
Rivan yang mendapatkan kabar dari istrinya yang ingin mengajaknya makan siang bersama di restoran yang ada di salah satu mall terkenal dimana mereka pernah juga makan siang di sana beberapa hari yang lalu. Selain itu juga toko baju Tiara juga ada di mall tersebut.
Tadinya dia pikir akan makan siang makanan buatan Tiara di kantor saja, gak taunya Tiara langsung memberinya pesan sekaligus memberitahu dirinya bahwa dia ingin makan siang bersama. Tentu saja dia langsung mengiyakan dan menyetujui ajakan istrinya.
Rivan meletakkan ponselnya di atas meja kerjanya dengan senyum bahagia yang menghiasi wajahnya. Membuat beberapa karyawan lain yang tanpa sengaja melihatnya langsung terkejut dan melongo. Bukan tanpa sebab karena selama ini Rivan hampir tidak pernah tersenyum pada sesama teman kerjanya, dia selalu bersikap cuek dan datar.
Tapi meskipun begitu dibalik sikap datarnya terhadap rekan kerja ataupun pimpinannya, Rivan tetaplah orang yang baik. Peduli dengan sesama, rendah hati bahkan saat bekerja selalu disiplin, tegas dan bekerja sama dengan sesama rekan kerjanya dengan sangat baik.
" Kok ada petir disiang bolong kayak gini ya" goda salah bawahan Rivan yang bernama Indra yang melihat ke arah luar kantor mereka yang memang terlihat panas.
Rivan merupakan salah salah satu pegawai kantor pemerintah daerah dan pada saat ini dia menjadi salah satu pimpinan di salah satu departemennya. Bahkan dia termasuk salah satu pemimpin yang terbaik sekaligus termuda diantara pemimpin departemen yang lainnya.
" Iya nih, petirnya bikin dada due deg deg an" Tina yang mengerti maksud ucapan Indra langsung ikut menyahuti godaannya pada Rivan sambil tersenyum ke arah Indra.
Rivan yang awalnya tersenyum langsung bersikap datar seperti biasanya dengan tatapan mata melihat ke arah Indra dan Tina. Meskipun begitu dia juga tidak marah ataupun menegur mereka berdua karena mereka hanya bercanda, apalagi sebentar lagi sudah masuk jam istirahat.
" Sepertinya ada yang lagi jatuh cintrong nih...." salah satu teman cewek yang bernama Siska juga ikut menimpali.
Anak buah Rivan memang sudah terbiasa berbicara santai kalau lagi bercanda, apalagi umur mereka masih muda jadi wajar saja jika mereka suka bercanda. Namun mereka akan tetap berbicara dengan sopan saat mereka sedang membicarakan pekerjaan. Selain itu pekerjaan mereka selalu beres dan benar jadi Rivan ataupun semua karyawan yang lainnya juga tidak mempermasalahkannya candaan mereka.
" Ah... yang bener Lo!" Indra orang yang suka bersikap gemulai kayak cewek tersebut pura pura terkejut dan mendorong kursinya mendekat ke arah meja Siska.
" Gue penasaran kira kira siapa ya yang bisa meluluh lantahkan cowok dingin dan datar itu..?" mulai mengajak Tina dan Siska bergosip seperti biasanya.
Rivan yang sudah mulai mengerti godaan godaan yang akan ditujukan padanya langsung membereskan mejanya dan beranjak berdiri. Dia malas jika harus mendengar godaan mereka yang suka kelewatan, namun dia juga tidak berniat untuk marah pada mereka.
" Sudah waktunya istirahat, sebaiknya kalian makan siang dulu" ucap Rivan dengan sikap datarnya sambil berjalan keluar dari ruangan mereka.
" Iya pak" sahut semua karyawan yang serangan dengan Rivan.
" Eh Lo yakin kalau pak Rivan lagi jatuh cinta?" tanya Indra yang mulai menggosipkan pimpinan mereka bersama rekan rekan yang lainnya.
__ADS_1
" Heemm.. gue yakin itu salah satu tanda orang yang sikapnya berubah" sahut Siska yang diangguki oleh yang lainnya.
Hari itu mereka semua menggosipkan perubahan sikap Rivan yang tiba tiba tersenyum dengan lebar bahkan terlihat sangat bahagia. Tapi mereka hanya bergosip bersama dengan rekan satu ruangan mereka saja. Hingga mereka bubar setelah Tina mengajak yang lainnya untuk makan siang di kantin kantor.
*
*
Sementara itu Rivan yang sudah sampai duluan di restoran yang dimaksud oleh Tiara, langsung mencari tempat duduk yang paling pojok. Untungnya suasana restoran tidak terlalu ramai oleh pengunjung sehingga suasana terlihat nyaman apalagi dari tempat duduknya Rivan dapat melihat suasana di luar restoran.
Seperti biasa Rivan hanya memesan minuman saja, dia akan selalu meminta istrinya untuk memesan makanan untuk mereka berdua. Rivan menunggu dengan sabar kedatangan Tiara dengan melihat keluar.
" Maaf mas aku terlambat" Tiara yang barusan datang langsung menarik kursi di depan Rivan.
