
Setelah selesai mengobrol dengan pak Ahmad, Rivan langsung keluar dari ruangan pak gubernur tersebut. Saat menutup pintu bisa dia dengar umpatan pak Ahmad yang ditujukan padanya. Tapi Rivan hanya bisa tersenyum kecut saat mendengarnya.
Entah kenapa saat dirinya mengatakan kebenaran akan statusnya, banyak orang yang tidak memercayai dirinya. Mungkin benar apa yang dikatakan oleh bundanya bahwa pernikahan yang hanya dilakukan di KUA tidak akan mendapatkan respon baik dari khalayak umum. Mereka tidak akan pernah percaya sebelum adanya resepsi pernikahan yang terlihat megah yang secara tidak langsung memberitahukan status baru mereka.
Tapi Rivan sama sekali tidak ambil pusing dengan perkataan orang lain, baginya yang terpenting dirinya sudah memiliki Tiara seutuhnya secara sah. Dan dapat menjalani kehidupan pernikahan mereka dengan bahagia tanpa memperdulikan omongan orang lain.
Rivan kembali ke ruangannya dengan raut wajah dingin dan langsung duduk di kursi kerjanya untuk melanjutkan pekerjaannya. Dapat Rivan rasakan semua orang sedang menatap ke arahnya, dia yakin mereka penasaran dengan status pernikahannya yang tadi sempat dia lontarkan sebelum dia keluar dari ruangan.
Dan memang benar saat itu semua pasang mata sedang menatap ke arahnya mulai dari Rivan yang masuk ruangan hingga dia duduk. Mereka benar benar dibuat penasaran dengan ucapan Rivan tadi yang membuat semua orang dalam satu ruangan tersebut langsung tercengang dan terkejut. Rasanya mereka ingin sekali bertanya langsung bahwa semuanya benar adanya.
Tapi melihat raut wajah Rivan yang terlihat dingin dan datar tidak ada satupun yang berani mendekatinya. Apalagi Rivan baru saja dari ruangan pak Gubernur, bisa dipastikan Rivan mendapatkan perintah atau bisa jadi dia mendapat teguran dari pak gubernur. Makanya semua orang hanya bisa diam seribu bahasa tidak ingin mendekati atau bertanya lebih lanjut.
" Aku tau kalian penasaran soal ucapanku tadi, benar adanya kalau aku sudah menikah satu bulan yang lalu. Jadi sekarang kalian bisa melanjutkan pekerjaan kalian" ucap Rivan mencoba menghilangkan rasa penasaran rekan kerjanya sekaligus menyuruh mereka untuk melanjutkan pekerjaan mereka masing masing.
Tidak ada yang berani membantah ataupun melawan saat Rivan sudah berbicara mengenai pekerjaan. Mereka tau saat ini Rivan sedang serius dengan pekerjaannya dan mereka juga tau apa yang harus mereka lakukan jika pimpinan mereka sudah memberi perintah.
Waktu terus bergulir dengan cepat hingga akhirnya masuk jam makan siang. Rivan masih sibuk dengan pekerjaannya dan dia harus segera menyelesaikannya karena dia harus pulang cepat karena dia ingat ada acara keluarga yang sangat penting nanti malam.
" Kamu gak ke kantin, Van?" tanya Indra yang sudah bersiap siap menuju ke kantin kantor yang ada di bawah.
" Kalian duluan aja, aku mau nyelesaiin kerjaan dulu" jawab Rivan dengan ramah.
" Mau nitip?" tanya Indra lagi menawari ketua tim departemennya sebelum dia benar benar akan meninggalkan Rivan sendirian di ruangan mereka.
" Emmm... tolong bawain kopi aja ya, mas" akhirnya Rivan nitip kopi untuk dirinya.
" Ok" jawab Indra lalu beranjak pergi bersama dengan teman teman yang lainnya.
Setelah kepergian semua anak buahnya Rivan langsung melanjutkan pekerjaannya agar cepat selesai untuk membuat laporan yang harus diserahkan pada pak Gubernur mengenai rencana pembangunan pemerintah daerah.
Saat dia sedang sibuk dengan pekerjaannya, tiba tiba teleponnya berdering menandakan bahwa ada panggilan masuk. Rivan langsung mengambil ponselnya yang ada di ujung mejanya, dan dilihatnya nomer sang istri yang saat ini sedang memanggilnya.
__ADS_1
Dengan senyum di wajahnya Rivan langsung menggeser tombol warna hijau. " Hallo, sayang" sapa Rivan dengan semangat.
" Hallo, mas... kamu sibuk gak?" tanya Tiara sebelum dirinya menyampaikan sesuatu.
" Nggak... sekarang waktunya istirahat. Ada apa, sayang?" tanya Rivan balik, dia tau sepertinya Tiara ingin menyampaikan hal yang penting.
" Kamu gak lupa kan... kalau nanti malam kita akan makan malam sama keluarga kamu buat ngerayain ulang tahun kakek kamu?" tanya Tiara mencoba mengingatkan suaminya.
" Ya nggak lah, sayang. Ini kan hari penting, mana mungkin aku bisa lupa" jawab Rivan dengan wajah sumringah karena istrinya mencoba mengingatkan dirinya.
