
" Permisi...." pada wanita yang berpakaian formal itu, kas sekali seorang pekerja kantor apalagi seragamnya merupakan seragam PNS.
Beberapa pasang mata yang ada di sana hanya menatap sekilas ke arah perempuan cantik yang meminta jalan.
" Hai, sayang...." sontak saja semua mata langsung tertuju pada seseorang yang baru saja menyapa wanita cantik yang baru datang itu. Dengan tubuhnya yang masih lemah dan terbaring di ranjang pasien, Rivan menyapa Tiara dengan suaranya yang terdengar masih lemah.
Pak Indra,Siska dan juga Tina terperangah kaget mendengar bos mereka yang memanggil sayang pada seorang perempuan cantik yang tadi meminta jalan pada mereka. Bahkan Rivan tersenyum lebar dan memanggil perempuan itu dengan suara yang lembut.
Ternyata kabar bahwa Rivan telah menikah memang terbukti benar. Apalagi istri Rivan itu sangat cantik dan juga ramah. Kelihatan sekali kalau Tiara itu memiliki sopan santun dan smart... dan tipe Rivan banget. Rivan benar benar tak salah pilih dalam mencari pasangan hidup, ucap mereka dalam hati.
Saat Tiara menghampiri bed Rivan, dia tersenyum lemah, wajahnya masih terlihat pucat. Selang infus tertancap di tangannya begitu juga selang oksigen yang terpasang.
" Don't worry, sayang. I'm Ok" katanya masih menampilkan senyumannya agar istrinya tidak mengkhawatirkan dirinya.
Namun bukannya tenang, Tiara justru ingin sekali memelotot, ' Ok darimana kalau nyatanya suaminya itu saat ini sedang terbaring di ranjang IGD' ingin sekali Tiara mengatakan itu tapi tentu saja dia urungkan.
Tiara melihat ketiga orang yang sedari tadi terus memperhatikan dirinya dan Rivan berinteraksi. Tiara kemudian menunduk dan tersenyum dengan ramah. " Terima kasih sudah membantu membawa suami saya ke rumah sakit" katanya pada rekan kerja Rivan.
Ketiganya ikut tersenyum dan menggeleng pelan, tanda mereka tidak keberatan sama sekali telah membatu Rivan.
" Gak apa apa, mbak" jawab pak Indra.
Rivan yang mengerti dengan kecanggungan dan rasa penasaran rekan kerjanya akan keberadaan Rivan juga ikut tersenyum tipis karena telah menjadi tersangka dimata rekan kerjanya
" Ini Tiara , istri saya" jelas Rivan yang masih terbaring di ranjang rumah sakit dan langsung memperkenalkan Tiara.
Tiara tersenyum kembali kemudian dengan ramah lalu menganggukkan kepalanya sekali. Pak Indra, Siska dan juga Tina bergantian ikut memperkenalkan diri pada Tiara. Dan tidak lama mereka bertiga segera berpamitan untuk kembali ke kantor.
Seorang perawat kemudian datang dan memanggil nama Rivan, mengatakan bahwa hasil pemeriksan darahnya sudah keluar. Tiara segera mengikuti sang perawat untuk menghampiri keberadaan dokter jaga IGD.
" Kamu harus diopname, mas. Trombosit kamu nyaris banget di bawah nilai minimal, hemoglobin kamu juga kurang dari batas normal. Itu semua yang nyebabin tekanan darah kamu rendah, mas" terang Tiara pada Rivan usai mendapatkan penjelasan dari dokter jaga IGD.
" Aku tinggal dulu ngurus administrasinya, ya. Biar kamu bisa segera dapat kamar rawat" pamit Tiara.
__ADS_1
" VIP atau VVIP aja, sayang" kata Rivan agar Tiara tidak terlalu kesulitan ngurusin administrasinya.
" Iya mas" sahut Tiara kemudian pergi meninggalkan Rivan sendiri di ranjangnya.
Tidak lupa Tiara juga menghubungi bunda Amel_ ibu mertuanya dan Vani . Tidak lupa dia juga menghubungi Bu Suci_ibunya memberi kabar keberadaan Rivan yang dirawat di rumah sakit.
*
*
Setelah Tiara selesai mengurus administrasi rawat inap suaminya, tidak lama Rivan sudah dipindahkan ke ruang rawat VVIP. Ternyata benar adanya jika kita memilih ruang rawat inap VIP atau VVIP maka semuanya akan segera diselesaikan oleh pihak rumah sakit. Beda lagi jika kita mengurus administrasi rawat inap di kelas biasa, maka prosedurnya akan memakan waktu yang sangat bahkan bisa seharian nginap di UGD baru bisa dapat kamar kelas biasa.
Saat ini Tiara sedang sibuk berkirim pesan dengan Nita sambil duduk di kursi tunggu sebelah ranjang Rivan. Sebenarnya Nita mengajaknya untuk makan siang bersama, tapi mau bagaimana lagi dia tidak bisa mewujudkan keinginan sahabatnya itu. Saat ini Rivan yang sedang di rawat yang jadi prioritasnya utamanya kini.
" Sayang..." panggil Rivan sambil memegang tangan Tiara yang sedang sibuk berbalas pesan.
" Eh, kenapa mas? mau minum, makan apa mau apa?" tanya Tiara beruntun pada Rivan.
