
Sore itu mereka benar benar menghabiskan waktu yang cukup lama berendam air hangat bersama. Bagaimana tidak? mereka tidak hanya berendam saja, tentu saja mereka melakukan aktivitas panas mereka yang sudah menjadi candu.
Andai saja Tiara tidak menyudahi terlebih dahulu, bisa dipastikan mereka berdua akan terus berada di dalam kamar mandi hingga tengah malam. Rivan seolah tidak pernah ada bosannya untuk melakukan kegiatan panasnya bersama Tiara setiap harinya.
Wajah Rivan yang tadinya kusut dan tidak bersemangat karena memikirkan keberadaan Bella yang ada di Indonesia. Kini setelah berendam dan diberikan servis yang begitu memuaskan dari istrinya, wajah Rivan kembali cerah dan bahagia dengan tubuhnya yang lebih ringan dan rileks.
" Jadi segeran ya habis berendam" ujar Rivan dengan wajah yang berseri seri bibirnya mengembang dengan sempurna.
" Gimana gak segeran kalau berendamnya dapat bonus servis plus plus" sindir Tiara.
Rivan hanya bisa terkekeh pelan dan tersenyum lebar dengan sindiran istrinya.
Mereka berdua segera memakai baju rumahan setelah selesai mengeringkan tubuh mereka masing masing. Bener kata Tiara, setelah berendam dan mandi air hangat tubuh Rivan kini kembali segar dan rileks.
Mungkin karena air hangat yang melemaskan otot tubuh yang kaku, mungkin juga karena harum sabun beraroma lavender yang busanya memenuhi permukaan air di bathtub. Tapi bagi Rivan, tubuh polos Tiara yang ada di atasnya tadi sungguh membuat suasana hatinya menjadi sangat baik.
" Makasih ya, sayang" ucap Rivan yang mengecup pucuk rambut wangi Tiara.
" Hemm..." gumam Tiara sambil mengangguk pelan. " Aku ke bawah dulu ya, mau siapin makan malam" lanjutnya lalu berjalan keluar dari kamar meninggalkan Rivan.
Rivan terus memperhatikan istrinya yang berjalan keluar dari kamar, tatapan matanya begitu fokus pada kaki jenjang istrinya yang mulus. Wajahnya sumringah mengingat ketika dirinya berada di antara dua kaki itu beberapa waktu lalu.
Tiara selesai memasak setelah kurang dari 10 menit, karena bahan bahan sudah tersedia di kulkas memudahkan dia memasak dengan cepat. Tepat setelah Tiara mengambilkan nasi untuk Rivan, laki laki tersebut terlihat menuruni tangga sambil menatapnya dan tersenyum.
Entah kenapa setiap mendapatkan Tatapan dan senyuman Rivan, dirinya tetap tak bisa terbiasa. Jantungnya seperti ingin melambung terbang dan perutnya terasa geli. Sensasi itu terus hadir tiap kali Rivan menatapnya dan tersenyum padanya.
Rivan memang jarang sekali menampilkan ekspresi itu pada orang lain. Ekspresi itu muncul hanya padanya, hanya untuknya....
" Sayang?" suara tebal dan serak Rivan membuat Tiara tersadar. Perempuan itu tersenyum tipis.
" Yuk, makan" ucap Tiara dengan hati riang. Merekapun menyantap hidangan sederhana yang dimasak oleh Tiara dengan lahap dan bahagia.
Rivan memperhatikan Tiara yang tengah lahap menyantap makanannya. Dia begitu bahagia bisa memperistri Tiara yang begitu perhatian terhadapnya.
" Sayang" panggil Rivan disela makannya.
__ADS_1
" Hmm?" tanya Tiara yang masih sibuk mengunyah
" Makasih ya..." ucap Rivan.
" Makasih kenapa? kok tiba tiba?" tanya Tiara bingung sambil sedikit tertawa.
" Perhatian kamu ke aku, aku nggak pernah diperhatiin sampai segininya sama perempuan lain" kata Rivan.
Ada rasa iba yang muncul dalam hati Tiara ketiak Rivan mengatakan itu dengan gamblangnya. Terlihat jelas di wajahnya bahwa selama ini Rivan merasa kesepian.
" Aku istri kamu mas. Masa aku gak perhatiin kamu" ucap Tiara sambil memegang tangan Rivan.
Mereka saling melempar senyum sebelum akhirnya Tiara mengangkat piringnya dan Rivan setelah dirasa mereka telah selesai dengan makan malam mereka. Tiara langsung membawa piring bekas makan mereka untuk dicuci di wastafel dapur.
Selama mencuci piring, Tiara merasakan getaran aneh di dadanya. Ini pertama kalinya Rivan membahas tentang perempuan lain. Entah apa maksudnya, tapi Tiara jadi merasa bahwa dirinya pun harus mulai membahas tentang Dika di depan Rivan.
" Mas!" Tiara terkejut karena setelah selesai mencuci piring, ternyata Rivan sudah berada di sebelahnya.
Rivan menatap dengan begitu dalam." Maaf, kamu kaget ya?" ucap Rivan masih menatap dalam.
" Aku mau ada di dekat kamu" sahut Rivan
" Tapi kita kan udah deket dari tadi" balas Tiara heran.
" Nggak. Aku nggak suka sama tembok ataupun penghalang yang ada di antara kita. Aku mau kita seperti ini.... tidak ada kitchen bar antara aku sama kamu" ucapan Rivan begitu penuh makna dan Tiara tau apa maksudnya.
