yang terdengar masih lemah.