
Paginya seperti biasa Rivan dan Tiara sedang bersiap siap untuk berangkat bekerja. Untung saja semalam mereka tidak harus harus bergadang hingga menjelang pagi, seperti malam sebelumnya yang bergadang sepanjang malam untuk melakukan aktivitas ranjang mereka, hingga membuat Tiara hampir tidak bisa bangun.
Bukan tanpa alasan malam sebelumnya mereka harus bergadang, itu karena mereka sama sama baru pertama kali melakukan making love. Sehingga mereka seolah tidak puas jika hanya melakukannya sekali dan akhirnya mereka melakukannya hingga beberapa kali hingga mereka berdua merasa puas.
Begitu juga semalam mereka tetap melakukan kegiatan panas. Tapi mereka melakukan kegiatan tersebut sepulang kantor dan waktu jam makan malam. Sehingga mereka menunda jam makan malam menjadi tengah malam setelah kegiatan panas mereka selesai dan perut mereka keroncongan setelah kegiatan mereka yang menguras banyak tenaga.
Sehingga begitu selesai dengan acara makan malam mereka yang tertunda hingga tengah malam, mereka langsung mengistirahatkan tubuh mereka yang sudah kelelahan. Mereka berdua semakin merasa bahagia karena kehidupan rumah tangga mereka berjalan dengan sempurna.
" Udah cantik kok, sayang" ucap Rivan setelah mengecup puncak kepala Tiara yang sudah menghabiskan 15 menit berdiri di depan cermin.
" Emang kalau bercermin urusannya cuma buat biar cantik atau nggak gitu? Kamu dari tadi juga ngaca terus, tapi kenapa nggak tambah cantik?" tanya Tiara yang terdengar sewot padahal suaminya hanya bermaksud menyindirnya yang dari tadi terus berkaca terlalu lama.
Dapat Rivan tangkap bahwa istrinya saat ini sedang merasa kesal, tapi dia juga belum tau apa yang sebenarnya terjadi hingga membuat Tiara sewot padanya. Padahal semalam mereka terlihat baik baik saja, bahkan mereka semalam tidur dengan saling memeluk. "Emang ada masalah apa sih, sayang?" tanya Rivan pelan yang baru selesai memakai dasinya di sebelah Tiara.
Pagi itu mereka berbagi cermin untuk bersiap siap pergi bekerja. Setelah Rivan melontarkan pertanyaan tersebut, Tiara pun melirik dengan perlahan. Dia menahan kesal pada suaminya yang masih sibuk merapikan diri tanpa merasa bersalah.
" Pake nanya lagi...." sindir Tiara dengan sinis.
Rivan yang menangkap nada bicara Tiara yang tambah semakin sinis padanya, akhirnya menengok sambil memasang wajah bingung maksud ucapan istrinya.
" Kamu kenapa?" tanya Rivan lagi yang memang masih belum mengerti.
" Ini nih masalah aku!" seru Tiara sambil menunjuk lehernya sendiri.
Rivan melihat leher Tiara, dia tersenyum melihatnya. Di sana terlihat hasil karyanya semalam, padahal hasil karya malam sebelumnya masih terlihat samar dan tadi malam dia menambahkan lagi, warna merah di leher istrinya yang terlihat hampir membiru karena ulahnya.
__ADS_1
" Ehhhm.. sorry sayang" ucap Rivan yang kini merasa bersalah telah membuat mood istrinya pagi itu memburuk. Tapi masalahnya melihat leher jenjang istrinya yang begitu indah dan menggoda membuat Rivan ingin menambah satu tanda lagi di leher Tiara yang belum berwarna merah.
Tapi semua itu harus ditahan oleh Rivan jika tidak ingin membuat istrinya semakin marah padanya. " Maaf sayang, sepetinya kamu masih harus memakai syal lagi untuk menutupinya" ucap Rivan benar benar merasa tidak enak hati lalu mencium kening Tiara dengan lembut berharap hal itu bisa meredam emosi istrinya saat ini.
Dapat Rivan lihat wajah cemberut istrinya yang sedang memakai kain panjang di lehernya. " Melihat bibir kamu, rasanya pengen banget aku menggigitnya!" ucap Rivan ingin menggoda istrinya sambil mencubit bibir Tiara pelan yang manyun ke depan beberapa inci.
" RIVAN....!" teriak Tiara kesal dengan ulah suaminya yang semakin memperburuk moodnya, padahal dia sedang merapikan syal di lehernya agar menutup sempurna.
Tiara menatap marah ke arah suaminya, Rivan sendiri justru malah tertawa terbahak bahak melihat reaksi istrinya yang begitu menggemaskan. Tapi bukan Tiara namanya kalau diam saja jika diperlakukan seenaknya.
Dengan cepat Tiara menatap suaminya begitu juga sebaliknya, dan langsung saja Tiara mengencangkan dasi suaminya hingga suara tawanya berubah menjadi suara batuk.
Tiara berjalan sambil menghentakkan kakinya menuju lemarinya dan mencari syal yang akan dia gunakan sekali lagi untuk menutupi lehernya. Tapi kali ini Tiara tidak mengambil syal, dia lebih memilih mengambil salah satu scarf milikinya yang memiliki corak bunga.
