
Setelah mengantarkan Tiara ke tempat butiknya, Rivan segera melajukan mobilnya menuju ke kantor. Walaupun paginya tadi sempat terusik dengan kedatangan Bella yang begitu tiba tiba, tapi semua tertutupi dengan kecupan mesra yang diberikan Tiara padanya. Istrinya sangat tau bagaimana merubah suasana hati Rivan menjadi hangat kembali.
Rivan sepertinya harus waspada dengan kehadiran Bella ke Indonesia kembali. Dia tau bagaimana watak Bella yang akan nekat untuk memenuhi segala keinginannya. Perempuan itu akan melakukan segala cara bahkan cara yang kotor sekalipun.
Tapi pagi tadi, Tiara telah mampu mematahkan ucapan Bella dan membuat Bella menahan amarahnya. Tadi Rivan sempat melihat tangan Bella yang mengepal tidak terima saat diusir oleh Tiara. Jika mengingat hal itu rasanya Rivan ingin sekali tertawa keras. Bella tak pernah sekalipun mendapatkan tatapan yang merendahkan dirinya, yang ada orang orang malah berlomba untuk memujinya.
Semua itu bisa tejadi karena pengaruh dari ayahnya yang merupakan salah satu orang penting di daerah itu atau karena Bella memang karena rupanya yang cantik. Yang jelas Bella tumbuh menjadi gadis yang centil, manja dan mendapatkan segala sesuatu yang diinginkan tanpa harus bersusah payah. Makanya ketika Bella dulu mengajak Rivan menikah, Rivan langsung menolak. Karena itu dia tau harga diri Bella merasa terluka.
" Aku harus lebih ekstra menjada Tiara" ucapnya pelan
Rivan melihat tadi Bella nampak begitu marah dan tak suka saat melihat Tiara. Dia juga memilih diam saat Bella menghina Tiara, karena dia tau istrinya itu lebih dari mampu untuk menghadapi seseorang yang berwatak seperti Bella. Dan seperti dugaannya istrinya itu mampu membalikkan keadaan dengan sangat cepat.
Makanya Rivan tak pernah menyesal menantang Tiara untuk mengajaknya bertemu di KUA dan langsung menikah. Tiara adalah perempuan yang cerdas, mandiri yang membuat Rivan jatuh cinta dan tak bisa apa apa tanpa Tiara di sisinya. Setelah keberadaan Tiara di hidupnya dia seolah lupa bagaimana caranya untuk tidak bergantung. Dan Tiara sanggup menepis segala hal buruk yang selalu membayangi hidupnya.
Rivan menghentikan mobilnya saat lampu merah menyala. Rivan hanya memperhatikan keadaan jalan sekitar rambu rambu lalu lintas. yang terlihat macet. Kalau saja saat macet seperti ini ada Tiara disampingnya tentu Rivan tidak akan merasa bosan. Karena Rivan pasti bisa memanfaatkan dengan merasakan bibir Tiara sepuasnya, meskipun terkadang Tiara terus mengeluarkan protesnya.
" Coba aja ada kamu, sayang" gumam Rivan sambil tersenyum tipis. Baru saja berpisah dengan istrinya dia sudah dilanda rasa rindu.
Tak lama kemudian lampu merah telah berganti warna hijau. Rivan segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju ke kantornya.
*
*
*
Sementara itu Tiara yang sudah berada di butiknya langsung memasuki ruangannya setelah menyapa semua karyawannya yang sudah mulai bekerja. Tidak lama setelah dia duduk dan menata beberapa kertas yang ingin dia lihat, tiba tiba pintunya kerjanya diketuk dari luar.
" Masuk" sahut Tiara menyuruh seseorang yang ada di luar ruangannya untuk masuk ke dalam.
__ADS_1
" Gue ganggu gak?" tanya Nita yang membuka pintu sambil melongokkan kepalanya ke dalam dengan senyuman aneh.
Nggak biasanya Nita bicara santai jika mereka sedang bekerja seperti pagi ini. Nita akan berbicara santai non formal kalau mereka sudah ada di luar. Melihat gelagat aneh sahabatnya Tiara menyipitkan matanya penuh selidik.
" Masuk aja" suruh Tiara masih menatap heran dengan sikap sahabatnya yang terlihat bahagia.
Nita langsung masuk dengan santainya bahkan senyum tipisnya sedari tadi tidak pernah luntur dari bibirnya. Dia tanpa berbicara dia langsung duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan Tiara yang hanya dibatasi oleh meja sebagai penghalang mereka.
" Ada apa?" tanya Tiara yang sudah tidak sabar menunggu berita dari sahabatnya yang bisa dia perkirakan bahwa berita itu adalah berita bahagia. " Tumben Lo ngomong santai banget?" lanjut Tiara yang sudah tidak sabar.
Yang ditanya hanya bisa menghela nafas panjang seolah sedang mengatur nafasnya untuk berbicara dengan Tiara. Senyumannya masih mengembang di sudut bibirnya.
" Gue mau nraktir Lo sarapan di luar" kata Nita masih tidak ada niat untuk menjawab pertanyaan Tiara.
Tiara menyipitkan matanya penuh tanda tanya, ada apa sebenarnya dengan sahabatnya itu. " Gue udah sarapan! gak usah bikin penasaran, buruan kasih tau ada apa?" desak Tiara yang sudah kesal dan sudah tidak sabar lagi.
