Suddenly Married

Suddenly Married
Kita Buat Satu


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan hampir lima belas menit lamanya, akhirnya mobil yang ditumpangi oleh Tiara dan Nita sampai juga di rumah sakit. Mereka langsung keluar begitu mobil sudah berhenti di depan lobi rumah sakit. Mereka langsung menuju ke tempat resepsionis untuk melakukan pendaftaran terlebih dahulu.


Tiara membantu Nita menyelesaikan segala keperluan administrasi yang diperlukan sahabatnya itu untuk menemui dokter kandungannya. Setelah urusan administrasi selesai mereka berdua langsung berjalan menuju ke ruang pemeriksaan dokter kandungan.


Begitu sampai di lorong ruangan dokter kandungan berada mereka duduk di bangku yang sudah disediakan oleh pihak rumah sakit. Tiara mengamati beberapa perempuan hamil yang sudah antri di sana. Mereka semua ditemani oleh suami mereka masing masing, dan hanya Nita saja yang ditemani oleh dirinya sesama perempuan. Namun meskipun begitu tidak nampak sedikitpun wajah kecewa diraut wajah Nit. Justru dia terlihat lebih bahagia karena ditemani oleh sahabatnya.


Andai saja dirinya yang ada di posisi Nita saat ini, sudah pasti dia akan langsung mencak mencak jika Rivan lebih mementingkan pekerjaannya daripada menemani dirinya periksa.


" Nanti Lo mau nunggu diluar atau mau ikut masuk ke dalam?" tanya Nita sambil menunggu antrian namanya dipanggil


" Gue ikut masuk boleh kan? penasaran gue, biar ada pengalaman nanti pas gue hamil" sahut Tiara dengan serius.


Nita hanya tertawaan kecil. " Cieee, kayaknya sahabat gue yang satu ini udah siapa banget nih. Jadi nggak sabar gue pengen lihat versi Tiara yang tengah berbadan dua" goda Nita dengan cengiran di bibirnya.


Tiara hanya mendengus sebal dan memutar matanya malas dengan godaan sahabatnya itu.


" By the way dokternya cakep loh, jangan sampai Lo jatuh cinta sama dia" Nita ingat kalau dokter kandungan yang memeriksanya beberapa hari yang lalu, seorang pria yang memiliki wajah yang tampan. Untung saja waktu itu dia kontrol diantar oleh Doni, kalau nggak bisa lupa daratan dia.


" Emang cakepan mana sama Rivan?" tanya Tiara membandingkan ketampanan suaminya yang menurutnya sudah diatas rata rata


Nita tampak berfikir sejenak, lalu dia memandang Tiara dan tersenyum kecil. "Kalau menurut gue sih lebih gantengan laki gue" jawab Nita sambil cengar cengir lebar.


Tiara hanya bisa menepuk jidatnya pelan, dia lupa kalau sahabatnya itu cinta mati sama Doni. " Dasar calon ibu edan" umpat Tiara dengan geleng geleng kepala.


Sekali lagi Nita tertawa pelan. " Gue mau bandingin aja, sapa tau Lo malah berubah pikiran setelah lihat dokter ganteng" sahut Nita seenaknya.


Mereka terus mengobrol dan bercanda untuk menghilangkan rasa bosan karena terlalu lama menunggu antrian.


Tidak terasa waktu yang mereka gunakan dengan bersenda gurau, akhirnya nama Nita dipanggil oleh suster yang mendampingin sang dokter kandungan melakukan prakteknya. Mereka sudah menunggu hampir 2 jam lebih lamanya tapi karena mereka terus mengobrol dan bercanda hingga mereka rasa bosan menguap dengan sendirinya.


Tiara segera berjalan sambil menuntun Nita agar berjalan dengan pelan. Kemudian mereka berdua langsung masuk ke dalam ruangan dokter kandungan.

__ADS_1


Nita langsung disuruh berbaring di atas brankar dengan dibantu oleh suster yang tadi memanggil nama Nita. Dengan pelan suster tersebut langsung membantu Nita menarik celananya kebawah hingga menampakkan perut Nita yang sudah sedikit kelihatan buncit.


Tiara sendiri disuruh duduk di sebelah ranjang Nita, karena dia penasaran pemeriksaan seorang ibu hamil.


" Gimana kabarnya bu Nita?"tanya sang dokter yang berjalan mendekati Nita dengan senyum ramahnya.


Memang benar kata Nita, wajah dokter kandungan tersebut terlihat tampan dan masih muda. Tapi bagi Tiara hanya Rivanlah yang paling tampan.


Suster tadi langsung memberikan gel di perut Nita kemudian sang dokter meletakkan sebuah alat diatas perut Nita yang tadi beri gel oleh suster.


Tidak lama dilayar di depan mereka terdapat gambar hitam yang terlihat sedikit buram. Tapi mereka tau bahwa itu adalah sosok calon bayi yang ada di perut Nita saat ini. Dokter menjelaskan beberapa hal mengenai bayi yang ada di dalam perut Nita, sementara itu Nita dan Tiara fokus melihat sambil mendengar penjelasan dokter.


Rasa haru dan senang mendominasi pada dua perempuan yang sama sama fokus pada hasil usg yang terlihat di layar televisi.