Menurutnya dengan memakai scarf dengan bentuknya yang tipis dan kecil daripada syal, akan membuat lehernya nyaman dan tidak kepanasan seperti kemarin. Tiara langsung melilitkan scarf tersebut di lehernya dan berharap kali ini dapat menutupi lehernya, mengingat scarf bentuknya kecil namun mudah di bentuk sehingga bisa menutupi lehernya.
" Syukuri.." kata Tiara cemberut, tapi sambil membawakan gelas yang berisi air putih yang terdapat di atas meja nakas.
" Jahat kamu..."Rajuk Rivan selesai meminum air putih yang diberikan oleh Tiara.
" Kamu tuh lebih jahat..." balas Tiara yang langsung meninggalkan kamar menuju ke bawah tanpa menunggu Rivan yang masih berada di dalam kamar mereka.
Dalam hati, Tiara benar benar tidak habis pikir, jika di depan orang lain Rivan selalu bersikap tegas, dingin, kaku dan cuek. Tapi entah kenapa jika berada di depannya Rivan menjadi orang yang begitu jahil dan mudah tertawa.
Tapi setelah Tiara pikirkan lebih lanjut sambil dirinya menuruni tangga, dia merasa tidak keberatan dengan Dika Rivan. Mungkin itu adalah salah satu cara menunjukkan rasa cinta dan betapa spesialnya Tiara. Selain dengan cara dia yang terus memujanya saat mereka bersama seperti tadi malam.
__ADS_1
Mereka segera memakan sarapan yang sudah disiapkan sebelumnya oleh Tiara. Dan perdebatan mereka di kamar langsung menguap begitu saja setelah mereka makan bersama sambil berbincang dengan topik pembicaraan yang lainnya.
Akhirnya setelah selesai sarapan, mereka langsung berangkat bekerja bersama seperti biasa Rivan yang menyetir sendiri karena sekarang dia tidak ingin menggunakan sopir pribadi. Dia lebih suka menyetir sendiri dengan ditemani istrinya. Dan seperti biasa Rivan akan mengantarkan Tiara terlebih dahulu ke butiknya baru setelah itu dia berangkat sendiri ke kantornya.
Seperti biasa Rivan bekerja di tempat seperti biasanya. Sudah hampir semingguan ini Rivan tidak bekerja di luar kantor, karena biasanya jika ada proyek yang sedang dikerjakan oleh kantornya dia akan sering bekerja di lapangan.
" Van... dipanggil pak bos tuh" beritahu salah satu rekan kerjanya yang bernama Indra setelah dia mendapatkan telepon dari sekretaris bos mereka untuk memanggilkan Rivan.
" Tumben gak blusukan, mas?" tanya Rivan melihat anak buahnya datang dan memberitahukan bahwa pimpinan mereka mencarinya, padahal dia baru saja nyampai dan duduk di kursinya.
" Ketuanya masih sibuk" sahut Indra yang sebenarnya sedang menyindir Rivan yang sepertinya sedang disibukkan dengan urusan perasaannya.
Biasanya jika Rivan sedang bekerja di lapangan dia akan selalu meminta Indra untuk ikut dengannya. Indra merupakan salah satu bawahan Rivan, tapi umurnya jauh di atas Rivan. Rivan juga salah satu ketua departemen yang paling muda dan juga ketua yang paling berprestasi diantara ketua yang lainnya. Dia tidak pernah mau dipanggil pak ataupun mas, dia lebih suka dipanggil namanya saja.
Namun meskipun umur Rivan lebih muda daripada, hubungan mereka tidak kaku, baik itu dengan sesama ketua ataupun anak buahnya. Rivan hanya akan bersikap tegas dan disiplin jika itu mengenai pekerjaan.
" Van... jangan bengong. Cewek nggak bakalan tiba tiba datang kalau kamu cuma bengong doang..." goda Indra yang melihat Rivan melamun.
Rivan mengernyit mendengar sindiran Indra padanya, dia tidak tau bagaimana reaksi Indra dan rekan rekan sekantornya jika mengetahui dirinya yang sudah menikah. Apalagi jika mereka tau, bagaimana awal pertemuan dirinya dengan Tiara hingga menikah mendadak, sudah dipastikan mereka semua tidak akan pernah percaya.
" Tuhhh... sekarang malah senyum senyum sendiri, dasar gila" kata Indra lndra lagi yang malah mengejek Rivan gila.
" Eh temen temen lihat nih, bos kita senyum senyum sendiri lagi. Gue takut dia jadi gila, gara gara cewek, nih..." kali ini Indra berbicara dengan beberapa rekan kerja yang lainnya yang juga berada di ruangan yang sama dengan Rivan dan Indra.
" Aku udah nikah dan punya istri" kata Rivan kemudian karena gemas dengan sikap semua anak buahnya yang seolah mengasihani dirinya yang belum menikah di usinya yang sudah menginjak kepala 3.
__ADS_1
Rivan menunjukkan jari manisnya yang tersemat cincin pernikahannya dengan Tiara. Sontak saja hal itu membuat semua orang yang mendengar langsung terdiam dan terbengong, dan Rivan puas melihat reaksi mereka.