" Sayang... sampai sekarang nggak ada perempuan yang bisa membuat aku jatuh cinta seperti aku jatuh cinta sama kamu. Aku bahagia sama kamu, sayang" lanjut Rivan sambil membelai pipi Tiara.
Tak terasa air mata Tiara langsung menggenang. " Mas, aku juga cinta sama kamu. Saat ini cintaku cuma buat kamu" ucap Tiara dengan suara bergetar.
Tiara bahkan tidak bisa berbohong bahwa dia tidak dapat mengatakan hal yang sama seperti Rivan. Baginya, hati itu dulu pernah menggilai orang lain dan kini Tiara menyesal setengah mati karena pernah begitu mencintai Dika.
" Mas... soal mantanku... aku..." Tiara masih memikirkan tentang omongan Nita. Mungkin benar dia harus jujur dan memulai komunikasi tentang mantannya dengan Rivan. Toh dia tau, dirinya juga selalu memikirkan mantan Rivan. Kini, dengan sikap Rivan yang seperti ini, bukankah artinya Rivan juga memikirkan hal yang sama dengan Tiara?
Tapi Tiara tak bisa melanjutkan kata katanya. Dia benar benar tidak mampu menatap mata Rivan sambil berkata bahwa dia pernah mencintai pria lain selain dia.
__ADS_1
" Santai saja, sayang. Maaf kalau kamu ngerasa aku terlalu memaksa kamu. Aku nggak bermaksud, sayang" Rivan mengelus pipi lembut Tiara.
" Kamu memang laki laki terbaik yang tuhan kasih ke aku, mas" ucap Tiara penuh dengan rasa bersalah.
Rivan terlalu baik baginya, membuatnya tak bisa berhenti merasa bahwa Tuhan sedang tidak adil pada mereka berdua. Sementara dia mendapatkan Rivan yang begitu baik padanya, tapi suaminya justru mendapatkan dirinya yang bisanya hanya memperumit kedamaian hidup Rivan.
' Aku nggak sebaik itu, sayang' Rivan hanya bisa membatin.
Tiara sendiri sebenarnya tidak tau bahwa Rivan pun juga belum siap mengutarakan tentang satu satunya perempuan yang pernah menyakitinya sebegitu dalam sampai akhirnya membuat Rivan mendapat julukan sebagai 'pria dingin'
Sejak dia mendapat pengkhianatan dari Bella, hingga meninggalkan bekas yang cukup dalam di hatinya. Rivan tidak pernah lagi percaya pada perempuan, hatinya telah mati tidak bisa membuka lagi untuk perempuan lain.
Hingga Tiara datang dan dia bisa melihat sisi dirinya yang rapuh dalam Tiara. Tidak pernah dia sangka bahwa keinginannya untuk melindungi sisi itu malah membawanya pada cinta baru. Cinta yang kembali memberinya harapan dan membuka hatinya.
Tiara itu spesial, luar biasa dan pengaruhnya begitu kuat terhadap Rivan. Hatinya yang dulu pernah disakiti oleh Bella kini tak hanya sembuh. Tapi juga menumbuhkan rasa yang berkali lipat lebih hebat.
Rivan memeluk Tiara. Dirinya belum menjadi laki laki terbaik bagi Tiara, karena kini dia membawa masalah baru dalam hubungan mereka. Dia berdoa pada Tuhan, selama dirinya menjalani kehidupan sehari-hari bersama Tiara, nanti dapat menjadikan dirinya menjadi laki laki terbaik bagi Tiara.
Urusan mantan mereka yang meresahkan hati mereka, tidak seharusnya menimbulkan percikan api diantara hubungan mereka. Bagaimana pun Rivan harus percaya bahwa mantan Tiara hanyalah masa lalu, sama seperti Bella baginya. Rivan harus percaya itu.
" Dia itu masa lalu yang pengen banget aku kubur, mas..." ucap Tiara sebelum akhirnya terisak.
Rivan tidak ingin mendengar Tiara menangis dia tidak ingin istrinya itu sedih.
" Aku nggak punya perasaan lagi sama dia, tapi aku malu dengan kenyataan kalau aku pernah punya perasaan itu. Aku malu..." tambah Tiara dalam dekapan suaminya.
Rivan melepaskan pelukannya, tangisan istrinya harus berhenti dan dia langsung mencium bibir Tiara dengan lembut.
" Dia nggak penting, sayang. Kamu dan aku, itu yang penting sekarang" kata Rivan sebelum akhirnya dia menghisap dan ******* bibir Tiara.
Keinginan untuk memberi tanda bahwa Tiara adalah miliknya kini muncul lagi. Dia memang tidak dapat menahan diri dihadapan Tiara. Dia ingin menyentuh dan terus bersatu dengan istrinya, ada desakan dalam hati Rivan setiap kali di melihat Tiara. Seolah kalau Rivan tidak menyentuhnya sehari saja, Tiara akan melupakannya.
" Kamu udah bikin aku gila, sayang" kata Rivan yang berbicara disela sela kesibukannya.
" Aku cinta kamu, mas" desah Tiara bercampur dengan kalimat itu, menimbulkan sensasi yang luar biasa dari dalam tubuh Rivan. Dia langsung bersemangat dan menegang, hingga malam itu Tiara kembali menjadi miliknya, cintanya.....
__ADS_1