Mendengar suara kursi didepannya ditarik oleh seseorang, apalagi mendengar suara yang sudah tidak asing lagi di telinganya, Rivan langsung menoleh dan tersenyum dengan cerah.
" Gak pa pa sayang, aku juga baru nyampai kok" kata Rivan yang kemudian berdiri dan mendekati Tiara yang sudah duduk kemudian mencium kening Tiara dengan lembut lalu kembali duduk di tempatnya.
" Kenapa pake gituan sih sayang, apa kamu gak gerah?" tanya Rivan melihat dan menunjuk leher istrinya yang tertutup oleh syal yang membuat Tiara seperti kepanasan.
" Pake nanya lagi? semua ini karena ulah siapa coba?" tanya Tiara ketus yang membuat Rivan memicingkan mata bingung.
" Memang karena siapa, sayang?" tanya balik Rivan yang memang masih belum mengerti arah ucapan Tiara.
Tiara menghela nafas panjang, mengontrol emosinya karena mereka sedang berada di tempat umum. " Siapa yang bikin leher bahkan tubuh aku jadi merah merah semua!" ucap Tiara penuh penekanan dengan suara pelan.
Akhirnya Rivan tersenyum lebar begitu mengerti maksud dari kekesalan istrinya. Rupanya yang maksud adalah tanda tanda percintaan mereka tadi malam yang dia buat hampir sekujur tubuh dan leher istrinya. Hingga membuat Rivan ingin sekali melihat hasil karyanya tersebut, namun dia tahan karena dia yakin jika dia melihatnya, bisa dipastikan dia ingin menambah lagi hasil karya tersebut.
" Hemmm... sorry sayang" ucap Rivan merasa tidak enak hati hingga membuat istrinya seperti tersiksa oleh syal yang menutupi lehernya.
" Tadi aku udah berusaha nutupin pake foundation beberapa lapis, tapi masih aja kelihatan. Aku malu lah kalau mau keluar dengan tanda kayak gitu di leher. Mana bekasnya jelas banget" ucap Tiara dengan bibir cemberut.
__ADS_1
" Ya, kan se-jelas cinta aku ke kamu, sayang" sahut Rivan dengan bangganya.
" Cinta kamu norak gitu maksudnya?" tanya Tiara masih kesal jika mengingat beberapa bekas merah di lehernya yang sangat jelas
" Kok norak, sih?" tanya Rivan nggak terima dibilang cintanya norak, padahal cintanya begitu tulus.
" Pamer pamer di leher, apalagi namanya kalau bukan norak!" seru Tiara masih dengan suara pelan tapi penuh penekanan.
" Kita kan nggak lagi bermesraan di tempat umum, sayang" bantah Rivan dengan suara yang lembut.
" Memang, tapi bekas ini ngasih gambaran ke orang orang kan" Tiara masih saja merasa kesal.
" Ah... kamu ini, sayang... baru sekali main khayalannya udah kejauhan. Dasar mesum" ejek Rivan tapi dengan nada bercanda sambil tersenyum tipis.
" Siapa yang mesum?!" Tiara benar benar dibuat tambah kesal oleh suaminya, apalagi sampai dikatai mesum, dia benar benar tidak terima.
Rivan hanya bisa mendesah, rasanya dia semakin bertambah bersalah saja dimata istrinya saat dia tanpa sengaja membuat Tiara kesal. Padahal dia hanya ingin mengajak istrinya itu bercanda saja, tapi nggak taunya istrinya justru bertambah kesal.
" Ok. I'm sorry, sayang" akhirnya Rivan mengalah dan meminta maaf. " Kita kan mau makan siang bersama, jadi jangan berantem ya, gak enak dilihatin orang" lanjut Rivan membujuk istrinya dengan mencium tangan Tiara yang dia genggam.
" Hemmm... aku juga minta maaf" sahut Tiara yang juga merasa bersalah karena terus menyalahkan Rivan. Mereka berdua sama sama tersenyum dengan wajah yang sudah kembali seperti semula.
Pelayan datang dan membawakan beberapa makanan yang sudah dipesan oleh Tiara. Rivan dan Tiara juga segera menyantap makan siang mereka sebelum nanti ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh Tiara.
Tidak lama mereka telah selesai dengan makan siang, dan Tiara meminta pelayan untuk membersihkan meja mereka terlebih dahulu dari sisa sisa makan siang mereka. Dan kini di meja meraka tertinggal beberapa camilan makanan ringan dan minuman yang akan menemani mereka selama mengobrol.
" Tadi kamu bilang, ada yang mau kamu bicarakan, sayang. Apa itu?" tanya Rivan yang meras penasaran dengan apa yang ingin dikatakan istrinya.
" Ehhmm...." Tiara bingung ingin memulai bicara darimana, sementara dia tidak ingin Rivan mengetahui semuanya permasalahan yang sedang dihadapinya saat ini.
Rivan menautkan kedua alisnya sambil menunggu istrinya berbicara tanpa ingin menyela. Dirinya merasa sedikit gelisah saat melihat wajah istrinya yang berubah bingung dan khawatir dan itu membuatnya semakin penasaran.
__ADS_1