Nita tidak menyangka dia sudah diberikan kepercayaan Allah untuk menjaga dan menimang bayi kecilnya nanti. Buah cintanya bersama dengan Doni, tapi sayang saat ini Doni belum bisa melihat kondisi janinnya karena harus sibuk dengan pekerjaannya.


Rasa haru dan senang juga dirasakan oleh Tiara. Dalam hatinya dia berdoa semoga Tuhan segera menjawab doa doanya untuk segera dikirimkan malaikat kecil diantara dirinya dan Rivan.


" Iyalah anak gue!" sahut Nita sambil terus memperhatikan layar usg. " Makanya keluarnya di dalam biar cepet jadi , jangan__ aw sakit tau Ra!" ucapan Nita terpotong karena cubitan kecil Tiara di lengan Nita.


" Mulutnya itu loh!" sahut Tiara dengan nada penuh penekanan.


Dokter kandungan yang masih memutar mutar alat usg itu tertawa. Dia sudah terbiasa melihat respon pasian yang berbeda beda. Mulai dari yang malunya keterlaluan sampai yang malu maluin seperti Nita kali ini.


Setelah selesai pemeriksaan Nita dan Tiara langsung duduk di kursi yang berhadapan dengan sang dokter untuk memberikan penjelasan pada Nita.


" Ibunya jangan terlalu banyak pikiran, kasihan nanti pertumbuhan janinnya terhalang" jelas dokter sambil mencatat beberapa resep vitamin yang harus Nita konsumsi.


Nita melirik Tiara dengan tatapan mesumnya, lalu tiba tiba ide jahil Tiara langsung muncul. "Masih bisa melakukan aktivitas malam kan dok?" tanya Nita padahal dulu dokter sudah pernah menjawabnya saat dirinya kontrol pertama kali bersama Doni.


Tiara langsung menatap tajam ke arah Nita yang lugas banget menanyakan hal seperti itu. Tiara aja langsung malu padahal dirinya hanya menjadi pendengar saja. Memang dasar Nita, urat malunya udah putus, otak isinya hal mesum melulu.

__ADS_1


Dokter menjelaskan tanpa merasa canggung karena itu hal wajar dibicarakan oleh orang dewasa yang sudah menikah. Kemudian dokter menyarankan Nita untuk mengkonsumsi teh yang dicampur lemon dan madu di pagi hari untuk mengurangi rasa mual. Karena banyak ibu hamil yang mengalami mual di pagi hari, meskipun ada juga yang mengalami mual waktu siang atau sore hari.


" Tidak perlu memaksakan untuk memakan nasi kalau, memang dirasa mual banget. Konsumsi buah atau makanan lain yang mengandung karbohidrat juga bisa. Yang terpenting ada asupan gizi yang harus masuk ke dalam perut ibu"


" Ada yang mau ditanyakan lagi?" kata dokter sambil menyerahkan kertas untuk menebus vitamin Nita.


" Cukup dok, nanti kalau ada apa apa saya kesini lagi" sahut Nita dengan genit.


Tiara hanya tertawa kecil dengan kelakuan sahabatnya itu. Menurutnya, bisa jadi calon bayi Nita berjenis kelamin perempuan, mengingat tingkah genit Nita selama pemeriksaan tadi.


Begitu keluar dari ruang pemeriksaan, Tiara langsung menghubungi Rivan. Dia akan bilang untuk mengantarkan Nita pulang dulu, baru dia akan langsung ke rumah ibunya. Selain itu pengalaman pertama kalinya mengunjungi dokter kandungan ini rasanya 'layak dibagikan' ke Rivan. Untuk pengalaman mereka suatu hari nanti.


" Ya sunshine" terdengar suara Rivan dari seberang menyapa panggilan Tiara dengan hangat.


" Masih di rumah sakit?" tanya Rivan penasaran karena Rivan dapat mendengar beberapa suara asing.


" Iya mas ini baru selesai pemeriksaanya" jawab Tiara


" Van istri Lo mesum abis! buruan deh hamilin dia!" Nita tiba tiba langsung bersuara di samping Tiara.


Tiara langsung melotot ke arah Nita. Bisa gawat kalau Rivan sampai salah mengartikan candaan Nita barusan.


" Ibu bunting rese deh!" ucap Tiara sambil memandang ke arah Nita yang tengah tertawa puas.


" Jangan dengerin kata Nita mas" dapat Tiara dengar dari seberang Rivan juga sedang tertawa tak kalah puas dari Nita.


" Sayang" panggil Rivan dari seberang begitu suara tawanya sudah berhenti.


Bukannya menjawab Tiara hanya bergumam namun masih bisa didengar oleh Rivan.


" Kita buat satu yang seperti itu, ya" iya kan Rivan justru malah ikutan menggoda dirinya, padahal wajah Tiara sedari tadi sudah memerah sekarang wajahnya semakin merah padam menahan malu. Bisa bisanya Rivan ikutan menggoda dirinya seperti itu.

__ADS_1


Namun bagi Rivan apa yang dikatakannya bukan hanya untuk menggoda sang istri. Tapi itu adalah sebuah keinginan nyata dari dalam lubuk hatinya setelah menjadi suami Tiara. Dia ingin buah cinta mereka segera tumbuh di rahim sang istri yang akan menambah keluarga kecil mereka lengkap dan semakin harmonis.


__ADS_2