" Baguslah kalau inget. Cuma tadi Vani kirim pesan katanya acaranya gak jadi di the Sab House" beritahu Tiara setelah dia mendapatkan pesan dari adik iparnya. Kini Tiara beralih peran menjadi manajer kehidupan personal Rivan.
" Memangnya kenapa, sayang?" tanya Rivan bersamaan dengan semua rekan kerjanya yang masuk ke dalam ruangan.
Indra yang samar samar mendengar Rivan menyebut kata ' sayang ' langsung merinding karena selama ini yang dia tau Rivan bukanlah pria yang romantis. ' Apa jangan jangan yang ditelponnya saat ini beneran istrinya?' tanya Indra dalam hati sambil duduk di kursinya sendiri sambil membawa kopi titipan Rivan ke mejanya terlebih dahulu menunggu Rivan selesai menelpon.
" The Sab House lagi direnovasi sedikit, takut nggak nyaman. Jadi acaranya dipindah ke rumah utama aja katanya" jawab Tiara dari seberang.
" Sayang..." kata Rivan dengan khawatir.
" Ya!" jawab Tiara.
Ada perasaan cemas yang dirasakan oleh Rivan saat ini, tapi dia tidak bisa mengatakan semuanya pada Tiara melalui telepon. Mungkin nanti sebelum ke rumah orang tuanya dia akan mengatakan yang sebenarnya pada Tiara.
" Ya sudah... nanti aku jemput kamu ya, kita siap siap di rumah" kata Rivan akhirnya tidak berniat memberitahu semuanya pada Tiara.
" Hmmm.... ya sudah aku tutup teleponnya ya" sahut Tiara sekaligus ingin mengakhiri obrolan mereka.
" Sampai ketemu nanti, sayang" kata Rivan kemudian menutup panggilan teleponnya setelah dirasa istrinya sudah menutupnya terlebih dahulu.
Sementara itu Indra yang mengetahui Rivan sudah selesai mengobrol di telepon langsung menghampirinya sekalian membawakan kopi titipan Rivan. " Ini kopi kamu, Van" ujar Indra yang kemudian meletakkan kopi Rivan dia atas mejanya
__ADS_1
" Makasih, mas" kara Rivan dengan senyum tipis dan berterima kasih.
" Emmm, Van. Itu tadi istri kamu, ya?" tanya Indra merasa sangat penasaran.
" Hmmm..." jawab Rivan hanya bergumam dan mengangguk sambil tersenyum.
" Jadi beneran kamu udah nikah?!" tanya Indra sekali lagi dengan suara yang keras sehingga semua orang yang ada di sana langsung melihat ke arah mereka berdua.
Rivan tidak menjawab, dia hanya mengangguk pelan sambil melihat ke arah laptopnya untuk melanjutkan pekerjaannya. Dia tidak memperdulikan tatapan semua orang saat ini, yang terpenting dia sudah berkata apa adanya mengenai statusnya saat ini. Jadi terserah mereka mau percaya atau tidak.
" Wahhh.... bakal jadi hari patah hati nih buat cewek cewek jomblo di sini!" seru Indra lagi yang merasa ikut bahagia dengan kabar yang baru diterimanya itu
" Huhuhu... hati gue patah jadi dua... hik..." Siska ikut menimpali ucapan Indra dengan mimik wajah yang dibuat sesedih mungkin.
" Hati gue hancur berkeping keping huhuhu...." sahut Tina yang juga ikut bersikap lebay dengan ucapan yang terlalu didramatisir.
" Makanya apa aku bilang, jangan terlalu berharap sama cintanya cowok yang tampan. Coba aja dulu kamu terima cinta aku pasti udah aku nikahin" Andre ikut menimpali bahkan dia juga sengaja menyindir Tina yang dulu pernah menolak cinta seseorang, tapi bukan Andre ya karena Andre sudah punya istri.
" Apaan sih, lo!" sergah Tiba tidak terima dirinya disindir seperti itu oleh Andre yang juga rekan satu timnya.
" Sudah, gak usah banyak drama. Kalian lanjutkan pekerjaan kalian" ucap Rivan yang sudah tau drama yang biasa dilakukan oleh anak buahnya yang satu ruangan dengannya.
Rivan bukannya marah dengan sikap mereka, justru dia merasa terhibur dengan keberadaan mereka yang suka bercanda sehingga pekerjaan mereka yang terasa berat menjadi lebih ringan.
" Kapan nih, undangannya traktirannya?" tanya Indra lagi mencoba menggoda Rivan yang mulai serius dengan pekerjaannya.
Rivan melirik Indra yang masih berdiri di depan mejanya, kemudian melirik semua rekan kerja satu ruangannya yang juga sedang menatapnya dengan penuh harap.
" Kapan kapan" jawab Rivan dengan entengnya. " Sudah buruan selesaikan pekerjaan kalian" kata Rivan memberikan perintah pada anak buahnya. Dia juga mengusir Indra untuk segera kembali ke tempat kerjanya.
Dalam diam Rivan hanya bisa menggeleng namun dengan senyuman tipis yang tidak terlihat saat melihat rekan rekannya begitu baik. Dia berjanji dalam hati akan mentraktir mereka, tapi entah kapan.
__ADS_1