" Kamu belum makan loh, sayang. Ini udah jam dua" Tiara melihat jam di tangannya memastikan perkataan Rivan.
Meskipun sempat terlihat terkejut saat melihat Tiara, laki laki itu tak lupa melemparkan senyum pada Tiara. Sebelum kemudian beralih dan menghampiri Rivan yang terbaring di ranjang pasien. Melihat sapaan dan gestur akrab yang ditunjukkannya saat pada melihat Rivan, Tiara menjadi sedikit maklum.
" Gila Lo bro. Bisa sakit juga ternyata?!" terus laki laki tersebut pada Rivan, dan Rivan sendiri menanggapinya dengan tawa lepas.
" Enggak lah. Bukan sakit ini mah, cuma disuruh istirahat aja" sahut Rivan seenaknya.
Melihat gelagat keseruan dari dua orang laki laki di depannya. Tiara lebih memilih untuk menuruti perintah Rivan tadi yang menyuruhnya untuk makan siang. Setelah Tiara pamit dan diijinkan oleh Rivan, dia bergegas turun ke lantai dasar mencari kantin rumah sakit.
Taira memutuskan untuk memesan satu porsi ayam bakar. Dia menunggu pesanannya dibuatkan dan dibungkus karena dia memutuskan untuk memakannya di kamar saja. Setelah pesanannya selesai dibuat Tiara langsung kembali ke ruang rawat suaminya. Tiara membuka pintu kamar rawat dengan perlahan.
" Loh.... teman kamu udah pulang, mas?" tanya Tiara saat melihat Rivan yang hanya seorang diri di kamar rawat
" Udah. Direcokin sama Vani soalnya" sahut Rivan yang diikuti dengan tawa renyah.
__ADS_1
" Kenal juga sama Vani?" tanya Tiara penasaran.
" Dia itu temen aku dari kecil, sayang" sahut Rivan dikuti dengan senyum jahil. " Mau tau sesuatu nggak?" tanya Rivan tentu saja dengan ide jahil di otaknya.
" Apa?" tanya Tiara heran.
" Tapi ini nggak gratis loh..." katanya dengan senyum licik.
Tiara berdecih sebal. " Nggak usah mancing mancing aku, mas" sahut Tiara dengan kesal.
Rivan tertawa terbahak. " Jadi Arya itu temen kecil aku yang Vani suka dari dulu. Tapi Arya ngehindar terus kalau dideketin Vani. Makanya pas tau Vani sama bunda mau kesini, dua buru buru pamitan pulang. Takut ketu Vani katanya" jelas Rivan yang kemudian melanjutkan tawanya, hingga mengaduh kesakitan.
" Tuh! makanya nurut kalau istrinya bilang nggak usah kerja dulu" ucap Tiara kesal dengan kelakuan suaminya yang sedari tadi ditahannya.
Meskipun begitu wajah galak Tiara tak bertahan lama. " Mas, kalau ngerasa kurang sehat jangan dipaksain lagi ya...." Tiara menggenggam tangan Rivan yang tidak diinfus. " Aku tuh panik banget dapet telepon dari Siska tadi..." wajahnya langsung berubah mendung.
Rivan termenung. Belum pernah ada perempuan yang sejujur ini berekspresi didepannya. Hanya Tiara satu satunya perempuan yang selalu jujur dengan apa yang dirasakannya pada Rivan. Dan tentu saja Rivan sangat senang dibuatnya.
" I'm Ok, sayang. Aku nggak bakal bandel lagi soal makan atau apapun yang kamu bilang" sahut Rivan.
" Promise"
Melihat raut wajah Tiara yang begitu menggemaskan, Rivan jadi tergoda untuk menjahili istrinya lagi.
" Cium dulu, baru aku iyain" goda Rivan sambil menunjuk bibirnya sendiri. " Vitamin tadi pagi itu masih cukup kurang, sayang. Makanya aku butuh asupan vitamin lagi dari kamu biar aku cepet sembuh" kata Rivan yang mengacu pada kegiatan mereka pagi tadi yang mengasyikkan saat Rivan merayu Tiara untuk memberinya ijin bekerja.
Tiara melotot galak ke arah Rivan saat mendengar godaan yang diberikan Rivan. Nih orang kok ngerayu dan menggoda gak tau tempat dan situasinya sih. Tiara dibuat semakin sebal dengan kelakuan suaminya yang semakin mesum tiap harinya
" Ini rumah sakit, mas!!" desis Tiara dengan menekan suaranya. Dia ingin sekali mencubit pinggang Rivan tapi dia urungkan niatnya.
" Lah, sama suami sendiri juga, nggak bakalan ada yang grebek kita, sayang..." masih saja memaksa untuk bisa mendapatkan ciuman manis dari istrinya.
" Sembuh dulu baru nagih, mas" sahut Tiara dengan memutar matanya malas.
__ADS_1
" Kenapa harus nunggu sembuh dulu, sayang. Sekarang juga bisa kok, kan kamu yang gerak aku tinggal nikmati aja" kata Rivan yang tidak berhenti menggoda istrinya, lalu tertawa saat melihat wajah Tiara yang semakin bersemu memerah. Tiara dan wajah merahnya memang tidak pernah gagal membuat hati Rivan selalu menghangat.