Tentu saja Tiara merasa kesal dengan sikap sahabatnya yang membuatnya penasaran. Bagaimana tidak tadi pagi moodnya sudah buruk karena kedatangan Bella di rumahnya pagi pagi sekali yang sudah merusak moodnya karena mengajaknya bertengkar. Dan sekarang sahabatnya tiba tiba datang ngajakin sarapan padahal dia tau kalau dirinya itu tidak pernah absen untuk sarapan di rumah. Apalagi Nita seperti sedang menyembunyikan hal penting padanya dan dia tidak bisa menebaknya.
Nita beranjak berdiri dari duduknya untuk pergi dari ruangan Tiara. Tapi belum sempat dia melangkahkan kakinya tiba tiba lengannya ditarik oleh Tiara seolah melarang Nita untuk pergi dari ruangannya tanpa memberitahu apapun.
" Lo mau kemana?!" ucap Tiara dengan suara seru. " Mood gue udah jelek, Lo jangan nambah mood gue makin buruk. Buruan kasih tau ada apa?!" lanjut Tiara terus mendesak Nita untuk mengatakan maksud kedatangannya.
Mendengar ucapan sahabatnya, mata Nita terbelalak kaget, dia tidak menyangka kalau mood sahabatnya pagi itu sedang jelek. Dia justru jadi penasaran dengan apa yang dialami oleh Tiara pagi itu, akhirnya Nita kembali duduk.
" Kenapa?" tanya Nita penasaran bukannya menjawab pertanyaan Tiara dia justru ingin mengetahui masalah sahabatnya.
Tiara menghela nafas panjang lalu menghembuskan dengan pelan. " Lo duluan!" paksa Tiara dengan malas.
" Emmm.... gue... gue hamil!" akhirnya mau tidak mau Nita memberitahukan kabar gembira yang sedari tadi ingin dia sampaikan. pada Tiara.
__ADS_1
Tiara langsung membuka matanya lebar. "Lo.. Lo...hamil....?" tanya Tiara yang ingin memastikan kalau pendengarannya tidak salah mendengar.
" Hemm..." gumam Nita meyakinkan Tiara sambil mengangguk dan tersenyum lebar.
" Congratulation ya, Nit....akhirnya gue dapet keponakan juga!!" seru Tiara yang sangat senang mendengar kabar itu.
Tiara menggenggam tangan Nita dengan erat menyalurkan rasa bahagianya. Nita sendiri hanya tersenyum lebar menanggapi antusiasme dari Tiara.
" Udah berapa Minggu nih ponakan gue di perut Lo?" tanya Tiara antusias, mendengar kabar bahagia itu.
" Udah Minggu ketiga, kemarin gue periksa sama suami gue" sahut Nita.
" Trus kenapa tadi Lo bilang mood Lo pagi ini jelek banget? Lo ada masalah sama Rivan?" tanya Nita balik.
" Itu nggak penting" seru Tiara tanpa ingin menjawab pertanyaan Nita. " Itu kenapa muka Lo pucet banget? Eh... apa itu karena bawaan bayi, ya? apa Lo ngalamin morning sickness makanya wajah Lo pucet gitu?" rentet Tiara.
Nita terkekeh kecil mendengar semua tebakan Tiara. " Sedikit aunty" jawab Nita seperti anak kecil sambil tangannya mengelus perutnya yang masih rata. Lilian ngalamin mual saat pagi saja atau malam hari saja, bayinya itu sangat kooperatif.
Tiara menatap dengan takjub ke arah perut Nita. Akankah dia dapat merasakan hal yang sama seperti Nita suatu saat nanti? pasti keluarga kecilnya akan terasa lengkap dan lebih bahagia. Dirinya maupun Rivan memang tidak ada niat menunda untuk segera mendapatkan momongan.
" Pantesan tadi udah mau nraktir aja, gak taunya Lo kasih kabar yang bahagia banget" ucap Tiara dengan senyum lebarnya.
Raut wajah Nita berubah tiba tiba berubah sendu. " Tapi... Doni nyuruh gue berhenti kerja" akhirnya Nita menyampaikan apa yang dikatakan suaminya
Tiara tersenyum. " Gue setuju sama Doni, Lo emang kudu berhenti kerja sampai ponakan gue lahir dengan selamat" kata Tiara yang sepemikiran dengan suami Nita.
" Tapi Lo gimana?" Nita masih belum bisa melepaskan pekerjaannya begitu saja, karena selama ini dia merasa enjoy banget bisa kerja bareng Nita.
" Tenang aja, kan masih banyak karyawan lainnya" sahut Tiara. " Yang penting mulai sekarang Lo harus istirahat, jagain dengan baik ponakan gue" lanjut Tiara menasehati sahabatnya agar tidak terlalu memikirkan dirinya.
__ADS_1
" Beneran nih, gak apa pa kalau gue berhenti kerja?" tanya Nita ingin memastikan.
Tiara mengangguk meyakinkan sahabatnya itu kalau dirinya tidak masalah jika Nita harus berhenti kerja di butiknya. Apalagi semuanya demi calon bayi yang ada di kandungan Nita. Dia juga akan mengijinkan Nita kembali kerja di butiknya kalau memang dia ingin bekerja lagi setelah melahirkan bayinya.